24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Andai Arak Bali Legal

Eka Prasetya by Eka Prasetya
August 1, 2019
in Esai
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

SEJAK lama saya selalu punya keinginan berkunjung ke rumah warga yang melakukan usaha penyulingan minuman beralkohol (mikol) tradisional. Oh ya, sebelum lanjut, dalam tulisan ini saya akan cenderung menyebutnya sebagai mikol, bukan minuman keras (miras).

Sebagai seorang penikmat mikol, sungguh merasa berdosa jika saya tak tahu seperti apa proses penyulingan arak Bali. Maka melihat aktifitas di usaha penyulingan, menjadi hal yang penting bagi saya.

Tapi keinginan itu hanya sebatas keinginan. Kunjungan ke usaha penyulingan itu selalu terhalang. Label wartawan, agaknya sudah tertulis jelas di jidat saya. Sehingga tiap kali hendak berkunjung ke usaha penyulingan, mereka selalu tiarap.

Beberapa tahun lalu, saya pernah ke Desa Bondalem. Desa ini sering disebut sentra penyulingan arak di Kabupaten Buleleng. Berbekal informasi dari seorang kenalan, saya menuju ke lokasi dimaksud. Tapi saat itu aktifitas sepi. Tidak ada aktifitas penyulingan. Si pemilik rumah pun pergi entah kemana. Berkali-kali saya datang ke sana, tapi hasilnya selalu nihil. Akhirnya keinginan itu saya kubur.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rabu (31/7/2019) lalu, saya diajak datang ke sebuah penyulingan arak Bali. Karena arak Bali masih ilegal, maka ada baiknya beberapa informasi terkait nama dan lokasi, saya kaburkan.

Siang itu saya diajak ke sebuah usaha penyulingan arak yang ada di punggung perbukitan Kecamatan Tejakula. Tentu saja dengan didampingi tokoh masyarakat setempat. Dari pemilik usaha penyulingan itu saya mendapat banyak informasi mengenai arak Bali.

* * *

USAHA penyulingan arak Bali, secara garis besar sebenarnya dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok tradisional, dan kelompok semi modern.

Kelompok semi modern, melakukan usaha penyulingan dengan metode-metode yang agak modern. Mereka melakukan pembakaran dengan gas, sementara hasil sulingannya dialirkan melalui pipa aluminium.

Sedangkan kelompok tradisional, melakukan pembakaran dengan kayu bakar. Hasil sulingannya, dialirkan melalui bambu yang memiliki panjang 4-5 meter.

Saya cukup beruntung karena diajak bertemu dengan pengusaha penyulingan tradisional.

Pola penyulingan ini ternyata menghasilkan produk yang berbeda. Arak Bali yang disuling secara semi modern misalnya, memiliki hasil yang lebih jernih. Sementara yang tradisional, memiliki warna yang agak kuning.

Pemilik usaha penyulingan tradisional yang saya temui siang itu – sebut saja namanya Wayan Tomblos – menyebut penyulingan tradisional memiliki tantangan yang lebih pelik. Namun punya rasa yang relatif lebih nikmat.

Penyulingan arak yang dilakukan secara tradisional, harus benar-benar memperhatikan bara api. Biasanya kayu yang bagus adalah kayu intaran, karena bara api cukup stabil.

Bambu yang digunakan untuk mengalirkan sulingan arak juga istimewa. Masyarakat setempat menyebutnya tiing ampel. Bambunya pun tak boleh terlalu tua, namun juga tak terlalu muda. Bila sudah didapat, maka bambu itu akan menghasilkan arak dengan kualitas terbaik dan tahan lama.

Selain itu, bahan dasar pembuatan arak juga sangat berpengaruh. Bahan dasar arak adalah tuak yang dideras dari pohon lontar. Tuak kemudian dipanaskan hingga suhu didih tertentu, hingga menghasilkan arak. Bila tuak yang digunakan kualitasnya buruk, maka arak yang dihasilkan pun buruk. Maka tak heran jika ada sebutan “arak pasil” alias arak basi. Karena memang dibuat dari tuak yang sudah basi.

Arak kualitas kelas satu yang dihasilkan Wayan Tomblos sebenarnya harganya cukup murah. Hanya Rp 15.000 per 600 ml. Namun bila sampai di Kota Singaraja, harganya bisa sampai Rp 25.000 per 600 ml. Entah berapa harganya saat sampai di Denpasar.

Sementara untuk kualitas super, dijual seharga Rp 45.000 per 600 ml. Saat sampai di Kota Singaraja, bisa dijual hingga Rp 75.000. Kualitas super, sering pula disebut dengan arak api.

Tapi, Tomblos sangat jarang membuat arak jenis ini. Sebab hasil sulingan kedua dan ketiga, tak bisa dijual lagi. Biasanya kualitas kedua dan ketiga digunakan untuk kepentingan upakara. Yakni difungsikan untuk arak tabuh. Tapi di Kota Singaraja, arak tabuh sebenarnya masih laku dijual Rp 5.000 per 600 ml.

