12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Surat untuk Pak Gubernur – “Bisakah Proses Balik Nama Kendaraan Bermotor Disederhanakan?”

Eka Prasetya by Eka Prasetya
June 11, 2019
in Esai
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

YANG terhormat Bapak Gubernur Bali Wayan Koster. Pertama-tama, izinkan saya mengenalkan diri. Saya hanya salah satu warga yang berdomisili di Buleleng.

Sebagai warga negara yang baik, tentu saya harus membayar pajak. Termasuk membayar pajak sepeda motor yang saya gunakan kerja sehari-hari. Sayang proses mengurus pajak, tak semudah yang dibayangkan. Apalagi mengurus Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Jadi begini Pak Koster. Sekitar tiga bulan lalu, saya membeli sepeda motor bekas. Kebetulan masa berlaku pajaknya habis bulan ini. Tepatnya tanggal 8 Juni 2019. Saya yang pelupa ini, baru sadar kalau masa berlaku pajak itu habis pada hari libur kerja. Saat momen cuti bersama pula.

Jujur saja, saat itu saya panik. Saya khawatir kena denda. Apalagi motor itu harus ganti plat nomor, plus ganti kepemilikan.

Saya bergegas mencari informasi di internet. Syukurnya Kantor Bersama Samsat Buleleng punya akun Facebook. Cukup aktif pula melayani pertanyaan netizen. Lewat pengumuman itu saya bisa menarik nafas lega. Ternyata pegawai di Kantor Samsat tidak ikut cuti bersama. Sebagai pembayar pajak, tentu saya sangat dimudahkan.

Disela-sela kesibukan menyongsong hari raya Idul Fitri, saya menyempatkan datang ke kantor samsat. Saya baru sempat ke sana pada Selasa (4/6/2019) siang. Tepatnya jam 11.50.

Meski datang jelang jam makan siang, saya masih dilayani dengan ramah. Saya harus memberikan apresiasi untuk hal ini. Di meja depan, saya disambut seorang pegawai. Dia mengecek sejumlah berkas yang saya bawa. Setelah lengkap, saya diarahkan menuju loket pendaftaran.

Di loket pendaftaran, saya kembali disambut senyum ramah petugas. Berkas-berkas yang saya bawa, dijepret pada sebuah map khusus. Dari sini, perjalanan panjang mengurus berkas BBNKB itu dimulai. Petugas di meja pendaftaran kemudian menyerahkan lembaran yang berisi alur pengurusan dokumen yang harus saya ikuti.

Pertama, saya harus menuju lokasi gosok rangka dan gosok mesin kendaraan. Lokasinya tak seberapa jauh dari lokasi pendaftaran. Motor langsung saya bawa kesana.

Saya harus menunggu petugas gosok mesin, karena sedang isirahat makan siang. Wajar, karena saya datang saat jam makan siang. Sekitar 20 menit kemudian, petugas gosok mesin datang. Motor langsung diperiksa, dan berkasnya langsung dilampirkan ke map yang saya bawa.

Tahap pertama tuntas. Saya berlanjut ke tahap kedua. Map saya bawa ke Gedung Kartu Induk. Lokasinya di belakang gedung pendaftaran. Saat saya masuk ke gedung, ternyata dalam kondisi kosong. Saya pun maklum. Jam istirahat makan siang, sudah sewajarnya pegawai di sana istirahat.

Saya kemudian menunggu beberapa lama. Satu artikel tentang Leonardo da Vinci yang diulas pada majalah National Geographic edisi Juni 2019, tuntas saya baca saat menunggu. Petugas di gedung itu kemudian datang. Dia langsung melayani sejumlah orang yang juga telah mengantre, termasuk saya.

Tuntas di Gedung Kartu Induk, saya harus melanjutkan ke tahap ketiga. Berkas itu harus saya bawa ke layanan Unit BPKB di Jalan Pulau Selayar, Kelurahan Kampung Baru.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 siang. Saya langsung menggeber motor kesana. Saya baru sampai sekitar pukul 13.50 siang. Sampai sana, ternyata kantor sudah sepi.

Saya masuk ke dalam gedung. Hanya ada dua orang staf di sana. Salah satu staf menyapa saya. Ia pun meminta maaf karena loket pelayanan sudah tutup. Bahkan ia berkali-kali menyampaikan ucapan maaf. Dia juga meyakinkan bahwa berkas yang saya bawa sudah lengkap. Hanya saja belum bisa diproses, karena staf lain sudah tidak ada di tempat.

Tenang saja Pak Gubernur. Bagi saya, itu bukan masalah besar. Saya datang sehari sebelum hari raya. Barangkali staf yang lain sudah pulang kampung, karena merayakan Idul Fitri. Tak apa, saya sudah separo jalan. Sisanya bisa saya lakukan selepas hari raya. Toh masih ada waktu hari Jumat, sehari sebelum masa berlaku pajak habis.

