2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Sofwatillah Amin by Sofwatillah Amin
August 16, 2019
in Esai
Lulus Kuliah, Ngapain? Bekerja atau Berkarya? Bikin Ukiran itu Berkarya, Bikin Anak Tangga itu Bekerja

Ilustrasi diolah dari foto Mursal Buyung

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Berbagai acara pengenalan suasana kampus digalakan demi menyambut Mahasiswa Baru. Pemandangan serba aneh mulai dari topi Caping, rumbai-rumbai makanan kecil dan hal lainnya yang membuat mata tak nyaman sudah mulai dihilangkan dari acara pengenalan Kampus. Praktis ini membuat para Mahasiswa Baru terlihat jauh lebih elegan.

Banyak di antara mereka dan mungkin juga kita tak menyadari apakah jurusan yang diambil sesuai dengan keinginan dan kemampuan atau tidak. Tapi, keluar dari itu pertanyaan di atas cepat atau lambat menyerang pikiran mereka dan mulai bertanya-tanya pada diri sendiri.

Fase perkenalan sejatinya tak akan lama, setelah fase awal itu, mereka akan naik ke fase selanjutnya. Mereka akan memiliki adik kelas, akrab dengan suasana kampus, menjadi panitia OSPEK, merasa “diseniorkan” dan bla bla bla.

Tapi saat selangkah lagi tiba di garis finish pertanyaan itu kembali menggelayuti pikiran “Setelah lulus kuliah mau ngapain? Berbekal pertanyaan itu beberapa orang memutuskan untuk “menunda” kelulusan  berdalih tak mau menambah angka pengangguran di Indonesia.

What? Pengangguran? Kenapa alasan itu yang muncul? Biasanya alasan itu justeru ada pada orang yang memiliki firasat setelah lulus tak bisa kemana-mana, tak bisa beraktivitas apa-apa, alias nganggur. Jadi, secara sadar dia menobatkan diri sebagai pengangguran sebelum jadi pengangguran sebenarnya. Setuju?

Memang hitungan sederhananya begini, satu kali wisuda bisa meluluskan 400-600an wisudawan. Satu tahun pihak kampus mengadakan wisuda dua sampai tiga, bahkan empat kali, jadi sudah bisa dihitung ada lebih dari 1.000 sarjana tiap tahunnya dan itu baru dari satu kampus, belum dari kampus-kampus lain di seluruh penjuru negeri.

Tidak dipungkiri dari 1.000 kepala tersebut, mayoritas menginginkan terjun ke dunia pekerjaan yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, ya meskipun jurusan tak selalu sejalan dengan kemauan, tapi ya sudahlah kita anggap sesuai dengan jurusan saja agar tak membahas kemana-mana.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikian Tinggi mencatat sekitar 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana, berarti ada sekitar 630.00 sarjana pengangguran pada tahun 2018 (Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih  menganggur-421873).

Data yang sangat mendukung untuk para penunda wisuda. Semestinya sebagai Mahasiswa bisa berpikir lebih dari itu. Lebih bisa melibatkan orang lain dalam setiap tindakannya. Ada penantian orang tua yang harus tertuntaskan, ada harapan orang-orang sekampung yang menunggu ingin melihat tetangganya memakai toga, ada tetangga nun jauh di sana yang juga ingin tahu kampus itu seperti apa dan bagaimana. Karena mungkin hanya dengan melihat Anda wisuda mereka baru bisa ikut melihat dan tahu bagaimana  suasana kampus.

Jadi, perihal pekerjaan semestinya tidak jadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan kapan lulus. Ada keringat dan harapan orang-orang sekitar yang harus segera terbayarkan. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Masalah tidak berhenti di situ. Itu bagi dia yang berpikiran untuk menjadi pekerja, belum lagi mereka yang bilang bahwa urusan pekerjaan bagi seorang sarjana bukan nomor satu, karena yang utama adalah membuka lapangan pekerjaan. It’s ok, enggak papa, semua orang, semua

Mahasiswa saya yakin pernah mengalami fase dimana kita-sebagai mahasiswa menilai bahwa hidup harus bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, padahal yang perlu disadari sebelum bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang, paling tidak, minimal kita harus bisa bermanfaat bagi diri sendiri, tentu saja bagi kalangan terpelajar adalah menyelesaikan tugas studinya. Jadi mau bekerja atau membuka usaha?

Ah yang terpenting bukan itu,, di atas itu ada lagi yang mesti dilatih, yaitu membangun diri.

