12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Lontar “Lelanang” & “Pangrapet”, Memperbesar & Mempersempit – Catatan Penyuluh Bahasa Bali 2017

Suka Ardiyasa by Suka Ardiyasa
February 2, 2018
in Feature

Bagian dari lontar "Lelanang"

 

JIKA tidak ada Penyuluh Bahasa Bali di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, mungkin banyak “masa lalu” yang terkubur begitu saja tanpa kita sempat mempelajarinya. Sebab, sejak ditugaskan tahun 2017 ini, mereka melakukan tugas-tugas yang sebelumnya hanya diomongkan banyak orang di Bali, tapi sedikit orang yang mengerjakannya.

Selain melakukan penyuluhan Bahasa Bali ke desa-desa, para penyuluh yang tak kenal lelah itu juga melakukan tugas mulia yang memang jarang dilakukan secara massal dan bersama-sama, yakni “menggali masa lalu” dengan mengumpulkan cerita-cerita rakyat dari desa-desa di Bali, mendokumensikan dalang dan melakukan identifikasi sekaligus konservasi lontar.

Apa saja yang mereka dapatkan? Wah, sangat mengejutkan.

531 Legenda/Cerita Rakyat

Hingga penghujung tahun 2017 Penyuluh Bahasa Bali berhasil mendokumentasikan 531 legenda di Bali.Legenda dan cerita rakyat itu digali dari desa-desa di Bali, baik desa yang sudah terkenal maupun desa yang terpencil.  Itu hasil yang cukup mengejutkan.

Keberadaan sebuah tempat atau pun desa di Bali memang selalu dikemas menjadi cerita rakyat yang memiliki nilai sejarah. Kemasan cerita rakyat ini dirasa baik untuk perkembangan generasi berikutnya, karena cerita rakyat dituturkan secara turun menurun.

“Cerita rakyat itu penting untuk membentuk karakter generasi berikutnya,” kata I Made Taro.

Pakar cerita rakyat dan permainan tradisional Bali itu memang berkali mengatakan bahwa nilai-nilai dalam cerita rakyat itu sangat membantu orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Contohnya di dalam cerita rakyat setiap hal dituturkan dengan detail, misal menceritakan karakter seseorang yang kurang baik atau pun menggambarkan karakter orang yang bijak. Alur dalam cerita rakyat dikemas dalam bentuk legenda, sehingga tempat-tempat di Bali memiliki sejarah terjadinya.

Dokumentasi legenda dan cerita rakyat dari desa-desa di Bali

Rencananya, dalam program jangka panjang, Penyuluh Bahasa Bali akan mengumpulkan cerita rakyat itu untuk dibukukan. Jika ada dana akan dicetak dan disebarluaskan.

Terkumpulnya cerita rakyat ini merupakan kerja keras dari masing-masing penyuluh yang bertugas di seluruh pelosok desa di Bali.

“Lelanang” dan “Pangrapet”

Waktu mencatat semua peristiwa, waktu pula yang membiarkan dirinya untuk menceritakan apa yang diinginkannya. Seperti halnya lontar Usana Bali dan Babad Gumi, keduanya menceritakan Bali pada kurun waktu 10 masehi ke atas. Bahkan catatan-catatan gempa, erupsi Gunung Agung, juga ditulis dalam Usana Bali.

Lontar-lontar semacam itu berhasil dikonservasi oleh para Penyuluh Bahasa Bali yang biasa dijuluki “tukang gebeg lontar” ke rumah-rumah warga. Selain lontar Usana Bali dan Babad Gumi, poara penyuluh juga menemukan sejumlah lontar yang tak mereka duga.

Seperti penjelasan Koordinator Bidang Lontar Penyuluh Bahasa Bali Ida Bagus Ari Wijaya, lontar-lontar yang berhasil diidentifikasi di tahun 2017 sebanyak 7 ribuan, sementara yang sudah dikonservasi sekitar 5 ribuan.

