12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Smart Women Have Voice and Choice –Catatan Menonton Aladdin

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
June 4, 2019
in Ulasan
Smart Women Have Voice and Choice –Catatan Menonton Aladdin

Princess Jasmine diperankan Naomi Scott (Foto Google)

  • Aladdin (Disney, 2019)
  • Director: Guy Ritchie
  • Writers: John August (screenplay by), Guy Ritchie (screenplay by)
  • Stars: Will Smith, Mena Massoud, Naomi Scott 

Adegan dibuka dengan laut biru yang membentang luas, dan dua kapal yang berlayar. Satu kapal tampak mewah dan satu kapal lagi tampak sederhana. Di perahu sederhana itu, dua anak kecil berandai-andai mereka memiliki perahu mewah itu. Ayahnya lalu mengalihkan perhatian kedua anak itu dengan mendongeng. Dan dongeng Aladdin dimulai.

Aladdin versi terbaru ini menghadirkan banyak kejutan, banyak nilai-nilai kemanusiaan, tentang arti hidup, cinta, kekuasaan, kejujuran dan persahabatan. 

Isu Feminisme

A whole new world. Aladdin menyajikan suara dan tawaran baru dalam film yaitu memberi porsi suara perempuan terdengar lantang dan didukung serta diwujudkan. Aladdin adalah sebuah film live action produksi Disney yang menggebrak dunia dengan nuansa feminisme yang kental.

Princess Jasmine, diperankan sangat meyakinkan oleh Naomi Scott, digambarkan sebagai seorang putri raja Agrabah yang telah mempersiapkan diri sebagai raja, dengan mengenali rakyatnya lebih dekat, mengenal wilayahnya dengan baik, mempelajari hukum serta memiliki sebuah visi tentang menjadi seorang pemimpin yang adil. 

Sebuah harapan dan tawaran baru dalam dunia dongeng klasik, dimana perempuan biasanya hanya digambarkan sebagai objek cerita, bukan subjek yang memiliki suara dan kekuatan. Dalam versi animasinya pun Princess Jasmine sesungguhnya digambarkan sebagai perempuan yang lemah lembut dan tidak memiliki visi, namun di Aladdin ini Princess Jasmine memiliki suara dan visi yang sangat kuat.

Naomi Scott sangat berhasil memerankan Princess Jasmine, ia tidak tampil berlebihan, namun semua emosinya tertakar sempurna. Ia tampil natural dan seolah-olah telah ‘menjadi’ Princess Jasmine itu sendiri. Apalagi dia memang menjadi sentral cerita, yang memberi ruang padanya untuk tampil lebih menonjol bahkan dibandingkan Aladdin (diperankan Mena Massoud) sendiri.

Tampaknya memang isu feminisme diusung untuk memberi sebuah penguatan akan pentingnya kesetaraan gender dalam konteks film ini, yaitu kekuasaan yang digunakan secara adil. Sebelumnya di Kerajaan Agrabah, untuk ribuan tahun lamanya, Undang-undang tidak mengijinkan perempuan menjadi raja. Hal inilah yang digugat oleh Princess Jasmine. Dia merasa tidak hanya laki-laki yang berhak menjadi raja, perempuan pun bisa jika diberi kesempatan.

Gugatan ini telah tersirat di awal cerita bahwa Princess Jasmine tidak ragu turun ke pasar, mengecek langsung kondisi rakyat. Dalam konteks seorang putri raja yang biasa dikurung di istana, berkeliaran di pasar dengan melihat realita rakyat jelata yang miskin, adalah sebuah keganjilan. Namun inilah yang kemudian membuat dia bertemu Aladdin, pencopet ulung yang biasa dijuluki tikus jalanan, yang membantunya lolos dari kepungan penjaga pasar.

