24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
May 28, 2019
in Esai
Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

Batur

Ketika tidak menyisakan ruang untuk perbedaan, tradisi sedang membangun benteng kematiannya sendiri. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Tradisi yang ingin hidup panjang akan memelihara perbedaan itu. Sedangkan tradisi yang membunuh perbedaan, walau ingin hidup panjang pasti berumur pendek (Palguna, 2007:19)  


Begitu gegap gempitanya umat Hindu Bali menggelar upacara/ritual. Ini dipandang menunjukkan gairah umat  bersujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dua ritual besar tersebut adalah Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih dan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur menjadi dua pura terpenting yang menjadi pusat orientasi ritual umat Hindu Bali.  Ayah saya dalam suatu kesempatan berujar, “Umat kita bangkit,” katanya mantap. Benarkah demikian? Apakah memang betul uah Hindu Bali sedang bangkit? Apakah sebelumnya tidur terlelap?

Sungguh sulit menanggapi pernyataan ayah saya tersebut. Jika melihat di permukaan, memperhatikan antusias umat untuk menuju jalan agama ini, tentu kita akan dibuat terpaku. Kemegahan dan kemeriahan ritual bukan rahasia lagi di Bali. Seluruh penjuru gumi Bali mengarahkan orientasi ke Batur dan Besakih. Seluruh krama Hindu Bali memiliki paket perjalanan bersama keluarga, komunitas, atau banjar dari Batur lalu kemudian diakhiri di Besakih.         

Jika kita mencoba lebih dalam merenungkan, pentas kemeriahan ritual hanyalah satu babakan. Babakan berikutnya adalah memaknai ritual bagi kemanusiaan itu sendiri. Ritual jika menyentuh akar tattwa-nya akan terhayati hingga ke sanubari, melekat kuat menjadi suluh dalam kehidupan. Namun, jika ritual hanya dimaknai sebatas pentas kemegahan dan status, maka kita akan disuguhkan teater kehidupan yang paling menakjubkan, sekaligus magis. Tidak berarti apa-apa bagi kehidupan, selain rutinitas dan beban. Setelahnya, kita akan hidup menjauh dari ritual tersebut.  Ritual sepatutnya memberi makna dalam kehidupan itu sendiri secara praksis. Namun, tentu tidak segampang itu. Agama dan ritual di dalamnya penuh dengan kompleksitas dan ketegangan. Yang membuat ketegangan itu tentu saja manusia, umat, yang menafsirkannya.

Di Bali, jalan agama yang gamblang dan kolektif dipraktikkan adalah ritual. Jalan inilah yang menyediakan ruang untuk masyarakat Bali memuja Tuhannya secara kolektif. Namun, sebaiknya kita merenungkan apa yang disampaikan oleh Palguna (2002: 17) bahwa praktik pola piker kolektif akan melahirkan individualism di dalam dirinya sendiri. Cepat atau lambat. Sehingga perlawanan lebih sering datang dari dalam. Bukan dari luar seperti yang diduga. Sebuah “benteng tradisi” yang dibangun menangkal pengaruh luar, yang dipandang negatif, tidak akan banyak berguna. Karena kekuatan perlawanan sedang dibangun di dalam dirinya sendiri, oleh dirinya sendiri.  



Pelaksanaan ritual pakelem di Danau Batur pada pelaksanaan Danu Kertih 2019 (foto: I Ngurah Suryawan)

 Tradisi menuju Imajinasi?

Narasi satir dan ironi-ironi yang dituliskan IBM Dharma Palguna dalam bukunya, Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran (2007), bagi saya pribadi menohok kesadaran manusia Bali tentang diri dan lingkunganya. Entah bagi (manusia Bali) yang lain. Saya tertusuk hingga ke hulu hati merenungkan begitu kontradiktifnya kehidupan kita sehari-hari di pulau ini. Bayangkanlah, kebangkitan Hindu yang dibangga-banggakan dengan meriahnya ritual dan “kesadaran” umat pedek tangkil ke pura-pura, berjalan beriringan dengan keberingasan manusia Bali, baik saat menebas saudaranya sendiri maupun terbius narkoba. Bisa jadi, pagi harinya mencakupkan bakti ke pura, namun petang harinya mulai beringas dan selalu awas jika suatu saat diserang musuh.

Ritual yang penuh harmoni berlangsung tanpa henti, namun keberingasan penuh ironi terus-menerus terjadi. Bagaimana memelihara (tradisi) ritual di tengah fragmen-fragmen kehidupan yang penuh ironi dan ambivalensi (kemenduaan)? Ritual, sebagaimana juga tradisi, sepatutnya menjejak bumi sekaligus juga jujur. Menjejak bumi dalam artian adalah merekam perubahan-perubahan yang lahir dari keberbedaan pendukungnya. Hanya dengan suara berbeda, hidup akan dinamis. Jika sudah seragam, yang terjadi adalah kepalsuan, kepura-puraan. Jujur adalah terbuka dan membiarkan setiap generasi mencari nilai yang sesuai dengan semangat zamannya. Jika tradisi yang kaku dan tidak jujur akan menyemaikan pertanyaan kritis perihal ada sesuatu yang disembunyikannya.

