12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penonton Bayaran dan Mahasiswa yang Menonton

Diki Wahyudi by Diki Wahyudi
November 29, 2018
in Esai
Penonton Bayaran dan Mahasiswa yang Menonton

Ilustrasi diolah dari gambar-gambar di Google

SEMENJAK acara musik mulai ramai di layar kaca, ada anggapan bahwa suatu acara bisa dikatakan sukses apabila meriah, ramai, dan dipenuhi dengan sorak-sorak penonton yang memancarkan senyum kebahagia.

Anggapan inilah yang menjadikan munculnya penonton bayaran, ya gak kaget kalau kini menjamur jasa penonton bayaran. Penonton yang dibayar oleh pihak yang membuat acara untuk memeriahkan acaranya, mulai dari intruksi ketawa-tawa, tangan melambai-lambai bahkan sampai kena label sebagai golongan alay.

Miris memang kalau melihat hal itu, di dalam kemeriahaan dan kegemilangan acara TV terselip secuil kebohongan demi mendapatkan rating dan cap kalau acarannya dibilang sukses dan meriah. Tapi inilah fakta yang ada di panggung hiburan kita dimana hanya da 10% kebenaran dan sisanya itu berupa kebohongan belaka.

Tapi kini konsep penonton bayaran ini juga diikuti oleh kaum intelektual milineal, yakni mahasiswa. Mahasiswa kini ikut dalam kontestasi pencarian rating, dimana ketika kumpulan mahasiswa menyelenggarakan sebuah acara dan ingin dianggap acaranya sukses dan berhasil maka akan mendatangkan penontoon bayaran.

Penonton bayaran ini selain dibutuhkan untuk mendapatkan kesan kalau acaranya meriah dan sukses juga dibutuhkan untuk kepentingan visual. Dimana penonton bayaran juga diperlukan untuk membangun mood yang baik buat host dan bintang tamu. Ya masak kalau ada bintang tamu bilang “penonton” gak ada yang nyautin tentunya acara jadi garing dan kurang renyah.

Tapi sistem penonton bayaran di kalangan mahasiswa dan di kalangan acara musik TV berbeda. Kalau di acara musik TV penonton bayaran mendapatkan bayaran sekitar dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah per acara. Maka mahasiswa hanya mendapatkan selembar kertas berwarna-warni dan cap yang biasa dikatakan SKP (sistem kredit point).

Dimana digadang-gadang selembar kertas dan cap ini bisa mempermudah kita untuk bisa skripsian, bahkan ada yang bilang kalau tanpa SKP kita tidak bisa menyususn SKRIPSI sehingga menunda wisuda mahasiswa. Waow, sangat sakti bukan selembar kertas berwana-warni yang bernama SKP ini, mampu menunda dan memperlambat meraih masa depan mahasiswa yang digadang-gadang sebagai penerus cita-cita bangsa. Kalau cita-cita bangsa tertunda, maka bisa jadi hal ini karena selembar kertas yang bernama SKP, bener gak tuh?.

Beberapa kali saya mendapat curhatan dari para pejuang masa depan yakni mahasiswa bahwa sebenarnya mereka malas untuk menghadiri acara, tapi mereka terpaksa hadir karena takut masa depan mereka terancam alias gak dapat cap SKP. Mereka yang pernah curhat dengan saya ada yang mengatakan malas berangkat karena acaranya tidak sesuai passion mereka, kurang asiklah, kurang seru dan membosankan. Dasar mahasiswa bisanya mengeluh saja sabar datanglah ke acaranya nikmati saja daripada masa depanmu terancam.

Ada juga beberapa mahasiswa yang menyatakan kalau sistem SKP ini membuat mereka tidak bisa bergerak, karena tidak bebas untuk memilih mengikuti kegiatan yang mereka sukai. Misalkan mereka suka acara diskusi tetapi disuguhi lomba karaoke, ya pastinya malas dan ogah-ogahan. lalu ada yang suka dan minat untuk mendalami mobile legend agar bisa menyaingi jesno limit, malah diwajibkan untuk ikut datang konser musik ya pastinya anti banget. Tapi bagaimana lagi daripada masa depan mereka tertunda akibat cap SKP tidak memenuhi target. Saya hanya bisa merekomendasikan untuk sabar jangan melawan nanti kamu dikucilkan dan masa depanmu terancam.

Secara teori sistem SKP itu sangat baik untuk menunjang softskill mahasiswa agar aktif dalam kegiatan diluar pelajaran kampus. Bisa dikatakan SKP diciptakan untuk menjadikan mahasiswa itu tidak kuper alias tidak melulu fokus pada pelajaran dan buku.

Tujuan SKP memanglah sangat bagus dan keren bukan, saya juga sangat mendukung adanya SKP tetapi perlu diingat kalau SKP ini merupakan sebuah sistem. Namanya sistem itu harus didukung oleh beberapa unsur.

Unsur yang bisa mendukung agar tujuan SKP itu baik bagi mahasiswa menurut Freidman ada tiga yakni subtansi, struktur, dan culture. Subtansi itu artinya aturan atau bisa dikatakan tujuan Asli SKP dan struktur itu pihak-pihak yang mengurus SKP dan budaya dalam kampus itu.

SKP memang bagus tetapi menurut mahasiswa-mahasiswa yang pernah curhat sama saya itu SKP kini sudah keluar dari Rule dimana SKP kini menyeragamkan mahasiswa, dimana mahasiswa kini harus mengikuti kegiatan yang sama, yang ditentukan oleh pemegang otoritas, tanpa boleh memikirkan apa pentingnya kegiatan itu untuk mereka.

Ketika kampus ada kegiatan musik maka seluruh mahasiswa harus datang ke acara musik, kalau kampus ada acara Bondres maka semua mahasiswa harus nonton Bondres, bahkan kalau kampus mengundang topeng monyet maka mahasiswa harus ikut nonton topeng monyet untuk memenuhi cap SKP agar masa depanya tidak terhambat gara-gara selembar kertas berwarna-warni.

Lalu culture yang ada, itu juga menentukan sistem SKP itu berjalan atau tidak. Jadi kalau bisa biarkan mahasiswa memilih kegiatan apa yang mereka sukai atau minati untuk memenuhi cap SKPnya. Jangan dipaksakan untuk mengikuti hal-hal yang tidak mereka minati, karena itu tidak akan mengembangkan mereka tapi malah mengkerdilakan mereka. Apalagi sampai menjadikan mahasiswa menjadi penonton bayaran dengan imbalan cap SKP dan sistem ketakutan apabila cap mereka tidak penuh maka akan menunda kebahagian masa depan. (T)

Tags: hiburankampusmahasiswa
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Fiksi yang Bukan Fiksi: Siswa Nyeleneh Paling Diingat Guru

Next Post

Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Diki Wahyudi

Diki Wahyudi

Anggota HMI. Tulisannya bisa dilihat di cakdiki.blogspot.co.id

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda Nusantara!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co