23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Harusnya Drama Gong Ne!” – Ulasan Kecil Pementasan Drama Musikal Pan Balang Tamak

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 10, 2019
in Ulasan
“Harusnya Drama Gong Ne!” – Ulasan Kecil Pementasan Drama Musikal Pan Balang Tamak

Pentas Drama Musikal Pan Balang Tamak, dipentaskan Yayasan Pendidikan Dria Raba di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar, 7 Mei 2019

Beberapa waktu lalu, 7 Mei 2019, saya menonton satu nomor pertunjukan berjudul, Pentas Drama Musikal Pan Balang Tamak, dipentaskan Yayasan Pendidikan Dria Raba di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Sutradara Rasta dan Dramaturg-nya Mas Hendra Utay. Sebagai catatan penting kawan-kawan aktor dan pemusik adalah penyandang tunanetra, dan dari pengamatan saya ada yang tunanetra total ada pula low vision.

Suatu pertunjukan yang menakjubkan, dan penuh perjuangan saya pikir.

Tapiiiii….., tentu ada tapi. Sebagai penonton yang baik dan budiman, saya hendak memberi beberapa catatan, beberapa masukan, ulasan kecil, sebagai bentuk autokritik teater Bali pada umumnya, sebab saya pun berada di dalam lingkaran tersebut.

Kadang saya sulit untuk menempatkan diri jika menonton pementasan, yang mana sebagai pelaku, dengan kepala penuh pemahaman, yang mana sebagai penonton tanpa tedensi apapun. Kadang-kadang jika kepala sudah penuh tahu, kemudian menonton pementasan, ketegangannya selalu terletak pada alam bawah sadar dan imaji yang menginginkan lebih.

Contohnya Pementasan Pan Balak ini. Sampai tulisan ini dibuat, kepala saya masih dibayangi pementasan tersebut. Masih terbayang saya duduk di sebelah kanan panggung, beberapa kali ngedumel saat stage manager-nya nggak bekerja maksimal. Beberapa kali saya ketawa terpingkal-pingkal  saat pemain ngelawak, bahkan berulang kali saya memberi tawaran adegan, sebenarnya bisa diginiin, bisa digituin. Sayang saja kalau tidak tercatat, apalagi usai pentas tidak ada diskusi terbuka untuk penonton.

Kisah Pan Balang Tamak menceritakan seseorang raja yang membenci tokoh Pan Balang Tamak. Raja ingin membunuhnya, karena anak raja mencintai si tokoh kita. Tapi untung saja kejahatan raja digagalkan oleh patih raja yang melihat tingkah raja sudah menyimpang.

Terus terang yah wan kawan, saya begitu berjarak secara sosial dengan kawan kawan penampil. Labeling tunanetra yang melekat adalah pekerjaannya sebagai tukang pijat, dengan kacamata hitam, tongkat petunjuk jalan, dan tas selempang. Stereotype ini sudah mengerak di kepala, sejak sejumlah sinetron, atau film di TV, membekukan imaji ini.

Tidak pernah terbayangkan kawan-kawan  akan bermain sandiwara di atas panggung, memberi suguhan yang mengocok perut, diiringi oleh sejumlah lagu, tarian. Sudah barang tentu  setiap penonton yang hadir malam itu, sepakat pementasan berhasil dan sukses.

Saya menyusur sejumlah penonton, mereka adalah kawan-kawan SMP, SMA dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater di sekolahnya masing-masing, dan bapak-bapak ibu-ibu PNS yang harus hadir, karena pementasan itu didanai pemerintah.

Ait tunggu dulu. Bagi saya pribadi. Menonton pertunjukan; teater, tari, musik, dan jenis kesenian lainnya, adalah sebuah cerminan atau sepenggal kisah dari masyarakat, yang kemudian diolah dan dibawa ke atas panggung. Mampu menyentuh memori kolektif penonton, sebab penonton adalah produk masyarakat itu sendiri. Memberi penyadaran, bahkan lebih ekstrim sampai pada tahap empati dan mengintimidasi penonton, alam  sadar penonton yang abai karena pengaruh rutinitas berulang atau mekanis,  dikejutkan, sehingga efeknya berhasil, dan dibawa pulang ke rumah, diceritakan, lalu menjadi tanggung jawab bersama.

Dari pemilihan judul pementasan di poster, saya sudah diimingi-imingi menonton Drama Musikal. Kepala saya ini dipenuhi ekspektasi drama musikal ala Broodway, atau mendekati broodway-lah, dengan teknik dialog bernyanyi, teknologi panggung yang mengejutkan, alur adegan yang mempesona. Nyatanya pementasan  lebih mirip Drama Gong, yang sempat ngetop pada tahun 80-90-an di Bali.

Aiiiiih saya rindu sekali nonton Drama Gong. Kelompok-kelompok drama gong waktu itu,  sangat mempengaruhi setiap lini masyarakat. Kenangan saya langsung meluncur ke zaman SD dulu. Bagaimana Drama Gong tokoh Petruk dan Dollar selalu dibicarakan di kelas, di tempat bermain, di posko, waktu jam istirahat. Seolah-olah tontonan Drama Gong menjadi syarat tingkat keren. Karena joke-joke mereka kami bawakan dan adaptasi di lingkungan sekolah.

Masih ingat juga, sewaktu perpisahan sekolah SD, saya memimpin grup drama gong, mencukil beberapa adegan dari Drama Gong yang kita tonton bersama, masih menggunakan VCD.

