24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penonton Bayaran dan Mahasiswa yang Menonton

Diki Wahyudi by Diki Wahyudi
November 29, 2018
in Esai
Penonton Bayaran dan Mahasiswa yang Menonton

Ilustrasi diolah dari gambar-gambar di Google

SEMENJAK acara musik mulai ramai di layar kaca, ada anggapan bahwa suatu acara bisa dikatakan sukses apabila meriah, ramai, dan dipenuhi dengan sorak-sorak penonton yang memancarkan senyum kebahagia.

Anggapan inilah yang menjadikan munculnya penonton bayaran, ya gak kaget kalau kini menjamur jasa penonton bayaran. Penonton yang dibayar oleh pihak yang membuat acara untuk memeriahkan acaranya, mulai dari intruksi ketawa-tawa, tangan melambai-lambai bahkan sampai kena label sebagai golongan alay.

Miris memang kalau melihat hal itu, di dalam kemeriahaan dan kegemilangan acara TV terselip secuil kebohongan demi mendapatkan rating dan cap kalau acarannya dibilang sukses dan meriah. Tapi inilah fakta yang ada di panggung hiburan kita dimana hanya da 10% kebenaran dan sisanya itu berupa kebohongan belaka.

Tapi kini konsep penonton bayaran ini juga diikuti oleh kaum intelektual milineal, yakni mahasiswa. Mahasiswa kini ikut dalam kontestasi pencarian rating, dimana ketika kumpulan mahasiswa menyelenggarakan sebuah acara dan ingin dianggap acaranya sukses dan berhasil maka akan mendatangkan penontoon bayaran.

Penonton bayaran ini selain dibutuhkan untuk mendapatkan kesan kalau acaranya meriah dan sukses juga dibutuhkan untuk kepentingan visual. Dimana penonton bayaran juga diperlukan untuk membangun mood yang baik buat host dan bintang tamu. Ya masak kalau ada bintang tamu bilang “penonton” gak ada yang nyautin tentunya acara jadi garing dan kurang renyah.

Tapi sistem penonton bayaran di kalangan mahasiswa dan di kalangan acara musik TV berbeda. Kalau di acara musik TV penonton bayaran mendapatkan bayaran sekitar dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah per acara. Maka mahasiswa hanya mendapatkan selembar kertas berwarna-warni dan cap yang biasa dikatakan SKP (sistem kredit point).

Dimana digadang-gadang selembar kertas dan cap ini bisa mempermudah kita untuk bisa skripsian, bahkan ada yang bilang kalau tanpa SKP kita tidak bisa menyususn SKRIPSI sehingga menunda wisuda mahasiswa. Waow, sangat sakti bukan selembar kertas berwana-warni yang bernama SKP ini, mampu menunda dan memperlambat meraih masa depan mahasiswa yang digadang-gadang sebagai penerus cita-cita bangsa. Kalau cita-cita bangsa tertunda, maka bisa jadi hal ini karena selembar kertas yang bernama SKP, bener gak tuh?.

Beberapa kali saya mendapat curhatan dari para pejuang masa depan yakni mahasiswa bahwa sebenarnya mereka malas untuk menghadiri acara, tapi mereka terpaksa hadir karena takut masa depan mereka terancam alias gak dapat cap SKP. Mereka yang pernah curhat dengan saya ada yang mengatakan malas berangkat karena acaranya tidak sesuai passion mereka, kurang asiklah, kurang seru dan membosankan. Dasar mahasiswa bisanya mengeluh saja sabar datanglah ke acaranya nikmati saja daripada masa depanmu terancam.

Ada juga beberapa mahasiswa yang menyatakan kalau sistem SKP ini membuat mereka tidak bisa bergerak, karena tidak bebas untuk memilih mengikuti kegiatan yang mereka sukai. Misalkan mereka suka acara diskusi tetapi disuguhi lomba karaoke, ya pastinya malas dan ogah-ogahan. lalu ada yang suka dan minat untuk mendalami mobile legend agar bisa menyaingi jesno limit, malah diwajibkan untuk ikut datang konser musik ya pastinya anti banget. Tapi bagaimana lagi daripada masa depan mereka tertunda akibat cap SKP tidak memenuhi target. Saya hanya bisa merekomendasikan untuk sabar jangan melawan nanti kamu dikucilkan dan masa depanmu terancam.

Secara teori sistem SKP itu sangat baik untuk menunjang softskill mahasiswa agar aktif dalam kegiatan diluar pelajaran kampus. Bisa dikatakan SKP diciptakan untuk menjadikan mahasiswa itu tidak kuper alias tidak melulu fokus pada pelajaran dan buku.

Tujuan SKP memanglah sangat bagus dan keren bukan, saya juga sangat mendukung adanya SKP tetapi perlu diingat kalau SKP ini merupakan sebuah sistem. Namanya sistem itu harus didukung oleh beberapa unsur.

Unsur yang bisa mendukung agar tujuan SKP itu baik bagi mahasiswa menurut Freidman ada tiga yakni subtansi, struktur, dan culture. Subtansi itu artinya aturan atau bisa dikatakan tujuan Asli SKP dan struktur itu pihak-pihak yang mengurus SKP dan budaya dalam kampus itu.

SKP memang bagus tetapi menurut mahasiswa-mahasiswa yang pernah curhat sama saya itu SKP kini sudah keluar dari Rule dimana SKP kini menyeragamkan mahasiswa, dimana mahasiswa kini harus mengikuti kegiatan yang sama, yang ditentukan oleh pemegang otoritas, tanpa boleh memikirkan apa pentingnya kegiatan itu untuk mereka.

Ketika kampus ada kegiatan musik maka seluruh mahasiswa harus datang ke acara musik, kalau kampus ada acara Bondres maka semua mahasiswa harus nonton Bondres, bahkan kalau kampus mengundang topeng monyet maka mahasiswa harus ikut nonton topeng monyet untuk memenuhi cap SKP agar masa depanya tidak terhambat gara-gara selembar kertas berwarna-warni.

Lalu culture yang ada, itu juga menentukan sistem SKP itu berjalan atau tidak. Jadi kalau bisa biarkan mahasiswa memilih kegiatan apa yang mereka sukai atau minati untuk memenuhi cap SKPnya. Jangan dipaksakan untuk mengikuti hal-hal yang tidak mereka minati, karena itu tidak akan mengembangkan mereka tapi malah mengkerdilakan mereka. Apalagi sampai menjadikan mahasiswa menjadi penonton bayaran dengan imbalan cap SKP dan sistem ketakutan apabila cap mereka tidak penuh maka akan menunda kebahagian masa depan. (T)

Tags: hiburankampusmahasiswa
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Fiksi yang Bukan Fiksi: Siswa Nyeleneh Paling Diingat Guru

Next Post

Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Diki Wahyudi

Diki Wahyudi

Anggota HMI. Tulisannya bisa dilihat di cakdiki.blogspot.co.id

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co