3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Smart Women Have Voice and Choice –Catatan Menonton Aladdin

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
June 4, 2019
in Ulasan
Smart Women Have Voice and Choice –Catatan Menonton Aladdin

Princess Jasmine diperankan Naomi Scott (Foto Google)

  • Aladdin (Disney, 2019)
  • Director: Guy Ritchie
  • Writers: John August (screenplay by), Guy Ritchie (screenplay by)
  • Stars: Will Smith, Mena Massoud, Naomi Scott 

Adegan dibuka dengan laut biru yang membentang luas, dan dua kapal yang berlayar. Satu kapal tampak mewah dan satu kapal lagi tampak sederhana. Di perahu sederhana itu, dua anak kecil berandai-andai mereka memiliki perahu mewah itu. Ayahnya lalu mengalihkan perhatian kedua anak itu dengan mendongeng. Dan dongeng Aladdin dimulai.

Aladdin versi terbaru ini menghadirkan banyak kejutan, banyak nilai-nilai kemanusiaan, tentang arti hidup, cinta, kekuasaan, kejujuran dan persahabatan. 

Isu Feminisme

A whole new world. Aladdin menyajikan suara dan tawaran baru dalam film yaitu memberi porsi suara perempuan terdengar lantang dan didukung serta diwujudkan. Aladdin adalah sebuah film live action produksi Disney yang menggebrak dunia dengan nuansa feminisme yang kental.

Princess Jasmine, diperankan sangat meyakinkan oleh Naomi Scott, digambarkan sebagai seorang putri raja Agrabah yang telah mempersiapkan diri sebagai raja, dengan mengenali rakyatnya lebih dekat, mengenal wilayahnya dengan baik, mempelajari hukum serta memiliki sebuah visi tentang menjadi seorang pemimpin yang adil. 

Sebuah harapan dan tawaran baru dalam dunia dongeng klasik, dimana perempuan biasanya hanya digambarkan sebagai objek cerita, bukan subjek yang memiliki suara dan kekuatan. Dalam versi animasinya pun Princess Jasmine sesungguhnya digambarkan sebagai perempuan yang lemah lembut dan tidak memiliki visi, namun di Aladdin ini Princess Jasmine memiliki suara dan visi yang sangat kuat.

Naomi Scott sangat berhasil memerankan Princess Jasmine, ia tidak tampil berlebihan, namun semua emosinya tertakar sempurna. Ia tampil natural dan seolah-olah telah ‘menjadi’ Princess Jasmine itu sendiri. Apalagi dia memang menjadi sentral cerita, yang memberi ruang padanya untuk tampil lebih menonjol bahkan dibandingkan Aladdin (diperankan Mena Massoud) sendiri.

Tampaknya memang isu feminisme diusung untuk memberi sebuah penguatan akan pentingnya kesetaraan gender dalam konteks film ini, yaitu kekuasaan yang digunakan secara adil. Sebelumnya di Kerajaan Agrabah, untuk ribuan tahun lamanya, Undang-undang tidak mengijinkan perempuan menjadi raja. Hal inilah yang digugat oleh Princess Jasmine. Dia merasa tidak hanya laki-laki yang berhak menjadi raja, perempuan pun bisa jika diberi kesempatan.

Gugatan ini telah tersirat di awal cerita bahwa Princess Jasmine tidak ragu turun ke pasar, mengecek langsung kondisi rakyat. Dalam konteks seorang putri raja yang biasa dikurung di istana, berkeliaran di pasar dengan melihat realita rakyat jelata yang miskin, adalah sebuah keganjilan. Namun inilah yang kemudian membuat dia bertemu Aladdin, pencopet ulung yang biasa dijuluki tikus jalanan, yang membantunya lolos dari kepungan penjaga pasar.

