24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Skripsi itu Cinta dan Dendam, Kami itu Manusia

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 14, 2019
in Esai
Skripsi itu Cinta dan Dendam, Kami itu Manusia

Pemulis bersama teman yang baru diwisuda

Aku baru saja selesai melaksanakan sidang skripsiku bulan lalu. Bahagia rasanya. Apa yang kunanti selama hampir 7 bulan, kini sudah berhasil aku raih. Perjalananku tentunya tak mudah dan setiap orang punya kualitas perjalanan dan standarnya masing-masing.

Pasca sidang skripsi tempo waktu, aku mengilhami satu hal. Skripsi mampu melahirkan sebuah jenis emosi pada mahasiswa; cinta atau dendam. Dalam kisah perjalananku, aku bersyukur dengan segala kerumitan yang aku temui, aku masih bisa terlahir sebagai orang dengan perspektif cinta di dalamnya.

Amanat positif dari dosen pembimbing yang kerap menghujaniku membuatku subur akan pandangan-pandangan baru. Puluhan kata-kata bijak terangkai begitu rapi dalam benak. Siap rasanya bagiku untuk membagikannya kepada teman-teman agar setidaknya mereka bisa memiliki emosi yang sama sepertiku.

Namun tak semua bisa diangankan senaif itu. Nyatanya, apa yang kupikirkan hanya mampu menyentuh mereka yang sefrekuensi dengan emosiku. Orang-orang yang terlahir dengan emosi cinta di dalamnya. Iya, hanya merekalah yang bisa kugapai dengan kata-kata bijakku. Selebihnya, ialah mereka yang terlahir dengan perspektif dendam dalam dirinya.

Memang, sejauh perjalanan skripsiku hingga ke titik ini, telah banyak cerita yang aku dengarkan. Cerita-cerita dengan banyak varian perjuangan di dalamnya. Ketika aku mendengar beberapa di antara semua itu aku merefleksi diriku “ternyata ada juga ya yang seperti ini”.

Seketika aku ingin berdalih mendengar cerita lain dan mengabaikannya. Namun telinga ini sudah terlanjur mendengar apa yang aku rasa itu memang layak didengar tak hanya olehku, namun oleh mereka yang kini juga sedang dalam fase berjuang.  Pahit, getir, murka rasanya mendengar cerita-cerita itu. Aku tahu, sebuah cerita memang harus didengarkan dari 2 sudut pandang agar teruji kebenarannya. Akan tetapi, melihat bagaimana raut wajah mereka ketika bercerita, nada bicara yang berapi-api diikuti tawa kecut yang terselip diantara tutur mereka, aku percaya bahwa yang mereka lisankan adalah apa yang kata hati mereka ingin sampaikan.

Sebut saja Ucup, salah 1 teman yang terlahir dengan emosi dendam di dalamnya dikarenakan skripsi. Skripsi yang ditelantarkan oleh dosen, janjian yang kerap dibatalkan dan atau diundur yang tetap saja berujung pada dibatalkan, pesan yang tak kunjung diberi kepastian kapan sekiranya ia bisa melakukan bimbingan dan metode bimbingan yang justru semakin membuat dirinya merasa disulitkan.

Tentu ini sangatlah subjektif, namun Ucup tidaklah sendirian. Ucup bersama beberapa temannya pun merasakan hal yang sama. Beberapa kali Ucup sempat berpikir untuk meninggalkan tanggung jawabnya dan lebih memilih untuk bekerja saja. “Kebih baik mengerjakan hal yang pasti daripada yang tak pasti,” katanya.

Kemudian aku berpikir, apakah kata “semangat” dariku mampu mengubah pilihannya? Tentu saja sulit bahkan tidak mungkin. Seperti yang tlah kukatakan diawal bahwasannya setiap orang punya kualitas perjalanan dan standar nya masing-masing. Terlalu mudah rasanya jika semua bisa diselesaikan dengan kata “semangat” dari orang-orang yang mungkin bagi mereka, kita tak memiliki peran penting dalam penulisan skripsi mereka.

Sekuat-kuatnya kita sebagai “supporting system” seseorang, nyatanya kita tetaplah “supporter”. Sedangkan mereka, orang-orang yang sedang memelihara bibit-bibit dendam itu, mereka butuh bantuan dari “main system” mereka yakni diri mereka dan tentu dosen pembimbing mereka. Ketika “main system” malah membuat mereka down, lantas kepada siapa lagi mereka harus mengadu?.

Ucok, teman lain yang ceritanya sudah kudengarkan. Setiap hari Ucok bolak balik dari rumahnya menuju kampus yang jarak tempuhnya sekitar 2 jam. Iya, hanya untuk menyelesaikan urusan skripsi pasca ia sidang. Maklum, masa kostnya sudah habis dan ia sungkan untuk menginap di kost temannya yang lain.

Alhasil, bolak-balik tiap hari tanpa kepastian adalah pilihan terbaik yang bisa ia jalani saat ini. Lantas, apakah kata “jalanin aja” dariku mampu menopang optimisnya? Kurasa tidak.

Lelah fisik dan mentalnya tak sanggup aku pahami. Aku yang berlimpah dengan rasa cinta tak akan bisa menyentuk teman-temanku yang lahir bersama dendam dalam dada mereka. Mungkin benar apa yang dikatakan Arthur dalam film Joker, “penjahat adalah orang baik yang disakiti”.

Aku dan teman-temanku datang ibarat kertas putih yang siap untuk diisi dengan jutaan pengetahuan serta perasaan dari dosen kami tentang bagaimana cara mereka mendidik, membimbing kami dalam menuntaskan skripsi ini. Namun kami tak bisa terlahir sebagai kertas yang sama, kertas yang dipenuhi cinta. Beberapa harus rela dirinya memiliki dendam yang berkecamuk tentang skripsi dan dosen mereka sendiri.

Jikalau sudah begini, entah kita terlahir dengan cinta ataupun dendam, tetap menjadi manusia adalah apa yang bisa kita lakukan. Iya, manusia. Menangis dikala sedih, marah dikala kecewa, tertawa dikala bahagia. Manusia yang tetap bangkit dikala sulit, menolong dikala melihat ada yang kesulitan, berterimakasih kepada yang menolong dan memaafkan mereka yang salah.

Terlepas dari perlakuan orang lain kepada kita, tentang betapa berpengaruh nya mereka dalam jalan hidup kita, hidup yang kita jalani tetaplah tanggung jawab pribadi kita. Kita lah yang menentukan kemana kaki ini akan melangkah, baik atau buruk kedepannya. Teruntuk teman-teman yang sudah terlanjur bergelut dengan dendam di hati kalian, tak apa.

Lepaskanlah dendam itu kini. Marah dan menangislah kalian sekarang. Tak usah dipendam lagi, agar tak bahaya bagi tubuhmu. Diantara isak tangis kalian, selipkanlah kata-kata ini “Aku adalah manusia biasa yang sering berbuat salah. Aku adalah manusia biasa yang sudah sewajarnya belajar dari kesalahan”. Tetaplah jadi manusia, tetaplah berperasaan. Kalian layak bahagia! [T]

Tags: kampusmahasiswaSkripsi
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Setiap Keluar Bali Disebut ke Jawa? – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Pameran Ngawiwit, Spirit Gunung Batukau dan Perupa Tabanan

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pameran Ngawiwit, Spirit Gunung Batukau dan Perupa Tabanan

Pameran Ngawiwit, Spirit Gunung Batukau dan Perupa Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co