23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Ini Sekumpulan Sedih

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 17, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ngaku saja kalau ada perasaan yang selalu kita sembunyikan rapat-rapat. Kebanyakan dari kita sering tidak jujur. Bukan hanya kepada orang lain, juga kepada diri. Tapi tidak mungkin berbohong pada “diri”, sebab ia melihat segalanya. Karena ia melihat segalanya, ia disebut sebagai salah satu saksi di antara tiga belas jenis saksi.

Kesedihan adalah kenyataan yang sering kita tepis dengan segala macam jurus. Mulai dari mencari obatnya di luar, sampai mengoreknya di dalam. Di luar dicarinya pada gunung, laut, danau, langit, bulan, bintang, buku-buku, dan seterusnya. Pencarian itu dijadikannya obat sedih, meski bukan yang paling mujarab.

Di dalam dikorek-koreklah batinnya yang bergejolak kuat seperti ombak laut. Kebanyakan orang mengorek hal yang sama, yang ingin dipahaminya adalah masa lalu yang konon jadi penyebab kesedihannya di masa sekarang. Setelah tahu lalu apa? Tindak selanjutnya adalah penyikapan. Beda orang, beda penyikapan. Tiap penyikapan diikuti resiko yang berbeda pula. Tiap resiko selalu berkembang dan menjadi suka-duka yang baru. Ini sudah seperti lingkaran yang tiada henti.

Jika orang sudah terlanjur terjebak ke dalam lorong suka-duka, ilmu pengetahuan dan agama sudah tidak lagi berguna. Suka-duka itu sumber dari segala kebingungan. Karena bingung, tidak satu pun sastra bisa dipahami dengan benar. Meskipun paham, orang bingung cepat melupakannya. Kurang sedih apa lagi kita ini?

Belum cukup hanya level kesedihan segitu, kesedihan itu dilanjutkan lagi. Kelanjutannya adalah, kita tidak tahu cara menghilangkannya. Apa sebenarnya obat sedih yang tak terperikan itu? Nirartha Prakreta menganalogikan kesedihan seperti langit malam yang hitam pekat. Di dalamnya juga disebutkan jawaban tentang bagaimana cara menghilangkan kesedihan. Caranya adalah dengan angiket lambang. Artinya membuat karya sastra.

Barangkali memang demikian, tiap-tiap penyair mengekspresikan kesedihan lewat kata-kata yang tertulis. Kesedihan itu bukan lagi hanya pada tataran kedukaan karena kehilangan, tapi lebih luas. Kesedihan bisa menjangkiti karena banyak sekali sebab. Singkatnya, karena segala yang dicari tidak ketemu. Yang ditemukan, bukan yang dicari. Segala yang dinanti tidak datang. Yang datang bukan yang dinanti. Yang dipelajari tidak dipahami. Segala yang dipahami hilang begitu saja seperti embun pagi. Tidak jelas hilangnya, antara jatuh atau menguap bersama udara.

Kita ini diibaratkan seperti katak yang hidup di telaga yang ditumbuhi teratai. Seberapa cerdasnya katak, tidak mungkin paham sari-sari teratai. Kesedihan yang dialami pun begitu. Kita yang hidup bersama dengan kesedihan, gagal paham tentang kesedihan yang dialami sendiri. Kesedihan jadi berlipat-lipat. Karena sedih adalah perasaan, jadi kita ini tidak paham pada perasaan sendiri.

Untuk menyiasatinya, carilah orang lain untuk berkeluh kesah. Sebab orang lain itu, seperti kumbang yang datang dari jauh dan paham bagaimana cara menghisap madu teratai. Sambil menghisap madu, ia akan berdenging seperti nasihat orang-orang bijaksana. Suaranya indah dan menyediakan banyak hal untuk direnungkan. Meskipun belum tentu juga, kumbang itu paham apa yang sedang dilakukannya. Tapi katak seperti kita, cukuplah menjadi lega karenanya.

Para ikan yang saya hormati dan saya banggakan. Maka dari itu, hanya kepada orang bijaksanalah semestinya kita ini memohonkan petunjuk. Orang bijaksana yang pikirannya sudah tenang hening itulah patut dijadikan teman. Orang yang demikian diibaratkan seperti surga yang menawarkan keindahan. Jangan sering marah-marah, selain kita jadi cepat tua, kemarahan membuat kita terjerumus pada kebingungan.

