2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 27, 2019
in Esai
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Danjen Kopassus Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dan bapaknya Sastrawan Nengah Tinggen (Foto:Ist)

Saya senang membaca berita tentang putra bangsa kelahiran Bali, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI I Nyoman Cantiasa diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Sejumlah media online, termasuk tentu saja media di Bali, ramai memberitakannya. Saya membacanya, dan langsung teringat ayah Sang Danjen, yakni I Nengah Tinggen, sastrawan dan penulis buku yang produktif pada masanya.

Sekira tahun 2004 saya mewawancarai Nengah Tinggen di rumahnya di Jalan Pramuka Singaraja. (Kini rumah itu tergusur akibar perluasan SMAN 1 Singaraja). Saya hendak mewawancarai dia soal bahasa Bali, sastra, dongeng-dongeng Bali, dan pengobatan tradisional, yang kerap ditulisnya dalam banyak buku. Tapi wawancara berlangsung agak kacau, karena, maaf,  pendengaran dia saat itu sudah lemah.

Saya bertanya banyak masalah sastra dan bahasa Bali, namun ia lebih banyak menjawab soal perjuangan revolusi yang dilakoninya saat masa perjuangan melawan NICA. Saya beberapa kali mengulang-ulang pertanyaan tentang sastra, tapi jawaban yang saya dapat selalu berbelok ke masa-masa perjuangan. Maklum, selain sebagai penulis buku, ia juga dikenal sebagai veteran pejuang.

Saya kemudian menyerah. Saya letakkan tape recorder sebagai perekam di atas meja, lalu saya biarkan tokoh sastra itu bercerita sesukanya. Saya tak menyela dengan pertanyaan, dan hanya mengangguk-angguk. Dia tampak bersemangat.  

Ini sepenggal dari cerita perjuangan yang terekam dan pernah saya tulis di Bali Post:

“Pada zaman revolusi fisik sekitar tahun 1940-an, kami ini memang keluarga pejuang. Kebetulan rumah kami dipakai markas pejuang di Bubunan, Seririt. Rumah kami lokasinya memang strategis, berada di antara Joanyar di timur, Ringdikit di selatan, Sulanyah, dan Bubunan. Kebetulan di situ juga ada auman yang aman untuk tempat sembunyi.

Apalagi setelah kemerdekaan tahun 1946, para pemuda pejuang kumpul terus di rumah kami. Saya sendiri punya pasukan 50 orang yang berada di alam terang (tidak menyingkir-red). Saat itu saya masuk anggota PMC atau penyelidik militer khusus.

Setiap hari saya menyamar dengan membawa cangkul, sabit dan pura-pura berkebun. Tugas saya menyampaikan informasi tentang keberadaan NICA. Jika ketemu NICA di sebuah sawah yang menuju ke timur misalnya, saya cepat berlari ke timur melalui jalan lain untuk menginformasikan kedatangan NICA.

Saya sempat ditangkap empat hingga lima kali. Apalagi jika saya diketahui sebagai adik dari Wayan Sada, maka hukuman bagi saya akan bertambah berat. Kakak saya Wayan Sada itu dikenal sebagai pemberontak. Saya sendiri sering dirayu NICA untuk diajak bekerja baik-baik. Saya hanya mengangguk, tapi setelah lepas kembali melakukan perjuangan.

Kakak saya Wayan Sada punya keahlian dalam hal mengatur telepon dan kabel. Tahun 1946 itu dia mengacaubalaukan jaringan telepon NICA di Seririt. Saya bersama 50 pemuda pejuang turut membantu menyembunyikan alat-alat telepon itu, saya tanam di Pura Taman di Bubunan. NICA pun mengetahuinya sehingga kakak saya jadi buronan NICA lalu menyingkir ke luar daerah.

Selanjutnya terjadi pertempuran di Kayuputih. Dalam pertempuran itu ada seorang pejuang tertangkap yang kemudian membocorkan keberadaan Wayan Sada, kakak saya. Maka markas kakak di Dencarik diobrak-abrik NICA dan semua pemuda ditangkapi. Di situ terjadi pertempuran. Pemuda pejuang gugur enam orang, termasuk kakak saya. Mayat kakak saya ambil di Banjar lalu dikuburkan di Bubunan. Rumah kami kemudian dihancurkan. Setiap minggu dikurung. Ayah saya, Ketut Badung, ditahan di Seririt dan sering disiksa, kepalanya dimasukkan ke air. Ayah keluar tahun 1948, keluar sakit lalu meninggal.”

