22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agama, Identitas dan Konflik

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
June 27, 2019
in Esai

Konflik berbasis identitas agama di dunia menjadi sorotan para pemikir. Tak terkecuali Amartya Sen, seorang ekonom, filsuf peraih hadiah nobel ekonomi. Sen mengkritik peneliti yang berupaya mengklasifikasi warga dunia hanya berdasarkan identitas agama saja.

Kritik yang dilayangkan Sen dalam bukunya Identity and Violence ini salah satunya ditujukan kepada Samuel P. Huntington, penulis The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia.

Dalam pandangan Huntington, benturan antarperadaban di masa depan akan terjadi karena tiga hal: hegemoni barat, intoleransi Islam dan fanatisme Konfusius. Pandangan Huntington yang mengklasifikasi peradaban berdasarkan kategorisasi identitas tunggal dianggap sebagai kekeliruan konseptual oleh Sen. Seperti misalnya “dunia barat”, “dunia Islam”, “dunia Hindu”, “dunia Budha”.

Kelemahan konseptual yang diidap dalam upaya pemahaman tunggal atas warga dunia ini melalui kategorisari peradaban tidak hanya dianggap bertentangan dengan nilai kemanusiaan, namun menafikkan kemajemukan identitas yang dimiliki. “Penggambaran yang ngawur dan konsepsi yang keliru bisa membuat dunia jauh lebih rapuh daripada semestinya”, kata Sen.

Di sini Sen ingin menegaskan bahwa warga dunia tidak bisa disimplifikasi hanya didasarkan pada kategori identitas agama, padahal meskipun sama-sama beragama Islam, orang bisa saja memiliki hobi yang berbeda, minat sains yang berbeda, pandangan filosofis yang berbeda, ketertarikan terhadap busana yang berbeda, termasuk kemampuan diri yang berbeda. Kemajemukan identitas ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Salah satu kekeliruan yang dimaksud oleh Amartya Sen adalah upaya mengkategorisasi India sebagai “dunia Hindu” meskipun di dalamnya terdapat hampir 150 juta umat Islam. Artinya kategorisasi keagamaan tidak bisa dengan pas masuk ke dalam klasifikasi negara dan peradaban.

Kecenderungan klasifikasi warga dunia berdasarkan agamanya juga semakin membuat respon barat terhadap terorisme dan konflik global menjadi ganjil dan janggal. Termasuk upaya pemerintah dalam menangani konflik sosial horizontal.

Kita sering menyaksikan, misalnya upaya negara dalam menangani konflik atau kekerasan berbasis agama dengan mengundang pemuka agama yang dianggap cenderung moderat untuk mengenyahkan kaum ekstremis dalam perang agama internal, daripada penguatan masyarakat sipil.

Tidak mengherankan jika hubungan pemuka agama dan kekuasaan menjadi semakin dekat. Apalagi jika si pemuka agama memiliki basis masa agama yang kuat. Di sini kaum sektarian pengobar kebencian dalam sekejap bisa menjadi tokoh politik yang sangat berkuasa, bahkan diperhitungkan dalam politik elektoral.

Jangan heran jika konflik yang dianggap berbasis identitas agama seolah-olah terawat keberadaannya. Mungkin saja, bisa dinikmati secara politik. Di Indonesia, basis massa agama sangat rentan dipolitisasi. Emosi kolektif penganut agama ‘dipanaskan’ melalui isu-isu agamis. Kasus Ahok misalnya.

Kembali ke soal klasifikasi tunggal warga dunia berdasarkan agama yang dikritik Sen, tidak bisa dijadikan referensi utama dalam memetakan persoalan-persoalan sosial dunia. Tidak bisa diklasifikasi jika ia Barat maka anti Islam, jika ia Islam maka anti Hindu, atau sebaliknya.

Sultan Salahudin yang bertarung di pihak Islam dalam perang salib abad ke 12, bersedia menawarkan, tanpa sedikit konflik, satu posisi terhormat di Istana Mesir kepada Maimonides, ketika filsuf Yahudi itu melarikan diri dari Eropa yang tidak toleran.

Sikap seorang yang sama-sama Muslim terhadap toleransi pun berbeda. Sikap mereka juga cenderung bervariasi. Contoh saja, Kaisar Aurangzeb yang menaiki tahta Mogul di India pada akhir abad ke 17 dikenal sebagai penguasa intoleran. Bahkan penduduk non Islam dibebankan pajak khusus.

Sikap berbeda justru tampak pada diri kakak laki-lakinya, Dara Shikoh, anak tertua dari Kaisar Shah Kahan dan Mumtaz Mahal. Dara Sikhoh justru tertarik mempelajari bahasa Sansekerta dan menjadi ahli dalam mengkaji Hinduisme. Paul Deussen yang menulis Sixty Upanisads of The Veda, menyebut Dara Sehakoh (Dara Shikoh) orang yang menerjemahkan kitab-kitab Upanisad dari bahasa Sanskrit ke bahasa Persia.

Terjemahan yang dilakukan oleh Dara Shikoh ini oleh Amartya Sen disebut sebagai landasan utama ketertarikan Eropa terhadap filsafat keagamaan Hindu.

Kakek buyut Dara dan Aurangzeb adalah penjunjung tinggi toleransi beragama. Dia bahkan menetapkan bahwa salah satu kewajiban negara adalah memastikan bahwa tak seorang pun boleh diganggi terkait agamanya dan setiap orang diperbolehkan memeluk yang berkenan bagi dirinya.

Jadi antara dua orang yang hidup dalam keluarga dengan identitas agama yang sama saja punya sikap dan kertertarikan yang berbeda. Lho!

Di Indonesia, antropolog beken, Clifford Geertz mengklasifikasi Agama Jawa menjadi tiga varian yakni Abangan, Santri dan Priyayi. Organisasi-organisasi Islam juga sangat beragam: ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Front Pembela Islam dan sebagainya.

Sementara di Bali, meskipun mayoritas umat Hindu, namun masing-masing memiliki ekspresi keagamaan dan tradisi yang berbeda-beda. Dari sini lantas muncul istilah Desa Kala Patra dan Desa Mawacara, sebagai upaya merumuskan kemajemukan ekspresi kultural tersebut.

Bentuk dan ekspresi aktivitas keagamaan bisa berbeda ketika berada di dalam tempat, waktu, dan keadaan yang berbeda. Inilah sebab, seorang peneliti Bali menghadapi kerumitan ketika melihat Bali yang sangat majemuk secara kultural. Bahkan tak sedikit yang tersesat. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari diskusi ini? Sekali lagi, klasifikasi tunggal warga dunia hanya berdasarkan identitas agama sangat rentan secara politik, sekaligus menyesatkan! [T]

Tags: agamaBudhahinduidentitasIslamkonflikKonfusius
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Angsel-angsel Legong Klasik Khas Desa Saba, Bungah dan Hidup

Next Post

Semua Sekolah Favorit, Zonasi-pun Alami

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Semua Sekolah Favorit, Zonasi-pun Alami

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co