2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Sofwatillah Amin by Sofwatillah Amin
August 16, 2019
in Esai
Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Ilustrasi diolah dari foto Mursal Buyung

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Berbagai acara pengenalan suasana kampus digalakan demi menyambut Mahasiswa Baru. Pemandangan serba aneh mulai dari topi Caping, rumbai-rumbai makanan kecil dan hal lainnya yang membuat mata tak nyaman sudah mulai dihilangkan dari acara pengenalan Kampus. Praktis ini membuat para Mahasiswa Baru terlihat jauh lebih elegan.

Banyak di antara mereka dan mungkin juga kita tak menyadari apakah jurusan yang diambil sesuai dengan keinginan dan kemampuan atau tidak. Tapi, keluar dari itu pertanyaan di atas cepat atau lambat menyerang pikiran mereka dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri.

Fase perkenalan sejatinya tak akan lama, setelah fase awal itu, mereka akan naik ke fase selanjutnya. Mereka akan memiliki adik kelas, akrab dengan suasana kampus, menjadi panitia OSPEK, merasa “diseniorkan” dan bla bla bla.

Tapi saat selangkah lagi tiba di garis finish pertanyaan itu kembali menggelayuti pikiran “Setelah lulus kuliah mau ngapain? Berbekal pertanyaan itu beberapa orang memutuskan untuk “menunda” kelulusan  berdalih tak mau menambah angka pengangguran di Indonesia.

What? Pengangguran? Kenapa alasan itu yang muncul? Biasanya alasan itu justeru ada pada orang yang memiliki firasat setelah lulus tak bisa kemana-mana, tak bisa beraktivitas apa-apa, alias nganggur. Jadi, secara sadar dia menobatkan diri sebagai pengangguran sebelum jadi pengangguran sebenarnya. Setuju?

Memang hitungan sederhananya begini, satu kali wisuda bisa meluluskan 400-600an wisudawan. Satu tahun pihak kampus mengadakan wisuda dua sampai tiga, bahkan empat kali, jadi sudah bisa dihitung ada lebih dari 1.000 sarjana tiap tahunnya dan itu baru dari satu kampus, belum dari kampus-kampus lain di seluruh penjuru negeri.

Tidak dipungkiri dari 1.000 kepala tersebut, mayoritas menginginkan terjun ke dunia pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, ya meskipun jurusan tak selalu sejalan dengan kemauan, tapi ya sudahlah kita anggap sesuai dengan jurusan saja agar tak membahas kemana-mana.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikian Tinggi mencatat sekitar 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana, berarti ada sekitar 630.00 sarjana pengangguran pada tahun 2018 (Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih  menganggur-421873).

Data yang sangat mendukung untuk para penunda wisuda. Semestinya sebagai Mahasiswa bisa berpikir lebih dari itu. Lebih bisa melibatkan orang lain dalam setiap tindakannya. Ada penantian orang tua yang harus tertuntaskan, ada harapan orang-orang sekampung yang menunggu ingin melihat tetangganya memakai toga, ada tetangga nun jauh di sana yang juga ingin tahu kampus itu seperti apa dan bagaimana. Karena mungkin hanya dengan melihat Anda wisuda mereka baru bisa ikut melihat dan tahu bagaimana  suasana kampus.

Jadi, perihal pekerjaan semestinya tidak jadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan kapan lulus. Ada keringat dan harapan orang-orang sekitar yang harus segera terbayarkan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Masalah tidak berhenti di situ. Itu bagi dia yang berpikiran untuk menjadi pekerja, belum lagi mereka yang bilang bahwa urusan pekerjaan bagi seorang sarjana bukan nomor satu, karena yang utama adalah membuka lapangan pekerjaan. It’s ok, enggak papa, semua orang, semua

Mahasiswa saya yakin pernah mengalami fase dimana kita-sebagai mahasiswa menilai bahwa hidup harus bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, padahal yang perlu disadari sebelum bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang, paling tidak, minimal kita harus bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tentu saja bagi kalangan terpelajar adalah menyelesaikan tugas studinya. Jadi mau bekerja atau membuka usaha?

Ah yang terpenting bukan itu,, di atas itu ada lagi yang mesti dilatih, yaitu membangun diri.

