22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
May 28, 2019
in Esai
Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

Batur

Ketika tidak menyisakan ruang untuk perbedaan, tradisi sedang membangun benteng kematiannya sendiri. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Tradisi yang ingin hidup panjang akan memelihara perbedaan itu. Sedangkan tradisi yang membunuh perbedaan, walau ingin hidup panjang pasti berumur pendek (Palguna, 2007:19)  


Begitu gegap gempitanya umat Hindu Bali menggelar upacara/ritual. Ini dipandang menunjukkan gairah umat  bersujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dua ritual besar tersebut adalah Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih dan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur menjadi dua pura terpenting yang menjadi pusat orientasi ritual umat Hindu Bali.  Ayah saya dalam suatu kesempatan berujar, “Umat kita bangkit,” katanya mantap. Benarkah demikian? Apakah memang betul uah Hindu Bali sedang bangkit? Apakah sebelumnya tidur terlelap?

Sungguh sulit menanggapi pernyataan ayah saya tersebut. Jika melihat di permukaan, memperhatikan antusias umat untuk menuju jalan agama ini, tentu kita akan dibuat terpaku. Kemegahan dan kemeriahan ritual bukan rahasia lagi di Bali. Seluruh penjuru gumi Bali mengarahkan orientasi ke Batur dan Besakih. Seluruh krama Hindu Bali memiliki paket perjalanan bersama keluarga, komunitas, atau banjar dari Batur lalu kemudian diakhiri di Besakih.         

Jika kita mencoba lebih dalam merenungkan, pentas kemeriahan ritual hanyalah satu babakan. Babakan berikutnya adalah memaknai ritual bagi kemanusiaan itu sendiri. Ritual jika menyentuh akar tattwa-nya akan terhayati hingga ke sanubari, melekat kuat menjadi suluh dalam kehidupan. Namun, jika ritual hanya dimaknai sebatas pentas kemegahan dan status, maka kita akan disuguhkan teater kehidupan yang paling menakjubkan, sekaligus magis. Tidak berarti apa-apa bagi kehidupan, selain rutinitas dan beban. Setelahnya, kita akan hidup menjauh dari ritual tersebut.  Ritual sepatutnya memberi makna dalam kehidupan itu sendiri secara praksis. Namun, tentu tidak segampang itu. Agama dan ritual di dalamnya penuh dengan kompleksitas dan ketegangan. Yang membuat ketegangan itu tentu saja manusia, umat, yang menafsirkannya.

Di Bali, jalan agama yang gamblang dan kolektif dipraktikkan adalah ritual. Jalan inilah yang menyediakan ruang untuk masyarakat Bali memuja Tuhannya secara kolektif. Namun, sebaiknya kita merenungkan apa yang disampaikan oleh Palguna (2002: 17) bahwa praktik pola piker kolektif akan melahirkan individualism di dalam dirinya sendiri. Cepat atau lambat. Sehingga perlawanan lebih sering datang dari dalam. Bukan dari luar seperti yang diduga. Sebuah “benteng tradisi” yang dibangun menangkal pengaruh luar, yang dipandang negatif, tidak akan banyak berguna. Karena kekuatan perlawanan sedang dibangun di dalam dirinya sendiri, oleh dirinya sendiri.  



Pelaksanaan ritual pakelem di Danau Batur pada pelaksanaan Danu Kertih 2019 (foto: I Ngurah Suryawan)

 Tradisi menuju Imajinasi?

Narasi satir dan ironi-ironi yang dituliskan IBM Dharma Palguna dalam bukunya, Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran (2007), bagi saya pribadi menohok kesadaran manusia Bali tentang diri dan lingkunganya. Entah bagi (manusia Bali) yang lain. Saya tertusuk hingga ke hulu hati merenungkan begitu kontradiktifnya kehidupan kita sehari-hari di pulau ini. Bayangkanlah, kebangkitan Hindu yang dibangga-banggakan dengan meriahnya ritual dan “kesadaran” umat pedek tangkil ke pura-pura, berjalan beriringan dengan keberingasan manusia Bali, baik saat menebas saudaranya sendiri maupun terbius narkoba. Bisa jadi, pagi harinya mencakupkan bakti ke pura, namun petang harinya mulai beringas dan selalu awas jika suatu saat diserang musuh.

Ritual yang penuh harmoni berlangsung tanpa henti, namun keberingasan penuh ironi terus-menerus terjadi. Bagaimana memelihara (tradisi) ritual di tengah fragmen-fragmen kehidupan yang penuh ironi dan ambivalensi (kemenduaan)? Ritual, sebagaimana juga tradisi, sepatutnya menjejak bumi sekaligus juga jujur. Menjejak bumi dalam artian adalah merekam perubahan-perubahan yang lahir dari keberbedaan pendukungnya. Hanya dengan suara berbeda, hidup akan dinamis. Jika sudah seragam, yang terjadi adalah kepalsuan, kepura-puraan. Jujur adalah terbuka dan membiarkan setiap generasi mencari nilai yang sesuai dengan semangat zamannya. Jika tradisi yang kaku dan tidak jujur akan menyemaikan pertanyaan kritis perihal ada sesuatu yang disembunyikannya.