Dalam percakapannya dengan Aladdin di rumah Aladdin yang sederhana, ia merasa bahwa dia terjebak dalam kondisi yang tidak banyak berubah, hampir sama dengan kondisi Aladdin. Bedanya, Princess Jasmine berada dalam istana dengan segenap hukumnya, dan Aladdin dengan kehidupan jalanannya yang juga tak pernah berubah dari waktu ke waktu.



Jin yang Manusiawi

Kehadiran Will Smith menjadi sebuah kekuatan cerita dalam film ini. Tidak hanya berperan sebagai jin yang jenaka, namun nilai-nilai yang ditawarkan oleh Genie menjadi pemikiran yang menarik. Terutama filosofi kehidupan, arti permohonan dan arti persahabatan, arti cinta dan arti kekuasaan, arti kejujuran dan kepalsuan. Dapat dikatakan bahwa karakter Jin disini sangat manusiawi dan malah lebih manusiawi dari manusia sendiri. Ia memikirkan hal-hal yang di luar konteks jin dan mengajari manusia menjadi manusia.

Misalnya ketika Jin menjelaskan Aladdin tak bisa meminta tiga hal yakni menghidupkan orang mati, membuat orang jatuh cinta, dan membunuh orang. Itu jelas pelajaran penting bukan untuk Jin, melainkan untuk manusia.

Aladdin meminta dijadikan pangeran. Dan dari situlah kelucuan-kelucuan manusiawi tergambarkan. Misalnuya kekonyolan adegan pertemuan pertama Pangeran Ali dengan Princess Jasmine yang sangat menggelikan.

Pangeran Ali tidak bisa menyebutkan harta apa yang dibawanya, malah dia menyebutkan benda-benda tak berarti seperti sendok kecil, selai buah buahan dan lain-lain. Dan Jin memberi pelajaran: bahwa Jin hanya bisa menyulap tampilan luarnya, bukan kepribadiannya. Ia harus belajar lebih percaya diri dan meyakinkan.

Adegan yang ditunggu-tunggu tentu saja ketika Princess Jasmine bersama Aladdin menelusuri dunia baru yang ajaib dengan karpet terbang. Ini menjadi sebuah adegan yang sangat romantis dan kuat. Benar-benar a whole new world.

Plot Twist

Plot bergulir dengan kenyataan pada akhirnya Genie harus kecewa karena Aladdin terjebak pada kebohongannya dan takut rahasianya terkuak. Dalam kekecewaan itu, jin kembali masuk ke dalam lampu, dan Aladdin teledor hingga lampu jatuh ke tangan Jafar (diperankan dengan apik oleh Marwan Kenzari).

Dalam sebuah jalinan plot twist yang meyakinkan, digambarkan Jafar menggunakan lampu ajaib untuk menjadikannya Raja. Dalam sekejap iapun menjadi raja. Kerajaan berubah muram.

Semua orang tunduk padanya termasuk Raja yang sesungguhnya, Hakim dan Princess Jasmine. Semua menunduk dan diam. Dalam kondisi yang sangat mencekam, Princess Jasmine melakukan tindakan heorik dengan mengutarakan pikirannya lewat lagu Speechless dengan sangat memukau, intinya Princess Jasmine tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di Agrabah.

Kecerdasan plot twist hingga akhir cerita tentu tak lepas dari penulis naskah dan sutradara Guy Ritchie.  Ritchie menulis naskah ini dengan John August dan mampu membuat kejutan demi kejutan yang logis dan menegangkan.

Ending yang Mengharukan

Pelajaran dari sebuah dongeng klasik yang terus menerus terasa baru biasanya terdapat pada ending. Ketika Aladdin punya permintaan terakhir, dia tidak meminta Jin menjadikan dirinya sebagai raja. Ia mengorbankan kesempatan untuk mendapatkan perempuan yang diidamkannya.

