25 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Franky Dwi Damai by Franky Dwi Damai
January 25, 2019
in Esai
Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Jaman Orde baru telah berlalu dan kediktatoran rezim penguasa otoriter telah meluntur sebagaimana ditandai dengan catatan peristiwa bersejarah reformasi tahun 1998. Reformasi telah menjadi lukisan sejarah aksi perlawanan antara elemen masyarakat khususnya aktivis mahasiswa dengan rezim penguasa.

Bukan hanya tentang euphoria semata, melainkan sebagai konsekuensi logis dari kesadaran warga negara sebagai “Volkgeits” jiwa kebangsaan yang berlandaskan prinsip nilai luhur kedaulatan rakyat  (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Demi tegaknya supremasi hukum serta terwujudnya penguasa yang sejalan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Hadirnya reformasi telah menekankan perubahan fundamental di berbagai aspek sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama perbaikan dalam tatanan kehidupan politik. Sehingga berimplikasi nyata terhadap keberlakuan instrumen political socialization atau pendidikan politik, dalam lingkup khusus terhadap instansi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi serta dalam lingkup masyarakat pada umumnya. Dengan besar harapan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara mendalam terkait hak-hak dan kewajiban terhadap masyarakat sebagai (homo politicus).

Namun anehnya, wajah pemuda harapan bangsa kini mulai memburuk seakan  memunculkan gaya statemen baru. Kebanyakan kalangan terpelajar kini cenderung bersikap acuh dan skeptis terhadap kontestasi pemilu. Sehingga berimplikasi pada kemunculan penyakit degradasi yang mulai menjangkit kesadaran pemuda khusunya pelajar dan mahasiswa. Padahal mereka adalah regenerasi harapan bangsa yang memegang peranan penting dalam mewarnai kehidupan demokrasi di tahun-tahun selanjutnya.

Kemunculan rasa acuh dan skeptis dari kalangan pelajar sebagai pemegang hak politik terjadi dengan dalih sebagaimana berikut: (1) kurangnya sosialisasi dari KPU maupun partai politik; (2) kaum pelajar tidak ingin disibukan dengan hal-hal yang berbau politik; (3) golput sebagai budaya baru, dikarenakan termakan dengan pengaruh stigma idealisme anti pemilu dari oknum mahasiswa lainya; (4) lemahnya kepercayaaan terhadap pemerintah sebab penyelewengan politik kekuasaan dengan isu (SARA) untuk saling menjatuhkan; dan (5) sebagian besar kasus korupsi mendarah daging dalam struktur kekuasaan.

Sehingga tak jarang dari kalangan pelajar maupun mahasiswa merasakan kebutaan politik di masa mudanya. Dengan kondisi dan alasan apapun tetap saja (golongan putih) tidak dibenarkan dalam tatanan demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu penting sekali adanya “Dukungan Mahasiswa Melalui Sumbangsih Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019”.Mengingat berhasil atau tidaknya penerapan pendidikan politik di kalangan pemuda, akan menentukan demokrasi pancasila dikemudian hari.

Sebagaimana data pemilu 2014, yang diperoleh dari sumber Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahwasannya kehadiran tingkat partisipasi sebesar 70,9 % dan angka golput  sebesar 29. 1%  dalam pemilu 2014.[1] Tentu data tersebut merupakan bentuk kemunduran kesadaran masyarakat terhadap pasrtispasi aktif  sebagai pemegang hak politik. Sebagai upaya untuk menghadirkan kembali pendidikan politik.

Seharusnya pemerintah mulai berbenah dengan menjalin kerjasama secara langsung dengan elemen masyarakat khusunya pelajar dan mahasiswa.  Dimana hal tersebut dapat diselaraskan dengan semboyan bapak  fouding father Ir. Soekarno tentang “Jas Merah” (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Tentu semboyan tersebut, disampaikan dengan pesan moral yang mendalam oleh Ir. Soekarno, agar kita semua bisa mempertahankan harkat martabat bangsa ke arah lebih baik.

Permasalahan di atas, merupakan problem pemuda khusunya pelajar dan mahasiswa yang mulai hilang kepercayaan terhadap partai politik, dan acuh terhadap pemilu. Lantas, yang perlu dipertanyakan yakni, apakah pemerintah dan elemen masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa sudah menerapkan dengan kesungguhan terkait pendidikan politik. Ataukah kehadiran pendidikan politik sudah tidak diperlukan di negeri kita. Menanggapi hal tersebut, sebagai bangsa yang menghargai demokrasi Pancasila seharusnya kita wajib merekontruksi kembali instrumen pendidikan politik,  sebagaimana kita mengingat pesan Ir. Soekarno tentang (Jas Merah).

