2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Lengis Colek” Warisan Kakek – Cerita Konyol Soal Cinta dan Guna-guna

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Esai

tatkala

 

PADA zaman modern ini, lengis colek (semacam pengasih-asih atau guna-guna) ternyata masih ngetrend. Bukalah mesin pencari Google. Akan ketahuan banyak situs yang secara terang-terangan menjelaskan soal lengis colek lengkap dengan mantranya. Pengunjung situs itu tentu juga banyak.

Padahal, banyak juga orang bilang, di zaman yang serba canggih ini lengis colek sudah masuk barang kuno yang sudah tak laku. Guna-guna di zaman modern ini adalah benda bertuah dari luar negeri, semisal Toyota dari Jepang atau Ferrari dari Italia.

Bahkan ada ungkapan menarik: Untuk menggaet wanita, lelaki zaman sekarang tak perlu membawa pis rejuna  (uang kepeng bergambar Arjuna yang dipercaya punya khasiat menarik hati perempuan). Karena wanita sekarang tak suka pis rejuna tapi suka pada rejuna ngabe pis (Arjuna yang membawa duit).

Arti sederhananya, lelaki setampan Arjuna pun jika tak bawa uang, tak akan bisa menggaet wanita. .

Ungkapan itu mungkin benar. Tapi sebenarnya tak segampang itu. Lelaki tampan, kaya, bawa mobil termahal dengan pakaian ala foto model, tetap saja bisa udu alias tak laku, alias tak kunjung bisa mendapatkan pacar. Mungkin banyak gadis yang datang, tapi bukan gadis-gadis yang diharapkan.

Sebab, ada banyak kekuatan lelaki yang sebenarnya tak bisa dihargai dengan uang. Misalnya kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi yang baik, atau kemampuan untuk mengungkapkan gagasan dan pikiran.

Jika tak mampu mengungkapkan ide dan pikiran, bagaimana bisa melancarkan rayuan kepada perempuan yang diincar dan dicinta. Mengungkapkan pikiran sederhana pun tak bisa, bagaimana bisa mengungkap cinta yang memang tak sesederhana kata cinta dalam lagu-lagu cengeng.

Untuk itu, mari saya ceritakan kisah konyol seorang teman:

Saya mulai mengenal Bagus pada tahun 2009 lalu. Di mata saya, Bagus cukup mencolok. Bila dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, penampilan Bagus cukup nyentrik.

Tatkala pertama kali bertemu Bagus, saya mengira ia intel kepolisian. Penampilannya persis dengan intel polisi yang muncul di televisi. Rambut cepak dan tubuh atletis. Lengkap dengan HT tersemat di pinggang.

Selidik punya selidik, ternyata dia memang intel. Tapi bukan intel polisi. Melainkan intel Satgas Hansip di desanya. Konon Bagus dipercaya sebagai intel karena koneksinya yang luas. Pamannya seorang perwira menengah polisi, selain itu pergaulannya di kalangan personil kepolisian juga cukup luas.

Selain penampilannya yang nyentrik, di mata saya, Bagus juga punya tunggangan yang cukup unik. Yaitu sepeda motor Honda Astrea Grand warna hitam tanpa strip. Knalpot motor Bagus, menjadi pembeda dengan motor lainnya. Knalpot motor miliknya sangat memekakkan telinga.

Sayang motor yang ia kendarai, kurang menunjang penampilannya. Dengan tubuhnya yang jangkung, tatkala Bagus menunggangi motor Astrea Grand, ia terlihat seperti beruang sirkus yang naik sepeda mini.

Sebenarnya, seperti namanya, Bagus punya sejumlah kelebihan. Pertama, wajahnya boleh dikata bagus. Sebagus namanya. Pun demikian dengan tubuhnya yang atletis.

Sayang, kelebihannya itu belum paripurna. Saat saya mengenalnya, Bagus belum punya pacar. Pun beberapa tahun berikutnya, Bagus belum berhasil menggaet wanita. Ternyata, Bagus punya masalah tersendiri. Dia kurang percaya diri mengutarakan cinta pada wanita.