Saya menempatkan kita, krama Bali seluruhnya, terikat antara labirin-labirin yang membawa kita memahami tradisi—dogma dalam hal-hal tertentu— dalam sepanjang kehidupan ini. Ikatan pada tradisi dengan serangkaian ritual selain menjadi denyut nadi kehidupan juga sekaligus mencipta kebudayaan. Tradisi membawa kita belajar tentang kehidupan itu sendiri. Meski terkadang terkesan mengekang, tradisi menjadi amunisi untuk perubahan. Berimajinasi tentang perubahan-perubahan ke depan justru menjadi spirit tradisi tersebut. Tradisi yang tidak menciptakan perbedaan—dan perubahan itu sendiri—akan termakan oleh zaman. Oleh sebab itulah, manusia Bali, bagi saya, bukan tidak memiliki imajinasi ke depan meski terjerat labirin-labirin tradisi. Melalui tradisilah kita bisa memulai perubahan, meski itu sungguh-sungguh berat.

Ruang-ruang antara, keterhubungan dengan dunia global, dan memelihara imajinasi tentang Bali ke depannya, memungkinkan manusia Bali merefleksikan tradisinya. Dengan demikianlah yang akan memungkinkan daya-daya imajinasi perubahan itu lahir. Geertz (1992; Dharmayuda, 1992:16) justru mengingatkan:

Manusia harus melakukan kreasi dari ortodoksi (orthodoxy) menuju ortopraksis (orthopraxy). Manusia diharapkan jangan hanya terpaku pada dogma-dogma yang ketat apa adanya, tetapi melakukan penafsiran umum, melakukan penilaian, menemukan hakekat dasarnya, sehingga mencapai makna yang tersimpan dibalik semua itu. Tetapi perlu disadari bahwa usaha manusia seperti itu bukan hanya sekadar mengungkap makna-makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan kepribadian dan pada akhirnya merupakan sarana untuk menuntun kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.     

Batur adalah tradisi dan ritual itu sendiri. Jika melihat jejak peradabannya, jelaslah bahwa daerah kawasan bukit Cintamani Mmal (Kintamani) menjadi pusat peradaban spiritual Balidwipa. Sumarta (2015: 5), dengan mengacu pada catatan otentik prasasti 001 Sukawana A-I, menyebutkan pernah berdiri “kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno berupa pertapaan dan pesraman. Selain sebagai cikal-bakal peradaban spiritual, kawasan perbukitan Cintamani Mmal dengan Prasasti 001 Sukawana A-I menjadi bukti mulainya “revolusi aksara” yaitu keberaksaraan sebagai pembuka babakan zaman sejarah Bali.  



Batur dan ritual adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat Batur dengan Pura Ulun Danu Batur nya masih bersetia melaksanakan rentetan ritual (foto: I Ngurah Suryawan)

Bagaimana Batur (desa, masyarakat, Pura Ulun Danu Batur dan pura-pura lain di wilayah kaldera) menjaga keberlangsungan tradisi sembari berimajinasi tentang perubahan ke depan? Jejaring pendukung desa terhadap pura-pura penting di kawasan Batur adalah modal sosial yang tiada tandingannya. Jejaring inilah, selain masyarakat Desa Batur keseluruhan, yang menopang keberlangsungan tradisi di Pura Ulun Danu Batur secara khusus. Jaringan Pepasihan/Pasihan menerangkan sebuah jaringan ketergantungan kompleks dan rumit yang menghubungkan antara Ida Bhatara, pura, para petani, dan desa-desa yang terikat di dalamnya (Hauser-Schaublin, 2011: 30; 37).

Selanjutnya, bisakah Batur menggerakkan tradisi dan ritual itu sendiri, menjadi modal sosial untuk menanggapi perubahan? Sudah tentu agar ritual termanifestasi dalam kehidupan praksis manusianya. Satu hal yang penting juga adalah, menjadikan tattwa ritual sebagai pondasi untuk merespon perubahan.

Saya membayangkan jika rentetan ritual yang orang Bali lakukan tidak terhenti pada kulit luar kemeriahan upacara semata. Nir-substansi, tanpa hakekat untuk pegangan hidup keseharian. Ritual sepatutnya menjadi suluh kehidupan, tentunya dengan memahai substansinya untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan keseharian. Jika sudah demikian, maka menjadi penting bagaimana orang Bali berimajinasi untuk menjadikan ritual bukan beban tradisi, tetapi modal sosial budaya untuk menguatkan spirit manusia Bali itu sendiri. Manusia Bali yang menjejak tradisi tetapi juga memiliki imajinasi tanpa henti untuk menanggapi perubahan. [T]   

Batur, 31 Maret 2019 

Tags: alamBaturDanau BaturGunung BatursastraTradisiupacara
Share143TweetSendShareSend
Previous Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Next Post

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co