25 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 27, 2019
in Esai
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Danjen Kopassus Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dan bapaknya Sastrawan Nengah Tinggen (Foto:Ist)

Saya senang membaca berita tentang putra bangsa kelahiran Bali, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI I Nyoman Cantiasa diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Sejumlah media online, termasuk tentu saja media di Bali, ramai memberitakannya. Saya membacanya, dan langsung teringat ayah Sang Danjen, yakni I Nengah Tinggen, sastrawan dan penulis buku yang produktif pada masanya.

Sekira tahun 2004 saya mewawancarai Nengah Tinggen di rumahnya di Jalan Pramuka Singaraja. (Kini rumah itu tergusur akibar perluasan SMAN 1 Singaraja). Saya hendak mewawancarai dia soal bahasa Bali, sastra, dongeng-dongeng Bali, dan pengobatan tradisional, yang kerap ditulisnya dalam banyak buku. Tapi wawancara berlangsung agak kacau, karena, maaf,  pendengaran dia saat itu sudah lemah.

Saya bertanya banyak masalah sastra dan bahasa Bali, namun ia lebih banyak menjawab soal perjuangan revolusi yang dilakoninya saat masa perjuangan melawan NICA. Saya beberapa kali mengulang-ulang pertanyaan tentang sastra, tapi jawaban yang saya dapat selalu berbelok ke masa-masa perjuangan. Maklum, selain sebagai penulis buku, ia juga dikenal sebagai veteran pejuang.

Saya kemudian menyerah. Saya letakkan tape recorder sebagai perekam di atas meja, lalu saya biarkan tokoh sastra itu bercerita sesukanya. Saya tak menyela dengan pertanyaan, dan hanya mengangguk-angguk. Dia tampak bersemangat.  

Ini sepenggal dari cerita perjuangan yang terekam dan pernah saya tulis di Bali Post:

“Pada zaman revolusi fisik sekitar tahun 1940-an, kami ini memang keluarga pejuang. Kebetulan rumah kami dipakai markas pejuang di Bubunan, Seririt. Rumah kami lokasinya memang strategis, berada di antara Joanyar di timur, Ringdikit di selatan, Sulanyah, dan Bubunan. Kebetulan di situ juga ada auman yang aman untuk tempat sembunyi.

Apalagi setelah kemerdekaan tahun 1946, para pemuda pejuang kumpul terus di rumah kami. Saya sendiri punya pasukan 50 orang yang berada di alam terang (tidak menyingkir-red). Saat itu saya masuk anggota PMC atau penyelidik militer khusus.

Setiap hari saya menyamar dengan membawa cangkul, sabit dan pura-pura berkebun. Tugas saya menyampaikan informasi tentang keberadaan NICA. Jika ketemu NICA di sebuah sawah yang menuju ke timur misalnya, saya cepat berlari ke timur melalui jalan lain untuk menginformasikan kedatangan NICA.

Saya sempat ditangkap empat hingga lima kali. Apalagi jika saya diketahui sebagai adik dari Wayan Sada, maka hukuman bagi saya akan bertambah berat. Kakak saya Wayan Sada itu dikenal sebagai pemberontak. Saya sendiri sering dirayu NICA untuk diajak bekerja baik-baik. Saya hanya mengangguk, tapi setelah lepas kembali melakukan perjuangan.

Kakak saya Wayan Sada punya keahlian dalam hal mengatur telepon dan kabel. Tahun 1946 itu dia mengacaubalaukan jaringan telepon NICA di Seririt. Saya bersama 50 pemuda pejuang turut membantu menyembunyikan alat-alat telepon itu, saya tanam di Pura Taman di Bubunan. NICA pun mengetahuinya sehingga kakak saya jadi buronan NICA lalu menyingkir ke luar daerah.

Selanjutnya terjadi pertempuran di Kayuputih. Dalam pertempuran itu ada seorang pejuang tertangkap yang kemudian membocorkan keberadaan Wayan Sada, kakak saya. Maka markas kakak di Dencarik diobrak-abrik NICA dan semua pemuda ditangkapi. Di situ terjadi pertempuran. Pemuda pejuang gugur enam orang, termasuk kakak saya. Mayat kakak saya ambil di Banjar lalu dikuburkan di Bubunan. Rumah kami kemudian dihancurkan. Setiap minggu dikurung. Ayah saya, Ketut Badung, ditahan di Seririt dan sering disiksa, kepalanya dimasukkan ke air. Ayah keluar tahun 1948, keluar sakit lalu meninggal.”

