14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Bumi Manusia Belum Capai Ekspektasi

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
August 18, 2019
in Ulasan
Film Bumi Manusia Belum Capai Ekspektasi

Foto poster oleh Juli Sastrawan

Merayakan peringatan kemerdekaan RI dengan menonton film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo, sungguh mencengangkan. Film yang dipayungi oleh Falcon Picture ini, diadaptasi dari novel Bumi Manusia.

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980. Karya masterpiece ini kemudian beralih wahana menjadi film yang ditulis oleh Salaman Aristo.

Novel Bumi Manusia menceritakan tentang Minke (Iqbaal Ramadhan), seorang pribumi yang bersekolah di HBS. Mekipun pada saat  itu, orang yang boleh bersekolah di HBS hanya keturunan Eropa. Namun Minke, selain anak seorang bangsawan, ia juga pribumi yang piawai menulis.

Ia kerap gelisah melihat nasib pribumi yang tertindas. Melihat kondisi di sekitarnya itu, Minke tergerak untuk memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan. Tokoh Minke dibuat karena Pramoedya terinspirasi dari sosok R.M. Tirto Adhi Soerjo, yang kini dikenal sebagai Bapak Pers Nasional.

Selain tokoh Minke, Bumi Manusia yang berlatar di Surabaya pada masa pendudukan Hindia Belanda 1898 ini juga menggambarkan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Pada masa itu, nyai dianggap sebagai perempuan rendah karena statusnya sebagai istri simpanan.

Status seorang nyai membuatnya tidak memiliki hak terhadap pernikahan dan anak-anaknya. Di tengah cerita itu, Bumi Manusia juga memiliki sinopsis kisah asmara antara Minke dan Annelies (Mawar de Jongh), anak dari Nyai Ontosoroh dengan tuannya Herman Mellema (Peter Sterk). 

Sebelum membeli tiket, saya dan kawan-kawan (yang mengaku pecinta karya Pramoedya) menanggalkan memori kami tentang novel Bumi Manusia. Banyak orang punya ekspektasi tinggi terhadap film itu, dan saya sejak awal sudah menurunkan standar ekspektasi saya. Kami tidak memiliki imajinasi tinggi, lebih karena penasaran saja. Kami menyadari bahwa karya sastra sebesar Bumi Manusia tentu sangat membebani sutradara. Di sisi lain,  Hanung  ingin membuktikan bahwa Bumi Manusia perlu dikenal di kalangan remaja mellenial. Maka ia pilih Iqbal sebagai Minke, meski menuai polemik.

Rasa penasaran kami menjadi-jadi manakala film dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua penonton pun berdiri sedikit canggung. Usai itu, adegan film diawali dengan Minke yang dibangunkan oleh Robert Suurhof (Jerome Kurnia). Adegan awal yang dengan ritme yang cepat. Percakapan pun berlanjut dalam bahasa Belanda. Patut diacungkan jempol untuk kemampuan berbahasa Belanda dari para aktor.

Di sisi lain, ketika berdialog dalam bahasa Indonesia beberapa kali terasa hambar karena diksi dan pemaknaan dialog lemah. Beruntung, sisi sinematografi menyelamatkan film ini. Kualitas akting Sha Ine dan Mawar de Jongh pun menghidupkan adegan. Nampaknya tidak begitu dengan Iqbal. Kesan karakter Dilan masih melekat dan sangat keteteran di beberapa adegan klimaks.

Pertama, kami sangsi dengan sudut pandang sutradara. Adegan romantis Minke dan Annelies tampak janggal. Mungkin bisa diikuti adegan-adegan romantis seperti drama korea yang tidak terlalu pecicilan namun disukai mellenial. Adegan ranjang dan saat Minke memandikan Annelies kurang digarap maksimal. Eksekusi yang tidak tepat sasaran.

Bila pasar konsumen yang dituju adalah kaula muda, sebaiknya adegan romantis itu dikemas lebih matang. Kesan Minke pun runtuh. Nampaknya Minke dalam film ini sangat emosional. Adegan makan malam yang terlalu lama, adegan pertengkaran di kelas yang panjang, dan adegan pertarungan yang tidak perlu durasi banyak. Tiga jam adalah durasi yang terlalu memaksakan.

Kedua, penulis skenario yang cenderung mengabaikan kekuatan dialog. Banyaknya repetisi dialog dengan kalimat yang sama justru menjatuhkan adegan. Repetisi yang dimaksud untuk mencapai emosi malah tidak tercapai. Penggunaan kata sih pada dialog juga menghilangkan kesan 1898. Banyak dialog yang tidak efektif meruntuhkan pesan cerita. Kata-kata mutiara dari Pramoedya terkesan tempelan dan sengaja ditekankan. Seolah-olah penonton ditodong bahwa ini dialog paling penting. Padahal, kesadaran penontonlah yang menjadikan dialog tersebut bermakna atau tidak.  

Ketiga, tim riset. Saya pikir Indonesia tidak kurang tenaga riset film. Saya pun spontan membandingkan dengan drama Korea, Mr. Sunshine ditulis Kim Eun Sook. Film ini mengambil latar 1870an ketika peralihan kolonial dan awal mula zaman modern. Penggarapan cerita sejarah yang kuat, kisah romantisme tanpa mengumbar ciuman, dan kekuatan tim riset untuk melihat sisi kekuatan historisnya. Tidak begitu dengan film Bumi Manusia yang mengejar romantisme Minke dan Annelies dan riset penokohan yang kurang.

Terakhir, pertanggung jawaban mendidik aktor. Saya pikir aktor populer seperti Iqbal bisa meluangkan waktunya untuk tiga sampai enam bulan terjun ke pelatihan keaktoran. Sungguh disayangkan emosi Iqbal yang meledak jadi tidak seimbang dengan lawan mainnya. Saya ingat pernyataan Iswadi Pratama, bahwa aktor tak perihal ngekting (seolah-olah berakting) tapi aktor adalah menjadi. Iqbal nampak kedodoran dari segi mimic, gesture, dan kontak mata, di beberapa adegan penting.

Sebagai sebuah usaha, tentu film ini patut dipuji karena berani mengangkat karya yang sebelumnya dibredel pemerintah. Upaya-upaya positif untuk mendektakan sejarah  dengan masyarakat luas terutama remaja patut diapresiasi. Di sisi lain, bagaimana pun Hanung tentu sudah mempersiapkan diri bila film ini menuai kritik dan belum mencapai ekspektasi. [T]

Tags: Bumi ManusiafilmFilm Bumi ManusianovelPramudya Ananta Toer
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Village Jazz Festival, Bersama-sama Membunyikan Okokan

Next Post

Necisme Bung Karno, Gerakan Busana Melawan Kolonialisme Barat

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Necisme Bung Karno, Gerakan Busana Melawan Kolonialisme Barat

Necisme Bung Karno, Gerakan Busana Melawan Kolonialisme Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co