23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Sofwatillah Amin by Sofwatillah Amin
August 16, 2019
in Esai
Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Ilustrasi diolah dari foto Mursal Buyung

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Berbagai acara pengenalan suasana kampus digalakan demi menyambut Mahasiswa Baru. Pemandangan serba aneh mulai dari topi Caping, rumbai-rumbai makanan kecil dan hal lainnya yang membuat mata tak nyaman sudah mulai dihilangkan dari acara pengenalan Kampus. Praktis ini membuat para Mahasiswa Baru terlihat jauh lebih elegan.

Banyak di antara mereka dan mungkin juga kita tak menyadari apakah jurusan yang diambil sesuai dengan keinginan dan kemampuan atau tidak. Tapi, keluar dari itu pertanyaan di atas cepat atau lambat menyerang pikiran mereka dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri.

Fase perkenalan sejatinya tak akan lama, setelah fase awal itu, mereka akan naik ke fase selanjutnya. Mereka akan memiliki adik kelas, akrab dengan suasana kampus, menjadi panitia OSPEK, merasa “diseniorkan” dan bla bla bla.

Tapi saat selangkah lagi tiba di garis finish pertanyaan itu kembali menggelayuti pikiran “Setelah lulus kuliah mau ngapain? Berbekal pertanyaan itu beberapa orang memutuskan untuk “menunda” kelulusan  berdalih tak mau menambah angka pengangguran di Indonesia.

What? Pengangguran? Kenapa alasan itu yang muncul? Biasanya alasan itu justeru ada pada orang yang memiliki firasat setelah lulus tak bisa kemana-mana, tak bisa beraktivitas apa-apa, alias nganggur. Jadi, secara sadar dia menobatkan diri sebagai pengangguran sebelum jadi pengangguran sebenarnya. Setuju?

Memang hitungan sederhananya begini, satu kali wisuda bisa meluluskan 400-600an wisudawan. Satu tahun pihak kampus mengadakan wisuda dua sampai tiga, bahkan empat kali, jadi sudah bisa dihitung ada lebih dari 1.000 sarjana tiap tahunnya dan itu baru dari satu kampus, belum dari kampus-kampus lain di seluruh penjuru negeri.

Tidak dipungkiri dari 1.000 kepala tersebut, mayoritas menginginkan terjun ke dunia pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, ya meskipun jurusan tak selalu sejalan dengan kemauan, tapi ya sudahlah kita anggap sesuai dengan jurusan saja agar tak membahas kemana-mana.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikian Tinggi mencatat sekitar 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana, berarti ada sekitar 630.00 sarjana pengangguran pada tahun 2018 (Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih  menganggur-421873).

Data yang sangat mendukung untuk para penunda wisuda. Semestinya sebagai Mahasiswa bisa berpikir lebih dari itu. Lebih bisa melibatkan orang lain dalam setiap tindakannya. Ada penantian orang tua yang harus tertuntaskan, ada harapan orang-orang sekampung yang menunggu ingin melihat tetangganya memakai toga, ada tetangga nun jauh di sana yang juga ingin tahu kampus itu seperti apa dan bagaimana. Karena mungkin hanya dengan melihat Anda wisuda mereka baru bisa ikut melihat dan tahu bagaimana  suasana kampus.

Jadi, perihal pekerjaan semestinya tidak jadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan kapan lulus. Ada keringat dan harapan orang-orang sekitar yang harus segera terbayarkan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Masalah tidak berhenti di situ. Itu bagi dia yang berpikiran untuk menjadi pekerja, belum lagi mereka yang bilang bahwa urusan pekerjaan bagi seorang sarjana bukan nomor satu, karena yang utama adalah membuka lapangan pekerjaan. It’s ok, enggak papa, semua orang, semua

Mahasiswa saya yakin pernah mengalami fase dimana kita-sebagai mahasiswa menilai bahwa hidup harus bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, padahal yang perlu disadari sebelum bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang, paling tidak, minimal kita harus bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tentu saja bagi kalangan terpelajar adalah menyelesaikan tugas studinya. Jadi mau bekerja atau membuka usaha?

Ah yang terpenting bukan itu,, di atas itu ada lagi yang mesti dilatih, yaitu membangun diri.