Setelah mencicipi arak hasil sulingan tradisional, saya pribadi lebih suka dengan hasil sulingan tradisional. Rasanya begitu otentik. Awalnya, mungkin terasa pahit di langit-langit mulut. Tapi tak terasa panas. Setelah ditelan, rasa hangat langsung menguar di lambung dan perlahan menjalar ke seluruh tubuh.

* * *

MENGELOLA usaha penyulingan arak Bali, bagi Wayan Tomblos, sebenarnya merupakan sebuah dilema. Di satu sisi usaha itu memberikan penghidupan bagi keluarganya. Sementara di sisi lain usaha itu jelas-jelas melanggar hukum.

Syukurnya, sejak mulai menggeluti usaha penyulingan pada 2003 lalu, hingga kini ia belum pernah terkena masalah hukum. Warga sekitar juga tak pernah mengeluhkan aktifitas penyulingan yang ia lakukan.

“Mungkin kalau tetangga sekitar sini ada yang mengeluh, beda ceritanya. Syukurnya sampai sekarang masih aman-aman saja,” ujarnya.

Tomblos sendiri sudah mendengar rencana Gubernur Bali Wayan Koster melegalkan arak Bali. “Mudah-mudahan benar jadi legal. Biar saya juga berusaha tenang,” kata Tomblos.

* * *

MELEGALKAN arak Bali tak ubahnya seperti pisau bermata dua. Mikol tradisional, sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Barangkali sejak berabad-abad lalu.

Mikol tradisional juga seolah menjadi ikon sebuah provinsi. Seperti saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, mikol tradisional setempat yang bernama sofi selalu menjadi rekomendasi.

Pun demikian dengan Bali. Arak bali menjadi minuman yang direkomendasikan. Malah arak Bali menjadi minuman yang diburu, entah wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wisatawan berani membayar mahal demi mencicipi arak Bali. Bagi mereka mikol semacam wine, vodka, dan whiski, minuman yang biasa saja dan dapat ditemui dimana saja. Sementara arak Bali hanya dapat ditemui di Bali, jumlahnya terbatas pula. Hebatnya, arak Bali punya rasa yang khas. Tak heran jika kemudian Slank membuat lagu Bali Bagus yang menyinggung soal arak Bali.

Bila dikelola dengan baik, arak Bali bisa menjadi semacam ciri khas bagi Bali. Namun bila dikonsumsi secara berlebihan, arak Bali tentu bisa menjadi sumber masalah.

Kuncinya justru ada di penikmat arak Bali itu sendiri. Jika bisa mengonsumsi secara bertanggungjawab, maka tak akan ada masalah yang muncul. Tapi bisa sudah berlebihan, maka segala masalah akan mudah datang.

* * *

TATKALA arak Bali sudah legal, saya membayangkan wajah Wayan Tomblos yang menyuling arak Bali dengan nyaman. Tanpa harus kucing-kucingan dengan aparat keamanan.

Tatkala arak Bali sudah legal, saya membayangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi motor utama penyalur arak Bali. Kelak tiap desa punya arak Bali dengan ciri khas masing-masing, dengan merek masing-masing, dengan konsumen fanatik masing-masing.

Bila jeli, BUMDes bisa mengelolanya dengan baik. Arak bali dikemas dalam wadah botol kaca transparan. Arak Bali kemudian di-bundling dengan produk panganan khas desa setempat. Di Desa Bondalem misalnya, arak setempat di-bundling dengan kerupuk ikan. Wadahnya dikemas dalam bentuk wadah ramah lingkungan yang menarik.

Malah, usaha penyulingan arak Bali bisa dijadikan salah satu objek kunjungan wisata. Bagi wisatawan-wisatawan tertentu, berkunjung ke lokasi usaha tradisional – termasuk penyulingan arak Bali – merupakan destinasi wisata yang menarik.

Lama-kelamaan pikiran saya semakin liar. Bila arak Bali punya potensi sedemikian besar, mengapa ia tak kunjung dilegalkan. Jangan-jangan selama ini pihak yang tak sepakat arak Bali legal, adalah perusahaan-perusahaan mikol. Mereka takut kalah saing dengan mikol tradisional yang diproduksi secara rumahan, dengan teknologi sederhana, dengan harga yang jauh lebih murah pula.

* * *

SEBOTOL arak Bali yang saya beli dari Wayan Tomblos sudah habis. Ah, arak ini memang membuat pikiran saya kemana-mana. Abaikan saja tulisan yang di atas. Itu cuma pikiran ngelantur gara-gara terpengaruh arak Bali. [T]

Tags: arakarak balibalibali utaraminuman beralkohol
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Belajar Entrepreneur dari Toko Indra Jaya

Next Post

Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co