24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Ngurah dari Papua# Saya, Bunga Papua, dan Kita (1)

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
February 2, 2018
in Esai

Anak-anak Papua (foto: I Ngurah Suryawan)

 

Bunga Papua

Indah subur Tanah Papua

Bunga Papua tumbuh mekar

Kami belajar agar jadi pintar

Pintar semua…

(Ciptaan: Abner E Korwa)

 

SEORANG anak Papua mendekat ke arah saya pada medio tahun 2013. Saat itu kami—saya dan beberapa teman—bersiap untuk meninggalkan kampung mereka di pedalaman kepala burung Papua Barat. Sudah tepat 14 hari kami bersama mereka. Mendengar harapan dan mimpi mereka terhadap kampung yang lebih maju dan berkembang. Ada intrik, kepentingan, korupsi, dan persaingan sesama warga itu sudah pasti.

Saya tertegun sebelum merapikan ransel. Ada satu hal yang belum saya pribadi perhatikan di kampung tersebut. Hal penting itu adalah pendidikan bagi anak-anak. Perhatian saya tercurah begitu serius terhadap praktik baku tipu (saling memamerkan kecanggihan berbohong). Anak laki-laki Papua itu mengingatkan saya akan tema penting tersebut.

“Om, tra datang lagi kah?” tanyanya. Saya menjawab pelan, “Adoooh, itu yang om tra tahu. Puji Tuhan kalau ada rejeki ya. Ko harus tetap sekolah. Trapapa turun ke kota. Ingat pesan om.” Ia hanya mengangguk ragu. Ia menggeggam erat pakaian bola yang saya berikan. Ia tampak senang sekali. Mamanya memeluk saya erat. Berbisik mengucapkan terimakasih sudah memberikan pakaian bola kepada anaknya.

Ia hanya bisa tertegun melihat kami. Bergegas ia mengambil satu tas rangsel saya berwarna hitam. “Om pu tas sa bawa,” ujarnya. Ia bersama dengan mamanya mengantar kami turun menuju kampung tetangga yang berada di pinggiran teluk. Kami berjalan kaki turun selama empat jam dengan penuh canda tawa. Saya merasa memiliki keluarga baru jauh di daerah pedalaman Papua Barat.

Saat saya menulis esai ini, saya ingin sekali mengetahui nasib anak tersebut. Saat melihatnya saya seperti membayangkan diri saya, anak-anak kita yang sebaya dia. Selajutnya bisa ditebak bahwa pikiran saya menerawang jauh memikirkan salah satu persoalan terpenting di tanah Papua, juga di negeri ini: pendidikan yang berkualitas dan membebaskan peserta didiknya.

Banyak memang pendidikan yang berkualitas di bagian negeri ini, tapi belum tentu memerdekakan anak didiknya untuk membangun imajinasinya sendiri. Jika kita melihat kondisi yang ada di tanah Papua, sekolah yang berkualitas sangat sedikit jumlahnya. Tentu, kita belum membicarakan bagaimana proses pendidikan dijalankan di sekolah-sekolah daerah terpencil. Permasalahannya sangatlah kompleks, dan itu bukan khas Papua. Di daerah-daerah pedalaman negara ini sudah tentu menghadapi permasalahan tersebut dengan konteksnya yang berbeda-beda.

Daerah-daerah urban di Papua Barat menyisakan permasalahan kantong-kantong kemiskinan dan pelayanan pendidikan dasar kepada anak-anak. (foto: I Ngurah Suryawan)

Di tengah situasi yang melumpuhkan semangat pembaharuan tersebut, menjadikan pendidikan sebagai gerakan sosial di tengah masyarakat membutuhkan usaha yang luar biasa, di luar pakem yang ada, dan yang terpenting kekuatan untuk bertahan. Hanya menyandarkan proses pendidikan kepada gedung sangat salah kaprah. Menuntut guru berperan sentral di tengah segala keterbatasan di Papua sangat beresiko. Mengharapkan perubahan cepat dari birokrasi pendidikan di pemerintah daerah sebuah kemustahilan. Yang bisa dilakukan adalah menggali kekuatan yang ada dan berinisiatif bersama dengan masyarakat di tingkat akar rumput.

