2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Ini Sekumpulan Sedih

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 17, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ngaku saja kalau ada perasaan yang selalu kita sembunyikan rapat-rapat. Kebanyakan dari kita sering tidak jujur. Bukan hanya kepada orang lain, juga kepada diri. Tapi tidak mungkin berbohong pada “diri”, sebab ia melihat segalanya. Karena ia melihat segalanya, ia disebut sebagai salah satu saksi di antara tiga belas jenis saksi.

Kesedihan adalah kenyataan yang sering kita tepis dengan segala macam jurus. Mulai dari mencari obatnya di luar, sampai mengoreknya di dalam. Di luar dicarinya pada gunung, laut, danau, langit, bulan, bintang, buku-buku, dan seterusnya. Pencarian itu dijadikannya obat sedih, meski bukan yang paling mujarab.

Di dalam dikorek-koreklah batinnya yang bergejolak kuat seperti ombak laut. Kebanyakan orang mengorek hal yang sama, yang ingin dipahaminya adalah masa lalu yang konon jadi penyebab kesedihannya di masa sekarang. Setelah tahu lalu apa? Tindak selanjutnya adalah penyikapan. Beda orang, beda penyikapan. Tiap penyikapan diikuti resiko yang berbeda pula. Tiap resiko selalu berkembang dan menjadi suka-duka yang baru. Ini sudah seperti lingkaran yang tiada henti.

Jika orang sudah terlanjur terjebak ke dalam lorong suka-duka, ilmu pengetahuan dan agama sudah tidak lagi berguna. Suka-duka itu sumber dari segala kebingungan. Karena bingung, tidak satu pun sastra bisa dipahami dengan benar. Meskipun paham, orang bingung cepat melupakannya. Kurang sedih apa lagi kita ini?

Belum cukup hanya level kesedihan segitu, kesedihan itu dilanjutkan lagi. Kelanjutannya adalah, kita tidak tahu cara menghilangkannya. Apa sebenarnya obat sedih yang tak terperikan itu? Nirartha Prakreta menganalogikan kesedihan seperti langit malam yang hitam pekat. Di dalamnya juga disebutkan jawaban tentang bagaimana cara menghilangkan kesedihan. Caranya adalah dengan angiket lambang. Artinya membuat karya sastra.

Barangkali memang demikian, tiap-tiap penyair mengekspresikan kesedihan lewat kata-kata yang tertulis. Kesedihan itu bukan lagi hanya pada tataran kedukaan karena kehilangan, tapi lebih luas. Kesedihan bisa menjangkiti karena banyak sekali sebab. Singkatnya, karena segala yang dicari tidak ketemu. Yang ditemukan, bukan yang dicari. Segala yang dinanti tidak datang. Yang datang bukan yang dinanti. Yang dipelajari tidak dipahami. Segala yang dipahami hilang begitu saja seperti embun pagi. Tidak jelas hilangnya, antara jatuh atau menguap bersama udara.

Kita ini diibaratkan seperti katak yang hidup di telaga yang ditumbuhi teratai. Seberapa cerdasnya katak, tidak mungkin paham sari-sari teratai. Kesedihan yang dialami pun begitu. Kita yang hidup bersama dengan kesedihan, gagal paham tentang kesedihan yang dialami sendiri. Kesedihan jadi berlipat-lipat. Karena sedih adalah perasaan, jadi kita ini tidak paham pada perasaan sendiri.

Untuk menyiasatinya, carilah orang lain untuk berkeluh kesah. Sebab orang lain itu, seperti kumbang yang datang dari jauh dan paham bagaimana cara menghisap madu teratai. Sambil menghisap madu, ia akan berdenging seperti nasihat orang-orang bijaksana. Suaranya indah dan menyediakan banyak hal untuk direnungkan. Meskipun belum tentu juga, kumbang itu paham apa yang sedang dilakukannya. Tapi katak seperti kita, cukuplah menjadi lega karenanya.

Para ikan yang saya hormati dan saya banggakan. Maka dari itu, hanya kepada orang bijaksanalah semestinya kita ini memohonkan petunjuk. Orang bijaksana yang pikirannya sudah tenang hening itulah patut dijadikan teman. Orang yang demikian diibaratkan seperti surga yang menawarkan keindahan. Jangan sering marah-marah, selain kita jadi cepat tua, kemarahan membuat kita terjerumus pada kebingungan.