Namun di sisi lain, terdapat larangan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membatasi partai politik untuk berkampanye masuk ke ranah instansi pendidikan. Sebagaimana diperkuat dengan berlakunya Peraturan Komisi Pemilihan Umum No.14 Tahun 2010. Ketentuan Pasal 22 huruf (b) menyatakan bahwa “Alat praga tidak dibenarkan ditempatkan pada lembaga pendidikan (gedung dan sekolahan)”.[2] Padahal jika ditelaah secara mendalam sebenarnya alat praga politik, membantu pemuda khusunya pelajar dan  mahasiswa untuk memahami partai politik secara mendalam.

Seharusnya komisi pemilihan umum (KPU) memperbolehkan hal tersebut. Mengingat  hak pilih kebanyakan saat ini berasal dari bangku sekolah dan bangku kuliah. Namun dengan catatan partai politik tidak boleh melakukan depolitisasi maupun indoktrinasi politik terhadap kaum pemuda. Membahas lanjut tentang pendidikan politik di lingkungan instansi pendidikan.

Sebenarnya pendidikan politik ditujukan pada semua jenjang pendidikan, baik di dalam maupun luar sekolah, dibuat untuk meningkatkan pemahaman akan bahasa dan meningkatkan kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah, mengatur hubungan-hubungan eksternal atau kejadian-kejadian untuk memperpanjang berbagai skala pilihan di dalam diri mereka, dan mempengaruhinya (Crick, 1974: 13-24).[3]

Sehingga dapat dipahami dengan mendalam bahwa “pendidikan politik sebagai salah satu fungsi politik yang dilaksanakan oleh struktur politik masyarakat. Untuk memberikan pemahaman secara langsung terhadap masyarakat mengenai nilai-nilai, simbol-simbol, keyakinan dan pandangan sistem politik melalui dialog terbuka, dengan kritis, rasional atau penyadaran. Karena pendidikan politik bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kontestasi politik secara demokratis dalam kehidupan bernegara”.

Selanjutnya dalam ketentuan Inpres No. 12 Tahun 1982 tentang (Pendidikan Politik bagi generasi muda)[4] menimbang : a) bahwa dalam rangka pelestarian Pancasila dan UUD 1945 perlu terus menerus dipupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa demi kelangsungan hidup bernegara dan kenegaraan; b) bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada poin  huruf  (a) diatas, kepada generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa Indonesia perlu diberikan pendidikan politik, untuk mengetahui norma, nilai, tata cara, dan aturan dalam kehidupan politik bangsa.

Tujuan dari pendidikan politik secara gamblang ditujukan pemerintah untuk dapat menciptakan generasi muda yang sadar akan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jika ditarik benang merah terdapat 3 mekanisme yang hendak dicapai. Pertama, tentang pengetahuan yang berhubungan dengan kesadaran politik atau Cognitif morality; Kedua, berhubungan bedasarkan dengan keberlanjutan untuk pematangan sikap (afektif); dan ketiga, yakni perilaku yang dilakukan setelah individu atau seseorang mendapatkan pendidikan politik secara mendalam.

Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa, “pendidikan politik pada hakikatnya merupakan bagian dari pendidikan yang ditujukan sebagai upaya edukatif yang intensional, disengaja, dan sistematis. Sebagai upaya membentuk individu dalam sebuah masyarakat yang sadar politik dan mampu menjadi pelaku politik yang bertanggung jawab secara etis maupun moral dalam mencapai tujuan politik suatu bangsa”. Dalam Buku  Political Education (Patricia) diterangkan bahwa beberapa argumentasi untuk mendukung adanya pendidikan politik pada awal perkembanganya, antara lain dikemukakan oleh Nicolas Haines dalam bukunya Person to person.

Menurut pandangan Haines, menyampaikan bahwa” adanya spesialisasi di pendidikan tinggi membuat orang menjadi kurang kompeten dalam bidang yang ada di luar spesialisasi mereka. Sehingga apabila mereka bukan spesialisasi politik akan membatasi diri dalam minat kegiatan politik. Akan tetapi, ternyata masyarakat moderen sangat bergantung pada kelas menengah berpendidikan yang sedang tumbuh. Dalam sistem demokrasi setiap orang harus berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, akan tetapi proses pendidikan tidak mempersiapkan kelas profesional untuk kegiatan partisipasi tersebut”.[5]

Sejalan dengan pernyataan di atas,  Ernest Gellner  menyampaikan bahwa “ prakondisi yang harus diciptakan untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis adalah melibatkan peran serta masyarakat dalam kehdiupan demokrasi tersebut, untuk itu maka peran pendidikan demokrasi sangat penting untuk mencapai kondisi ideal kehidupan demokrasi tersebut (Syaifullah Syam, 2003: 202).

Memang benar adanya bahwa instrumen pendidikan politik belum bekerja secara optimal dan masih terjadi ketimpangan antara Das Sollen dan Das Sein. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk membina generasi pemuda-pemudi dalam bidang politik harus dipersiapkan secara matang sejak awal dari tataran bangku sekolah maupun pada jenjang kelanjutan perguruan tinggi.