Agar lebih aman, jangan berteman dengan mereka yang licik dan culas. Karena kita hanya akan diberikannya kesedihan. Ada banyak kemudian janji-janji yang tidak ditepati. Tentu saja tidak ditepatinya janji karena itu tidak menguntungkan baginya. Seperti angsa yang berkawan dengan goak. Semua keluarga angsa habis dimakannya. Makanya haruslah hati-hati dan pelan-pelan.

Kita bisa berguru kepada kumbang tentang kesabaran dan pelan-pelan. Ia menghisap madu selalu pelan. Lihat juga rembulan, dari tilem menuju purnama, ia benderang pelan-pelan. Kesabaran selalu berbuah yang indah. Lihat saja pohon beringin yang besar itu. Yang kita beri saput poleng dan meneduhkan. Ia berasal dari biji yang sangat kecil. Ia tumbuh pelan-pelan.

Jadi ada banyak hal yang mesti kita lakukan dengan pelan-pelan. Belajar salah satunya. Orang tidak boleh belajar grasa-grusu. Apalagi kemaruk. Belajar satu persatu, agar satu pelajaran benar-benar dipahami. Einstein tidak mudah menyimpulkan segala pengetahuannya, ia pastilah belajar pelan-pelan. Sama seperti orang naik gunung. Haruslah pelan-pelan dan hati-hati. Meski waktu berjalan sangat cepat, dan dunia global maju pesat, kita tetap berjalan pada satu jalan dengan kehati-hatian dan pelan-pelan. Intinya adalah kemajuan, bukan kemunduran. Apalagi kemunduran cara berpikir. Biarkan saja rambut yang semakin mundur karena berpikir, bukan hasil pemikiran.

Pelan-pelan dan hati-hati juga penting dilakukan ketika melayani pemimpin. Tidak mudah melayani pemimpin, apalagi pemimpin yang banyak maunya. Kadang ia A, kadang ia Z. Hanya satu kata untuk menghadapinya: sabar. Orang sabar adalah orang sadar. Ada satu rumus lagi untuk kaum laki-laki. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Ini cukup jadi rahasia di antara kita saja. Konon, merawat hati wanita pun haruslah sabar. Hati mereka seperti biji pohon beringin tadi. Rawatlah dan lindungi. Mereka bukan makhluk lemah, tapi perlindungan tetap harus kita berikan. Jika akarnya sudah kuat dan besar, ia yang akan melindungimu dari segala cuaca. Ya kan?

Rumus itu tidak hanya berlaku untuk perlakuan laki-laki pada wanita. Ia bisa diaplikasikan pada tiap orang. Rawatlah hati orang-orang yang kita temui. Sirami akarnya dengan kejujuran. Pupuk ia dengan kesetiaan. Apalagi yang lebih menyehatkan dari itu semua? Pada gilirannya nanti, kita ini akan saling memerlukan. Entah itu dikatakan atau tidak. Tiap perbuatan orang pada kita adalah hutang. Tiap perlakuan kita pada orang lain adalah ikhlas. Biarkan alam semesta bekerja dengan caranya.

Itulah yang saya pelajari selama pengembaraan saya bertemu dengan berbagai jenis burung Cangkak di sepanjang garis waktu ini. Tentu saja ada banyak Cangak di dunia ini. Tapi kebanyakan dari mereka sangat lihai menyamar. Bahkan ia lebih lihai dari seekor musang yang meminjam bulu domba. Saking lihainya, ia pintar menyulap kambing putih jadi hitam. Orang tidak akan mampu membedakan mana Cangak mana bukan. Ia tidak perlu meminjam bulu pada siapa saja. Ia cukup membawa dirinya sebagaimana adanya, lalu banyak ikan akan percaya.

Hati-hati memberikan kepercayaan. Apalagi kepercayaan bisa mengubah kita jadi babi yang buta. Kalau sudah jadi babi buta, kita tidak lagi paham, mana sari mana tai. Kalau sudah di jalan yang salah, apalagi yang bisa terjadi kalau bukan penyesalan. Apalah penyesalan kalau bukan kesedihan. Sekali lagi, kita ini memang sekumpulan kesedihan [T]

Tags: cangakdukacitaPengetahuanrenungansastrasukacita
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

BPS-ku Sayang, BPS-ku Malang

Next Post

Terima Kasih, Singaraja…

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Terima Kasih, Singaraja...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co