Di bagian akhir cerita soal perjuangan, ia dengan bangga bercerita soal anak-anaknya. Salah satunya tentu saja Nyoman Cantiasa yang disebut (beberapa kali) sebagai tentara. Saat itu, nama anak ketiganya itu disebut dengan lapal Santiasa (dengan huruf S paling depan, bukan C).

Saya ingat ia bercerita banyak tentang anaknya yang tentara itu, tapi saya tak merekamnya dan kini tak bisa mengingatnya dengan baik. Saya menganggap cerita itu tak penting karena tak berhubungan dengan apa yang ingin saya tulis saat itu, yakni tentang bahasa dan cerita-cerita Bali. Namun saya ingat betul bagaimana Nengah Tinggen bercerita tentang anaknya itu dengan wajah yang berbinar-binar, sama berbinarnya ketika ia bercerita soal perjuangannya melawan NICA.

Mungkin dengan menjadi tentara ia anggap anaknya itu sebagai penerus perjuangannya melawan NICA di masa lalu. Mungkin dengan menjadi tentara, anaknya itu bisa “membalaskan dendam” atas rumahnya yang hancur, dan atas kematian ayahnya (kakek Cantiasa) setelah sempat ditahan NICA.  

Beberapa tahun belakangan ini saya tahu Cantiasa itu ternyata sosok unggul dengan karir yang bagus di TNI sehingga saya cukup menyesal kenapa dulu tak mendengar cerita Nengah Tinggen tentang si anak dengan lebih cermat. Meski begitu, saya bisa membayangkan, jika Nengah Tinggen masih hidup, bagaimana bangganya dia saat mendengar anaknya kini diangkat menjadi Danjen Kopassus, sebuah kesatuan elit yang diidam-idamkan banyak tentara.           

Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dipercaya sebagai Danjen Kopassus mengantikan Mayjen TNI Eko Margiyono yang dirotasi sebagai Pangdam Jaya melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/81/I/2019 tertanggal 25 Januari 2019 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Sayangnya, Nengah Tinggen, meninggal dalam usia 85 tahun di rumahnya di Seririt, Sabtu 3 November 2012. Saat ia meninggal, I Nyoman Cantiasa sudah berpangkat kolonel dan bertugas sebagai Danpusdik Kopassus Batujajar.

Selain meninggalkan anaknya dengan karir yang cemerlang, sebagai tokoh sastra, Tinggen meninggalkan sekitar 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali.

Jadi, Nengah Tinggen adalah  tokoh sastra yang selain melahirkan banyak buku demi kemajuan ilmu pengetahuan di Bali, ia bersama istrinya, Ni Ketut Mari, juga melahirkan anak-anak unggul yang punya jiwa pengabdian besar terhadap bangsa dan negara. Selama hidupnya, selain mengasuh anak, ia juga mengabdikan diri demi mengasuh dan menjaga ilmu serta ajaran-ajaran luhung dari leluhur.

Jika Mayjen Cantiasa punya berderet karir bagus di dunia ketentaraan, Nengah Tinggen punya sederet buku bagus yang sudah pernah diciptakan, antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”, “Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”, “Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada Bali jilid 1, 2 dan 3”.

Tinggen yang lahir di Desa Bubunan 1931 itu  juga menerjemahkan cerita-cerita rakyat Bali dari lontar di Gedong Kirtya. Atas pengabdiannya itu ia dianugerahi Piagam Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Soeharto (1998), Citra Karya Insan Pendidikan Nasional dari Yayasan Pandu Citra Indonesia (2000), Wija Kusumadari Bupati Buleleng (1997), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (2003) dan sejumlah penghargaan lain.

Terakhir, ia mendapatkan pengharagaan Rancage sebagai pemerhati sastra Bali yang sangat setia.

Karena kini Danjen Kopassus putra seorang sastrawan dan penulis buku, saya berharap tak ada lagi peristiwa penyitaan buku yang dilakukan aparat. (T)

Tags: Bahasa BalisastratentaraTNItokoh
Share6230TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co