Dalam percakapannya dengan Aladdin di rumah Aladdin yang sederhana, ia merasa bahwa dia terjebak dalam kondisi yang tidak banyak berubah, hampir sama dengan kondisi Aladdin. Bedanya, Princess Jasmine berada dalam istana dengan segenap hukumnya, dan Aladdin dengan kehidupan jalanannya yang juga tak pernah berubah dari waktu ke waktu.



Jin yang Manusiawi

Kehadiran Will Smith menjadi sebuah kekuatan cerita dalam film ini. Tidak hanya berperan sebagai jin yang jenaka, namun nilai-nilai yang ditawarkan oleh Genie menjadi pemikiran yang menarik. Terutama filosofi kehidupan, arti permohonan dan arti persahabatan, arti cinta dan arti kekuasaan, arti kejujuran dan kepalsuan. Dapat dikatakan bahwa karakter Jin disini sangat manusiawi dan malah lebih manusiawi dari manusia sendiri. Ia memikirkan hal-hal yang di luar konteks jin dan mengajari manusia menjadi manusia.

Misalnya ketika Jin menjelaskan Aladdin tak bisa meminta tiga hal yakni menghidupkan orang mati, membuat orang jatuh cinta, dan membunuh orang. Itu jelas pelajaran penting bukan untuk Jin, melainkan untuk manusia.

Aladdin meminta dijadikan pangeran. Dan dari situlah kelucuan-kelucuan manusiawi tergambarkan. Misalnuya kekonyolan adegan pertemuan pertama Pangeran Ali dengan Princess Jasmine yang sangat menggelikan.

Pangeran Ali tidak bisa menyebutkan harta apa yang dibawanya, malah dia menyebutkan benda-benda tak berarti seperti sendok kecil, selai buah buahan dan lain-lain. Dan Jin memberi pelajaran: bahwa Jin hanya bisa menyulap tampilan luarnya, bukan kepribadiannya. Ia harus belajar lebih percaya diri dan meyakinkan.

Adegan yang ditunggu-tunggu tentu saja ketika Princess Jasmine bersama Aladdin menelusuri dunia baru yang ajaib dengan karpet terbang. Ini menjadi sebuah adegan yang sangat romantis dan kuat. Benar-benar a whole new world.

Plot Twist

Plot bergulir dengan kenyataan pada akhirnya Genie harus kecewa karena Aladdin terjebak pada kebohongannya dan takut rahasianya terkuak. Dalam kekecewaan itu, jin kembali masuk ke dalam lampu, dan Aladdin teledor hingga lampu jatuh ke tangan Jafar (diperankan dengan apik oleh Marwan Kenzari).

Dalam sebuah jalinan plot twist yang meyakinkan, digambarkan Jafar menggunakan lampu ajaib untuk menjadikannya Raja. Dalam sekejap iapun menjadi raja. Kerajaan berubah muram.

Semua orang tunduk padanya termasuk Raja yang sesungguhnya, Hakim dan Princess Jasmine. Semua menunduk dan diam. Dalam kondisi yang sangat mencekam, Princess Jasmine melakukan tindakan heorik dengan mengutarakan pikirannya lewat lagu Speechless dengan sangat memukau, intinya Princess Jasmine tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di Agrabah.

Kecerdasan plot twist hingga akhir cerita tentu tak lepas dari penulis naskah dan sutradara Guy Ritchie.  Ritchie menulis naskah ini dengan John August dan mampu membuat kejutan demi kejutan yang logis dan menegangkan.

Ending yang Mengharukan

Pelajaran dari sebuah dongeng klasik yang terus menerus terasa baru biasanya terdapat pada ending. Ketika Aladdin punya permintaan terakhir, dia tidak meminta Jin menjadikan dirinya sebagai raja. Ia mengorbankan kesempatan untuk mendapatkan perempuan yang diidamkannya.

Pelajaran lain adalah ketika sang Raja yang telah sadar bahwa kerajaannya telah bebas dari kuasa Jafar yang jahat, memberikan kekuasaan kepada Princess Jasmine untuk menjadi Raja dan mengubah hukum dengan mengijinkan seorang perempuan menjadi raja. Princess Jasmine bahagia dan dia memilih sendiri siapa yang menjadi suaminya. Karena perempuan tak hanya memiliki suara namun juga memiliki pilihan.