Agar lebih aman, jangan berteman dengan mereka yang licik dan culas. Karena kita hanya akan diberikannya kesedihan. Ada banyak kemudian janji-janji yang tidak ditepati. Tentu saja tidak ditepatinya janji karena itu tidak menguntungkan baginya. Seperti angsa yang berkawan dengan goak. Semua keluarga angsa habis dimakannya. Makanya haruslah hati-hati dan pelan-pelan.

Kita bisa berguru kepada kumbang tentang kesabaran dan pelan-pelan. Ia menghisap madu selalu pelan. Lihat juga rembulan, dari tilem menuju purnama, ia benderang pelan-pelan. Kesabaran selalu berbuah yang indah. Lihat saja pohon beringin yang besar itu. Yang kita beri saput poleng dan meneduhkan. Ia berasal dari biji yang sangat kecil. Ia tumbuh pelan-pelan.

Jadi ada banyak hal yang mesti kita lakukan dengan pelan-pelan. Belajar salah satunya. Orang tidak boleh belajar grasa-grusu. Apalagi kemaruk. Belajar satu persatu, agar satu pelajaran benar-benar dipahami. Einstein tidak mudah menyimpulkan segala pengetahuannya, ia pastilah belajar pelan-pelan. Sama seperti orang naik gunung. Haruslah pelan-pelan dan hati-hati. Meski waktu berjalan sangat cepat, dan dunia global maju pesat, kita tetap berjalan pada satu jalan dengan kehati-hatian dan pelan-pelan. Intinya adalah kemajuan, bukan kemunduran. Apalagi kemunduran cara berpikir. Biarkan saja rambut yang semakin mundur karena berpikir, bukan hasil pemikiran.

Pelan-pelan dan hati-hati juga penting dilakukan ketika melayani pemimpin. Tidak mudah melayani pemimpin, apalagi pemimpin yang banyak maunya. Kadang ia A, kadang ia Z. Hanya satu kata untuk menghadapinya: sabar. Orang sabar adalah orang sadar. Ada satu rumus lagi untuk kaum laki-laki. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini cukup jadi rahasia di antara kita saja. Konon, merawat hati wanita pun haruslah sabar. Hati mereka seperti biji pohon beringin tadi. Rawatlah dan lindungi. Mereka bukan makhluk lemah, tapi perlindungan tetap harus kita berikan. Jika akarnya sudah kuat dan besar, ia yang akan melindungimu dari segala cuaca. Ya kan?

Rumus itu tidak hanya berlaku untuk perlakuan laki-laki pada wanita. Ia bisa diaplikasikan pada tiap orang. Rawatlah hati orang-orang yang kita temui. Sirami akarnya dengan kejujuran. Pupuk ia dengan kesetiaan. Apalagi yang lebih menyehatkan dari itu semua? Pada gilirannya nanti, kita ini akan saling memerlukan. Entah itu dikatakan atau tidak. Tiap perbuatan orang pada kita adalah hutang. Tiap perlakuan kita pada orang lain adalah ikhlas. Biarkan alam semesta bekerja dengan caranya.

Itulah yang saya pelajari selama pengembaraan saya bertemu dengan berbagai jenis burung Cangkak di sepanjang garis waktu ini. Tentu saja ada banyak Cangak di dunia ini. Tapi kebanyakan dari mereka sangat lihai menyamar. Bahkan ia lebih lihai dari seekor musang yang meminjam bulu domba. Saking lihainya, ia pintar menyulap kambing putih jadi hitam. Orang tidak akan mampu membedakan mana Cangak mana bukan. Ia tidak perlu meminjam bulu pada siapa saja. Ia cukup membawa dirinya sebagaimana adanya, lalu banyak ikan akan percaya.

Hati-hati memberikan kepercayaan. Apalagi kepercayaan bisa mengubah kita jadi babi yang buta. Kalau sudah jadi babi buta, kita tidak lagi paham, mana sari mana tai. Kalau sudah di jalan yang salah, apalagi yang bisa terjadi kalau bukan penyesalan. Apalah penyesalan kalau bukan kesedihan. Sekali lagi, kita ini memang sekumpulan kesedihan [T]

Tags: cangakdukacitaPengetahuanrenungansastrasukacita
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

BPS-ku Sayang, BPS-ku Malang

Next Post

Terima Kasih, Singaraja…

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Terima Kasih, Singaraja...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co