12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pelestarian Bahasa Bali itu Bernama Teater – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 28, 2019
in Esai
Pelestarian Bahasa Bali itu Bernama Teater – Catatan Sutradara Sebelum Pentas

Pertama kali diberitai untuk menjadi penutup acara Festival Bulan Bahasa Bali Dinas Provinsi 2019, tentu saja ini menjadi hal yang begitu mengejutkan bagi kami, khususnya sebagai sebuah kelompok teater. Sebab biasanya, pada kebanyakan festival, teater hampir tak pernah ‘dipercaya’ menjadi menu pembuka atau penutup acara.

Entah karena formatnya yang tidak cocok diisi dengan pertunjukan teater, atau sang penyelenggara lebih tertarik pada euphoria sorak-sorai band, sendratari, atau pertunjukan kolosal sejenis. Paling tidak, festival Bulan Bahasa Bali ini terasa tengah berusaha mendefinisikan identitasnya sendiri, yakni sebuah festival pengusung tema, acara dan bintang tamu yang tak laku!

Sebagai orang Bali, di tengah dunia yang meng-Internasional ini, siapa yang rela capek-capek me-lokal-kan dirinya lagi menggunakan bahasa Bali? Begitu pepatnya waktu menjalani hidup sehari-hari, hingga tak ada alasan lagi buat mempelajari Bahasa Bali.

Maka cukuplah orang Bali ongkang-ongkang berlindung di balik kata “Ajeg Bali”. Sebuah gerakan instan nan politis yang menyeret umatnya pada pandangan sempit tentang pelestarian budaya Bali (baca: Bahasa Bali). Membuat masyarakatnya silau pada hingar bingar, kerlap-kerlip ornamen kebahasaan yang tampak di permukaan.

Sayangnya, pola gerak semacam ini bukannya membuat orang lebih ingin mempelajari, namun justru kian berpotensi menjauhkan nilai dan fungsi bahasa Bali sebagai media komunikasi, gerbang pintu mengenal kebudayaan Bali lebih dalam.

Hal tersebut kemudian saya sadari saat menggarap pentas “Sukreni Wang Sistri Listuayu”. Sebuah drama musikal bahasa Bali yang digubah dari Novel Sukreni Gadis Bali karya A.A. Pandji Tisna. Meski kawan-kawan yang tergabung dalam pentas ini adalah mereka yang hidup dan tinggal di Bali, namun hanya sedikit yang benar-benar menguasai bahasa Bali. Beberapa diantaranya ada juga orang dari luar Bali atau orang Bali yang berjarak dengan bahasa Bali.

Walhasil, pertama kali latihan (dan mungkin saat pentas), betapa kata-kata keluar begitu terbata.

            Ulak-alik antara bahasa Bali yang terlontar, maksud dialog, lagu, lalu sinergi antara tubuh aktor itu sendiri jadi pekerjaan yang cukup melelahkan dalam proses drama musikal ini. Pola latihan yang semula saya maksudkan untuk  mencari kemungkinan ulak-alik ini, justru berganti menjadi latihan berbahasa Bali.

Semua pemain sedari mulai latihan saya wajibkan ngobrol menggunakan bahasa Bali. Yang kemudian membuat jarak bahasa yang dulunya begitu curam sedikit demi sedikit jadi landai mereka lafalkan dengan leluasa. Pada titik inilah, betapa lapis teater tak hanya menyoal tentang pemanggungan saja, melainkan berpotensi menjadi tempat latihan berbahasa bagi para anggotanya.

Maka bayangkanlah, apabila ada banyak kelompok teater yang diberi kesempatan bermain drama berbahasa Bali, berapa banyak orangkah yang mempunyai kesempatan mempelajarinya?

Naskah Adaptasi

            Yang justru membuat gerak teater semacam ini jadi berbeda dengan kualitas pertunjukan lainnya, dikarenakan titik berangkat berpikir teater yang begitu luwes. Tak seperti jenis kesenian yang berpedoman pada pakem dan bentuk-bentuk pengulangan mekanis lainnya.

Pada teater, penyikapan terhadap sesuatunya cenderung cair. Pun dengan bahasa. Pun dengan naskah. Cobalah tengok cerita-cerita pertunjukan berbahasa Bali biasanya. Pada satu dekade terakhir ini kebanyakan cerita tampak berputar pada etos Ramayana dan Mahabarata saja. Jika kita percaya, teater adalah representasi sejarah hidup masyarakatnya, apakah sejarah Bali hanya mandek pada etos Ramayana dan Mahabarata saja? Apakah sesilangan kebudayaan Bali hanya antara India dan Jawa saja?

            Dalam konteks ini, adaptasi naskah bahasa Bali mau tidak mau tentu menjadi penting artinya. Saya pribadi jadi membayangkan bagaimana interkulturalisme yang hadir dalam pentas “Gambuh Machbeth” oleh Kadek Suardana (alm), atau konsep nasionalisme “Koetkoetbi” karya Soekarno yang digubah jadi drama gong oleh Putu Satriya Kusuma. Betapa ketegangan sejarah dan kebudayaan Bali dengan dunia luar diikat dan dipertaukan lewat bahasa Bali.

Meski dengan bentuk yang berbeda, kesadaran semacam ini yang menjadi titik berangkat kami dalam mementaskan drama musikal “Sukreni Wang Sistri Listuayu”. Jarak budaya yang begitu jauh antara hari ini dengan zaman Pandji Tisna, ditambah penyikapan bahasa, musik, kostum, dan artistik yang beraneka ragam, membuat pentas berada pada dunia antahberantah. Ia begitu cair di permukaan, namun tegang di dalam. Ia begitu Bali namun tak Bali. Bukankah hal tersebut adalah cerminan realitas Bali hari ini juga?

Di tengah kebyar pariwisata Bali yang membuka setiap pintu kehidupan masyarakatnya, mempersilakan dunia untuk masuk di dalamnya, berhati-hatilah! Sebab akan ada yang mengendap menyusup diam-diam. Nyen keh to? Nyen keh to? Cicing keh ane kelayah-layah dot dadi manusa? Apakeh  bikas jele  ane ngruggrugang dendamne  ipidan?

Yatna-yatnain!

Denpasar, 2019

Tags: Bahasa BaliDramaTeater
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Aku; Pelacur ini Menemukan Jalan –Catatan Aktor Sebelum Pentas

Next Post

Fenomena Instagram #nusantarafolkloreweek

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Fenomena Instagram  #nusantarafolkloreweek

Fenomena Instagram #nusantarafolkloreweek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co