Di sisi lain, ada pandangan dari masyarakat yang sedikit memojokkan para sarjana. Mereka menganggap bahwa seorang sarjana harus berpakaian rapi, berjas dan berdasi dan semacamnya. Setiap pagi bolak-balik dengan kendaraan menuju kantor dan pulang sore hari, sebagian lagi menganggap itu sama saja dengan “Memperbudak diri”. Dan secara tidak langsung mendorong tujuan orang tua yang menguliahkananaknya untuk bisa jadi pekerja bukan mencari pengalaman, memperluas circle pergaulan atau bahkan mencari ilmu.

            “Sebagus-bagusnya dia punya mobil tetep aja itu hasil digaji orang, setiggi-tingginya pangkat dan jabatan di kantor tetep aja statusnya pegawai, pesuruh. Mending gue dong usaha, berapapun uang yang gue dapet, gue tetep jadi pemimpin perusahaan, gue kepala meskipun di tubuh ikan teri, daripada lu di tubuh hiu tapi cuma bisa jadi ekor”.

Ini “Indonesia banget’’, tidak pernah bisa memandang satu hal lebih dari satu sudut pandang, semuanya subjektif, kalau orang jawa bilang semaue dewek.  Sekalipun objektif ya sama hal-hal yang menguntungkan dia saja, Hey, come on, saya coba beri stimulus positif pada adik-adik Mahasiswa,  perihal setelah lulus kuliah mau jadi apa, itu lebih dari sekadar keputusan, semuanya membutuhkan mental dan porsinya masing-masing.

Yang memutuskan jadi karyawan, dia butuh mental, kerja dibawah tekanan dan yang paling sulit adalah mengorbankan waktu bersama keluarga. Begitupun yang memutuskan jadi pengusaha, dia membutuhkan kesabaran setebal baja, hati sekeras batu dan jiwa marketing yang saat ini hampir semua orang sudah memilikinya, persaingan pasar ketat. Kesemuanya memiliki porsinya masing-masing, bukan saling menyudutkan.

Nah, karenanya selain bekerja dan berwirausaha ada satu penawaran yang sangat menarik. Yaitu berkarya. Bagaimana agar bisa berkarya? Manfaatkan waktu 4-7 tahun masa kuliah itu, pelajari sebanyak mungkin hal yang bisa kamu jangkau dan pelajari, bergaullah dengan sebanyak mungkin orang bahkan sampai memori di handphonemu tak cukup lagi menampung kontak dan jaringan yang sudah kamu bangun selama kuliah. Beberpa waktu lalu, saya pernah melihat postingan insta story salah satu seniman Indonesia, ya saya menyebutnya seniman karena dia sangat multitalenta, Pandji Pragiwaksono. Begini postinganya :


Dimulai dari sebuah cerita…

Suatu hari, Ayah saya. Koes Pratomo Wongsoyudo yang saat itu bisnis penyediaan alat-alat berat konstruksi, berbincang dengan rekan kerja berkewarganegaraan Jerman di Hotel yang saat itu namanya masih Hotel Hilton.

Orang Jerman tersebut bertanya dalam bahasa inggris

“Koes, orang Indonesia itu aneh ya…”

Ayah saya bertanya balik dengan tidak kalah bingungnya

“Aneh bagaimana?”

“Orang Indonesia itu kalau bikin ukiran bisa detil sekali, indah, presisi” ujarnya sambil menunjuk ke sebuah ukiran kayu jepara yang menempel pada tembok hotel.

“Tapi..”lanjutnya lagi.

“Orang Indonesia kalau bikin tangga, anak tangganya nggak presisi banget. Kadang tinggi anak tangganya 20cm, anak tangga selanjutnya 21cm, anak tangga berikutnya 20,5cm..ga bisa presisi, ga pernah rapi. Kenapa bisa begitu Koes?”

Ayah saya menjawab,

“Yang bikin ukiran itu berkarya, yang bikin anak tangga itu bekerja”


Bagaimana? Mau bekerja saja atau bekerja dan berkarya?

Luluslah dan berkarya! [T]

Tags: bekerjaberkaryakuliahkuliah sambil kerjamahasiswa
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Next Post

Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Sofwatillah Amin

Sofwatillah Amin

Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten. Narasumber Pustaka Ramadhan di Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta. Tinggal di Banten

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Imajinasi Senja – Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Imajinasi Senja - Kolaborasi Puitik Penyair Fajar Arcana, Musisi Alien Child, dan Sutradara Happy Salma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co