Di sisi lain, ada pandangan dari masyarakat yang sedikit memojokkan para sarjana. Mereka menganggap bahwa seorang sarjana harus berpakaian rapi, berjas dan berdasi dan semacamnya. Setiap pagi bolak-balik dengan kendaraan menuju kantor dan pulang sore hari, sebagian lagi menganggap itu sama saja dengan “Memperbudak diri”. Dan secara tidak langsung mendorong tujuan orang tua yang menguliahkananaknya untuk bisa jadi pekerja bukan mencari pengalaman, memperluas circle pergaulan atau bahkan mencari ilmu.

            “Sebagus-bagusnya dia punya mobil tetep aja itu hasil digaji orang, setiggi-tingginya pangkat dan jabatan di kantor tetep aja statusnya pegawai, pesuruh. Mending gue dong usaha, berapapun uang yang gue dapet, gue tetep jadi pemimpin perusahaan, gue kepala meskipun di tubuh ikan teri, daripada lu di tubuh hiu tapi cuma bisa jadi ekor”.

Ini “Indonesia banget’’, tidak pernah bisa memandang satu hal lebih dari satu sudut pandang, semuanya subjektif, kalau orang jawa bilang semaue dewek.  Sekalipun objektif ya sama hal-hal yang menguntungkan dia saja, Hey, come on, saya coba beri stimulus positif pada adik-adik Mahasiswa,  perihal setelah lulus kuliah mau jadi apa, itu lebih dari sekadar keputusan, semuanya membutuhkan mental dan porsinya masing-masing.

Yang memutuskan jadi karyawan, dia butuh mental, kerja dibawah tekanan dan yang paling sulit adalah mengorbankan waktu bersama keluarga. Begitupun yang memutuskan jadi pengusaha, dia membutuhkan kesabaran setebal baja, hati sekeras batu dan jiwa marketing yang saat ini hampir semua orang sudah memilikinya, persaingan pasar ketat. Kesemuanya memiliki porsinya masing-masing, bukan saling menyudutkan.

Nah, karenanya selain bekerja dan berwirausaha ada satu penawaran yang sangat menarik. Yaitu berkarya. Bagaimana agar bisa berkarya? Manfaatkan waktu 4-7 tahun masa kuliah itu, pelajari sebanyak mungkin hal yang bisa kamu jangkau dan pelajari, bergaullah dengan sebanyak mungkin orang bahkan sampai memori di handphonemu tak cukup lagi menampung kontak dan jaringan yang sudah kamu bangun selama kuliah. Beberpa waktu lalu, saya pernah melihat postingan insta story salah satu seniman Indonesia, ya saya menyebutnya seniman karena dia sangat multitalenta, Pandji Pragiwaksono. Begini postinganya :


Dimulai dari sebuah cerita…

Suatu hari, Ayah saya. Koes Pratomo Wongsoyudo yang saat itu bisnis penyediaan alat-alat berat konstruksi, berbincang dengan rekan kerja berkewarganegaraan Jerman di Hotel yang saat itu namanya masih Hotel Hilton.

Orang Jerman tersebut bertanya dalam bahasa inggris

“Koes, orang Indonesia itu aneh ya…”

Ayah saya bertanya balik dengan tidak kalah bingungnya

“Aneh bagaimana?”

“Orang Indonesia itu kalau bikin ukiran bisa detil sekali, indah, presisi” ujarnya sambil menunjuk ke sebuah ukiran kayu jepara yang menempel pada tembok hotel.

“Tapi..”lanjutnya lagi.

“Orang Indonesia kalau bikin tangga, anak tangganya nggak presisi banget. Kadang tinggi anak tangganya 20cm, anak tangga selanjutnya 21cm, anak tangga berikutnya 20,5cm..ga bisa presisi, ga pernah rapi. Kenapa bisa begitu Koes?”

Ayah saya menjawab,

“Yang bikin ukiran itu berkarya, yang bikin anak tangga itu bekerja”


Bagaimana? Mau bekerja saja atau bekerja dan berkarya?

Luluslah dan berkarya! [T]

Tags: bekerjaberkaryakuliahkuliah sambil kerjamahasiswa
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Next Post

Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Sofwatillah Amin

Sofwatillah Amin

Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten. Narasumber Pustaka Ramadhan di Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta. Tinggal di Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Imajinasi Senja - Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co