24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Franky Dwi Damai by Franky Dwi Damai
January 25, 2019
in Esai
Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Jaman Orde baru telah berlalu dan kediktatoran rezim penguasa otoriter telah meluntur sebagaimana ditandai dengan catatan peristiwa bersejarah reformasi tahun 1998. Reformasi telah menjadi lukisan sejarah aksi perlawanan antara elemen masyarakat khususnya aktivis mahasiswa dengan rezim penguasa.

Bukan hanya tentang euphoria semata, melainkan sebagai konsekuensi logis dari kesadaran warga negara sebagai “Volkgeits” jiwa kebangsaan yang berlandaskan prinsip nilai luhur kedaulatan rakyat  (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Demi tegaknya supremasi hukum serta terwujudnya penguasa yang sejalan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Hadirnya reformasi telah menekankan perubahan fundamental di berbagai aspek sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama perbaikan dalam tatanan kehidupan politik. Sehingga berimplikasi nyata terhadap keberlakuan instrumen political socialization atau pendidikan politik, dalam lingkup khusus terhadap instansi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi serta dalam lingkup masyarakat pada umumnya. Dengan besar harapan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara mendalam terkait hak-hak dan kewajiban terhadap masyarakat sebagai (homo politicus).

Namun anehnya, wajah pemuda harapan bangsa kini mulai memburuk seakan  memunculkan gaya statemen baru. Kebanyakan kalangan terpelajar kini cenderung bersikap acuh dan skeptis terhadap kontestasi pemilu. Sehingga berimplikasi pada kemunculan penyakit degradasi yang mulai menjangkit kesadaran pemuda khusunya pelajar dan mahasiswa. Padahal mereka adalah regenerasi harapan bangsa yang memegang peranan penting dalam mewarnai kehidupan demokrasi di tahun-tahun selanjutnya.

Kemunculan rasa acuh dan skeptis dari kalangan pelajar sebagai pemegang hak politik terjadi dengan dalih sebagaimana berikut: (1) kurangnya sosialisasi dari KPU maupun partai politik; (2) kaum pelajar tidak ingin disibukan dengan hal-hal yang berbau politik; (3) golput sebagai budaya baru, dikarenakan termakan dengan pengaruh stigma idealisme anti pemilu dari oknum mahasiswa lainya; (4) lemahnya kepercayaaan terhadap pemerintah sebab penyelewengan politik kekuasaan dengan isu (SARA) untuk saling menjatuhkan; dan (5) sebagian besar kasus korupsi mendarah daging dalam struktur kekuasaan.

Sehingga tak jarang dari kalangan pelajar maupun mahasiswa merasakan kebutaan politik di masa mudanya. Dengan kondisi dan alasan apapun tetap saja (golongan putih) tidak dibenarkan dalam tatanan demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu penting sekali adanya “Dukungan Mahasiswa Melalui Sumbangsih Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019”.Mengingat berhasil atau tidaknya penerapan pendidikan politik di kalangan pemuda, akan menentukan demokrasi pancasila dikemudian hari.

Sebagaimana data pemilu 2014, yang diperoleh dari sumber Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahwasannya kehadiran tingkat partisipasi sebesar 70,9 % dan angka golput  sebesar 29. 1%  dalam pemilu 2014.[1] Tentu data tersebut merupakan bentuk kemunduran kesadaran masyarakat terhadap pasrtispasi aktif  sebagai pemegang hak politik. Sebagai upaya untuk menghadirkan kembali pendidikan politik.

Seharusnya pemerintah mulai berbenah dengan menjalin kerjasama secara langsung dengan elemen masyarakat khusunya pelajar dan mahasiswa.  Dimana hal tersebut dapat diselaraskan dengan semboyan bapak  fouding father Ir. Soekarno tentang “Jas Merah” (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Tentu semboyan tersebut, disampaikan dengan pesan moral yang mendalam oleh Ir. Soekarno, agar kita semua bisa mempertahankan harkat martabat bangsa ke arah lebih baik.

Permasalahan di atas, merupakan problem pemuda khusunya pelajar dan mahasiswa yang mulai hilang kepercayaan terhadap partai politik, dan acuh terhadap pemilu. Lantas, yang perlu dipertanyakan yakni, apakah pemerintah dan elemen masyarakat khususnya pelajar dan mahasiswa sudah menerapkan dengan kesungguhan terkait pendidikan politik. Ataukah kehadiran pendidikan politik sudah tidak diperlukan di negeri kita. Menanggapi hal tersebut, sebagai bangsa yang menghargai demokrasi Pancasila seharusnya kita wajib merekontruksi kembali instrumen pendidikan politik,  sebagaimana kita mengingat pesan Ir. Soekarno tentang (Jas Merah).

