22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 27, 2019
in Esai
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Danjen Kopassus Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dan bapaknya Sastrawan Nengah Tinggen (Foto:Ist)

Saya senang membaca berita tentang putra bangsa kelahiran Bali, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI I Nyoman Cantiasa diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Sejumlah media online, termasuk tentu saja media di Bali, ramai memberitakannya. Saya membacanya, dan langsung teringat ayah Sang Danjen, yakni I Nengah Tinggen, sastrawan dan penulis buku yang produktif pada masanya.

Sekira tahun 2004 saya mewawancarai Nengah Tinggen di rumahnya di Jalan Pramuka Singaraja. (Kini rumah itu tergusur akibar perluasan SMAN 1 Singaraja). Saya hendak mewawancarai dia soal bahasa Bali, sastra, dongeng-dongeng Bali, dan pengobatan tradisional, yang kerap ditulisnya dalam banyak buku. Tapi wawancara berlangsung agak kacau, karena, maaf,  pendengaran dia saat itu sudah lemah.

Saya bertanya banyak masalah sastra dan bahasa Bali, namun ia lebih banyak menjawab soal perjuangan revolusi yang dilakoninya saat masa perjuangan melawan NICA. Saya beberapa kali mengulang-ulang pertanyaan tentang sastra, tapi jawaban yang saya dapat selalu berbelok ke masa-masa perjuangan. Maklum, selain sebagai penulis buku, ia juga dikenal sebagai veteran pejuang.

Saya kemudian menyerah. Saya letakkan tape recorder sebagai perekam di atas meja, lalu saya biarkan tokoh sastra itu bercerita sesukanya. Saya tak menyela dengan pertanyaan, dan hanya mengangguk-angguk. Dia tampak bersemangat.  

Ini sepenggal dari cerita perjuangan yang terekam dan pernah saya tulis di Bali Post:

“Pada zaman revolusi fisik sekitar tahun 1940-an, kami ini memang keluarga pejuang. Kebetulan rumah kami dipakai markas pejuang di Bubunan, Seririt. Rumah kami lokasinya memang strategis, berada di antara Joanyar di timur, Ringdikit di selatan, Sulanyah, dan Bubunan. Kebetulan di situ juga ada auman yang aman untuk tempat sembunyi.

Apalagi setelah kemerdekaan tahun 1946, para pemuda pejuang kumpul terus di rumah kami. Saya sendiri punya pasukan 50 orang yang berada di alam terang (tidak menyingkir-red). Saat itu saya masuk anggota PMC atau penyelidik militer khusus.

Setiap hari saya menyamar dengan membawa cangkul, sabit dan pura-pura berkebun. Tugas saya menyampaikan informasi tentang keberadaan NICA. Jika ketemu NICA di sebuah sawah yang menuju ke timur misalnya, saya cepat berlari ke timur melalui jalan lain untuk menginformasikan kedatangan NICA.

Saya sempat ditangkap empat hingga lima kali. Apalagi jika saya diketahui sebagai adik dari Wayan Sada, maka hukuman bagi saya akan bertambah berat. Kakak saya Wayan Sada itu dikenal sebagai pemberontak. Saya sendiri sering dirayu NICA untuk diajak bekerja baik-baik. Saya hanya mengangguk, tapi setelah lepas kembali melakukan perjuangan.

Kakak saya Wayan Sada punya keahlian dalam hal mengatur telepon dan kabel. Tahun 1946 itu dia mengacaubalaukan jaringan telepon NICA di Seririt. Saya bersama 50 pemuda pejuang turut membantu menyembunyikan alat-alat telepon itu, saya tanam di Pura Taman di Bubunan. NICA pun mengetahuinya sehingga kakak saya jadi buronan NICA lalu menyingkir ke luar daerah.

Selanjutnya terjadi pertempuran di Kayuputih. Dalam pertempuran itu ada seorang pejuang tertangkap yang kemudian membocorkan keberadaan Wayan Sada, kakak saya. Maka markas kakak di Dencarik diobrak-abrik NICA dan semua pemuda ditangkapi. Di situ terjadi pertempuran. Pemuda pejuang gugur enam orang, termasuk kakak saya. Mayat kakak saya ambil di Banjar lalu dikuburkan di Bubunan. Rumah kami kemudian dihancurkan. Setiap minggu dikurung. Ayah saya, Ketut Badung, ditahan di Seririt dan sering disiksa, kepalanya dimasukkan ke air. Ayah keluar tahun 1948, keluar sakit lalu meninggal.”