Rinciannya, lontar-lontar yang telah diidentifikasi di Kabupaten Buleleng sebanyak 819 Cakep, Kabupaten Gianyar 2.412 cakep, Kabupaten  Karangasem 1218 cakep, Kabupaten Klungkung sebanyak 270 cakep, Kabupaten Jembrana sebanyak 159 cakep, Kabupaten Tabanan sebanyak 901 cakep, dan Kabupaten Bangli Sebanyak 110 cakep.

Jadi, jumlah keseluruhan lontar milik masyarakat yang telah teridentifikasi sebanyak 7021 cakep. Semua lontar itu sudah tersusun dalam Katalog Lontar.

Banyak hal menarik dan cukup mengejutkan yang ditemukan saat penyuluh melakukan konservasi, selain lontar tentang membaca Bali dalam kurun waktu ribuan tahun silam.

Misalnya ditemukan lontar yang membahasa khusus tentang “lelanang” yang isinya tentang memperbesar, memperpanjang alat vital dan mengobati penyakit laki-laki lainnya.

Ada juga lontar “pangrapet” yang isinya tentang cara membuat organ intim perempuan agar terasa seperti perawan kembali.

Bagian dari lontar “Lelanang”

Menurut Ida Bagus Ari Wijaya, selain lelanang dan pengrapet juga banyak ditemukan tentang kesehatan organ intim dan resep-resep kecantikan.  “Resep-resep kesehatan dan kecantikan juga banyak,” katanya.

Ditemukannya lontar yang membahas masalah-masalah “kelelakian” dan “keperempuan” itu membuktikan bahwa para orang-orang tua kita sesungguhnya sudah terbuka terhadap masalah-masalah seksual, terutama mengenai kesehatan organ intim.

Hanya mungkin karena khawatir lontar-lontar semacam itu dipelajari oleh anak yang belum cukup umur, atau khawatir diterapkan dengan cara yang salah, lontar-lontar semacam itu “dismpang” di tempat yang “sangat aman” sehingga tidak begitu populer di Bali.

Artinya, resep-resep dalam lontar itu kalah populer dengan obat-obatan modern yang kini banyak diiklankan secara vulgar di media massa. Padahal, jika dikembangkan secara benar, mungkin kita di Bali punya ramuan organik yang lebih aman untuk kesehatan organ-organ seksual.

Rencannya, untuk program ditahun 2018, disamping masih terus melakukan identifikasi dan konservasi lontar miliki masyarakat juga akan dilanjutkan dengan program menerjemah berbagai lontar yang penting hasil temuan di masyarakat. Lontar-lontar yang diterjemahkan adalah lontar-lontar miliki masyarakat yang isinya penting bagi masyarakat Bali.

Jika ditanyakan kepada warga: apakah lontar “lelalang” dan “pengrapet” itu penting untuk diterjemahkan? Yakin, jawabannya pastinya banyak yang mengangkat tangan setuju lalu bilang “Itu pentiiiiiing!”

“Out Bon Mabasa Bali”

Menurunnya minat generasi muda dalam menggunakan bahasa Bali merupakan tantangan tersendiri bagi Penyuluh Bahasa Bali. Dibutuhkan berbagai strategi dalam upaya pengajaran bahasa Bali kepada anak-anak agar mereka mau tertarik mempelajari dan menggunakan bahasa Bali.

Salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah konsep “malajah sambil maplalian” atau dalam era kekinian mungkin bisa disebut sebagai Out Bon Mabasa Bali agar terdengar keren oleh anak anak. Kegiatan belajar ini dilakukan di lapangan secara bersama-sama.

Sambil bermain mereka sambil belajar cara mengeja kata dengan  aksara Bali dengan cara menempelkan berbagai aksara Bali dipapan yang sudah di buat khsusus, mengenal istilah-istilah dalam bahasa Bali hingga upaya mengasah keterampilan berbicara dengan menggunakan bahasa Bali.