Tamparan untuk pemuda khususnya mahasiswa, bilamana lemahnya instrumen pendidikan politik tetap dibiarkan. Karena Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. “Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta” itulah sepenggal kata, yang diberikan oleh Bapak Founding  father (Mohammad Hatta).

Mengingat fungsi mahasiswa Agen of change, Social Control, Iron Stock di harapkan bukan hanya semata-mata (Jargon maupun slogan basi). Melainkan lewat gerakan nyata yang mampu membawa bangsa Indonesia ke peradaban yang lebih maju. Oleh karena itu, melalui upaya “Dukungan Mahasiswa Melalui Sumbangsih Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019”. Dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan politik di tahun 2019 maupun di tahun-tahun berikutnya. Maka penulis dalam hal ini memberikan gambaran solusi yang dapat ditawarkan.

Sebenarnya mahasiswa memiliki fungsi strategis dalam meningkatkan pendidikan politik untuk generasi muda. Mengingat dengan bekal pengetahuan, keilmuan dan pengalaman yang dimiliki dalam wacana-wacana maupun wawasan politik yang dihasilkan dalam ruang publik dari pengejewantahan hadirnya Organisasi Mahasiswa seperti BEM Rema, MPM Rema, BEM Fakultas, HMJ, maupun UKM sebagai fasilitator di lingkungan internal kampus, maupun eksternal kampus. Dengan tujuan untuk menjunjung tinggi hak-hak politik yang dimiliki melalui kegiatan  formalisasi dari acara-acara yang berorientasi pada wawasan kebangsaan serta dalam standar penerapan adminitrasi. Terbukti dalam segala kegiatan dari perekrutan maupun pemilihan ketua/suksesi dan rapat kerja, bedasarkan musyawarah mufakat untuk mengambil sebuah keputusan.

Sehingga kegiatan pemilihan maupun perekrutan ketua, dari awal hingga akhir akan menjadi pembelajaran pendidikan politik yang sangat demokratis dalam lingkungan internal kampus. Tidak bisa dipungkiri, dalam ruang lingkup pergerakan Organisasi mahasiswa sering mengadakan kegiatan formal diskusi ruang kelas terbuka bersama dosen maupun mengundang pemeran politik di kancah nasional seperti Presiden RI, Jendral TNI, Kepolisian, Kemenag, KPU, KPK, MPR RI, DPRD, Bawaslu. Sebagai kebiasaan lumrah dari pengejewantahan Pendidikan Politik di lingkup kehidupan kampus. Bahkan dalam kegiatan non-formal diluar kampus, mahasiswa juga secara langsung bersentuhan dengan elemen masayarakat khususnya pemuda melalui bedah buku, diskusi, workshop literasi pendidikan, debat pemuda sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus.

 Sejatinya Organisasi mahasiswa telah menjadi media penunjang mahasiswa dalam berproses, bahkan motor penggerak inteletualitas masyarakat khusunya kaum pemuda yang teroganisir. Sebagai mahasiswa partisipasi aktif untuk menghidupkan jargon “Hidup Mahasiswa!!” dari hulu kehilir dan dari sabang sampai merauke digaungakan  sebagai kontrol  terhadap kebijakan pemerintah, yang semata-mata di tujukan untuk membuka mata rezim dan mengakomodir suara rakyat, dengan melakukan audiensi untuk memberikan masukan terhadap pemerintah dalam segala sektor pembangunan.

Oleh karena itu keberadaan organisasi mahasiswa dirasa sangat penting dalam mengakomodir pendidikan politik untuk kaum pemuda maupun masyarakat. Sebagai bentuk pengabdian besar untuk mewujudkan instrumen pendidikan politik yang sejalan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.


[1] https://www.rappler.com/indonesia/berita/157558-golput-partisipasi-masyarakat-pemilu-pilkada/diakses pada  3 November 2018 jam 07.00 wita.

[2] Peraturan Komisi Pemilihan Umum  No.14 Tahun 2010

[3] Crick, Bernard. 1974. Basic Political Concept and Curriculum Development, Teaching Politics

[4] Intruksi Presiden  No. 12 Tahun 1982 Tentang Pendidikan Politik bagi  generasi muda

[5] Prof. Dr . Idrus Affandi, S.H dan Karim Suryadi,S.Pd.,M.Si. Teori Dan Konsep Dalam Konteks Pendidikan  Politik  PKNI4423/MODUL  1

Tags: mahasiswaorganisasi mahasiswaPendidikanPolitik
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Waras Leluhur Bali: Berdoa & Tanam Pohon – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Franky Dwi Damai

Franky Dwi Damai

Mahasiswa Aktif Jurusan Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Ganesha

Related Posts

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails
Next Post
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Cantiasa jadi Danjen Kopassus - Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111
Ulas Musik

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

by Salman Alade
May 24, 2026
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito
Cerpen

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya
Khas

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co