2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku; Pelacur ini Menemukan Jalan –Catatan Aktor Sebelum Pentas

Indra Mpol by Indra Mpol
February 27, 2019
in Esai
Aku; Pelacur ini Menemukan Jalan –Catatan Aktor Sebelum Pentas

Dok Sekali Pentas

Dikarenakan tulisan ini adalah tulisan seorang pemula maka mohon dimaklumi jika sangat membosankan dan cenderung aneh hahahha. Sebelumnya aku sangat berterima kasih pada Suma [sutradara} dan Jong [pimpinan produksi] yang terus memaksa untuk membuat catatan kacau dan puisi kacau juga sebelum tulisan kacau ini diketik.

Thx bray akhirnya neraka menulis ini selesai juga. Menjadi penulis dadakan sungguh sulit bukan main. Mungkin setelah ini aku akan sangat menghargai dan menaruh hormatku pada semua penulis dimanapun kalian berada selama masih di bumi.

Di tulisan perdanaku ini aku akan menceritakan bagaimana prosesku berlatih teater musikal di garapan kelompok sekali pentas. Bagiku mengikuti proses berteater adalah hal yang merindukan.

Begitu juga mengikuti proses drama musikal untuk kedua kalinya bersama kelompok sekali pentas yang akan mementaskan lakon Sukreni Wang Sistri Listuayu, pada tgl 28 Februari 2019,yang merupakan adaptasi dari novel tersohor seorang raja bali dan sang maestro Pandji Tisna : Sukreni Gadis Bali.

Banyak hal yang kurindukan dari pementasan Capung Hantu-2018 sebelumnya. Saat duet sang sutradara Heri dan Suma mengajakku untuk bermain lagi, kenapa tidak? Drama dan music adalah hidupku dan tiap kesempatan harus diambil bukan?

Aku seorang vokalis dari 5 band berbeda genre, sementara dunia teater sepertinya tidak mau pergi juga dari hidupku. Setelah hampir 9 tahun melacur di 2 dunia kesenian ini, akhirnyayeah hahaha Sang pelacur menemukan jalannya.

Sudah hampir sebulan lebih aku dan teman-teman melewati proses latian yang dicanangkan oleh Suma selaku pak sutradara drama dan Heri sebagai penyandang gelar composer musik didrama kali ini.

Mmmmmmm

Mengingat-ngingat lagi di proses awal berlatih, justru bukan bray Suma yang langsung terjun melatih. Suma selaku sutradara memberikan kami kesempatan untuk memamerkan metode-metode latian teater yang biasanya kami jalankan di setiap kehidupan berteater kami sampai hari ini. Sejujurnya aku merasa nol besar mengenai ini hahahha… What the hell !!! .

Aku sadar bahwa selama kehidupanku berteater, sama sekali tak mengenal metode-metode dalam pelatihan teater. Terbesit kembali ingatanku waktu di sma ketika dilatih teater oleh Mas Tomo, dan yang aku ingat hanya permainan bercermin yang masih membekas diingatanku dan juga dipamerkan oleh Suiya yang memerankan sudiana di drama musikal ini. Kita satu guru Suiya, hahahha…

Kembali di metode tadi, Jacko salah seorang teman kami yang memerankan buruh pemanjat kelapa dan seekor babi, memamerkan metode yang bagiku sangat langka dan merupakan metode latihan yang aku pikir diadaptasi dari tubuhnya sendiri. Sulit bagiku menjelaskan bagian meliuk-liuk ini yang notabene dapat memaksimalkan kemampuan tubuh/badan kasar kita, sekaligus mengenal sendiri apa itu tubuh kita, yang biasanya seorang actor atau manusia yang tidak benar-benar mengenal setiap inci dari tubuhnya sendiri.

Wow its amazing bray Jacko yuhuuu. Satu bagian yang sangat sulit yaitu menggerakkan bagian tubuh kita dari ujung kaki hingga ke ujung kepala secara bebas bergantian dan bersamaan. Dibarengi dengan pergerakan yang lambat dan cepat membuat kita merasakan sensasi yang begitu kuat seperti panas, pegal, mata berkunang-kunang,dan nafas terengah-engah. Katanya, sebenarnya kuncinya di pengaturan nafas,hahahha,,masih menjadi misteri.

Setelah metode pembuka yang dipamerkan oleh Jacko, metode selanjutnya dipamerkan teman kami Ejak yaitu metode pelatihan yang menurutku merupakan metode standar dalam pemanasan dan tahap awal dalam berlatih teater seperti lari, pemanasan dari kaki ke kepala, lalu senam wajah, dan berteriak vocal a,I,u,e,o. pada tahap awal metode ini sepertinya lewat begitu saja, namun saat pak sutradara menitahkan kami untuk mengatur tempo hitungan dan gerakan, neraka pegal itu dimulai.

Metode yang terkesan sederhana ini menjadi sangat sulit dan mendetail disetiap gerakannya berkat tempo hitungan dan gerakan yang kadang-kadang lambat, kemudian cepat dan tambah cepat kemudian kembali melambat membuat tubuh ini sangat renta, maklum sudah uzur wkwkw…thx Ejak  metode dasarmu pasti digunakan disetiap kami dan semua teater mulai berlatih.

