27 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangku Nuarsa & Reduksi Fenomenologis atas Label Manja Pengungsi Gunung Agung

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
February 2, 2018
in Esai

Mangku Nengah Nuarsa di pos pengungsian Gunung Agung

 

BEBERAPA bulan selepas Gunung Agung menyandang status awas untuk kedua kalinya, merebaklah berbagai diskursus tentang citra malas atau manja para pengungsi yang mendiami posko-posko pengungsian di sejumlah wilayah di Bali. Kabarnya ada oknum pengungsi yang asik bersolek atau bahkan berjudi ketika para relawan memberikan pelayanannya dengan sepenuh hati.

Isu semacam itu, sebagaimana diberitakan di media masaa, belakangan bahkan dilegitimasi oleh seorang pemimpin daerah di Bali dengan menyatakan pengungsi agak manja. Tentu saja pandangan-pandangan semacam itu sangat berbahaya, karena pandangan semacam itu telah ikut mengobstruksi citra pengungsi yang tidak berwatak pemalas.

Pemberian label haruslah didasarkan pada pengalaman holistic ‘sejauh yang diberikan’, tidak dapat mengandalkan segelintir gejala saja dalam memadatkan konklusi. Terlebih fenomena kemanusiaan yang substansinya berkaitan dengan eksistensi rasa yang bertengger pada masing-masing insan.

Generalisasi atas citra kemalasan yang terlanjur dilekatkan kepada para pengungsi akan tampak majir ketika melihat semangat Mangku Nengah Nuarsa, pengungsi asal Banjar Besakih Kawan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Keberadaan Mangku Nuarsa tampak janggal di antara para Relawan yang memberikan pelayanan di Posko Logistik UPT Pertanian Kecamatan Rendang.

Tubuhnya yang ringkih nampak jauh bebeda dengan para relawan yang usianya jauh lebih muda serta tampak kekar. Pakaiannyapun terlihat lebih lusuh dari orang-orang di sekitarnya. Nuarsa memang korban namun hal itu tidak membuatnya hanya bertepekur dalam kelembaman. Tanpa dimintapun Nuarsa ikut mengangkut logistik yang dicurahkan para donatur.

Di usianya yang menginjak 79 tahun tentu saja tidak begitu banyak barang yang diangkutnya. Nafasnya mulai terengah sehabis memindahkan beberapa barang, keadaan itu diperparah lagi dengan riwayat gangguan paru-paru yang telah lama diidapnya namun yang terpenting bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikannya.

Suatu hal yang jauh lebih krusial adalah semangat Nuarsa mampu mengantarkan kita kepada pernanangan yang lebih luas dari sekadar melekatkan citra malas kepada para pengungsi tetapi miskin resolusi guna meranjingkan para pengungsi untuk tetap berinovasi di lokasi-lokasi pengungsian.

Nuarsa 1963

Nuarsa telah mengabdikan dirinya dalam diam ketika letusan Gunung Agung tahun 1963. Saat itu dia telah berusia 25 tahun dan bekerja tanpa pamrih sebagai petugas keamanan untuk mengamankan desanya yang telah kosong ditinggal mengungsi oleh penghuni-penghuninya.

Setelah gejolak Gunung Agung mereda, Nuarsa beserta keluarganya sempat bertransmigrasi ke Lampung, namun hanya 5 tahun saja ia bertahan di daerah transmigran. Bukan karena malas melainkan kedua orangtuanya yang telah lanjut usia berkeinginan meninggal di Bali, tidak mau dijemput ajal di daerah yang bukan tempat kelahirannya.

Benar saja setelah 40 hati tiba di Bali ibunya meninggal dunia yang kemudian disusul sang ayah. Nuarsa yang memiliki 5 orang anak bukanlah pengungsi dengan kondisi ekonomi yang berada sehingga bisa berleha-leha. Sebelum Gunung Agung memperlihatkan tanda-tanda kebangkitannya Nuarsa hanya menggantungkan hidupnya dari pekerjaan beternak sapi hasil ngadas.

Oleh karenanya tentu tidak banyak tabungan yang dimilikinya terlebih di lokasi pengungsian dia tidak mempunyai sumber pendapatan apapun. “Setiap orang dapat beras dua kilo. Sebutir telur untuk empat hari”, demikian ucapnya di tenda tidurnya.

Hebatnya, Nuarsa tetap bersemangat untuk melakukan pelayanan, padahal sebagian pengungsi yang kehilangan optimisme berpikir bahwa dirinyalah yang harus dilayani dalam kondisi seperti itu. Ketika beberapa relawan yang menaruh empati menanyakan bahan bakar semangatnya yang tiada pupus itu Nuarsa hanya menjawab, “Biar otot-otot saya tidak kaku. Ketika kerigat keluar saya jadi lebih sehat”.

Jawaban yang tampak sederhana itu bukanlah sesuatu yang biasa namun menampakkan esensi dari niskama karma (kerja tanpa pamrih). Nuarsa yang juga dipanggil Mangku karena telah diwinten benar-benar dapat menstimulus tegaknya pilar apodiktis. Tiap mata yang sempat menyaksikan semangatnya akan menjadi yakin bila pengungsi-pengungsi Gunung Agung dapat diberdayakan seara holistik bahkan lebih berdaya dari sebelum mengungsi.

Bila Nuarsa yang telah renta dan tidak mengenyam pendidikan tinggi masih menjaga tungku asanya. Lalu bagaimana mungkin insan-insan yang lebih muda, berbadan lebih kekar, berpendidikan lebih tinggi, lebih berada dan seabreg kelebihan lainnya dibiarkan menjadi malas karena khawatir kehilangan masa depannya?

Menelisik keseharian Nuarsa akan menjadikan kita lebih mawas untuk melihat mutiara-mutiara terselip dalam fenomena yang diasumsikan sebagai bencana. Kita juga dapat belajar bahwa rasa takut terhadap bencana dapat ditawar dengan saling melayani, bukan saling mengharapkan pelayanan.

Pengungsi, donator, relawan, pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya dapat melakukan otokritik bukan saling menyalahkan dalam meretas solusi. Meniru laku Nuarsa yang lebih memilih terus bekerja daripada sibuk memamerihkan pekerjaannya. (T)

Tags: erupsiGunung AgungkarangasemKlungkungpengungsi
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Next Post

“Muara Senja”, Lewat Musik Menebarkan Aura Lembongan ke Luar Pulau

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post

“Muara Senja”, Lewat Musik Menebarkan Aura Lembongan ke Luar Pulau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co