23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Andai Arak Bali Legal

Eka Prasetya by Eka Prasetya
August 1, 2019
in Esai
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

SEJAK lama saya selalu punya keinginan berkunjung ke rumah warga yang melakukan usaha penyulingan minuman beralkohol (mikol) tradisional. Oh ya, sebelum lanjut, dalam tulisan ini saya akan cenderung menyebutnya sebagai mikol, bukan minuman keras (miras).

Sebagai seorang penikmat mikol, sungguh merasa berdosa jika saya tak tahu seperti apa proses penyulingan arak Bali. Maka melihat aktifitas di usaha penyulingan, menjadi hal yang penting bagi saya.

Tapi keinginan itu hanya sebatas keinginan. Kunjungan ke usaha penyulingan itu selalu terhalang. Label wartawan, agaknya sudah tertulis jelas di jidat saya. Sehingga tiap kali hendak berkunjung ke usaha penyulingan, mereka selalu tiarap.

Beberapa tahun lalu, saya pernah ke Desa Bondalem. Desa ini sering disebut sentra penyulingan arak di Kabupaten Buleleng. Berbekal informasi dari seorang kenalan, saya menuju ke lokasi dimaksud. Tapi saat itu aktifitas sepi. Tidak ada aktifitas penyulingan. Si pemilik rumah pun pergi entah kemana. Berkali-kali saya datang ke sana, tapi hasilnya selalu nihil. Akhirnya keinginan itu saya kubur.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rabu (31/7/2019) lalu, saya diajak datang ke sebuah penyulingan arak Bali. Karena arak Bali masih ilegal, maka ada baiknya beberapa informasi terkait nama dan lokasi, saya kaburkan.

Siang itu saya diajak ke sebuah usaha penyulingan arak yang ada di punggung perbukitan Kecamatan Tejakula. Tentu saja dengan didampingi tokoh masyarakat setempat. Dari pemilik usaha penyulingan itu saya mendapat banyak informasi mengenai arak Bali.

* * *

USAHA penyulingan arak Bali, secara garis besar sebenarnya dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok tradisional, dan kelompok semi modern.

Kelompok semi modern, melakukan usaha penyulingan dengan metode-metode yang agak modern. Mereka melakukan pembakaran dengan gas, sementara hasil sulingannya dialirkan melalui pipa aluminium.

Sedangkan kelompok tradisional, melakukan pembakaran dengan kayu bakar. Hasil sulingannya, dialirkan melalui bambu yang memiliki panjang 4-5 meter.

Saya cukup beruntung karena diajak bertemu dengan pengusaha penyulingan tradisional.

Pola penyulingan ini ternyata menghasilkan produk yang berbeda. Arak Bali yang disuling secara semi modern misalnya, memiliki hasil yang lebih jernih. Sementara yang tradisional, memiliki warna yang agak kuning.

Pemilik usaha penyulingan tradisional yang saya temui siang itu – sebut saja namanya Wayan Tomblos – menyebut penyulingan tradisional memiliki tantangan yang lebih pelik. Namun punya rasa yang relatif lebih nikmat.

Penyulingan arak yang dilakukan secara tradisional, harus benar-benar memperhatikan bara api. Biasanya kayu yang bagus adalah kayu intaran, karena bara api cukup stabil.

Bambu yang digunakan untuk mengalirkan sulingan arak juga istimewa. Masyarakat setempat menyebutnya tiing ampel. Bambunya pun tak boleh terlalu tua, namun juga tak terlalu muda. Bila sudah didapat, maka bambu itu akan menghasilkan arak dengan kualitas terbaik dan tahan lama.

Selain itu, bahan dasar pembuatan arak juga sangat berpengaruh. Bahan dasar arak adalah tuak yang dideras dari pohon lontar. Tuak kemudian dipanaskan hingga suhu didih tertentu, hingga menghasilkan arak. Bila tuak yang digunakan kualitasnya buruk, maka arak yang dihasilkan pun buruk. Maka tak heran jika ada sebutan “arak pasil” alias arak basi. Karena memang dibuat dari tuak yang sudah basi.

Arak kualitas kelas satu yang dihasilkan Wayan Tomblos sebenarnya harganya cukup murah. Hanya Rp 15.000 per 600 ml. Namun bila sampai di Kota Singaraja, harganya bisa sampai Rp 25.000 per 600 ml. Entah berapa harganya saat sampai di Denpasar.

Sementara untuk kualitas super, dijual seharga Rp 45.000 per 600 ml. Saat sampai di Kota Singaraja, bisa dijual hingga Rp 75.000. Kualitas super, sering pula disebut dengan arak api.

Tapi, Tomblos sangat jarang membuat arak jenis ini. Sebab hasil sulingan kedua dan ketiga, tak bisa dijual lagi. Biasanya kualitas kedua dan ketiga digunakan untuk kepentingan upakara. Yakni difungsikan untuk arak tabuh. Tapi di Kota Singaraja, arak tabuh sebenarnya masih laku dijual Rp 5.000 per 600 ml.