Pelajaran lain adalah ketika sang Raja yang telah sadar bahwa kerajaannya telah bebas dari kuasa Jafar yang jahat, memberikan kekuasaan kepada Princess Jasmine untuk menjadi Raja dan mengubah hukum dengan mengijinkan seorang perempuan menjadi raja. Princess Jasmine bahagia dan dia memilih sendiri siapa yang menjadi suaminya. Karena perempuan tak hanya memiliki suara namun juga memiliki pilihan.

Sementara perempuan lain di film ini, dayang atau pelayan Princess Jasmine bernama Dalia yang diperankan dengan sangat baik oleh Nasim Pedrad, juga menjadi karakter perempuan cerdas yang tidak hanya melayani Princess Jasmine namun memberikan suaranya dengan mengajukan pertanyaan atau pertimbangan-pertimbangan kepada Princess Jasmine. Dia juga berani memilih lelaki yang “tak biasa” untuk jadi pendampingnya.

Secara umum, seluruh pemain bermain sesuai dengan porsinya dan dua pemain yang sangat menonjol tentunya adalah Naomi Scott dan Will Smith.

Naomi sangat menguasai perhatian dan emosi saya ketika dia menyanyi Speechless terutama di adegan ketika Princess Jasmine hampir kehilangan semuanya, kerajaannya, impiannya, dan ayahnya juga orang-orang yang dia percayai. Saat itu lagu Speechless menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengubah dunia dan kita penonton merasakannya. Kegetiran emosinya dan tekanan yang dia hadapi. Ia bersama kita berdiri melawan ketidakadilan. Kita seperti menemukannya mewakili suara kita yang tak terdengar.

Begini lirik chorusnya:

I won’t be silenced
You can’t keep me quiet
Won’t tremble when you try it
All I know is I won’t go speechless
‘Cause I’ll breathe when they try to suffocate me
Don’t you underestimate me
‘Cause I know that I won’t go speechless

Disinilah visi besar yang  tertangkap dalam film ini, bahwa perempuan memiliki suara dan pilihan, terutama perempuan cerdas. Bahkan perempuan dapat mengubah dunia.

Tidak hanya Naomi Scott, Nasim Pedrad (pemeran Dalia) juga sangat kuat memerankan pelayan setia Princess Jasmine yang tidak sekedar menjadi pelayan, namun sahabat yang memiliki andil dalam mendukung dan menguatkan Princess Jasmine.

Ia dihadirkan bukan sebagai tempelan namun sebagai karakter yang turut menjalankan cerita. Dalia juga punya suara dan pilihan bahwa dia mencintai Jin dan memilihnya menjadi suaminya. Suara ini terdengar lantang dan ia menyuarakannya lewat tindakan memilih yang cerdas pula.

Kritik Tersembunyi

Adapun kritik tersembunyi di film ini barangkali kehadiran Prince Anders dari Skanland, yang dibuat terlihat agak kikuk dan terlihat bodoh. Dari semua karakter di film ini, Prince Anders-lah yang berkulit putih, sementara hampir semua yang lain berkulit coklat dan hitam. Hal ini semacam gugatan pada Hollywood yang selama ini sangat “putih” dan cenderung kurang memberi tempat pada “kulit berwarna”, menjadi lebih berwarna dengan kehadiran pendatang baru yang bukan “putih” atau “pucat”.

Naomi Scott adalah aktris berdarah Inggris dan India, Mena Massoud adalah aktor berdarah Mesir Kanada, Marwan Kenzari berdarah Belanda Tunisia, dan Will Smith aktor berkulit hitam dari Amerika. Hollywood yang biasanya diejek dengan “Hollywood is so white” now is not so white anymore. Semua warna non putih ini mengingatkan sebuah warna baru yang menjanjikan di Hollywood.

Benar-benar a whole new world. Bravo Aladdin, eh Princess Jasmine! [T]

Tags: Aladdindongengfeminisfilmfilm layar lebar
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Di Pedawa, Minikino Bikin Workshop Film, Agar Anak Muda di Desa Tua itu Kian Kreatif & Eksperimental

Next Post

Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co