Saya menempatkan kita, krama Bali seluruhnya, terikat antara labirin-labirin yang membawa kita memahami tradisi—dogma dalam hal-hal tertentu— dalam sepanjang kehidupan ini. Ikatan pada tradisi dengan serangkaian ritual selain menjadi denyut nadi kehidupan juga sekaligus mencipta kebudayaan. Tradisi membawa kita belajar tentang kehidupan itu sendiri. Meski terkadang terkesan mengekang, tradisi menjadi amunisi untuk perubahan. Berimajinasi tentang perubahan-perubahan ke depan justru menjadi spirit tradisi tersebut. Tradisi yang tidak menciptakan perbedaan—dan perubahan itu sendiri—akan termakan oleh zaman. Oleh sebab itulah, manusia Bali, bagi saya, bukan tidak memiliki imajinasi ke depan meski terjerat labirin-labirin tradisi. Melalui tradisilah kita bisa memulai perubahan, meski itu sungguh-sungguh berat.

Ruang-ruang antara, keterhubungan dengan dunia global, dan memelihara imajinasi tentang Bali ke depannya, memungkinkan manusia Bali merefleksikan tradisinya. Dengan demikianlah yang akan memungkinkan daya-daya imajinasi perubahan itu lahir. Geertz (1992; Dharmayuda, 1992:16) justru mengingatkan:

Manusia harus melakukan kreasi dari ortodoksi (orthodoxy) menuju ortopraksis (orthopraxy). Manusia diharapkan jangan hanya terpaku pada dogma-dogma yang ketat apa adanya, tetapi melakukan penafsiran umum, melakukan penilaian, menemukan hakekat dasarnya, sehingga mencapai makna yang tersimpan dibalik semua itu. Tetapi perlu disadari bahwa usaha manusia seperti itu bukan hanya sekadar mengungkap makna-makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan kepribadian dan pada akhirnya merupakan sarana untuk menuntun kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.     

Batur adalah tradisi dan ritual itu sendiri. Jika melihat jejak peradabannya, jelaslah bahwa daerah kawasan bukit Cintamani Mmal (Kintamani) menjadi pusat peradaban spiritual Balidwipa. Sumarta (2015: 5), dengan mengacu pada catatan otentik prasasti 001 Sukawana A-I, menyebutkan pernah berdiri “kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno berupa pertapaan dan pesraman. Selain sebagai cikal-bakal peradaban spiritual, kawasan perbukitan Cintamani Mmal dengan Prasasti 001 Sukawana A-I menjadi bukti mulainya “revolusi aksara” yaitu keberaksaraan sebagai pembuka babakan zaman sejarah Bali.  



Batur dan ritual adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat Batur dengan Pura Ulun Danu Batur nya masih bersetia melaksanakan rentetan ritual (foto: I Ngurah Suryawan)

Bagaimana Batur (desa, masyarakat, Pura Ulun Danu Batur dan pura-pura lain di wilayah kaldera) menjaga keberlangsungan tradisi sembari berimajinasi tentang perubahan ke depan? Jejaring pendukung desa terhadap pura-pura penting di kawasan Batur adalah modal sosial yang tiada tandingannya. Jejaring inilah, selain masyarakat Desa Batur keseluruhan, yang menopang keberlangsungan tradisi di Pura Ulun Danu Batur secara khusus. Jaringan Pepasihan/Pasihan menerangkan sebuah jaringan ketergantungan kompleks dan rumit yang menghubungkan antara Ida Bhatara, pura, para petani, dan desa-desa yang terikat di dalamnya (Hauser-Schaublin, 2011: 30; 37).

Selanjutnya, bisakah Batur menggerakkan tradisi dan ritual itu sendiri, menjadi modal sosial untuk menanggapi perubahan? Sudah tentu agar ritual termanifestasi dalam kehidupan praksis manusianya. Satu hal yang penting juga adalah, menjadikan tattwa ritual sebagai pondasi untuk merespon perubahan.

Saya membayangkan jika rentetan ritual yang orang Bali lakukan tidak terhenti pada kulit luar kemeriahan upacara semata. Nir-substansi, tanpa hakekat untuk pegangan hidup keseharian. Ritual sepatutnya menjadi suluh kehidupan, tentunya dengan memahai substansinya untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan keseharian. Jika sudah demikian, maka menjadi penting bagaimana orang Bali berimajinasi untuk menjadikan ritual bukan beban tradisi, tetapi modal sosial budaya untuk menguatkan spirit manusia Bali itu sendiri. Manusia Bali yang menjejak tradisi tetapi juga memiliki imajinasi tanpa henti untuk menanggapi perubahan. [T]   

Batur, 31 Maret 2019 

Tags: alamBaturDanau BaturGunung BatursastraTradisiupacara
Share143TweetSendShareSend
Previous Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Next Post

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails
Next Post
Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co