Waktu seingatku sudah menunjukkan jam 5 sore ketika sang composer music Heri datang untuk melatih kami di tahapan awal mengenal music yaitu olah vocal. Heri adalah sutradara di bagian music untuk nanti mengisi dialog dan adegan kami dengan alunan music yang dibuat sendiri bersama team music,  berdasarkan naskah yang sudah dibuat oleh suma. Duet yang sangat berbahaya menurutku, hahaha hajar pak.

Wah untuk metode latihan vocal ini aku sama sekali tidak mengalami kendala yang berarti karena aku lebih sering berlatih vocal daripada berlatih teater melalui tubuhku. Maklum berlatih tubuhnya nanti dipanggung waktu konser saja wkwkw.. pelatihan vocal dimulai dari bernafas terengah-engah seperti anjing, lalu seperti mengeluarkan suara ban yang bocor, kemudian penguatan otot perut, dan yang paling berbahaya adalah saat kami tidur menengadah keatas, lalu badan diangkat sedikit keatas, perut dikunci keras, dan kemudian kami disuru bernyanyi garuda pancasila dengan berbisik.

Wow siksaaan neraka apa lagi ini. Hahaha.. sial, memang tidak mudah menjadi actor sekaligus bernyanyi. Hore dan akhirnya latian selesai dan untuk pertama kalinya badanku terutama bagian perutku serasa keras dan sakit jika dipegang, badan ngilu semua bahaya kalau dipakai bab hahha..tapi drama dan music di hari itu bagiku begitu menyenangkan saat mereka bersanding,

Sampai di metode tadi, aku beberapa kali tidak bisa ikut berlatih dikarenakan pekerjaan dan urusan-urusan band receh lainnya. Sehingga metode latihan terakhir yang aku ingat yaitu metode dari teman kami, Aguk,  yang dalam drama musikal ini berperan sebagai Gustam seorang penjahat keji.

Aguk membagikan sedikit metode butoh yang ia pelajari ketika mengikuti workshop butoh di jogja. Kata-kata butoh ini selalu mengingatkanku pada seorang kawan Mas Andika pada masa-masa kuliah dulu yang sempat mengajarkan butoh ini dan aku mengikuti workshopnya. Seingatku aku diajarkan menjadi binatang seperti buaya, wkwkkw,,sungguh melelahkan dan memegalkan semua badan.

Kembali lagi ke metode butoh dari Aguk ini, awal kami berlari seperi biasa untuk pemanasan, setelah itu Aguk memberikan instruksi untuk kita membagi menjadi 3 kelompok. Lalu satu orang dikelompok itu mulai bergerak secara bebas dan berimprovisasi secara perlahan dan tugas 2 orang lainnya menyentuh bagian-bagian tubuh yang berhenti atau tidak bergerak.

Sensasi awalnya sangat membingungkan, bergerak berimprovisasi bagiku sangat membingungkan, lalu aku pejamkan saja mata dan dalam gelap memerintahkan tubuh ini agar bergerak bebas. Setelah bergantian melaksanakannya, aku melihat gerakan-gerakan yang dihasilkan dari proses berimprovisasi tersebut sangat berbeda dan bervariasi di setiap orang. Tidak ada gerakan yang sama. Semua pola gerakan diciptakan secara acak dari proses bergerak selama beberapa menit tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan berbaris memanjang kemudian memejamkan mata,  Aguk mengintruksikan atau lebih tepatnya mensugesti kami untuk membayangkan bahwa di setiap tubuh kami terdapat satu kutu yang berbuat onar. Lalu semakin lama-semakin lama kutu tersebut bertambah dan menggeliat ditubuh kami. Secara spontan serasa tubuh kami gatal dan tangan kami ingin membunuh kutu-kutu yang sedang perang saudara tersebut.

Akhirnya perang membesar menjadi perang dunia diantara kutu-kutu tersebut, sehingga membuat seluruh tubuh berguncang hebat tak karuan dan sangat cepat seperti serasa kutu-kutu tersebut sudah menelan tubuh kami dengan jumlahnya yang sangat banyak.

Kemudian perlahan-lahan instruksi menyuruh kami stop dan merasakan kembali perlahan tubuh kami yang sudah bebas dari kutu kupret tersebut. Dan sesi itupun berakhir. Uiih..aku sempat berfikir kalau saja metode ini diisi dengan tempo waktu dan gerakan lambat ke cepat niscaya metode ini akan membuat kita mencapai neraka sesungguhnya wkkwkw..

Mantap Aguk, aku ingin sekali belajar lebih dalam lagi namun waktu itu aku harus berlatih band dan melewatkan sesi diskusi,, para pembaca sekalian tulisan ini dibuat didetik-detik terakhir tengat waktu untuk mengumpulkannya, dan aku rasa tulisan dini ini, aku resmi akhiri,.hahaha. tapi aku pikir aku akan menulis lagi di lain waktu serta kesempatan yang tepat.Salam budaya genk. [T]

Tags: Bahasa BaliDramaTeater
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Empat Alternatif Cara Mendengar Azan Bila Jokowi Presiden Lagi

Next Post

Pelestarian Bahasa Bali itu Bernama Teater – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Indra Mpol

Indra Mpol

Nama lengkap I Made Indra Purnama Suryanatha Dangke. Konsentrasi hidup di drama,musik, dan cinta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pelestarian Bahasa Bali itu Bernama Teater – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Pelestarian Bahasa Bali itu Bernama Teater - Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co