Kegiatan Out Bon Bahasa Bali

Hal ini dirasa sangat efektif dan mampu menjawab tantangan akan susahnya mengajar bahasa Bali pada generasi muda. Karena dalam proses pembelajaran, disamping mereka harus menguasai bahasa Bali mereka juga dituntut untuk konsentrasi agar tidak kalah dalam melakukan permainan yang sudah dikemas oleh Penyuluh Bahasa Bali.

Di seluruh Bali telah terbentuk 1.846 kelompok belajar dengan jumlah peserta sebanyak 64.915 Orang. Jika semua kelompok belajar tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan standar dan silabus yang telah tersusun maka  dapat dipastikan anak-anak yang tergabung dalam kelompok-kelompok belajar tersebut  telah mendapatkan pelajaran bahasa Bali dengan intensif.

  • Kegiatan Out Bon Bahasa Bali bisa ditonton selengkapnya di Kompas TV

Di samping tiga program unggulan tersebut, Penyuluh Bahasa Bali juga sudah merampungkan program lainnya seperti pembinaan kepada semua lapisan masyarakat mulai dari krama istri (ibu ibu PKK), Sekaa Truna-Truni hingga anak-anak yang dilakukan secara rutin.  Disamping itu penyuluh Bahasa Bali juga memetakan penggunaan aksara Bali  di dalam ranah publik seperti penggunaan aksara Bali dalam plang papan nama.

Dari hasil pemetaan  plang  papan nama yang ada di seluruh Bali  tercatat jumlah plang papan nama yang masih beraksara Bali sejumlah  5.348 buah sedangkan yang tidak beraksara Bali  sejumlah 5.093 buah.  Hasil pemetaan tersebut menggambarkan  belum adanya kesadaran dan militasi masyarakat Bali dalam penggunaan aksara Bali di ranah publik, di samping itu tidak adanya aturan  (Perda) yang  pasti mengatur tentang penggunaan aksara Bali ranah publik membuat adanya kelonggaran masyarakat untuk tidak memakai Aksara Bali di ranah-ranah publik.

Seharusnya kita berkaca dari negara negara maju seperti Jepang, Tahiland yang masih menggunakan aksaranya sendiri dalam tulisan tulisan yang digunakan dipublik. Mudah mudahan hasil pemetaan ini bisa dijadikan rujukan untuk pemerintah Daerah dalam membuat regulasi yang dapat mengatur penggunaan aksara Bali di ranah Publik.

Dokumnetasi Dalang

Tahun 2017 Penyuluh Bahasa Bali juga mendokumentasikan Dalang yang ada seluruh Bali dengan membuat biografi singkat tentang keberadaan para Dalang tersebut. Dipilihnya Dalang sebagai salah satu objek yang didokumentasikan sangat beralasan sebab, Dalang merupakan orang yang secara konsisten melestarikan bahasa Bali di masyarakat melalui pementasan wayang yang dibawakannya. Sangat tidak mungkin  jika seorang Dalang tidak menguasai Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

Kumpulan dokumentasi dalang dari desa-desa di Bali

Dari hasil dokumentasi yang dilakukan oleh Penyuluh Bahasa Bali terdapat 320 orang Dalang  diseluruh Bali yang sudah dibuatkan biografi singkatnya. (T)

Tags: Aliansi Peduli Bahasa BaliBahasa BaliBudayakebudayaanSeksualitas
Share3706TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Tunjung Tutur Danau Tamblingan

Next Post

Kaleidoskop Mahasiswa “Pejuang Taliban”: Akhirnya Lulus Juga!

Suka Ardiyasa

Suka Ardiyasa

Ketua Aliansi Peduli Bahasa Bali, dosen, pecinta lingkungan. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
0
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails
Next Post

Kaleidoskop Mahasiswa “Pejuang Taliban”: Akhirnya Lulus Juga!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co