Namun di sisi lain, terdapat larangan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membatasi partai politik untuk berkampanye masuk ke ranah instansi pendidikan. Sebagaimana diperkuat dengan berlakunya Peraturan Komisi Pemilihan Umum No.14 Tahun 2010. Ketentuan Pasal 22 huruf (b) menyatakan bahwa “Alat praga tidak dibenarkan ditempatkan pada lembaga pendidikan (gedung dan sekolahan)”.[2] Padahal jika ditelaah secara mendalam sebenarnya alat praga politik, membantu pemuda khusunya pelajar dan  mahasiswa untuk memahami partai politik secara mendalam.

Seharusnya komisi pemilihan umum (KPU) memperbolehkan hal tersebut. Mengingat  hak pilih kebanyakan saat ini berasal dari bangku sekolah dan bangku kuliah. Namun dengan catatan partai politik tidak boleh melakukan depolitisasi maupun indoktrinasi politik terhadap kaum pemuda. Membahas lanjut tentang pendidikan politik di lingkungan instansi pendidikan.

Sebenarnya pendidikan politik ditujukan pada semua jenjang pendidikan, baik di dalam maupun luar sekolah, dibuat untuk meningkatkan pemahaman akan bahasa dan meningkatkan kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah, mengatur hubungan-hubungan eksternal atau kejadian-kejadian untuk memperpanjang berbagai skala pilihan di dalam diri mereka, dan mempengaruhinya (Crick, 1974: 13-24).[3]

Sehingga dapat dipahami dengan mendalam bahwa “pendidikan politik sebagai salah satu fungsi politik yang dilaksanakan oleh struktur politik masyarakat. Untuk memberikan pemahaman secara langsung terhadap masyarakat mengenai nilai-nilai, simbol-simbol, keyakinan dan pandangan sistem politik melalui dialog terbuka, dengan kritis, rasional atau penyadaran. Karena pendidikan politik bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam kontestasi politik secara demokratis dalam kehidupan bernegara”.

Selanjutnya dalam ketentuan Inpres No. 12 Tahun 1982 tentang (Pendidikan Politik bagi generasi muda)[4] menimbang : a) bahwa dalam rangka pelestarian Pancasila dan UUD 1945 perlu terus menerus dipupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa demi kelangsungan hidup bernegara dan kenegaraan; b) bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada poin  huruf  (a) diatas, kepada generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa Indonesia perlu diberikan pendidikan politik, untuk mengetahui norma, nilai, tata cara, dan aturan dalam kehidupan politik bangsa.

Tujuan dari pendidikan politik secara gamblang ditujukan pemerintah untuk dapat menciptakan generasi muda yang sadar akan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jika ditarik benang merah terdapat 3 mekanisme yang hendak dicapai. Pertama, tentang pengetahuan yang berhubungan dengan kesadaran politik atau Cognitif morality; Kedua, berhubungan bedasarkan dengan keberlanjutan untuk pematangan sikap (afektif); dan ketiga, yakni perilaku yang dilakukan setelah individu atau seseorang mendapatkan pendidikan politik secara mendalam.

Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa, “pendidikan politik pada hakikatnya merupakan bagian dari pendidikan yang ditujukan sebagai upaya edukatif yang intensional, disengaja, dan sistematis. Sebagai upaya membentuk individu dalam sebuah masyarakat yang sadar politik dan mampu menjadi pelaku politik yang bertanggung jawab secara etis maupun moral dalam mencapai tujuan politik suatu bangsa”. Dalam Buku  Political Education (Patricia) diterangkan bahwa beberapa argumentasi untuk mendukung adanya pendidikan politik pada awal perkembanganya, antara lain dikemukakan oleh Nicolas Haines dalam bukunya Person to person.

Menurut pandangan Haines, menyampaikan bahwa” adanya spesialisasi di pendidikan tinggi membuat orang menjadi kurang kompeten dalam bidang yang ada di luar spesialisasi mereka. Sehingga apabila mereka bukan spesialisasi politik akan membatasi diri dalam minat kegiatan politik. Akan tetapi, ternyata masyarakat moderen sangat bergantung pada kelas menengah berpendidikan yang sedang tumbuh. Dalam sistem demokrasi setiap orang harus berpartisipasi dalam pengambilan keputusan politik, akan tetapi proses pendidikan tidak mempersiapkan kelas profesional untuk kegiatan partisipasi tersebut”.[5]

Sejalan dengan pernyataan di atas,  Ernest Gellner  menyampaikan bahwa “ prakondisi yang harus diciptakan untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis adalah melibatkan peran serta masyarakat dalam kehdiupan demokrasi tersebut, untuk itu maka peran pendidikan demokrasi sangat penting untuk mencapai kondisi ideal kehidupan demokrasi tersebut (Syaifullah Syam, 2003: 202).

Memang benar adanya bahwa instrumen pendidikan politik belum bekerja secara optimal dan masih terjadi ketimpangan antara Das Sollen dan Das Sein. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk membina generasi pemuda-pemudi dalam bidang politik harus dipersiapkan secara matang sejak awal dari tataran bangku sekolah maupun pada jenjang kelanjutan perguruan tinggi.