Setelah mencicipi arak hasil sulingan tradisional, saya pribadi lebih suka dengan hasil sulingan tradisional. Rasanya begitu otentik. Awalnya, mungkin terasa pahit di langit-langit mulut. Tapi tak terasa panas. Setelah ditelan, rasa hangat langsung menguar di lambung dan perlahan menjalar ke seluruh tubuh.

* * *

MENGELOLA usaha penyulingan arak Bali, bagi Wayan Tomblos, sebenarnya merupakan sebuah dilema. Di satu sisi usaha itu memberikan penghidupan bagi keluarganya. Sementara di sisi lain usaha itu jelas-jelas melanggar hukum.

Syukurnya, sejak mulai menggeluti usaha penyulingan pada 2003 lalu, hingga kini ia belum pernah terkena masalah hukum. Warga sekitar juga tak pernah mengeluhkan aktifitas penyulingan yang ia lakukan.

“Mungkin kalau tetangga sekitar sini ada yang mengeluh, beda ceritanya. Syukurnya sampai sekarang masih aman-aman saja,” ujarnya.

Tomblos sendiri sudah mendengar rencana Gubernur Bali Wayan Koster melegalkan arak Bali. “Mudah-mudahan benar jadi legal. Biar saya juga berusaha tenang,” kata Tomblos.

* * *

MELEGALKAN arak Bali tak ubahnya seperti pisau bermata dua. Mikol tradisional, sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Barangkali sejak berabad-abad lalu.

Mikol tradisional juga seolah menjadi ikon sebuah provinsi. Seperti saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, mikol tradisional setempat yang bernama sofi selalu menjadi rekomendasi.

Pun demikian dengan Bali. Arak bali menjadi minuman yang direkomendasikan. Malah arak Bali menjadi minuman yang diburu, entah wisatawan domestik maupun mancanegara.

Wisatawan berani membayar mahal demi mencicipi arak Bali. Bagi mereka mikol semacam wine, vodka, dan whiski, minuman yang biasa saja dan dapat ditemui dimana saja. Sementara arak Bali hanya dapat ditemui di Bali, jumlahnya terbatas pula. Hebatnya, arak Bali punya rasa yang khas. Tak heran jika kemudian Slank membuat lagu Bali Bagus yang menyinggung soal arak Bali.

Bila dikelola dengan baik, arak Bali bisa menjadi semacam ciri khas bagi Bali. Namun bila dikonsumsi secara berlebihan, arak Bali tentu bisa menjadi sumber masalah.

Kuncinya justru ada di penikmat arak Bali itu sendiri. Jika bisa mengonsumsi secara bertanggungjawab, maka tak akan ada masalah yang muncul. Tapi bisa sudah berlebihan, maka segala masalah akan mudah datang.

* * *

TATKALA arak Bali sudah legal, saya membayangkan wajah Wayan Tomblos yang menyuling arak Bali dengan nyaman. Tanpa harus kucing-kucingan dengan aparat keamanan.

Tatkala arak Bali sudah legal, saya membayangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi motor utama penyalur arak Bali. Kelak tiap desa punya arak Bali dengan ciri khas masing-masing, dengan merek masing-masing, dengan konsumen fanatik masing-masing.

Bila jeli, BUMDes bisa mengelolanya dengan baik. Arak bali dikemas dalam wadah botol kaca transparan. Arak Bali kemudian di-bundling dengan produk panganan khas desa setempat. Di Desa Bondalem misalnya, arak setempat di-bundling dengan kerupuk ikan. Wadahnya dikemas dalam bentuk wadah ramah lingkungan yang menarik.

Malah, usaha penyulingan arak Bali bisa dijadikan salah satu objek kunjungan wisata. Bagi wisatawan-wisatawan tertentu, berkunjung ke lokasi usaha tradisional – termasuk penyulingan arak Bali – merupakan destinasi wisata yang menarik.

Lama-kelamaan pikiran saya semakin liar. Bila arak Bali punya potensi sedemikian besar, mengapa ia tak kunjung dilegalkan. Jangan-jangan selama ini pihak yang tak sepakat arak Bali legal, adalah perusahaan-perusahaan mikol. Mereka takut kalah saing dengan mikol tradisional yang diproduksi secara rumahan, dengan teknologi sederhana, dengan harga yang jauh lebih murah pula.

* * *

SEBOTOL arak Bali yang saya beli dari Wayan Tomblos sudah habis. Ah, arak ini memang membuat pikiran saya kemana-mana. Abaikan saja tulisan yang di atas. Itu cuma pikiran ngelantur gara-gara terpengaruh arak Bali. [T]

Tags: arakarak balibalibali utaraminuman beralkohol
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Belajar Entrepreneur dari Toko Indra Jaya

Next Post

Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co