22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Peristiwa dan Kenangan Tak Senilai Berita

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
April 5, 2019
in Ulasan
Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Peristiwa dan Kenangan Tak Senilai Berita

tatkala

Saya mengenal Kambali Zutas dengan panggilan Ali ketika sama-sama bertugas menjadi wartawan di Singaraja, Buleleng. Sejak bertemu kami merasa serasi, setidaknya serasi sebagai teman yang sama-sama suka nongkrong di dagang pecel lele sembari membicarakan hal-hal yang tidak “bernilai berita”. Misalnya kenapa seorang pedagang pecel lele dinamai Mas Gondrong, padahal rambutnya tak gondrong-gondrong amat.

Pagi, siang, hingga saat deadline petang, sebagai wartawan, kami sudah disibukkan dengan urusan berita. Sehingga malam-malam bolehlah terbebaskan untuk bicara soal remeh temeh yang tak layak sama sekali masuk headline di halaman pertama koran kami. Kadang-kadang kami merancang khayalan tentang hal sensitif, yang tetap “tak layak berita”.

Misalnya, bagaimana kalau sesekali kami  bernyanyi bersama – benar-benar bersamaaan, bukan bergiliran – di atas panggung hiburan. Ali menyanyi lagu berbahasa Arab, saya menyanyikan kidung Bali berbahasa Jawa Kuno. Bahkan kami berpikir akan menukar ucapan salam. Ali yang seorang Muslim mengucap salam Hindu sebelum bernyanyi, dan saya yang Hindu mengucap salam Muslim.   

Tapi khalayan itu tak pernah terjadi, sehingga kami tak pernah tahu bagaimana kiranya respon penonton jika aksi panggung itu benar-benar digelar, misalnya, di Taman Kota Singaraja. Mungkin saja aksi kami akan masuk koran, karena dianggap bernilai berita. Entah berita bagus atau berita buruk.

Saya sebenarnya mencoba menghindar dari niat untuk untuk menghubung-hubungkan puisi yang ditulis Ali dalam buku “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” ini dengan kenangan-kenangan kami saat bersama di Singaraja. Namun saya bukanlah kritikus sastra yang punya bekal teori memadai untuk membicarakan puisi seorang teman, maka satu-satunya cara adalah mencoba menemukan semacam hubungan antara apa yang pernah saya tahu dari laku penyairnya dan puisi-puisi yang ditulisnya kemudian.

Jadi, mungkin apa yang saya katakan tentang puisi dari Penyair Kambali Zutas ini adalah sesuatu yang subjektif, personal, dan tentu saja polos tanpa kecurigaan layaknya sepasang teman, karena penyairnya “tak pernah mati”, ia senantiasa hidup dalam pikiran saya, kata per kata. 

Satu hal yang saya temukan kemudian adalah bagaimana Ali  meramu sesuatu yang tampak,tak “bernilai berita” menjadi puisi yang layak jadi renungan tentang kehidupan manusia, apa pun keyakinannya, apa pun gaya hidupnya, sehingga pada akhirnya puisi-puisinya mengingatkan saya pada berita-berita besar yang terjadi pada manusia, yang terjadi di negeri ini, kadang sebagai berita kecil yang lewat begitu saja, kadang sebagai berita besar yang ditulis berjilid-jilid meski pada akhirnya juga lewat begitu saja.  

Tapi memang begitulah tugas sebuah berita. Ia seakan harus didengar dan dibaca secepatnya, tapi kemudian dilupakan secepatnya. Pada saat seperti itu, puisi mencoba mengukuhkannya. Dan Ali, sebagai seorang wartawan, menulis puisi, sepertinya sedang ingin membuat berita menjadi ajeg, setidaknya dalam ajeg dalam renungan tengah malam, sebagaimana kami lakukan dulu, di Singaraja.  

Tema yang digarapnya sepertinya adalah sebagian besar tema obrolan kami tengah malam itu, setelah berita dikirim ke redaksi, sebelum kami tidur di masing-masing rumah kontrakan. Obrolan kadang kadang dimulai dengan mentertawakan isi berita yang tadi siang kami tulis, atau kadang obrolan lepas begitu saja, tak ada kaitan sama sekali dengan berita apa pun di dunia ini. Dan, saya pikir, puisi-puisi Ali ini memang digarap dari peristiwa sehari-hari, baik yang dilihatnya sendiri, maupun peristiwa yang didapat dari media, termasuk media tempat dia bekerja sebagai redaktur saat ini.  

Hanya saja, selayaknya penyair, ia mengerahkan berbagai kekuatan majas, untuk membuat puisi tak sekadar seperti berita-berita biasa, sebagaimana sehari-hari ia tulis atau ia edit di meja redaksi. 

Dan majas yang ia bangun, lagi-lagi mengingatkan saya pada gaya obrolan kami pada tengah-tengah malam di Singaraja itu, yang nakal, tak terduga, kritis, namun sesekali mencoba untuk bijak selayaknya seorang spiritualis. Sehingga puisinya layak dikupas dengan sedikit berkeringat untuk menemukan daging isi yang kemudian bisa dimakan, sekaligus menemukan biji buah untuk kemudian ditanam demi kehidupan yang berlanjut.

