14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Harusnya Drama Gong Ne!” – Ulasan Kecil Pementasan Drama Musikal Pan Balang Tamak

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 10, 2019
in Ulasan
“Harusnya Drama Gong Ne!” – Ulasan Kecil Pementasan Drama Musikal Pan Balang Tamak

Pentas Drama Musikal Pan Balang Tamak, dipentaskan Yayasan Pendidikan Dria Raba di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar, 7 Mei 2019

Beberapa waktu lalu, 7 Mei 2019, saya menonton satu nomor pertunjukan berjudul, Pentas Drama Musikal Pan Balang Tamak, dipentaskan Yayasan Pendidikan Dria Raba di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Sutradara Rasta dan Dramaturg-nya Mas Hendra Utay. Sebagai catatan penting kawan-kawan aktor dan pemusik adalah penyandang tunanetra, dan dari pengamatan saya ada yang tunanetra total ada pula low vision.

Suatu pertunjukan yang menakjubkan, dan penuh perjuangan saya pikir.

Tapiiiii….., tentu ada tapi. Sebagai penonton yang baik dan budiman, saya hendak memberi beberapa catatan, beberapa masukan, ulasan kecil, sebagai bentuk autokritik teater Bali pada umumnya, sebab saya pun berada di dalam lingkaran tersebut.

Kadang saya sulit untuk menempatkan diri jika menonton pementasan, yang mana sebagai pelaku, dengan kepala penuh pemahaman, yang mana sebagai penonton tanpa tedensi apapun. Kadang-kadang jika kepala sudah penuh tahu, kemudian menonton pementasan, ketegangannya selalu terletak pada alam bawah sadar dan imaji yang menginginkan lebih.

Contohnya Pementasan Pan Balak ini. Sampai tulisan ini dibuat, kepala saya masih dibayangi pementasan tersebut. Masih terbayang saya duduk di sebelah kanan panggung, beberapa kali ngedumel saat stage manager-nya nggak bekerja maksimal. Beberapa kali saya ketawa terpingkal-pingkal  saat pemain ngelawak, bahkan berulang kali saya memberi tawaran adegan, sebenarnya bisa diginiin, bisa digituin. Sayang saja kalau tidak tercatat, apalagi usai pentas tidak ada diskusi terbuka untuk penonton.

Kisah Pan Balang Tamak menceritakan seseorang raja yang membenci tokoh Pan Balang Tamak. Raja ingin membunuhnya, karena anak raja mencintai si tokoh kita. Tapi untung saja kejahatan raja digagalkan oleh patih raja yang melihat tingkah raja sudah menyimpang.

Terus terang yah wan kawan, saya begitu berjarak secara sosial dengan kawan kawan penampil. Labeling tunanetra yang melekat adalah pekerjaannya sebagai tukang pijat, dengan kacamata hitam, tongkat petunjuk jalan, dan tas selempang. Stereotype ini sudah mengerak di kepala, sejak sejumlah sinetron, atau film di TV, membekukan imaji ini.

Tidak pernah terbayangkan kawan-kawan  akan bermain sandiwara di atas panggung, memberi suguhan yang mengocok perut, diiringi oleh sejumlah lagu, tarian. Sudah barang tentu  setiap penonton yang hadir malam itu, sepakat pementasan berhasil dan sukses.

Saya menyusur sejumlah penonton, mereka adalah kawan-kawan SMP, SMA dan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok teater di sekolahnya masing-masing, dan bapak-bapak ibu-ibu PNS yang harus hadir, karena pementasan itu didanai pemerintah.

Ait tunggu dulu. Bagi saya pribadi. Menonton pertunjukan; teater, tari, musik, dan jenis kesenian lainnya, adalah sebuah cerminan atau sepenggal kisah dari masyarakat, yang kemudian diolah dan dibawa ke atas panggung. Mampu menyentuh memori kolektif penonton, sebab penonton adalah produk masyarakat itu sendiri. Memberi penyadaran, bahkan lebih ekstrim sampai pada tahap empati dan mengintimidasi penonton, alam  sadar penonton yang abai karena pengaruh rutinitas berulang atau mekanis,  dikejutkan, sehingga efeknya berhasil, dan dibawa pulang ke rumah, diceritakan, lalu menjadi tanggung jawab bersama.

Dari pemilihan judul pementasan di poster, saya sudah diimingi-imingi menonton Drama Musikal. Kepala saya ini dipenuhi ekspektasi drama musikal ala Broodway, atau mendekati broodway-lah, dengan teknik dialog bernyanyi, teknologi panggung yang mengejutkan, alur adegan yang mempesona. Nyatanya pementasan  lebih mirip Drama Gong, yang sempat ngetop pada tahun 80-90-an di Bali.

Aiiiiih saya rindu sekali nonton Drama Gong. Kelompok-kelompok drama gong waktu itu,  sangat mempengaruhi setiap lini masyarakat. Kenangan saya langsung meluncur ke zaman SD dulu. Bagaimana Drama Gong tokoh Petruk dan Dollar selalu dibicarakan di kelas, di tempat bermain, di posko, waktu jam istirahat. Seolah-olah tontonan Drama Gong menjadi syarat tingkat keren. Karena joke-joke mereka kami bawakan dan adaptasi di lingkungan sekolah.

Masih ingat juga, sewaktu perpisahan sekolah SD, saya memimpin grup drama gong, mencukil beberapa adegan dari Drama Gong yang kita tonton bersama, masih menggunakan VCD.

