13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 27, 2019
in Esai
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Danjen Kopassus Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dan bapaknya Sastrawan Nengah Tinggen (Foto:Ist)

Saya senang membaca berita tentang putra bangsa kelahiran Bali, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI I Nyoman Cantiasa diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Sejumlah media online, termasuk tentu saja media di Bali, ramai memberitakannya. Saya membacanya, dan langsung teringat ayah Sang Danjen, yakni I Nengah Tinggen, sastrawan dan penulis buku yang produktif pada masanya.

Sekira tahun 2004 saya mewawancarai Nengah Tinggen di rumahnya di Jalan Pramuka Singaraja. (Kini rumah itu tergusur akibar perluasan SMAN 1 Singaraja). Saya hendak mewawancarai dia soal bahasa Bali, sastra, dongeng-dongeng Bali, dan pengobatan tradisional, yang kerap ditulisnya dalam banyak buku. Tapi wawancara berlangsung agak kacau, karena, maaf,  pendengaran dia saat itu sudah lemah.

Saya bertanya banyak masalah sastra dan bahasa Bali, namun ia lebih banyak menjawab soal perjuangan revolusi yang dilakoninya saat masa perjuangan melawan NICA. Saya beberapa kali mengulang-ulang pertanyaan tentang sastra, tapi jawaban yang saya dapat selalu berbelok ke masa-masa perjuangan. Maklum, selain sebagai penulis buku, ia juga dikenal sebagai veteran pejuang.

Saya kemudian menyerah. Saya letakkan tape recorder sebagai perekam di atas meja, lalu saya biarkan tokoh sastra itu bercerita sesukanya. Saya tak menyela dengan pertanyaan, dan hanya mengangguk-angguk. Dia tampak bersemangat.  

Ini sepenggal dari cerita perjuangan yang terekam dan pernah saya tulis di Bali Post:

“Pada zaman revolusi fisik sekitar tahun 1940-an, kami ini memang keluarga pejuang. Kebetulan rumah kami dipakai markas pejuang di Bubunan, Seririt. Rumah kami lokasinya memang strategis, berada di antara Joanyar di timur, Ringdikit di selatan, Sulanyah, dan Bubunan. Kebetulan di situ juga ada auman yang aman untuk tempat sembunyi.

Apalagi setelah kemerdekaan tahun 1946, para pemuda pejuang kumpul terus di rumah kami. Saya sendiri punya pasukan 50 orang yang berada di alam terang (tidak menyingkir-red). Saat itu saya masuk anggota PMC atau penyelidik militer khusus.

Setiap hari saya menyamar dengan membawa cangkul, sabit dan pura-pura berkebun. Tugas saya menyampaikan informasi tentang keberadaan NICA. Jika ketemu NICA di sebuah sawah yang menuju ke timur misalnya, saya cepat berlari ke timur melalui jalan lain untuk menginformasikan kedatangan NICA.

Saya sempat ditangkap empat hingga lima kali. Apalagi jika saya diketahui sebagai adik dari Wayan Sada, maka hukuman bagi saya akan bertambah berat. Kakak saya Wayan Sada itu dikenal sebagai pemberontak. Saya sendiri sering dirayu NICA untuk diajak bekerja baik-baik. Saya hanya mengangguk, tapi setelah lepas kembali melakukan perjuangan.

Kakak saya Wayan Sada punya keahlian dalam hal mengatur telepon dan kabel. Tahun 1946 itu dia mengacaubalaukan jaringan telepon NICA di Seririt. Saya bersama 50 pemuda pejuang turut membantu menyembunyikan alat-alat telepon itu, saya tanam di Pura Taman di Bubunan. NICA pun mengetahuinya sehingga kakak saya jadi buronan NICA lalu menyingkir ke luar daerah.

Selanjutnya terjadi pertempuran di Kayuputih. Dalam pertempuran itu ada seorang pejuang tertangkap yang kemudian membocorkan keberadaan Wayan Sada, kakak saya. Maka markas kakak di Dencarik diobrak-abrik NICA dan semua pemuda ditangkapi. Di situ terjadi pertempuran. Pemuda pejuang gugur enam orang, termasuk kakak saya. Mayat kakak saya ambil di Banjar lalu dikuburkan di Bubunan. Rumah kami kemudian dihancurkan. Setiap minggu dikurung. Ayah saya, Ketut Badung, ditahan di Seririt dan sering disiksa, kepalanya dimasukkan ke air. Ayah keluar tahun 1948, keluar sakit lalu meninggal.”