Di bagian akhir cerita soal perjuangan, ia dengan bangga bercerita soal anak-anaknya. Salah satunya tentu saja Nyoman Cantiasa yang disebut (beberapa kali) sebagai tentara. Saat itu, nama anak ketiganya itu disebut dengan lapal Santiasa (dengan huruf S paling depan, bukan C).

Saya ingat ia bercerita banyak tentang anaknya yang tentara itu, tapi saya tak merekamnya dan kini tak bisa mengingatnya dengan baik. Saya menganggap cerita itu tak penting karena tak berhubungan dengan apa yang ingin saya tulis saat itu, yakni tentang bahasa dan cerita-cerita Bali. Namun saya ingat betul bagaimana Nengah Tinggen bercerita tentang anaknya itu dengan wajah yang berbinar-binar, sama berbinarnya ketika ia bercerita soal perjuangannya melawan NICA.

Mungkin dengan menjadi tentara ia anggap anaknya itu sebagai penerus perjuangannya melawan NICA di masa lalu. Mungkin dengan menjadi tentara, anaknya itu bisa “membalaskan dendam” atas rumahnya yang hancur, dan atas kematian ayahnya (kakek Cantiasa) setelah sempat ditahan NICA.  

Beberapa tahun belakangan ini saya tahu Cantiasa itu ternyata sosok unggul dengan karir yang bagus di TNI sehingga saya cukup menyesal kenapa dulu tak mendengar cerita Nengah Tinggen tentang si anak dengan lebih cermat. Meski begitu, saya bisa membayangkan, jika Nengah Tinggen masih hidup, bagaimana bangganya dia saat mendengar anaknya kini diangkat menjadi Danjen Kopassus, sebuah kesatuan elit yang diidam-idamkan banyak tentara.           

Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dipercaya sebagai Danjen Kopassus mengantikan Mayjen TNI Eko Margiyono yang dirotasi sebagai Pangdam Jaya melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/81/I/2019 tertanggal 25 Januari 2019 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Sayangnya, Nengah Tinggen, meninggal dalam usia 85 tahun di rumahnya di Seririt, Sabtu 3 November 2012. Saat ia meninggal, I Nyoman Cantiasa sudah berpangkat kolonel dan bertugas sebagai Danpusdik Kopassus Batujajar.

Selain meninggalkan anaknya dengan karir yang cemerlang, sebagai tokoh sastra, Tinggen meninggalkan sekitar 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali.

Jadi, Nengah Tinggen adalah  tokoh sastra yang selain melahirkan banyak buku demi kemajuan ilmu pengetahuan di Bali, ia bersama istrinya, Ni Ketut Mari, juga melahirkan anak-anak unggul yang punya jiwa pengabdian besar terhadap bangsa dan negara. Selama hidupnya, selain mengasuh anak, ia juga mengabdikan diri demi mengasuh dan menjaga ilmu serta ajaran-ajaran luhung dari leluhur.

Jika Mayjen Cantiasa punya berderet karir bagus di dunia ketentaraan, Nengah Tinggen punya sederet buku bagus yang sudah pernah diciptakan, antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”, “Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”, “Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada Bali jilid 1, 2 dan 3”.

Tinggen yang lahir di Desa Bubunan 1931 itu  juga menerjemahkan cerita-cerita rakyat Bali dari lontar di Gedong Kirtya. Atas pengabdiannya itu ia dianugerahi Piagam Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Soeharto (1998), Citra Karya Insan Pendidikan Nasional dari Yayasan Pandu Citra Indonesia (2000), Wija Kusumadari Bupati Buleleng (1997), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (2003) dan sejumlah penghargaan lain.

Terakhir, ia mendapatkan pengharagaan Rancage sebagai pemerhati sastra Bali yang sangat setia.

Karena kini Danjen Kopassus putra seorang sastrawan dan penulis buku, saya berharap tak ada lagi peristiwa penyitaan buku yang dilakukan aparat. (T)

Tags: Bahasa BalisastratentaraTNItokoh
Share6230TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co