Pementasan Pan Balang Tamak memang berisi tarian, musik, lagu, tapi tidak lebur menjadi satu kesatuan utuh, persis seperti Drama Gong, setiap pemainnya keluar ada lagu yang mengiringi, pilihan lagu pun, kekinian dan ngetop saat ini. Beberapa lagu malah nampak berjarak dari tema  yang diusung. Jika saja kata-kata Drama Musikal itu diganti dengan Drama Gong, mungkin akan menyentuh pasar yang berbeda, tidak hanya kalangan anak anak sekolah saja. Embel embel drama musikal mungkin terlalu berat dan ambisius atau sekedar menjadi dalih marketing saja.

Pemain musik dalam pementasan drama musikal Pan Balang Tamak

Pembacaan saya yang lain, Sutradara dan Dramaturg-nya kurang berhasil melakukan observasi yang mendalam terhadap kawan-kawan tunanetra serta mengaitkannya ke konteks masyarakat dewasa ini. Hal ini terlihat, bagaimana pola lantai yang kurang jelas, keluar masuk pemain tanpa perhitungan dan pertimbangan, kejaranannya hanya pada bentuk utuh, dan eksistensi di atas panggung. Padahal jika digali lagi, mengadaptasi cara kawan-kawan tunanetra dalam kesehariannya, banyak hal yang dapat dipertimbangkan jadi bentuk adegan.

Misalnya begini, saya tahu betul bagaimana tingginya tingkat hapalan kawan tunanetra. Kelebihan ini semestinya diturunkan menjadi skor pola bergerak di atas panggung. Panggung ditata sedemikian rupa, diisi benda-benda untuk mengingat struktur ruang. Pasti dasyat. Atau  tambahkan saja dua pemain cameo, yang keberadaannya remang-remang, kadang jadi aktor, kadang jadi penegas, kadang membantu pemain untuk menentukan ruang gerak.

Karena beberapa kali pemain salah jalan, menabrak kain, menabrak hiasan, bahkan salah tempat duduk. Penonton dapat memakluminya dari sisi kemanusiaan, tapi dari sudut pandang pertunjukan dan teknis, hal ini dapat diselesaikan, jika saja lebih teliti, cermat, dan berproses panjang.

Pertunjukan malam itu hampir tidak lepas dari lawakan, mulai dari umpatan khas Bali yang nyelekit, hingga sampai bahasan-bahasan yang sedang viral saat ini. Penonton diberi ruang untuk melompat-lompat dalam imaji, kemanakah iya harus menyimpulkan, diterbangkan antara dongeng dan realitas. Nampaknya Dramaturg Mas Hendra Utay sedang hendak bermain-main di ranah ini, strateginya wacana kebanyakan, agar kawan-kawan penonton tidak terlalu berjarak.

Tapi kadang-kadang terlalu nampak menjauhkan konsep, membantingnya begitu saja, misalkan pakaian pemain sangat bagus dengan mengusung tema Bali kontemporer, namun ditabrak begitu saja dengan properti-properti  maenan, pedang mainan, ayam mainan, botol plastik tuak. Jadi gerimutan cang.

Konteks benturannya sudah saya rasakan, dari penggunaan bahasa Bali, Indonesia, dan diselingi  bahasa Inggris. Kemudian lagu-lagu pun saya rasakan benturannya, lagu Bali, lagu Indonesia kini, bahkan dibentur dengan dangdut. Maksud saya haruslah satu diteguhkan, sebab yang lain sudah mix. Betapa kerennya patih-patih itu menggunakan keris beneran, tapi lagunya dangdut. Bayangkan saya sih begitu.

Satu lagi menilik pengalaman-pengalaman bersoal kerjasama dan kolektifan dalam membangun pementasan, harus disadari sebuah pertunjukan memiliki rencana jelas ke depan. Setelah pentas mau ke mana lagi, apa selanjajutnya, bisakah menghadirkan pentas mandiri.

Satu adegan dalam pementasan drma musikal Pan Balang Tamak

Kata kawan saya, jika suatu pergerakan didanai oleh pihak ketiga, hampir 80 persen, maka niscaya gerakan itu perlahan tenggelam. Saya rasa ini tanggung jawab bersama, khususnya yang berkolektif, agar berkarya tidak pada satu moment saja. Saya memiliki mimpi kecil, jika saja kelompok pentas itu membentuk kelompok Drama Modern, kan menarik, lalu dikelola dengan managemen yang baik. Bisa jadi gerakan besar itu.

Ya saya setuju dengan istri bapak gubernur yang saat itu memberi sambutan, bahwa memang benar seni dapat menyalurkan bakat anak-anak muda sehingga berlaku positif, tapi kan tidak cukup di situ. Harus dipikirkan juga seberapa jauh seni mampu mengubah cara pandang, membangun masyarakatnya dengan baik, tidak menjadi kelompok eksklusif. Melibatkan penonton sampai kesadarannya.

Saya jadi ingat pernah membaca satu tulisan  pementasan Margi Wuta oleh Teater Gardanalla, sutradara dan penulis naskah nya  Joned Suryatmoko, bekerja sama dengan Ari Wulu Penata Musik dan Bunyi, tahun 2011 di Yogjakarta. Bagaimana Mas Joned sebagai sutradara mampu menghadirkan eksistensi kawan-kawan tunanetra hingga berdampak pada nurani penonton. Ini eksperimen yang panjang tentunya, dengan observasi dan skala trial error berulang. Tidak hadir sebagai eksplorasi estetik, apalagi eksploitasi semata.

Anggoang mone ah, Heri ngantosang di sisi, ajakine minum. Pedalem ye sing ngelah timpal, hehe

Selamat membaca teman teman. [T]

Tags: Dramadrama gongdrama musikalseni pertunjukanTeatertunanetra
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

“Laklak Gede” Isi Pisang di Pasar Penebel, Namanya Laklak Biu Men Bayu

Next Post

Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Berani-Beraninya Nonton “Sexy Killers” di Universitas Panji Sakti Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co