2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Jong Santiasa Putra: Di Pantai Utara

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 26, 2019
in Puisi
Puisi-puisi Jong Santiasa Putra: Di Pantai Utara

Wayan Redika, "Political Parody", 2008, Water Colour on paper, 50x70 cm Private Collection


Di Pantai Utara

                Celukan Bawang


Tiga nelayan menatap laut

matahari bias di matanya.


Ikan-ikan mengeram sunyi

mengenyam sebagian rahasia

saat buih paling tua

melibas kaki mungil si bungsu.


Karang jauh,

ayah belum berlabuh


Bilik bambu ditetak angin

satu ketapang tumbang

dari mana datang petaka

sebab muasal kita tak terpeta.


Datanglah, datanglah

bulan Sampar, akhir tahun

api unggun, tikar pandan,

ikan bakar, sayur lodehbuatan istri

malam bertamu, duduk bersila

dua gelas tuak, satu batang

mimpi-mimpi penuh dirajam

hal-hal telah diterjemahkan.


Jangkar berkarat di pasir,

rumpon kering ditenggat

Barakuda terjebak di jaring

doa-doa berlayar ke seberang.


Seekor ikan melompat

tubuhnya jadi tanah

matanya jadi benih

tumbuhlah-tumbuhlah.


Laut hanyalah kita

menyamar kemungkinan

batas-batas cahaya.


Oktober 2018


Rumah Dermaga


Doa-doa larung menuju,

perahu rumput laut

di sepuh ombak lunglai

seperti rambutmu

basah, saat bulan ketiga tiba

di dermaga. 


Kutemukan segenggam waktu

labuh disengaja

detaknya perlahan,

bisik daun kepada angin

pengembaraan sebentar berakhir.


Sementara dirimu

ibu kepiting, tersesat di lorong pasir

bersembunyi dari deru tongkang,

lapuk nelayan, jala basah tak bertuan

sedang kau susun mantra

datang badai sesekali

agar terang ufuk kehilangan.


Di rumah cahaya sunyi 32 watt

air laut pasi merayu cadik

tidakkah rindu masih berlayar, keluhnya

kawanan ubur-ubur pelangi

manambat pesan dari palung

kita akan baik-baik saja

hanya saja, sejarah milik siapa.


Dalam pekat lekat itu

akhirnya kutemukan juga

sisa diriku mengapung, pecah

entah bertuju.


Januari 2019


Sepasang Hujan


                Jakarta

Sepasang hujan

jatuh di dahi

menelusur mata

pipi, dagu, dada, perut

lalu berhenti di depan rumahmu.


Sesungguhnya aku ingin pulang

menyeruput kopi buatan ayah

menyimpan pahitnya

prasangka duka di saku

senyum ibu bergegas

riang-riang di sela selamat datang.


Rajutlah musim hujan

siapa tahu hangat di pinang

sepanjang keyakinan masih utuh,

luruh.


Siang-siang penuh sesak

trotoar mukim usia

kaki awas dipijak

gerimis jatuh sekali lagi

dengarlah denting seng karat,

kardus rumah basah,

ada yang hanyut di sungai

mungkin aku, tapi tubuh

masih satu di angan-angan.


Di hari berikutnya

matahari – bulan tidak punya nama

langit – awan tanpa perhitungan

jejak jejak jalan menuju pulang

berpura-puralah seolah tak ada siapa

aku masih di sini.

musim hanya sisa-sisa

menunggu

tersengal.


Desember 2018 – Mei 2019


Nini Dari Kedonganan


Saat matahari mengingkari janjinya

kepada gunung dan laut

Nini datang dari selatan

membawa keranjang-keranjang pindang

tas selempang, juga batu timbangan.


Kemudian disusun seperti menara

tapi tidak lebih tinggi dari wajahnya

agar Nini dengan leluasa bercuap

mencuri kesesatan para pelanggan

setidaknya  ia lupa bau amis

jalan-jalan basah pasar Kumbasari.


Nini memulai dirinya

laut telah menubuh

kutemukan, aku  menjelma karang

tempat ikan-ikan sirip kuning

bercinta sepanjang musim angin utara

sementara nelayan dituntun lumba-lumba

meniru tarian rumput laut

memohon  hujan berhenti

agar ombak kembali

ke gua-gua paling purba di hatimu.


Jangan sia-siakan.


Baginya ujung pagi

ialah mata-mata ikan menganga

meminta asin malam di pesisir,

ada burai usus, insang, tulang belulang

juga beberapa lalat hijau

menitip telur-telur anyar

di sela-sela hiruk pikuk umpatan

canda gurau, tangis sendu

serta rayuan tukang parkir

dan tentu saja kopi telah dingin

pisang goreng tinggal satu.


Jangan tanyakan Tuhan,

himbau Nini kepada yang datang

ia duduk di sampingku

saat matahari berjanji mengingkari .


Februari 2018


Anakmu, Ratna Manggali


“Ibu, genggamlah luka-luka

agar esok jadi bunga dan doa” 


Kabut putih dari gunung

menangkap bulan dan setapak

bergegas, lekas,  setiap kau pergi,

terjagalah diri menjadi legenda

desa-desa dari timur.


Seperti malam-malam sebelumnya

kucari ibu di celah hutan bambu

seekor musang menatapku tajam

ada cemas gelisah menari-nari

seperti kupu-kupu merah

terbang di atas rumah kita.


Sampai kapan,  ibu di sana ?

deru dendam tetap sama,

nafas kita berkejaran

kemudian beriringan,

barisan semut hitam

menuju rumah di tanah seberang


Lembah-lembah tua di ujung desa

ranting randu menakar langit

lonceng gemerincing jauh

desis mantra memanggil-manggil.


Sudah ibu sepakati hari kematian.


Ibu,

Aku tahu genggam bara, asalnya

ricik air akan menuntunku kesana

jika ku tanam puisi

rindang daun, sejuk hari-hari

di atas akar coklat

yang menjulur ke permukaan

mari kita tenun waktu

jadi lukisan danau atau sungai

tempat ikan ikan menuju liang

menitip benih di bebatuan


Aku paham.


April – Mei 2019

Tags: Puisi
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran ‘Hands On’! Charcoal For Children (CFC) 2019 di CushCush Gallery

Next Post

Tak Ada Kesejahteraan Tanpa Desa di Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Tak Ada Kesejahteraan Tanpa Desa di Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Tak Ada Kesejahteraan Tanpa Desa di Anugerah Jurnalisme Warga 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co