2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
May 28, 2019
in Esai
Batur, Suluh Ritual dan Pentingnya Imajinasi

Batur

Ketika tidak menyisakan ruang untuk perbedaan, tradisi sedang membangun benteng kematiannya sendiri. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Tradisi yang ingin hidup panjang akan memelihara perbedaan itu. Sedangkan tradisi yang membunuh perbedaan, walau ingin hidup panjang pasti berumur pendek (Palguna, 2007:19)  


Begitu gegap gempitanya umat Hindu Bali menggelar upacara/ritual. Ini dipandang menunjukkan gairah umat  bersujud bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dua ritual besar tersebut adalah Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih dan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Pura Agung Besakih dan Pura Ulun Danu Batur menjadi dua pura terpenting yang menjadi pusat orientasi ritual umat Hindu Bali.  Ayah saya dalam suatu kesempatan berujar, “Umat kita bangkit,” katanya mantap. Benarkah demikian? Apakah memang betul uah Hindu Bali sedang bangkit? Apakah sebelumnya tidur terlelap?

Sungguh sulit menanggapi pernyataan ayah saya tersebut. Jika melihat di permukaan, memperhatikan antusias umat untuk menuju jalan agama ini, tentu kita akan dibuat terpaku. Kemegahan dan kemeriahan ritual bukan rahasia lagi di Bali. Seluruh penjuru gumi Bali mengarahkan orientasi ke Batur dan Besakih. Seluruh krama Hindu Bali memiliki paket perjalanan bersama keluarga, komunitas, atau banjar dari Batur lalu kemudian diakhiri di Besakih.         

Jika kita mencoba lebih dalam merenungkan, pentas kemeriahan ritual hanyalah satu babakan. Babakan berikutnya adalah memaknai ritual bagi kemanusiaan itu sendiri. Ritual jika menyentuh akar tattwa-nya akan terhayati hingga ke sanubari, melekat kuat menjadi suluh dalam kehidupan. Namun, jika ritual hanya dimaknai sebatas pentas kemegahan dan status, maka kita akan disuguhkan teater kehidupan yang paling menakjubkan, sekaligus magis. Tidak berarti apa-apa bagi kehidupan, selain rutinitas dan beban. Setelahnya, kita akan hidup menjauh dari ritual tersebut.  Ritual sepatutnya memberi makna dalam kehidupan itu sendiri secara praksis. Namun, tentu tidak segampang itu. Agama dan ritual di dalamnya penuh dengan kompleksitas dan ketegangan. Yang membuat ketegangan itu tentu saja manusia, umat, yang menafsirkannya.

Di Bali, jalan agama yang gamblang dan kolektif dipraktikkan adalah ritual. Jalan inilah yang menyediakan ruang untuk masyarakat Bali memuja Tuhannya secara kolektif. Namun, sebaiknya kita merenungkan apa yang disampaikan oleh Palguna (2002: 17) bahwa praktik pola piker kolektif akan melahirkan individualism di dalam dirinya sendiri. Cepat atau lambat. Sehingga perlawanan lebih sering datang dari dalam. Bukan dari luar seperti yang diduga. Sebuah “benteng tradisi” yang dibangun menangkal pengaruh luar, yang dipandang negatif, tidak akan banyak berguna. Karena kekuatan perlawanan sedang dibangun di dalam dirinya sendiri, oleh dirinya sendiri.  



Pelaksanaan ritual pakelem di Danau Batur pada pelaksanaan Danu Kertih 2019 (foto: I Ngurah Suryawan)

 Tradisi menuju Imajinasi?

Narasi satir dan ironi-ironi yang dituliskan IBM Dharma Palguna dalam bukunya, Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran (2007), bagi saya pribadi menohok kesadaran manusia Bali tentang diri dan lingkunganya. Entah bagi (manusia Bali) yang lain. Saya tertusuk hingga ke hulu hati merenungkan begitu kontradiktifnya kehidupan kita sehari-hari di pulau ini. Bayangkanlah, kebangkitan Hindu yang dibangga-banggakan dengan meriahnya ritual dan “kesadaran” umat pedek tangkil ke pura-pura, berjalan beriringan dengan keberingasan manusia Bali, baik saat menebas saudaranya sendiri maupun terbius narkoba. Bisa jadi, pagi harinya mencakupkan bakti ke pura, namun petang harinya mulai beringas dan selalu awas jika suatu saat diserang musuh.

Ritual yang penuh harmoni berlangsung tanpa henti, namun keberingasan penuh ironi terus-menerus terjadi. Bagaimana memelihara (tradisi) ritual di tengah fragmen-fragmen kehidupan yang penuh ironi dan ambivalensi (kemenduaan)? Ritual, sebagaimana juga tradisi, sepatutnya menjejak bumi sekaligus juga jujur. Menjejak bumi dalam artian adalah merekam perubahan-perubahan yang lahir dari keberbedaan pendukungnya. Hanya dengan suara berbeda, hidup akan dinamis. Jika sudah seragam, yang terjadi adalah kepalsuan, kepura-puraan. Jujur adalah terbuka dan membiarkan setiap generasi mencari nilai yang sesuai dengan semangat zamannya. Jika tradisi yang kaku dan tidak jujur akan menyemaikan pertanyaan kritis perihal ada sesuatu yang disembunyikannya.

