1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama, Identitas dan Konflik

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
June 27, 2019
in Esai

Konflik berbasis identitas agama di dunia menjadi sorotan para pemikir. Tak terkecuali Amartya Sen, seorang ekonom, filsuf peraih hadiah nobel ekonomi. Sen mengkritik peneliti yang berupaya mengklasifikasi warga dunia hanya berdasarkan identitas agama saja.

Kritik yang dilayangkan Sen dalam bukunya Identity and Violence ini salah satunya ditujukan kepada Samuel P. Huntington, penulis The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia.

Dalam pandangan Huntington, benturan antarperadaban di masa depan akan terjadi karena tiga hal: hegemoni barat, intoleransi Islam dan fanatisme Konfusius. Pandangan Huntington yang mengklasifikasi peradaban berdasarkan kategorisasi identitas tunggal dianggap sebagai kekeliruan konseptual oleh Sen. Seperti misalnya “dunia barat”, “dunia Islam”, “dunia Hindu”, “dunia Budha”.

Kelemahan konseptual yang diidap dalam upaya pemahaman tunggal atas warga dunia ini melalui kategorisari peradaban tidak hanya dianggap bertentangan dengan nilai kemanusiaan, namun menafikkan kemajemukan identitas yang dimiliki. “Penggambaran yang ngawur dan konsepsi yang keliru bisa membuat dunia jauh lebih rapuh daripada semestinya”, kata Sen.

Di sini Sen ingin menegaskan bahwa warga dunia tidak bisa disimplifikasi hanya didasarkan pada kategori identitas agama, padahal meskipun sama-sama beragama Islam, orang bisa saja memiliki hobi yang berbeda, minat sains yang berbeda, pandangan filosofis yang berbeda, ketertarikan terhadap busana yang berbeda, termasuk kemampuan diri yang berbeda. Kemajemukan identitas ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu kekeliruan yang dimaksud oleh Amartya Sen adalah upaya mengkategorisasi India sebagai “dunia Hindu” meskipun di dalamnya terdapat hampir 150 juta umat Islam. Artinya kategorisasi keagamaan tidak bisa dengan pas masuk ke dalam klasifikasi negara dan peradaban.

Kecenderungan klasifikasi warga dunia berdasarkan agamanya juga semakin membuat respon barat terhadap terorisme dan konflik global menjadi ganjil dan janggal. Termasuk upaya pemerintah dalam menangani konflik sosial horizontal.

Kita sering menyaksikan, misalnya upaya negara dalam menangani konflik atau kekerasan berbasis agama dengan mengundang pemuka agama yang dianggap cenderung moderat untuk mengenyahkan kaum ekstremis dalam perang agama internal, daripada penguatan masyarakat sipil.

Tidak mengherankan jika hubungan pemuka agama dan kekuasaan menjadi semakin dekat. Apalagi jika si pemuka agama memiliki basis masa agama yang kuat. Di sini kaum sektarian pengobar kebencian dalam sekejap bisa menjadi tokoh politik yang sangat berkuasa, bahkan diperhitungkan dalam politik elektoral.

Jangan heran jika konflik yang dianggap berbasis identitas agama seolah-olah terawat keberadaannya. Mungkin saja, bisa dinikmati secara politik. Di Indonesia, basis massa agama sangat rentan dipolitisasi. Emosi kolektif penganut agama ‘dipanaskan’ melalui isu-isu agamis. Kasus Ahok misalnya.

Kembali ke soal klasifikasi tunggal warga dunia berdasarkan agama yang dikritik Sen, tidak bisa dijadikan referensi utama dalam memetakan persoalan-persoalan sosial dunia. Tidak bisa diklasifikasi jika ia Barat maka anti Islam, jika ia Islam maka anti Hindu, atau sebaliknya.

Sultan Salahudin yang bertarung di pihak Islam dalam perang salib abad ke 12, bersedia menawarkan, tanpa sedikit konflik, satu posisi terhormat di Istana Mesir kepada Maimonides, ketika filsuf Yahudi itu melarikan diri dari Eropa yang tidak toleran.

Sikap seorang yang sama-sama Muslim terhadap toleransi pun berbeda. Sikap mereka juga cenderung bervariasi. Contoh saja, Kaisar Aurangzeb yang menaiki tahta Mogul di India pada akhir abad ke 17 dikenal sebagai penguasa intoleran. Bahkan penduduk non Islam dibebankan pajak khusus.

Sikap berbeda justru tampak pada diri kakak laki-lakinya, Dara Shikoh, anak tertua dari Kaisar Shah Kahan dan Mumtaz Mahal. Dara Sikhoh justru tertarik mempelajari bahasa Sansekerta dan menjadi ahli dalam mengkaji Hinduisme. Paul Deussen yang menulis Sixty Upanisads of The Veda, menyebut Dara Sehakoh (Dara Shikoh) orang yang menerjemahkan kitab-kitab Upanisad dari bahasa Sanskrit ke bahasa Persia.

Terjemahan yang dilakukan oleh Dara Shikoh ini oleh Amartya Sen disebut sebagai landasan utama ketertarikan Eropa terhadap filsafat keagamaan Hindu.

Kakek buyut Dara dan Aurangzeb adalah penjunjung tinggi toleransi beragama. Dia bahkan menetapkan bahwa salah satu kewajiban negara adalah memastikan bahwa tak seorang pun boleh diganggi terkait agamanya dan setiap orang diperbolehkan memeluk yang berkenan bagi dirinya.

Jadi antara dua orang yang hidup dalam keluarga dengan identitas agama yang sama saja punya sikap dan kertertarikan yang berbeda. Lho!

Di Indonesia, antropolog beken, Clifford Geertz mengklasifikasi Agama Jawa menjadi tiga varian yakni Abangan, Santri dan Priyayi. Organisasi-organisasi Islam juga sangat beragam: ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Front Pembela Islam dan sebagainya.

Sementara di Bali, meskipun mayoritas umat Hindu, namun masing-masing memiliki ekspresi keagamaan dan tradisi yang berbeda-beda. Dari sini lantas muncul istilah Desa Kala Patra dan Desa Mawacara, sebagai upaya merumuskan kemajemukan ekspresi kultural tersebut.

Bentuk dan ekspresi aktivitas keagamaan bisa berbeda ketika berada di dalam tempat, waktu, dan keadaan yang berbeda. Inilah sebab, seorang peneliti Bali menghadapi kerumitan ketika melihat Bali yang sangat majemuk secara kultural. Bahkan tak sedikit yang tersesat. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari diskusi ini? Sekali lagi, klasifikasi tunggal warga dunia hanya berdasarkan identitas agama sangat rentan secara politik, sekaligus menyesatkan! [T]

Tags: agamaBudhahinduidentitasIslamkonflikKonfusius
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Angsel-angsel Legong Klasik Khas Desa Saba, Bungah dan Hidup

Next Post

Semua Sekolah Favorit, Zonasi-pun Alami

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Semua Sekolah Favorit, Zonasi-pun Alami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co