Hari Jumat, saya bergegas datang ke layanan Unit BPKB. Pukul 07.30 saya sudah menuju ke sana. Saat pak polisi masih sibuk mengatur lalu lintas, saya sudah ada di Unit BPKB. Saat itu ada beberapa orang juga yang sudah menunggu. Salah satunya, berasal dari Desa Sepang, Busungbiu. Dia juga tengah mengurus balik nama kendaraan.

Tepat pukul 08.00 pagi, loket pelayanan dibuka. Begitu berkas diterima, saya diberikan kitir untuk membayar biaya cetak Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Saya pun menuju loket BRI yang terletak di Kantor Layanan SIM. Kebetulan lokasi layanan SIM dan BPKB bersebelahan.

Tuntas membayar, berkas yang saya serahkan tadi, dikembalikan pada saya. Petugas setempat mengarahkan saya membawa berkas tadi ke Kantor Samsat Buleleng di Jalan Dewa Putu Kerta. Berkas itu pun kembali saya bawa ke sana.

Sampai di kantor samsat, saya kembali bertemu dengan petugas di meja depan. Kali ini saya diminta membawa map ke loket BRI lebih dulu. Setelah itu baru ke loket pendaftaran. Semua proses saya ikuti.

Tak lama, nomor antrean saya dipanggil ke loket BPD Bali untuk membayar pajak sesuai nominal yang tercantum dalam surat ketetapan pajak daerah. Sekitar 15 menit kemudian, nomor antren saya dipanggil ke loket pengambilan.

Sudah selesai? Oh, belum selesai Pak Gub. Petugas di sana memberikan saya dua lembar kitir. Katanya satu lembar, harus diserahkan ke loket cetak plat nomor. Tak masalah, lokasinya dekat saja.

Sedangkan lembaran kitir lainnya harus saya bawa kembali ke Unit BPKB. Nasbedag, saya harus jauh-jauh balik ke Kampung Baru lagi.

Setelah ambil plat nomor, saya langsung kembali lagi ke Unit BPKB. Di sana saya serahkan kitir yang tadi saya terima di loket pengambilan samsat. Kitir itu kemudian ditukarkan dengan selembar tanda terima. Nah tanda terima itu untuk mengambil BPKB dua bulan mendatang.

Jadi intinya begini Pak Gubernur. Proses untuk balik nama demikian panjang. Saya dan masyarakat lain yang ingin balik nama kendaraan, harus bolak-balik untuk mengurus dokumen kendaraan.

Mengutip data di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bali, pada 2016 pendapatan daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) mencapai Rp 1,06 triliun. Sedangkan dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) sebesar Rp 973,5 juta. Itu sudah Rp 67 persen dari total PAD Provinsi Bali di tahun 2016.

Nah di tahun 2018, konon targetnya lebih tinggi lagi. Pajak kendaraan bermotor ditarget Rp 1,3 triliun, sedangkan bea balik nama ditarget Rp 1,1 triliun.

Merujuk data itu, semestinya proses balik nama bisa disederhanakan. Supaya niat masyarakat mengurus balik nama makin tinggi. Bukankah makin banyak yang urus balik nama, makin banyak pendapatan daerah? Apalagi sedikitnya ada 220ribu unit kendaraan bermotor yang ada di Buleleng.

Pak Gubernur yang terhormat, bila boleh saya meminta, bisakah proses balik nama kendaraan bermotor disederhanakan? Biar tak terlalu banyak loket yang harus didatangi.

Kalau bisa, cukup 4 loket saja. Satu loket untuk gosok mesin, satu loket untuk pendaftaran, satu loket untuk pembayaran, dan satu loket untuk pengambilan. Loket pengambilan ini ya termasuk pengambilan plat nomor dan BPKB.

Kalau prosedurnya tidak bisa disederhanakan, paling tidak saya mohon agar gedung layanan BPKB dipindahkan saja. Biar satu areal dengan Kantor Samsat Buleleng. Jadi masyarakat yang mau urus balik nama tak perlu lagi bolak-balik seperti setrika.

Kalau dari sisi layanan, saya sangat puas. Petugas sangat ramah. Pelayanannya juga cepat. Tapi urusan bolak-balik dari kantor samsat ke unit BPKB ini yang membuat lelah.

Barangkali sesekali Pak Gubernur boleh coba urus balik nama kendaraan di Buleleng. Seandainya nanti tidak kuat, bapak boleh melambaikan tangan ke kamera. [T]

Tags: administrasibirokrasiGubernur Balikendaraan bermotorsamsat
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Ecobricks, Selamatkan Plastik dari Takdirnya Sebagai Racun

Next Post

“Injury Time Call” –Kisah Lucu Dokter Siaran di Radio Guntur FM

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Injury Time Call” –Kisah Lucu Dokter Siaran di Radio Guntur FM

"Injury Time Call" --Kisah Lucu Dokter Siaran di Radio Guntur FM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co