Saya menempatkan kita, krama Bali seluruhnya, terikat antara labirin-labirin yang membawa kita memahami tradisi—dogma dalam hal-hal tertentu— dalam sepanjang kehidupan ini. Ikatan pada tradisi dengan serangkaian ritual selain menjadi denyut nadi kehidupan juga sekaligus mencipta kebudayaan. Tradisi membawa kita belajar tentang kehidupan itu sendiri. Meski terkadang terkesan mengekang, tradisi menjadi amunisi untuk perubahan. Berimajinasi tentang perubahan-perubahan ke depan justru menjadi spirit tradisi tersebut. Tradisi yang tidak menciptakan perbedaan—dan perubahan itu sendiri—akan termakan oleh zaman. Oleh sebab itulah, manusia Bali, bagi saya, bukan tidak memiliki imajinasi ke depan meski terjerat labirin-labirin tradisi. Melalui tradisilah kita bisa memulai perubahan, meski itu sungguh-sungguh berat.

Ruang-ruang antara, keterhubungan dengan dunia global, dan memelihara imajinasi tentang Bali ke depannya, memungkinkan manusia Bali merefleksikan tradisinya. Dengan demikianlah yang akan memungkinkan daya-daya imajinasi perubahan itu lahir. Geertz (1992; Dharmayuda, 1992:16) justru mengingatkan:

Manusia harus melakukan kreasi dari ortodoksi (orthodoxy) menuju ortopraksis (orthopraxy). Manusia diharapkan jangan hanya terpaku pada dogma-dogma yang ketat apa adanya, tetapi melakukan penafsiran umum, melakukan penilaian, menemukan hakekat dasarnya, sehingga mencapai makna yang tersimpan dibalik semua itu. Tetapi perlu disadari bahwa usaha manusia seperti itu bukan hanya sekadar mengungkap makna-makna simbolik, tetapi lebih jauh dapat menghayati, meningkatkan kepribadian dan pada akhirnya merupakan sarana untuk menuntun kehidupan manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.     

Batur adalah tradisi dan ritual itu sendiri. Jika melihat jejak peradabannya, jelaslah bahwa daerah kawasan bukit Cintamani Mmal (Kintamani) menjadi pusat peradaban spiritual Balidwipa. Sumarta (2015: 5), dengan mengacu pada catatan otentik prasasti 001 Sukawana A-I, menyebutkan pernah berdiri “kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno berupa pertapaan dan pesraman. Selain sebagai cikal-bakal peradaban spiritual, kawasan perbukitan Cintamani Mmal dengan Prasasti 001 Sukawana A-I menjadi bukti mulainya “revolusi aksara” yaitu keberaksaraan sebagai pembuka babakan zaman sejarah Bali.  



Batur dan ritual adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat Batur dengan Pura Ulun Danu Batur nya masih bersetia melaksanakan rentetan ritual (foto: I Ngurah Suryawan)

Bagaimana Batur (desa, masyarakat, Pura Ulun Danu Batur dan pura-pura lain di wilayah kaldera) menjaga keberlangsungan tradisi sembari berimajinasi tentang perubahan ke depan? Jejaring pendukung desa terhadap pura-pura penting di kawasan Batur adalah modal sosial yang tiada tandingannya. Jejaring inilah, selain masyarakat Desa Batur keseluruhan, yang menopang keberlangsungan tradisi di Pura Ulun Danu Batur secara khusus. Jaringan Pepasihan/Pasihan menerangkan sebuah jaringan ketergantungan kompleks dan rumit yang menghubungkan antara Ida Bhatara, pura, para petani, dan desa-desa yang terikat di dalamnya (Hauser-Schaublin, 2011: 30; 37).

Selanjutnya, bisakah Batur menggerakkan tradisi dan ritual itu sendiri, menjadi modal sosial untuk menanggapi perubahan? Sudah tentu agar ritual termanifestasi dalam kehidupan praksis manusianya. Satu hal yang penting juga adalah, menjadikan tattwa ritual sebagai pondasi untuk merespon perubahan.

Saya membayangkan jika rentetan ritual yang orang Bali lakukan tidak terhenti pada kulit luar kemeriahan upacara semata. Nir-substansi, tanpa hakekat untuk pegangan hidup keseharian. Ritual sepatutnya menjadi suluh kehidupan, tentunya dengan memahai substansinya untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan keseharian. Jika sudah demikian, maka menjadi penting bagaimana orang Bali berimajinasi untuk menjadikan ritual bukan beban tradisi, tetapi modal sosial budaya untuk menguatkan spirit manusia Bali itu sendiri. Manusia Bali yang menjejak tradisi tetapi juga memiliki imajinasi tanpa henti untuk menanggapi perubahan. [T]   

Batur, 31 Maret 2019 

Tags: alamBaturDanau BaturGunung BatursastraTradisiupacara
Share143TweetSendShareSend
Previous Post

Soal Mudik Gratis Bupati Eka: Suara Warganet, Politik Identitas, Framing Media, dll…

Next Post

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Rasa Nano-Nano di Bulan Ramadhan ala Anak Kos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co