Begitu banyaknya fenomena ketersingkiran anak-anak dalam proses pendidikan di tanah Papua menggambarkan tidak berjalannya hakekat “pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” di negara ini. Bali mungkin jauh lebih baik dari Papua. Itu pasti. Ini kisah dari tanah Papua yang pernah saya alami saat menyaksikan tidak berjalannya proses pendidikan tersebut.

Daripada menggali keburukan tersebut, ada baiknya kita menggali inspirasi tentang inisiatif pendidikan yang menyentuh anak-anak yang disingkirkan oleh sekolah formal. Dengan demikian, kita bisa belajar dan merenungkan kembali arti diri kita saat bertemu dengan anak-anak yang kurang beruntung tersebut. Saya dan kita semua bisa belajar banyak dari perjuangan anak-anak tersebut meraih pendidikan di tengah segala keterbatasan. Pada kita, juga ada pelajaran untuk merefleksikan kembali arti kehidupan yang bukan hanya berguna untuk diri kita, tapi untuk orang lain, masyarakat luas yang tersingkirkan.

Saya merasakan betul keterhimpitan kita semua di tengah arus pendidikan yang tidak adil dan tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, namun hanya dimiliki oleh orang-orang kelas menengah yang berduit. Pendidikan kita secara umum belum sepenuhnya menyapa masyarakat yang tersingkirkan dari gelombang yang kita sebut “kemajuan” ini.

Selain kembali menengok pondasi dasar pendidikan budaya yang kaya di negeri ini, menjadikan pendidikan sebagai gerakan sosial di tengah masyarakat sangatlah penting. Masyarakat harus mengambil peran dalam gerakan tersebut. Inspirasi gerakan pendidikan di akar rumput tersebut sangat penting untuk menyadarkan kita semua untuk mengambil peran.

Bagian pertama esai ini menggambarkan kehadiran Sekolah Bunga Papua yang menjadi oase pendidikan partisipatif di kota urban Sorong, Papua Barat. Masyarakat tergerak untuk melaksanakan proses pendidikan usia dini bagi anak-anak yang tersingkirkan. Kota industri di Provinsi Papua Barat ini mengalami kemajuan pesat namun menyisakan kantong-kantong perkampungan kumuh dan kemiskinan. Anak-anak berada dalam kondisi tersebut. Bersama dengan orang tuanya, mereka mengadu nasib dari kampung menuju ke kota-kota besar di Papua Barat. Salah satu tujuan utamanya adalah Sorong selain tentunya Manokwari sebagai ibukota provinsi.

Bagian kedua mencoba melihat dinamika dan perjuangan yang dialami oleh penggiat Sekolah Bunga Papua dalam menjalankan aktivitasnya. Tantangan tidak hanya dari pihak luar, terutama para orang tua yang menghalangi anaknya untuk belajar, tapi juga keengganan pihak pemerintah dan masyarakat lainnya untuk berperanserta. Tantangan lainnya sudah barang tentu menyelipkan metode pendidikan anak usia dini yang menyenangkan dan berkonteks Papua. Apa yang mereka lakukan untuk itu?

Pada bagian ketiga esai ini mencoba untuk merefleksikan tantangan pelaksanaan pendidikan di tanah Papua secara umum. Perhatian khusus diberikan kepada peletakan pondasi pendidikan dengan konteks lokal Papua dan pendekatan kasih sayang di dalamnya. Pendekatan ini terkesan sumir dan di awang-awang, namun jika dicermati lebih dalam kita perlu kembali menoleh hal-hal mendasar dalam pelaksanaan pendidikan yang manusiawi dan membebaskan anak-anak mulai di tingkat dini.