Pementasan Pan Balang Tamak memang berisi tarian, musik, lagu, tapi tidak lebur menjadi satu kesatuan utuh, persis seperti Drama Gong, setiap pemainnya keluar ada lagu yang mengiringi, pilihan lagu pun, kekinian dan ngetop saat ini. Beberapa lagu malah nampak berjarak dari tema  yang diusung. Jika saja kata-kata Drama Musikal itu diganti dengan Drama Gong, mungkin akan menyentuh pasar yang berbeda, tidak hanya kalangan anak anak sekolah saja. Embel embel drama musikal mungkin terlalu berat dan ambisius atau sekedar menjadi dalih marketing saja.

Pemain musik dalam pementasan drama musikal Pan Balang Tamak

Pembacaan saya yang lain, Sutradara dan Dramaturg-nya kurang berhasil melakukan observasi yang mendalam terhadap kawan-kawan tunanetra serta mengaitkannya ke konteks masyarakat dewasa ini. Hal ini terlihat, bagaimana pola lantai yang kurang jelas, keluar masuk pemain tanpa perhitungan dan pertimbangan, kejaranannya hanya pada bentuk utuh, dan eksistensi di atas panggung. Padahal jika digali lagi, mengadaptasi cara kawan-kawan tunanetra dalam kesehariannya, banyak hal yang dapat dipertimbangkan jadi bentuk adegan.

Misalnya begini, saya tahu betul bagaimana tingginya tingkat hapalan kawan tunanetra. Kelebihan ini semestinya diturunkan menjadi skor pola bergerak di atas panggung. Panggung ditata sedemikian rupa, diisi benda-benda untuk mengingat struktur ruang. Pasti dasyat. Atau  tambahkan saja dua pemain cameo, yang keberadaannya remang-remang, kadang jadi aktor, kadang jadi penegas, kadang membantu pemain untuk menentukan ruang gerak.

Karena beberapa kali pemain salah jalan, menabrak kain, menabrak hiasan, bahkan salah tempat duduk. Penonton dapat memakluminya dari sisi kemanusiaan, tapi dari sudut pandang pertunjukan dan teknis, hal ini dapat diselesaikan, jika saja lebih teliti, cermat, dan berproses panjang.

Pertunjukan malam itu hampir tidak lepas dari lawakan, mulai dari umpatan khas Bali yang nyelekit, hingga sampai bahasan-bahasan yang sedang viral saat ini. Penonton diberi ruang untuk melompat-lompat dalam imaji, kemanakah iya harus menyimpulkan, diterbangkan antara dongeng dan realitas. Nampaknya Dramaturg Mas Hendra Utay sedang hendak bermain-main di ranah ini, strateginya wacana kebanyakan, agar kawan-kawan penonton tidak terlalu berjarak.

Tapi kadang-kadang terlalu nampak menjauhkan konsep, membantingnya begitu saja, misalkan pakaian pemain sangat bagus dengan mengusung tema Bali kontemporer, namun ditabrak begitu saja dengan properti-properti  maenan, pedang mainan, ayam mainan, botol plastik tuak. Jadi gerimutan cang.

Konteks benturannya sudah saya rasakan, dari penggunaan bahasa Bali, Indonesia, dan diselingi  bahasa Inggris. Kemudian lagu-lagu pun saya rasakan benturannya, lagu Bali, lagu Indonesia kini, bahkan dibentur dengan dangdut. Maksud saya haruslah satu diteguhkan, sebab yang lain sudah mix. Betapa kerennya patih-patih itu menggunakan keris beneran, tapi lagunya dangdut. Bayangkan saya sih begitu.

Satu lagi menilik pengalaman-pengalaman bersoal kerjasama dan kolektifan dalam membangun pementasan, harus disadari sebuah pertunjukan memiliki rencana jelas ke depan. Setelah pentas mau ke mana lagi, apa selanjajutnya, bisakah menghadirkan pentas mandiri.

Satu adegan dalam pementasan drma musikal Pan Balang Tamak

Kata kawan saya, jika suatu pergerakan didanai oleh pihak ketiga, hampir 80 persen, maka niscaya gerakan itu perlahan tenggelam. Saya rasa ini tanggung jawab bersama, khususnya yang berkolektif, agar berkarya tidak pada satu moment saja. Saya memiliki mimpi kecil, jika saja kelompok pentas itu membentuk kelompok Drama Modern, kan menarik, lalu dikelola dengan managemen yang baik. Bisa jadi gerakan besar itu.

Ya saya setuju dengan istri bapak gubernur yang saat itu memberi sambutan, bahwa memang benar seni dapat menyalurkan bakat anak-anak muda sehingga berlaku positif, tapi kan tidak cukup di situ. Harus dipikirkan juga seberapa jauh seni mampu mengubah cara pandang, membangun masyarakatnya dengan baik, tidak menjadi kelompok eksklusif. Melibatkan penonton sampai kesadarannya.

Saya jadi ingat pernah membaca satu tulisan  pementasan Margi Wuta oleh Teater Gardanalla, sutradara dan penulis naskah nya  Joned Suryatmoko, bekerja sama dengan Ari Wulu Penata Musik dan Bunyi, tahun 2011 di Yogjakarta. Bagaimana Mas Joned sebagai sutradara mampu menghadirkan eksistensi kawan-kawan tunanetra hingga berdampak pada nurani penonton. Ini eksperimen yang panjang tentunya, dengan observasi dan skala trial error berulang. Tidak hadir sebagai eksplorasi estetik, apalagi eksploitasi semata.

Anggoang mone ah, Heri ngantosang di sisi, ajakine minum. Pedalem ye sing ngelah timpal, hehe

Selamat membaca teman teman. [T]

Tags: Dramadrama gongdrama musikalseni pertunjukanTeatertunanetra
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

Next Post

Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co