Mari baca penggalan puisi “Songkok Beterbangan”:

cerita lain saat sorak kegembiraan. orang lalu lalang tak terhitung. menenteng, mengangkat, dan menyunggi. berbagai bentuk, ukuran, warna, dan merk dari dalam dan luar negeri.

waktu itu musim panas. angin berhembus mengencang. ini hari kemenangan. mereka dan kami merayakan keriangan. mengikuti hingga khusuk. saling menyapa dan bertanya.

“sejak kapan si fulan bersolek seperti itu?” tanya mereka kepadaku.

mereka lantas memegang kepala. waktu itu? si fulan memegang sambil menggelengkan kepala.

“ aku tidak pernah pergi ke mana-mana. aku hanya di rumah.” “kalau begitu, copot! aku sudah muak melihatnya.”

Kuat dugaan puisi itu bercerita tentang sebuah peristiwa, mungkin hanya penyairnya semata yang tahu, mungkin juga peristiwa yang sudah diberitakan secara luas di media massa. Dengan gaya ungkap yang terkesan seenaknya dan sedikit nakal, penyairnya mencoba membangun peristiwa baru, dengan mengedit (kebiasaan seorang redaktur di media massa) peristiwa sebenarnya.

Songkok, kata yang kerap direpresentasikan dengan penutup kepala lelaki Muslim, mungkin memang dimaksud untuk menunjukkan sebuah peristiwa yang berkaitan dengan lakon orang Muslim. Namun sebagai simbol ia bisa menjadi simbol milik siapa saja, simbol bagi gaya hidup siapa siapa.

Songkok hanya ada dalam judul puisi dan tak ada satu kata songkok pun dalam baris puisi. Itu bisa diartikan bahwa songkok hanyalah penunjuk jalan, sementara jalan kehidupan yang dilewati, tahap demi tahap, bait demi bait, spasi demi spasi, bisa milik siapa saja.

Dalam buku yang cukup tebal ini terdapat banyak puisi yang mengesankan ramuan majas dan gaya ungkap semacam itu. Dan puisi “Songkok Beterbangan”, saya kutip karena puisi ini salah satu yang amat saya suka di antara puisi-puisi sejenis yang lain. Mungkin karena begitu sering saya temukan foto Ali dengan gaya berpenutup kepala di media sosial, kadang pakai songkok dengan benar, lebih sering pakai penutup kepala selayak pendaki gunung salju atau seperti gaya penyanyi rap.

Puisi gaya lain yang sungguh memikat adalah  “Laila Kau Biarkan Aku Majnun” yang dijadikan judul dalam buku ini. Mungkin saya telanjur tersihir karena sebagai judul buku, puisi itulah yang saya baca pertama kali saat Ali menunjukkan stensilan dari kumpulan puisinya. Namun, sebagai sebuah puisi tentang kegelisahan seorang pecinta, puisi ini terkesan digarap dengan kekuatan literer yang sungguh-sungguh.

Puisi ini merujuk pada kisah klasik Laila-Majnun, lalu memasaknya dengan  berbagai kesangsian dan pertanyaan-pertanyaan masa kini, mungkin pertanyaan seseorang dari generasi milenial, mungkin juga pertanyaan penyairnya sendiri, tentang rasa hakiki dalam diri dan rasa gelisah di luar diri.  Coba tengok satu bait yang menggetarkan hati:    

 Tapi tak usah kau pikirkan

Apakah aku seorang basyar, insan atau an-nas

Aku adalah harapan yang tak pernah kau temukan

Saat mengenal Ali di Singaraja, saya tak pernah peduli apakah ia seorang Muslim atau bukan. Jika pun saya tahu ia seorang Muslim, saya tak peduli juga apakah ia seorang yang taat atau seseorang yang biasa-biasa saja. Karena dalam setiap obrolan, kami selalu memandang sesuatu dengan cara pikir yang sama: liar tanpa batas, meski bukan dengan keyakinan yang sama. Tapi dari biodata resmi yang saya tahu kemudian ia punya riwayat pendidikan agama yang mengesankan, di dalam lembaga formal maupun di luar lembaga formal.     

Maka dalam puisi-puisi dia, sesungguhnya bisa dilacak perangkat-perangkat ajaran yang digunakan sebagai pengolah data dan peristiwa, sebagai pemicu cara berpikir, untuk mendapatkan puisi bernas dengan nilai-nilai yang dimiliki setiap manusia. Tampak ia selalu menghindar untuk penggunaan idiom keagamaan, dan mencoba menemukan idiom baru sehingga dengan begitu ia berhasil menciptakan puisi-puisi yang justru kritis terhadap pemaknaan tunggal pada satu peristiwa.

Secara umum puisi-puisi Ali bahkan berbicara tentang isu-isu penting di zaman modern, isu yang dihadapi setiap manusia: cinta, kasih sayang, alam, lingkungan hidup, dan juga politik. Lihat puisi tentang anak kecil yang disiksa dan dilenyapkan nyawanya, tentang isu lingkungan di wilayah Benoa, tentang pulau yang hilang, tentang persahabatan, dan tentu tentang hal-hal yang jadi perhatian semua manusia: semesta dan pencipta semesta.

Akhirnya, saya tak perlu menulis banyak kata untuk puisi Ali, karena toh saya akan sibuk membicarakan hal-hal yang telah banyak diketahui orang. Maka itu, selamat untuk Kambali Zutas. Jika menulis berita membuat kita sibuk, mungkin menulis puisi membuat orang lain menjadi sibuk. Dan itulah keberhasilan puisi. [T]

Tags: beritaBukukenanganperistiwaPuisi
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

Next Post

Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co