24 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangku Nuarsa & Reduksi Fenomenologis atas Label Manja Pengungsi Gunung Agung

Putu Suweka Oka Sugiharta by Putu Suweka Oka Sugiharta
February 2, 2018
in Esai

Mangku Nengah Nuarsa di pos pengungsian Gunung Agung

 

BEBERAPA bulan selepas Gunung Agung menyandang status awas untuk kedua kalinya, merebaklah berbagai diskursus tentang citra malas atau manja para pengungsi yang mendiami posko-posko pengungsian di sejumlah wilayah di Bali. Kabarnya ada oknum pengungsi yang asik bersolek atau bahkan berjudi ketika para relawan memberikan pelayanannya dengan sepenuh hati.

Isu semacam itu, sebagaimana diberitakan di media masaa, belakangan bahkan dilegitimasi oleh seorang pemimpin daerah di Bali dengan menyatakan pengungsi agak manja. Tentu saja pandangan-pandangan semacam itu sangat berbahaya, karena pandangan semacam itu telah ikut mengobstruksi citra pengungsi yang tidak berwatak pemalas.

Pemberian label haruslah didasarkan pada pengalaman holistic ‘sejauh yang diberikan’, tidak dapat mengandalkan segelintir gejala saja dalam memadatkan konklusi. Terlebih fenomena kemanusiaan yang substansinya berkaitan dengan eksistensi rasa yang bertengger pada masing-masing insan.

Generalisasi atas citra kemalasan yang terlanjur dilekatkan kepada para pengungsi akan tampak majir ketika melihat semangat Mangku Nengah Nuarsa, pengungsi asal Banjar Besakih Kawan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Keberadaan Mangku Nuarsa tampak janggal di antara para Relawan yang memberikan pelayanan di Posko Logistik UPT Pertanian Kecamatan Rendang.

Tubuhnya yang ringkih nampak jauh bebeda dengan para relawan yang usianya jauh lebih muda serta tampak kekar. Pakaiannyapun terlihat lebih lusuh dari orang-orang di sekitarnya. Nuarsa memang korban namun hal itu tidak membuatnya hanya bertepekur dalam kelembaman. Tanpa dimintapun Nuarsa ikut mengangkut logistik yang dicurahkan para donatur.

Di usianya yang menginjak 79 tahun tentu saja tidak begitu banyak barang yang diangkutnya. Nafasnya mulai terengah sehabis memindahkan beberapa barang, keadaan itu diperparah lagi dengan riwayat gangguan paru-paru yang telah lama diidapnya namun yang terpenting bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikannya.

Suatu hal yang jauh lebih krusial adalah semangat Nuarsa mampu mengantarkan kita kepada pernanangan yang lebih luas dari sekadar melekatkan citra malas kepada para pengungsi tetapi miskin resolusi guna meranjingkan para pengungsi untuk tetap berinovasi di lokasi-lokasi pengungsian.

Nuarsa 1963

Nuarsa telah mengabdikan dirinya dalam diam ketika letusan Gunung Agung tahun 1963. Saat itu dia telah berusia 25 tahun dan bekerja tanpa pamrih sebagai petugas keamanan untuk mengamankan desanya yang telah kosong ditinggal mengungsi oleh penghuni-penghuninya.

Setelah gejolak Gunung Agung mereda, Nuarsa beserta keluarganya sempat bertransmigrasi ke Lampung, namun hanya 5 tahun saja ia bertahan di daerah transmigran. Bukan karena malas melainkan kedua orangtuanya yang telah lanjut usia berkeinginan meninggal di Bali, tidak mau dijemput ajal di daerah yang bukan tempat kelahirannya.

Benar saja setelah 40 hati tiba di Bali ibunya meninggal dunia yang kemudian disusul sang ayah. Nuarsa yang memiliki 5 orang anak bukanlah pengungsi dengan kondisi ekonomi yang berada sehingga bisa berleha-leha. Sebelum Gunung Agung memperlihatkan tanda-tanda kebangkitannya Nuarsa hanya menggantungkan hidupnya dari pekerjaan beternak sapi hasil ngadas.

Oleh karenanya tentu tidak banyak tabungan yang dimilikinya terlebih di lokasi pengungsian dia tidak mempunyai sumber pendapatan apapun. “Setiap orang dapat beras dua kilo. Sebutir telur untuk empat hari”, demikian ucapnya di tenda tidurnya.

Hebatnya, Nuarsa tetap bersemangat untuk melakukan pelayanan, padahal sebagian pengungsi yang kehilangan optimisme berpikir bahwa dirinyalah yang harus dilayani dalam kondisi seperti itu. Ketika beberapa relawan yang menaruh empati menanyakan bahan bakar semangatnya yang tiada pupus itu Nuarsa hanya menjawab, “Biar otot-otot saya tidak kaku. Ketika kerigat keluar saya jadi lebih sehat”.

Jawaban yang tampak sederhana itu bukanlah sesuatu yang biasa namun menampakkan esensi dari niskama karma (kerja tanpa pamrih). Nuarsa yang juga dipanggil Mangku karena telah diwinten benar-benar dapat menstimulus tegaknya pilar apodiktis. Tiap mata yang sempat menyaksikan semangatnya akan menjadi yakin bila pengungsi-pengungsi Gunung Agung dapat diberdayakan seara holistik bahkan lebih berdaya dari sebelum mengungsi.

Bila Nuarsa yang telah renta dan tidak mengenyam pendidikan tinggi masih menjaga tungku asanya. Lalu bagaimana mungkin insan-insan yang lebih muda, berbadan lebih kekar, berpendidikan lebih tinggi, lebih berada dan seabreg kelebihan lainnya dibiarkan menjadi malas karena khawatir kehilangan masa depannya?

Menelisik keseharian Nuarsa akan menjadikan kita lebih mawas untuk melihat mutiara-mutiara terselip dalam fenomena yang diasumsikan sebagai bencana. Kita juga dapat belajar bahwa rasa takut terhadap bencana dapat ditawar dengan saling melayani, bukan saling mengharapkan pelayanan.

Pengungsi, donator, relawan, pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya dapat melakukan otokritik bukan saling menyalahkan dalam meretas solusi. Meniru laku Nuarsa yang lebih memilih terus bekerja daripada sibuk memamerihkan pekerjaannya. (T)

Tags: erupsiGunung AgungkarangasemKlungkungpengungsi
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Next Post

“Muara Senja”, Lewat Musik Menebarkan Aura Lembongan ke Luar Pulau

Putu Suweka Oka Sugiharta

Putu Suweka Oka Sugiharta

Nama lengkapnya I Putu Suweka Oka Sugiharta, S.Pd.H.,M.Pd.,CH.,CHt. Lahir dan tinggal di Nongan, Rendang, Karangasem. Kini menjadi dosen dan terus melakukan kegiatan menulis di berbagai media

Related Posts

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails
Next Post

“Muara Senja”, Lewat Musik Menebarkan Aura Lembongan ke Luar Pulau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co