Anak-anak Papua di kampung-kampung sangat membutuhkan oase pendidikan yang menubuhkan imajinasinya tentang dunia luar dan masa depan (foto: I Ngurah Suryawan)

Oase

Kelahiran sekolah usia dini Bunga Papua tidak terlepas dari keprihatinan melihat banyaknya anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan layak. Mereka berasal dari keluarga yang bekerja menjadi buruh-buruh bangunan di sekitaran wilayah Kota Sorong. Ada juga yang berasal dari keluarga yang orang tuanya bekerja di pelabuhan dan pasar-pasar tradisional yang ada di Sorong. Keluarga-keluarga ini biasanya tinggal di kompleks perkampungan yang jauh dari kesan layak. Mereka menghuni kawasan-kawasan kumuh yang menjadi pemandangan menyesakkan di tengah kemegahan perkembangan Sorong.

Anak-anak keluarga di pemukiman yang terpinggirkan inilah yang tidak mampu untuk mengakses PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dengan biaya yang mahal. Daerah-daerah sekitar Kota Sorong, biaya untuk PAUD sangat mahal. Biaya masuk pertama kali sejumlah Rp. 800.000 dan biaya setiap bulan Rp. 400.000. Terang saja biaya sebesar itu tidak terjangkau oleh para keluarga yang bekerja di pelabuhan dan pasar. Sementara kondisi yang terjepit, anak-anak sepatutnya harus mendapatkan pendidikan dasar yang layak, paling tidak membaca dan menulis.

Yayasan Belantara Papua, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Kota Sorong melihat fenomena ini, sehingga muncul keinginan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak usia dini. Mereka kemudian berinisiatif untuk mendirikan sebuah sanggar kegiatan belajar untuk anak-anak putus sekolah ini.

Sekolah Bunga Papua hadir dengan konsep sekolah yang seluas-luasnya, tidak terpaku dengan gedung semata. Fokus awalnya memang untuk anak-anak usia dini. Tujuannya adalah untuk mengenalkan baca tulis kepada anak-anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan formal di PAUD. Paling tidak adalah pengenalan huruf dan angka. Pengajaran hurus dan angka ini adalah bagian penting untuk pendidikan selanjutnya.

Sekolah Bunga Papua mendasarkan proses pembelajarannya dengan bermain namun memberikan pemahaman dasar huruf dan angka (foto: I Ngurah Suryawan)

Danarti Wulandari, salah satu penggagas Sekolah Bunga Papua mengungkapkan bahwa fenomena pendidikan dasar di wilayah Sorong berdasarkan pengamatannya adalah pada pengenalan huruf dan angka, baca dan tulis. Ia yang mengamati anak-anak yang duduk di SD (Sekolah Dasar) di Sorong menyesalkan situasi ketidakmampuan membaca dan menulis pada kelas 5 SD. Dasar dari semua permasalahan ini adalah lemahnya pendidikan dasar yang tidak mengenalkan huruf dan angka dengan menyenangkan melalui permainan di PAUD.

Kondisi lemahnya pendidikan dasar (huruf dan angka), yang berlanjut pada membaca, menulis, dan berhitung tersebut menjadi perhatian serius, dan kemudian memacu Danarti dan koleganya untuk menggerakkan Bunga Papua. Sebelumnya mereka sudah memetkan wilayah-wilayah yang menjadi sasaran dengan melihat kondisi, pekerjaan warga, dan yang terpenting adalah nasib anak-anak mereka.

Tim Bunga Papua menawarkan kegiatan mereka ke beberapa lokasi yang mereka anggap sangat membutuhkan pendidikan dasar di tempat tersebut. Tidak semua memberikan sambutan yang baik, dengan berbagai alasan. Hanya beberapa saja yang kemudian menyambutnya dengan senang. Ini sungguh ironis. (T)

Tags: anak-anakPapuapendidikan usia dinisekolah
Share91TweetSendShareSend
Previous Post

“Lengis Colek” Warisan Kakek – Cerita Konyol Soal Cinta dan Guna-guna

Next Post

Doa untuk Palestina dari KAHMI & HMI Singaraja – Menyerap Pelajaran Bersama

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

Doa untuk Palestina dari KAHMI & HMI Singaraja – Menyerap Pelajaran Bersama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co