23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
May 28, 2019
in Esai
Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Penulis

Tak terasa, bulan Ramadhan sudah bergerak beberapa hari di tahun 2019 ini. Sebelum kita membahas lebih lanjut lagi, kita ulas dulu bulan Ramadhan itu apa sih? Karena kita hidup dengan berbagai macam agama, maka dari itu pastinya masih ada yang belum tahu tentang bulan Ramadhan, kan.

Jadi bulan Ramadhan adalah bulan dimana semua umat islam diwajibkan untuk berpuasa, karena puasa merupakan salah satu rukun islam, jadi jika ada orang islam yang tidak berpuasa, maka wajib dipertanyakan status keislamannya.

Kemudian, Puasa itu apa sih? Puasa adalah suatu ibadah kepada Allah ta’ala dengan menahan diri dari makan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, ibadah puasa mensucikan jiwa dari segala perbuatan dan perkataan yang tercela, dengan berpuasa, tubuh kita pun bisa menjadi sehat. Jadi itulah sekilas info tentang bulan Ramadhan dan berpuasa teman-teman.

Tak terasa, bulan Ramadhan kali ini sudah yang ke 4 kalinya saya berada di kota perantauan, ya maklum saja, karena saya sendiri sudah 4 tahun berada di kota perantauan ini, jadi ya sudah 4 kali deh saya merasakan Ramadhan di Kota Singaraja.

Berbeda rasa ketika menjalani bulan Ramadhan waktu dahulu sebelum merantau bersama keluarga di rumah, benar-benar sangat berbeda, apalagi nih bagi anak kos pertama kalinya merasakan puasa Ramadhan di kota perantauan, wahh.. pastinya galau setengah mati deh.

Sama halnya yang pernah saya rasakan waktu pertama kalinya puasa Ramadhan di kota perantauan, saya pun merasakan galau sekali, bahkan sampai hampir setiap hari menangis ketika itu, karena rasanya buka puasa dan sahur tidak ditemani oleh keluarga, harus sendiri, menyendiri, bahkan sampai tidak nafsu makan. Ketika makan harus sambil menelpon orang tua, yang dirasakan hanya sedih yang berkepanjangan.

Namun, orang tua pun selalu menyemangati saya, memberikan motivasi, arahan dan dorongan agar tidak sedih berada di perantauan, itu yang membuat saya dapat melupakan rasa sedih pada waktu itu.

Pada waktu pertama kali merasakan puasa Ramadhan di kota perantauan memang rasanya sedih dan galau, maklum saja, masih tahap penyesuaian dengan anak-anak kos lainnya, jadi masih agak sedikit sungkan untuk bergabung dan mengenal satu sama lain. Tetapi, ketika kita hidup di kota perantauan kalau bukan teman yang menjadi keluarga kita, lalu siapa lagi? Maka dari itu, kita pun harus dapat segera beradaptasi dengan anak kos lainnya, seperti pepatah mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, dan pepatah lagi mengatakan bahwa “malu bertanya, sesat dijalan”.

Nah, jadi, ketika kita tidak mau mengenal satu sama lain, bagaimana kita dapat petunjuk? Bagaimana pula kita dapat menyayangi satu sama lain jika kita belum mengenal. Jadi seperti itu, harus memberanikan diri untuk dapat mengenal lebih banyak orang di kota perantauan.

Kemudian, lambat laun ketika kita sudah mengenal anak kos lainnya, berbeda lagi rasanya ketika kita menjalani bulan Ramadhan ini, salah satunya ketika buka puasa, kita dapat buka puasa bareng anak-anak kos deh. Sebelum itu, kita pun dapat masak-masak bareng di kos dengan teman-teman (bagi anak kos yang memiliki fasilitas dapur), jadi tidak merasa sendirian lagi deh ketika buka puasa, tidak harus menelpon orang tua sambil ditemani makan, dan rasanya kebersamaan itu menjadi sangat erat sama teman.

Selain itu, ketika sudah merasa sedikit bosan dengan buka puasa di kos, biasanya sih anak-anak kos berbondong-bondong mencari takjil dan buka puasa gratis, karena buka puasa gratis merupakan berkah Ramadhan bagi anak kos. Dimana tempatnya? Biasanya ada beberapa masjid yang setiap harinya selama bulan Ramadhan menyediakan takjil dan buka bersama di masjid. Tak kalah info dong bagi anak kos, pastinya sudah tahu akan menuju kemana. Bahkan ada juga yang roadshow ke masjid-masjid seputar kota untuk mencoba hal-hal yang berbeda pastinya. Ya seperti itulah ketika moment buka puasa ala anak kos.

Selain buka puasa bersama, ada lagi nih, yaitu ketika waktu sahur. Waktu sahur memang rawan sekali untuk pantang bangun dikala waktu dini hari, maklum saja karena rentan waktu sahur dapat dilakukan sebelum Adzan Subuh berkumandang. Dimana ketika sahur itu bersama anak-anak kos, terkadang ada yang menjadi korban, maksudnya adalah harus ada salah satu orang yang bangun dan dapat membangunkan teman-teman kos lainnya.