Di bagian akhir cerita soal perjuangan, ia dengan bangga bercerita soal anak-anaknya. Salah satunya tentu saja Nyoman Cantiasa yang disebut (beberapa kali) sebagai tentara. Saat itu, nama anak ketiganya itu disebut dengan lapal Santiasa (dengan huruf S paling depan, bukan C).

Saya ingat ia bercerita banyak tentang anaknya yang tentara itu, tapi saya tak merekamnya dan kini tak bisa mengingatnya dengan baik. Saya menganggap cerita itu tak penting karena tak berhubungan dengan apa yang ingin saya tulis saat itu, yakni tentang bahasa dan cerita-cerita Bali. Namun saya ingat betul bagaimana Nengah Tinggen bercerita tentang anaknya itu dengan wajah yang berbinar-binar, sama berbinarnya ketika ia bercerita soal perjuangannya melawan NICA.

Mungkin dengan menjadi tentara ia anggap anaknya itu sebagai penerus perjuangannya melawan NICA di masa lalu. Mungkin dengan menjadi tentara, anaknya itu bisa “membalaskan dendam” atas rumahnya yang hancur, dan atas kematian ayahnya (kakek Cantiasa) setelah sempat ditahan NICA.  

Beberapa tahun belakangan ini saya tahu Cantiasa itu ternyata sosok unggul dengan karir yang bagus di TNI sehingga saya cukup menyesal kenapa dulu tak mendengar cerita Nengah Tinggen tentang si anak dengan lebih cermat. Meski begitu, saya bisa membayangkan, jika Nengah Tinggen masih hidup, bagaimana bangganya dia saat mendengar anaknya kini diangkat menjadi Danjen Kopassus, sebuah kesatuan elit yang diidam-idamkan banyak tentara.           

Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dipercaya sebagai Danjen Kopassus mengantikan Mayjen TNI Eko Margiyono yang dirotasi sebagai Pangdam Jaya melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/81/I/2019 tertanggal 25 Januari 2019 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Sayangnya, Nengah Tinggen, meninggal dalam usia 85 tahun di rumahnya di Seririt, Sabtu 3 November 2012. Saat ia meninggal, I Nyoman Cantiasa sudah berpangkat kolonel dan bertugas sebagai Danpusdik Kopassus Batujajar.

Selain meninggalkan anaknya dengan karir yang cemerlang, sebagai tokoh sastra, Tinggen meninggalkan sekitar 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali.

Jadi, Nengah Tinggen adalah  tokoh sastra yang selain melahirkan banyak buku demi kemajuan ilmu pengetahuan di Bali, ia bersama istrinya, Ni Ketut Mari, juga melahirkan anak-anak unggul yang punya jiwa pengabdian besar terhadap bangsa dan negara. Selama hidupnya, selain mengasuh anak, ia juga mengabdikan diri demi mengasuh dan menjaga ilmu serta ajaran-ajaran luhung dari leluhur.

Jika Mayjen Cantiasa punya berderet karir bagus di dunia ketentaraan, Nengah Tinggen punya sederet buku bagus yang sudah pernah diciptakan, antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”, “Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”, “Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada Bali jilid 1, 2 dan 3”.

Tinggen yang lahir di Desa Bubunan 1931 itu  juga menerjemahkan cerita-cerita rakyat Bali dari lontar di Gedong Kirtya. Atas pengabdiannya itu ia dianugerahi Piagam Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Soeharto (1998), Citra Karya Insan Pendidikan Nasional dari Yayasan Pandu Citra Indonesia (2000), Wija Kusumadari Bupati Buleleng (1997), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (2003) dan sejumlah penghargaan lain.

Terakhir, ia mendapatkan pengharagaan Rancage sebagai pemerhati sastra Bali yang sangat setia.

Karena kini Danjen Kopassus putra seorang sastrawan dan penulis buku, saya berharap tak ada lagi peristiwa penyitaan buku yang dilakukan aparat. (T)

Tags: Bahasa BalisastratentaraTNItokoh
Share6230TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co