Di sisi lain, ada pandangan dari masyarakat yang sedikit memojokkan para sarjana. Mereka menganggap bahwa seorang sarjana harus berpakaian rapi, berjas dan berdasi dan semacamnya. Setiap pagi bolak-balik dengan kendaraan menuju kantor dan pulang sore hari, sebagian lagi menganggap itu sama saja dengan “Memperbudak diri”. Dan secara tidak langsung mendorong tujuan orang tua yang menguliahkananaknya untuk bisa jadi pekerja bukan mencari pengalaman, memperluas circle pergaulan atau bahkan mencari ilmu.

            “Sebagus-bagusnya dia punya mobil tetep aja itu hasil digaji orang, setiggi-tingginya pangkat dan jabatan di kantor tetep aja statusnya pegawai, pesuruh. Mending gue dong usaha, berapapun uang yang gue dapet, gue tetep jadi pemimpin perusahaan, gue kepala meskipun di tubuh ikan teri, daripada lu di tubuh hiu tapi cuma bisa jadi ekor”.

Ini “Indonesia banget’’, tidak pernah bisa memandang satu hal lebih dari satu sudut pandang, semuanya subjektif, kalau orang jawa bilang semaue dewek.  Sekalipun objektif ya sama hal-hal yang menguntungkan dia saja, Hey, come on, saya coba beri stimulus positif pada adik-adik Mahasiswa,  perihal setelah lulus kuliah mau jadi apa, itu lebih dari sekadar keputusan, semuanya membutuhkan mental dan porsinya masing-masing.

Yang memutuskan jadi karyawan, dia butuh mental, kerja dibawah tekanan dan yang paling sulit adalah mengorbankan waktu bersama keluarga. Begitupun yang memutuskan jadi pengusaha, dia membutuhkan kesabaran setebal baja, hati sekeras batu dan jiwa marketing yang saat ini hampir semua orang sudah memilikinya, persaingan pasar ketat. Kesemuanya memiliki porsinya masing-masing, bukan saling menyudutkan.

Nah, karenanya selain bekerja dan berwirausaha ada satu penawaran yang sangat menarik. Yaitu berkarya. Bagaimana agar bisa berkarya? Manfaatkan waktu 4-7 tahun masa kuliah itu, pelajari sebanyak mungkin hal yang bisa kamu jangkau dan pelajari, bergaullah dengan sebanyak mungkin orang bahkan sampai memori di handphonemu tak cukup lagi menampung kontak dan jaringan yang sudah kamu bangun selama kuliah. Beberpa waktu lalu, saya pernah melihat postingan insta story salah satu seniman Indonesia, ya saya menyebutnya seniman karena dia sangat multitalenta, Pandji Pragiwaksono. Begini postinganya :


Dimulai dari sebuah cerita…

Suatu hari, Ayah saya. Koes Pratomo Wongsoyudo yang saat itu bisnis penyediaan alat-alat berat konstruksi, berbincang dengan rekan kerja berkewarganegaraan Jerman di Hotel yang saat itu namanya masih Hotel Hilton.

Orang Jerman tersebut bertanya dalam bahasa inggris

“Koes, orang Indonesia itu aneh ya…”

Ayah saya bertanya balik dengan tidak kalah bingungnya

“Aneh bagaimana?”

“Orang Indonesia itu kalau bikin ukiran bisa detil sekali, indah, presisi” ujarnya sambil menunjuk ke sebuah ukiran kayu jepara yang menempel pada tembok hotel.

“Tapi..”lanjutnya lagi.

“Orang Indonesia kalau bikin tangga, anak tangganya nggak presisi banget. Kadang tinggi anak tangganya 20cm, anak tangga selanjutnya 21cm, anak tangga berikutnya 20,5cm..ga bisa presisi, ga pernah rapi. Kenapa bisa begitu Koes?”

Ayah saya menjawab,

“Yang bikin ukiran itu berkarya, yang bikin anak tangga itu bekerja”


Bagaimana? Mau bekerja saja atau bekerja dan berkarya?

Luluslah dan berkarya! [T]

Tags: bekerjaberkaryakuliahkuliah sambil kerjamahasiswa
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Next Post

Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Sofwatillah Amin

Sofwatillah Amin

Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten. Narasumber Pustaka Ramadhan di Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta. Tinggal di Banten

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Imajinasi Senja - Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co