Sementara perempuan lain di film ini, dayang atau pelayan Princess Jasmine bernama Dalia yang diperankan dengan sangat baik oleh Nasim Pedrad, juga menjadi karakter perempuan cerdas yang tidak hanya melayani Princess Jasmine namun memberikan suaranya dengan mengajukan pertanyaan atau pertimbangan-pertimbangan kepada Princess Jasmine. Dia juga berani memilih lelaki yang “tak biasa” untuk jadi pendampingnya.

Secara umum, seluruh pemain bermain sesuai dengan porsinya dan dua pemain yang sangat menonjol tentunya adalah Naomi Scott dan Will Smith.

Naomi sangat menguasai perhatian dan emosi saya ketika dia menyanyi Speechless terutama di adegan ketika Princess Jasmine hampir kehilangan semuanya, kerajaannya, impiannya, dan ayahnya juga orang-orang yang dia percayai. Saat itu lagu Speechless menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengubah dunia dan kita penonton merasakannya. Kegetiran emosinya dan tekanan yang dia hadapi. Ia bersama kita berdiri melawan ketidakadilan. Kita seperti menemukannya mewakili suara kita yang tak terdengar.

Begini lirik chorusnya:

I won’t be silenced
You can’t keep me quiet
Won’t tremble when you try it
All I know is I won’t go speechless
‘Cause I’ll breathe when they try to suffocate me
Don’t you underestimate me
‘Cause I know that I won’t go speechless

Disinilah visi besar yang  tertangkap dalam film ini, bahwa perempuan memiliki suara dan pilihan, terutama perempuan cerdas. Bahkan perempuan dapat mengubah dunia.

Tidak hanya Naomi Scott, Nasim Pedrad (pemeran Dalia) juga sangat kuat memerankan pelayan setia Princess Jasmine yang tidak sekedar menjadi pelayan, namun sahabat yang memiliki andil dalam mendukung dan menguatkan Princess Jasmine.

Ia dihadirkan bukan sebagai tempelan namun sebagai karakter yang turut menjalankan cerita. Dalia juga punya suara dan pilihan bahwa dia mencintai Jin dan memilihnya menjadi suaminya. Suara ini terdengar lantang dan ia menyuarakannya lewat tindakan memilih yang cerdas pula.

Kritik Tersembunyi

Adapun kritik tersembunyi di film ini barangkali kehadiran Prince Anders dari Skanland, yang dibuat terlihat agak kikuk dan terlihat bodoh. Dari semua karakter di film ini, Prince Anders-lah yang berkulit putih, sementara hampir semua yang lain berkulit coklat dan hitam. Hal ini semacam gugatan pada Hollywood yang selama ini sangat “putih” dan cenderung kurang memberi tempat pada “kulit berwarna”, menjadi lebih berwarna dengan kehadiran pendatang baru yang bukan “putih” atau “pucat”.

Naomi Scott adalah aktris berdarah Inggris dan India, Mena Massoud adalah aktor berdarah Mesir Kanada, Marwan Kenzari berdarah Belanda Tunisia, dan Will Smith aktor berkulit hitam dari Amerika. Hollywood yang biasanya diejek dengan “Hollywood is so white” now is not so white anymore. Semua warna non putih ini mengingatkan sebuah warna baru yang menjanjikan di Hollywood.

Benar-benar a whole new world. Bravo Aladdin, eh Princess Jasmine! [T]

Tags: Aladdindongengfeminisfilmfilm layar lebar
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Di Pedawa, Minikino Bikin Workshop Film, Agar Anak Muda di Desa Tua itu Kian Kreatif & Eksperimental

Next Post

Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Puisi-puisi Yahya Umar #Ramadan, Perjalanan Ruhani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co