Bahkan sampai membuat jadwal membangunkan sahur loh. Ya tahu sendirilah, anak kos ketika di kota perantauan seperti ini bunyi alarm handphone sekeras apa pun tetap saja masih bisa kebablasan, bahkan ada yang tidak sahur dan bangun kesiangan, bangun kesiangan dan tidak sahur itu sih sudah lumrah dikalangan anak kos, beda halnya ketika di rumah, karena yang menjadi alarm sahur itu ya ibu. Ketika ibu yang membangunkan pastinya kita wajib bangun dong.

Bahkan cara membangunkan sahur teman-teman itu ada berbagai cara, jika ada teman yang sangat susah dibangunkan, gampang saja caranya tinggal menteskan air ke matanya, pasti seketika itu langsung bangun, karena dikiranya ada banjir atau atap bocor, bukan begitu? Pasti ada yang pernah merasakan dong ya kejahilan teman-teman pada saat membangunkan sahur. Belum lagi, ketika yang membangunkan pada jadwal itu waktunya sudah mepet Imsyak, wahh.. auto minum air saja cukup dah.

Kemudian, cerita selanjutnya nih, galaunya anak kos ketika mau memasak untuk hidangan buka puasa maupun menu sahur. Karena ketika ingin beli, kita pun melihat kondisi keuangan juga dong ya, jika beli lauk pauk terus menerus juga tidak enak, boros, padahal di bulan Ramadhan ini seharusnya kita dapat berhemat, karena kita tidak berbelanja pada waktu pagi sampai dengan sore sebelum Adzan Maghrib. Lebih baik dan lebih sehat memasak sendiri (bagi anak kos yang memiliki fasilitas dapur), walaupun memasak sendiri, namun juga memiliki rasa galau, karena tingkat kemampuan memasak teman-teman itu berbeda, jadi jika dimasaknya dengan menu yang itu-itu saja setiap harinya juga pasti bosan.

Terkadang bahkan mie instan pun selalu jadi menu andalan ketika teman-teman malas masak dan tidak mau ambil ribet. Jadi kita pun harus berunding dengan teman-teman kos untuk membuat jadwal masakan setiap harinya pada saat buka puasa dan sahur, soal bisa tidak bisa sih dicoba saja dahulu, masih ada Google dan Youtube untuk dapat memandu masak kok, jika tidak mau mencoba, kapan bisanya, bukannya begitu?

Bahkan yang awalnya tidak bisa di rumah memasak, ketika di kota perantauan jadi bisa memasak, jadi ada lah nilai plus-nya gitu.

Selain itu, ketika pada waktu Sholat Tarawih. Biasanya anak-anak kos pun juga melakukan roadshow Sholat Tarawih di masjid yang berbeda-beda setiap harinya, akan ada sensasinya tersendiri dan dapat menilai kok bagaimana keseruan ketika roadshow Sholat Tarawih. Ya yang namanya manusia, jika di tempat yang sama terus menerus juga memiliki rasa bosan lah ya, jadi ketika keliling pun asalkan niat kita tetap beribadah kepada-Nya pasti akan ada keberkahan disetiap perjalanan kita.

Selain itu juga, selepas Sholat Tarawih, biasanya melakukan membaca Al-Qur’an bersama, yang disebut dengan Tadarusan. Tadarusan juga dilakukan bersama teman-teman itu mengasyikkan daripada hanya sendirian. Rasa kebersamaan, silaturahmi sangat erat dan melekat.

Kemudian, mendekati hari Lebaran, pastinya tak kalah menarik juga nih, jika kita tidak berbelanja kebutuhan lebaran, seperti pakaian baru, nah.. untuk anak kos biasanya sebelum balik ke kota asal, tak sedikit anak kos yang berbelanja di kota perantauan dan memberikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Namanya juga anak kos, ya pastinya ketika mau berbelanja juga melihat kondisi kantong dahulu ya, biasanya anak kos memanfaatkan diskon untuk membeli barang.

Siapa sih yang tidak tertarik dengan adanya diskon? Karena berkat adanya diskon, jadi pengeluaran tidak terlalu mahal dari harga awalnya. Apalagi di moment bulan Ramadhan ini pastinya juga banyak diskon yang ditawarkan di pusat perbelanjaan, baik dari Online Shop sampai di toko-toko sekitaran kota perantauan. Maka dari itu anak kos ketika sudah ingin membeli pakaian baru untuk lebaran pastinya yang diutamakan adalah melihat adanya diskon. Sampai bingung deh mau beli yang mana saja saking banyaknya diskon diberbagai barang, karena membeli semua pun masih tidak mampu ya, efek yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Jadi seperti itulah rasanya ketika menikmati bulan Ramadhan di kota perantauan, rasanya memang seperti permen nano-nano, rame rasanya. Ada rasa sedih, galau, bahagia, terharu, dan lain sebagainya. [T]

Tags: anak kosmahasiswaMuslimPuasaRamadhan
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

Next Post

Lentera Batukaru, Novel Karya Putu Setia Diluncurkan di Bentara Budaya Bali

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Lentera Batukaru, Novel Karya Putu Setia Diluncurkan di Bentara Budaya Bali

Lentera Batukaru, Novel Karya Putu Setia Diluncurkan di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co