Beberapa tahun berselang, boncengan motornya yang selama ini kosong, mulai diisi wanita. Pada awalnya, sebagai seorang teman saya tentu ikut bahagia. Lama kelamaan saya menyadari boncengan itu bukan hanya diduduki seorang wanita. Tapi beberapa wanita.

Belakangan Bagus bercerita pada saya bahwa dia baru saja mendapatkan resep ampuh untuk menaklukkan wanita. Namanya “lengis colek”.

Bagi anda yang asing dengan nama itu, saya akan jelaskan. Lengis colek itu jenis ramuan yang bisa membuat wanita mabuk kepayang pada anda. Cukup dioleskan, maka wanita bisa takluk dan mencintai anda sepenuh hati. Efeknya bisa bertahan seumur hidup.

Kembali ke kisah Bagus dan lengis colek. Ternyata demi mengakhiri tahun-tahun jomblonya, Bagus mencuri lengis colek itu dari kakeknya. Maklum, kakek Bagus adalah paranormal yang tersohor di kota ini.

Cara Bagus mencuri lengis colek itu cukup unik. Berbekal sebuah cotton bud, Ia mengendap-endap ke kamar suci kakeknya. Sasarannya jelas. Toples berisi lengis colek. Cotton bud yang dikantongi, kemudian dioleskan ke tutup toples. Cairan lengis colek pun didapat.

Ternyata, dengan berbekal lengis colek, Bagus berhasil menggaet wanita. Cukup dioleskan, wanita takluk. Tak tanggung-tanggung, wanita yang digaetnya bukan hanya satu atau dua. Tapi tujuh sekaligus! Mulai dari sales rokok, pegawai finance, hingga PNS, jadi korban Bagus.

Dengan tujuh kekasih, Bagus mengencani wanita berbeda setiap harinya. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Saking kuatnya efek lengis colek itu, salah seorang kekasih Bagus sampai menitipkan ponsel BlackBerry pada saya. Katanya ponsel itu untuk Bagus seorang.

Pernah suatu ketika, Bagus merasa bosan dengan tujuh pacarnya. Ia berencana menggunakan lengis colek pada “korban” kedelapan. Saat itu, di sebuah gedung milik pemerintah di Pelabuhan Tua Buleleng, dia mendapati wanita yang dirasa cocok jadi mangsa berikutnya.

Tadinya, Bagus hendak menyombong di hadapan saya. Sekaligus membuktikan, bahwa dengan sekali sentuhan, seorang wanita akan takluk padanya.

Tapi hari itu, rupanya hari sial bagi Bagus. Alih-alih berhasil menyentuh seorang wanita, dia justru menyentuh seorang waria. Alhasil, Bagus dikejar-kejar waria.

Efek lengis colek memang instan. Saat itu juga, waria yang disentuh Bagus langsung jatuh cinta pada Bagus.

Pada fase awal, waria itu begitu dekat dengan Bagus. Waria itu juga meminta agar dibuatkan foto mesra berdua. Tentu dengan pose yang mesra. Kebetulan saya sendiri yang mengambil foto itu. Hingga kini foto itu masih saya simpan sebagai kenang-kenangan.

Setelah peristiwa itu, Bagus langsung tobat menggunakan lengis colek untuk menggaet wanita. Konon ia meminta penawar pada kakeknya, agar efek lengis colek musnah. Biar waria itu tak lagi tergila-gila pada dirinya.

Kini, empat tahun setelah insiden waria itu, Bagus mewarisi lengis colek yang dulu ia curi dari kamar suci kakeknya. Bagus juga menjadi salah satu penganut mazhab poligami. Ia memiliki dua orang istri dan dua orang anak. Saya tidak tahu, apakah kedua istrinya itu menikahi Bagus karena cinta, atau karena lengis colek. (T)

Tags: cintagaya hidupguna-gunaKeluarga
Share86TweetSendShareSend
Previous Post

Teror Kreatif Putu Wijaya di Tanah Kelahirannya – Catatan 3 Monolog dari Tabanan

Next Post

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (1)

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co