Di bagian akhir cerita soal perjuangan, ia dengan bangga bercerita soal anak-anaknya. Salah satunya tentu saja Nyoman Cantiasa yang disebut (beberapa kali) sebagai tentara. Saat itu, nama anak ketiganya itu disebut dengan lapal Santiasa (dengan huruf S paling depan, bukan C).

Saya ingat ia bercerita banyak tentang anaknya yang tentara itu, tapi saya tak merekamnya dan kini tak bisa mengingatnya dengan baik. Saya menganggap cerita itu tak penting karena tak berhubungan dengan apa yang ingin saya tulis saat itu, yakni tentang bahasa dan cerita-cerita Bali. Namun saya ingat betul bagaimana Nengah Tinggen bercerita tentang anaknya itu dengan wajah yang berbinar-binar, sama berbinarnya ketika ia bercerita soal perjuangannya melawan NICA.

Mungkin dengan menjadi tentara ia anggap anaknya itu sebagai penerus perjuangannya melawan NICA di masa lalu. Mungkin dengan menjadi tentara, anaknya itu bisa “membalaskan dendam” atas rumahnya yang hancur, dan atas kematian ayahnya (kakek Cantiasa) setelah sempat ditahan NICA.  

Beberapa tahun belakangan ini saya tahu Cantiasa itu ternyata sosok unggul dengan karir yang bagus di TNI sehingga saya cukup menyesal kenapa dulu tak mendengar cerita Nengah Tinggen tentang si anak dengan lebih cermat. Meski begitu, saya bisa membayangkan, jika Nengah Tinggen masih hidup, bagaimana bangganya dia saat mendengar anaknya kini diangkat menjadi Danjen Kopassus, sebuah kesatuan elit yang diidam-idamkan banyak tentara.           

Mayjen TNI Nyoman Cantiasa dipercaya sebagai Danjen Kopassus mengantikan Mayjen TNI Eko Margiyono yang dirotasi sebagai Pangdam Jaya melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/81/I/2019 tertanggal 25 Januari 2019 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Sayangnya, Nengah Tinggen, meninggal dalam usia 85 tahun di rumahnya di Seririt, Sabtu 3 November 2012. Saat ia meninggal, I Nyoman Cantiasa sudah berpangkat kolonel dan bertugas sebagai Danpusdik Kopassus Batujajar.

Selain meninggalkan anaknya dengan karir yang cemerlang, sebagai tokoh sastra, Tinggen meninggalkan sekitar 65 buku hasil karyanya yang sebagian besar berisi pengetahuan tentang bahasa dan sastra Bali.

Jadi, Nengah Tinggen adalah  tokoh sastra yang selain melahirkan banyak buku demi kemajuan ilmu pengetahuan di Bali, ia bersama istrinya, Ni Ketut Mari, juga melahirkan anak-anak unggul yang punya jiwa pengabdian besar terhadap bangsa dan negara. Selama hidupnya, selain mengasuh anak, ia juga mengabdikan diri demi mengasuh dan menjaga ilmu serta ajaran-ajaran luhung dari leluhur.

Jika Mayjen Cantiasa punya berderet karir bagus di dunia ketentaraan, Nengah Tinggen punya sederet buku bagus yang sudah pernah diciptakan, antara lain buku “Pasang Aksara Basa Bali”, “Sor Singgih Basa Bali”, “Kidung Dewa Yadnya lan Kramaning Sembah”, “Tata Bahasa Jawa Kuno”, “Merawat Kesehatan Sendiri Melalui Triduara Boga” dan “Sarining Usada Bali jilid 1, 2 dan 3”.

Tinggen yang lahir di Desa Bubunan 1931 itu  juga menerjemahkan cerita-cerita rakyat Bali dari lontar di Gedong Kirtya. Atas pengabdiannya itu ia dianugerahi Piagam Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya dari Presiden Soeharto (1998), Citra Karya Insan Pendidikan Nasional dari Yayasan Pandu Citra Indonesia (2000), Wija Kusumadari Bupati Buleleng (1997), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (2003) dan sejumlah penghargaan lain.

Terakhir, ia mendapatkan pengharagaan Rancage sebagai pemerhati sastra Bali yang sangat setia.

Karena kini Danjen Kopassus putra seorang sastrawan dan penulis buku, saya berharap tak ada lagi peristiwa penyitaan buku yang dilakukan aparat. (T)

Tags: Bahasa BalisastratentaraTNItokoh
Share6230TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Next Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Puisi-puisi Winar Ramelan# Hawa Dingin yang Mengintai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

by Salman Alade
May 24, 2026
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito
Cerpen

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya
Khas

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co