Tamparan untuk pemuda khususnya mahasiswa, bilamana lemahnya instrumen pendidikan politik tetap dibiarkan. Karena Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. “Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta” itulah sepenggal kata, yang diberikan oleh Bapak Founding  father (Mohammad Hatta).

Mengingat fungsi mahasiswa Agen of change, Social Control, Iron Stock di harapkan bukan hanya semata-mata (Jargon maupun slogan basi). Melainkan lewat gerakan nyata yang mampu membawa bangsa Indonesia ke peradaban yang lebih maju. Oleh karena itu, melalui upaya “Dukungan Mahasiswa Melalui Sumbangsih Organisasi Mahasiswa Sebagai Media Rekontruksi Karakter Pendidikan Politik Generasi Muda 2019”. Dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan politik di tahun 2019 maupun di tahun-tahun berikutnya. Maka penulis dalam hal ini memberikan gambaran solusi yang dapat ditawarkan.

Sebenarnya mahasiswa memiliki fungsi strategis dalam meningkatkan pendidikan politik untuk generasi muda. Mengingat dengan bekal pengetahuan, keilmuan dan pengalaman yang dimiliki dalam wacana-wacana maupun wawasan politik yang dihasilkan dalam ruang publik dari pengejewantahan hadirnya Organisasi Mahasiswa seperti BEM Rema, MPM Rema, BEM Fakultas, HMJ, maupun UKM sebagai fasilitator di lingkungan internal kampus, maupun eksternal kampus. Dengan tujuan untuk menjunjung tinggi hak-hak politik yang dimiliki melalui kegiatan  formalisasi dari acara-acara yang berorientasi pada wawasan kebangsaan serta dalam standar penerapan adminitrasi. Terbukti dalam segala kegiatan dari perekrutan maupun pemilihan ketua/suksesi dan rapat kerja, bedasarkan musyawarah mufakat untuk mengambil sebuah keputusan.

Sehingga kegiatan pemilihan maupun perekrutan ketua, dari awal hingga akhir akan menjadi pembelajaran pendidikan politik yang sangat demokratis dalam lingkungan internal kampus. Tidak bisa dipungkiri, dalam ruang lingkup pergerakan Organisasi mahasiswa sering mengadakan kegiatan formal diskusi ruang kelas terbuka bersama dosen maupun mengundang pemeran politik di kancah nasional seperti Presiden RI, Jendral TNI, Kepolisian, Kemenag, KPU, KPK, MPR RI, DPRD, Bawaslu. Sebagai kebiasaan lumrah dari pengejewantahan Pendidikan Politik di lingkup kehidupan kampus. Bahkan dalam kegiatan non-formal diluar kampus, mahasiswa juga secara langsung bersentuhan dengan elemen masayarakat khususnya pemuda melalui bedah buku, diskusi, workshop literasi pendidikan, debat pemuda sebagai petugas knowledge transfer dari dunia kampus menuju luar kampus.

 Sejatinya Organisasi mahasiswa telah menjadi media penunjang mahasiswa dalam berproses, bahkan motor penggerak inteletualitas masyarakat khusunya kaum pemuda yang teroganisir. Sebagai mahasiswa partisipasi aktif untuk menghidupkan jargon “Hidup Mahasiswa!!” dari hulu kehilir dan dari sabang sampai merauke digaungakan  sebagai kontrol  terhadap kebijakan pemerintah, yang semata-mata di tujukan untuk membuka mata rezim dan mengakomodir suara rakyat, dengan melakukan audiensi untuk memberikan masukan terhadap pemerintah dalam segala sektor pembangunan.

Oleh karena itu keberadaan organisasi mahasiswa dirasa sangat penting dalam mengakomodir pendidikan politik untuk kaum pemuda maupun masyarakat. Sebagai bentuk pengabdian besar untuk mewujudkan instrumen pendidikan politik yang sejalan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.


[1] https://www.rappler.com/indonesia/berita/157558-golput-partisipasi-masyarakat-pemilu-pilkada/diakses pada  3 November 2018 jam 07.00 wita.

[2] Peraturan Komisi Pemilihan Umum  No.14 Tahun 2010

[3] Crick, Bernard. 1974. Basic Political Concept and Curriculum Development, Teaching Politics

[4] Intruksi Presiden  No. 12 Tahun 1982 Tentang Pendidikan Politik bagi  generasi muda

[5] Prof. Dr . Idrus Affandi, S.H dan Karim Suryadi,S.Pd.,M.Si. Teori Dan Konsep Dalam Konteks Pendidikan  Politik  PKNI4423/MODUL  1

Tags: mahasiswaorganisasi mahasiswaPendidikanPolitik
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Rahasia Waras Leluhur Bali: Berdoa & Tanam Pohon – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Franky Dwi Damai

Franky Dwi Damai

Mahasiswa Aktif Jurusan Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Ganesha

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Cantiasa jadi Danjen Kopassus – Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Cantiasa jadi Danjen Kopassus - Mari Ingat Bapaknya; Sastrawan Nengah Tinggen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co