22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Rina Wijayanti by Rina Wijayanti
April 5, 2019
in Esai
Guru Kontrak yang Terjerumus ke Dunia Rias: Cita-cita dan Suka-suka

Foto ilustrasi (Dok Penulis)

Terlahir sebagai seorang anak petani tambak  yang dari kecil lebih akrab dengan bubu, sau, anco, titi, udang, ikan, kepiting, air asin, air payau dan kawan-kawannya, kadang saya merasa lucu, kerena sekarang lebih sering asik bergaul dengan pondation, bedak, eyesahadow, blush on, pensil alis dan kuas-kuasnya.

Biar saya ceritakan sedikit tentang diri saya dulu, saya anak gadis dari dua bersaudara dan kini menyandang status sebagai seorang istri dari seorang suami yang baik hati (menurut saya) karena tidak pernah mematahkan apapun keinginan saya, kecuali mungkin hal-hal yang bertentangan dengan kaidah kesetiaan dalam menjalin sebuah hubungan. Saya pernah punya cita-cita besar menjadi seorang guru Bahasa Indonesia karena memang diakrabkan dengan puisi dan cerpen oleh guru semasa SD dan SMP saya.

Bapak presiden pertama kita pernah berkata, “Gantunglah cita-citamu setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Saya rasa benar begitu, saya pernah punya cita-cita tinggi menjadi seorang guru, kini menjadi guru, bahkan mendapat kesempatan menjadi guru Bahasa Indonesia seperti yang memang saya inginkan. Tapi apa daya, lima tahun di sekolah saya pernah tidak digaji, karena harus bertanggung jawab dengan cita-cita saya tetap bertahan. Lalu pernah digaji tujuh ribu lima ratus rupiah per jam. Lalu pernah juga menerima gaji pukul rata, lima ratus ribu rupiah per bulan, lalu lima puluh ribu rupiah per jam.

Lalu kebijakan pemerintah membawa saya ke status pegawai kontrak provinsi dengan upah yang bagi saya lumayan untuk membangun cita-cita lain dan saya tetap bahagia. Tetap menjadi seorang guru. Eh, kok saya jadi curhat, sudah jangan dipikirin.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh bapak presiden pertama kita, saya pernah punya cita-cita tinggi dan saya sedang merasa jatuh di antara bintang-bintang. Bukan berarti saat saya merasa mentok menjadi guru kontrak saya patah hati terus membunuh semua siswa yang ada di sekolah atau menjadi aktor kasus pornografi, terus saya terkenal, masuk koran, masuk TV, dan menjadi daftar pencaharian teratas di internet. Jadi bintang gitu. Ya enggaklah ya.

Pernah menjadi siswa dengan nama yang tidak terlalu baik (tak terlalu formal) saat SMA, membuat saya berkelimpahan teman. Ditambah lagi saat kuliah, saya memilih menjadi mahasiswa yang tidak normal maksudnya tidak hanya K3 (Kampus, Kost, Kampung), tetapi intinya lebih banyak main-main dari pada serius kuliah. Lebih senang mencari teman daripada belajar.

Punya banyak teman inilah yang membuat saya merasa jatuh di antara bintang-bintang saat saya merasa cita-cita saya yang tinggi tak kunjung membuat saya menari-nari seperti awan di angkasa. Sebab, setelah saya menekuni dunia rias-merias, teman adalah makhluk ajaib yang paling setia percaya begitu saja pada pulasan tangan saya, tentunya dengan banyak alasan dan mereka paham ini tidak cuma-cuma. Dan saya, meski awalnya hanya suka-suka, kini benar-benar suka.  Dan kombinasi dari keduanya menimbulkan suka-cita.

Saya sedang merias

Entah sejak kapan saya menyukai dunia tatarias memilih bergaul dengan sederet bedak dan koloni-koloninya. Sering kali saya merasa ini lucu tapi saya yakin ini ada hubungannya dengan teman-teman saya. Terakhir yang saya ingat, saya sering dipaksa teman-teman  untuk membantu merias aktor  saat pentas teater.

Kata mereka riasan saya bagus, entah benar begitu atau sengaja dibilang begitu biar nanti-nanti saya rajin membantu lagi. Setelah di sekolah sebagai guru Bahasa Indonesia, saya terlalu sering membuat orang salah tanggap, dikiranya saya Guru Seni Budaya. Kadang, di sekolah saya lebih suka kalau mendapat tugas merias anak-anak yang akan mengikuti lomba-lomba dari pada mendapat tugas membina penulisan karya ilmiah.

Ah, saya merasa benar-benar mulai terjerumus. Dan salah seorang yang menjerumuskan saya adalah guru seni budaya di sekolah tempat saya mengajar. Beliau selalu memberi ruang, memberi pujian, dan bahkan memberi kesempatan untuk menambah penghasilan saat ada acara-acara tertentu di sekolah karena beliau sadar saat itu saya belum memiliki penghasilan apapun.

Hingga kini, saya merasa semakin gila di dunia tatarias. Dulu masih suka menyuruh teman membawa make-up untuk saya pinjam kalau ada yang meminta saya untuk merias, saat ada wisuda misalnya. Kini saya sedang giat belajar tentang aneka merek make-up, jenis, dan fungsinya serta sangat rajin membelinya karena bukan rahasia lagi berapa honor perias untuk merias sepasang pengantin, untuk upacara metatah atau merias anak-anak di hari perpisahan.  

Honor yang menggila ini tentu tidak bisa saya dapatkan semudah membalikkan telapak tangan, meskipun tarif saya belum sefuntastis perias hits lainnya, namun ini tetap harus disyukuri.

Saat merias selain menjual keterampilan saya juga menjual sabar karena belakangan saya merasa setiap client yang datang terutama calon pengantin  punya kecerewetan tersendiri yang menguji kesabaran saya. Ini mungkin juga dialami oleh perias lain sampai-sampai saya mengkatagorikannya ke dalam empat jenis calon pengantin yang hendak dirias.

Pertama, calon pengantin tukang tawar. Kedua, calon pengantin rela bayar mahal tapi gak tau trend, dan, ketiga, calon pengantin dramakuin.

Meski tak jarang juga mendapat client yangpasrah, baik hati, ramah-tamah dan tidak sombong. Nanti saya akan ceritakan detail pertemuan saya dengan berbagai jenis calon pengantin ini serta cara efektif menanganinya dalam tulisan berikutnya.

Terimakasih telah membaca tulisan saya yang tidak terlalu penting ini. Intinya saya tetaplah seorang anak petani tambak yang harus bertanggung jawab atas cita-cita saya dengan perasaan yang bahagia datang ke sekolah setiap pagi, juga menjadi perias yang bijaksana karena inilah dunia yang dibangun oleh teman-teman saya untuk saya tetap hidup di antara bintang-bintang. [T]

Tags: gurukecantikanperiassukacita
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Buku Puisi “Laila Kau Biarkan Aku Majnun”: Peristiwa dan Kenangan Tak Senilai Berita

Next Post

Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali

Rina Wijayanti

Rina Wijayanti

Setelah lulus dari Undiksha Singaraja, ia jadi guru yang ulet di Jembrana, Bali barat, juga menekuni make-up artist. Sesekali menulis puisi. Statusnya bahagia bersama suami yang juga sesekali menulis puisi

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali

Demi Ilmu, 12 Jam Bersama Laut, Dari Pulau Kecil di Madura ke Undiksha di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co