4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Kematian Tiba-Tiba, Dialog I Kawiswara & I Rasutama

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Lukisan Gusti Nyoman Lempad

 

“Dening raga kacatri dadi manusa, pamragatnya pacang mati, eda ampah-ampah, reh tuara ada tawang, yan pidang gantine mati, dadakan-dadakan, uripe tan keneng apti.”

Terjemahannya:

Karena kita ditunjuk/ditakdirkan jadi manusia, ujung-ujungnya akan mati, jangan gegabah, karena tidak akan paham, kapan ajal tiba, mendadak-mendadak, panjang usia tiada bisa ditebak”.

Demikian Pupuh Durma dari Gaguritan Kawiswara-Rasutama. Dalam tembang gaguritan ini bersaudara Kawiswara dan Rasutama membahas perihal kehidupan dan hakikatnya, tentang nafas masuk dan keluar, tentang pejalanan batiniah dan ketubuhan kita.

Karena kematian bisa tiba-tiba dan usia tidak tertebak kapan berhenti, tiada paham dimana titik terakhir perhentian nafas kita, maka lanjutnya:

“Uli jani jumunin buwin malajah. eda suwud mangenehin, sipat apang tawang, dewa gamane di awak, sastrane eda ngengsapin apang pedas singsal, ento ingetang sai-sai”

Terjemahnya:

“Dari sekarang ulangin lagi belajar, jangan berhenti merenungi, batas (atara baik dan buruk, kedurjanaan dan kebajikan) agar dipahami, (karena) hakikat kesucian-kemuliaan ada dalam diri, pedoman sastra-suluh diri jangan dilupakan, agar jelas ujung pangkalnya, itu yang diingat terus menerus”

Kemauan belajar kembali menjadi penting. Mengevaluasi apa yang menjadi pengetahuan kita tentang diri kita masing-masing, tentang kebajikan dan pikiran kita menjadi penting. Bukan kecerdasan perihal hal di luar, bukan menghitung hal-hal lain, tapi bagaimana pemahaman tentang hakikat diri menjadi mendasar dalam memahami jalan menuju kematian dan bagaimana bisa maksimal dalam menjalani hidup.

Hal ini dijelaskan secara lebih rinci dalam pupuh lanjutannya bahwa kematian itu adalah perjalanan ke dalam diri. Melalui mati kita menuju diri kita sendiri, sebab ‘hakikat diri’ memang ‘tidak bertubuh’ maka kematian adalah jalan menuju ‘hakikat diri’.

“Apan tawang awake mula tanpa paawak, witing Ongkara jati, hana rwa bhinneda, ulihing rwa bhinneda, wit uning Tiga Sakti, to ne mangolah, mangadakang pati urip.”

Terjemahannya:

“Agar dipahami bahwa [hakikat] diri kita memang tiada bertubuh, berasal dari aksara suci Om yang sejati, ada muncul rwa bhinneda (binari), asalnya Sang Tiga Sakti (upeti-stiti-pralina/energi pendorong kelahiran-pertumbuhan-kematian), itu yang bermanisfestasi, memunculkan kematian dan kehidupan.”

Dari zat tunggal itu, menjadi energi terdalam yang memunculkan binari alam semesta (kutub positif negatif, hitam-putih, sekala-niskala), lalu menjelma kekuatan Sang Tiga Sakti (upeti-stiti-pralina/energi pendorong kelahiran-pertumbuhan-kematian), di sana muncul pengerak munculnya kehidupan di alam raya, menjadi ‘kehidupan’ dan berujung ‘kematian’, lalu siklus ini berputar tiada henti. Hidup-tumbuh-sirna, lalu hidup kembali dan tumbuh serta sirna berputar seperti spiral yang viralitasnya berlipat dan bergulung dalam tatanan kesemestaan jagat raya.

Maka, jika mati tiba, ‘kita’ kembali berjalan ke ‘alam hakikat’. Kita kembali berjalan dari ruang dan waktu ke dimensi yang ‘non-ruang’ dan non-waktu’, yang tak terbayangkan dengan perangkat otak tubuh dan imajinasi kita, lalu (katanya) sejenak jeda, dan selanjutnya berputar dalam putaran yang tiada terperikan, kadang menjelma kembali, kadang memasuki alam-alam yang berlapis-lapis, sesuai hukum ‘rta’ dan ‘karma’ yang mengerakkan alam semesta dan meregulasi perjalan tubuh ke roh lalu ke ‘hakikat’.

Apa yang tertuliskan dalam paragraf atas terakhir (yang saya tulis itu) mungkin tidak sepenuhnya benar-benar benar adanya. Sebab, kematian bukan rumusan dan pengalaman pikiran juga bukan pengalaman tubuh. Tubuh dan pikiran lebih menjadi departure area, ruang tunggu yang nantinya kosong ketika ‘take off’, dan jika kita bahas pengalaman ‘terbang’ dari ‘departure are’ itu bukanlah pembahasan atau pembabaran yang benar-benar sahih adanya.

“Sami nakeh kadongdong kaden iya, kenken baan mangingetin, tuwi gelah twara tawang, awak ngamalingin awak, sane puyung kaden jelih, bakat kendelang, kasungkemin aba mati.”

Terjemahannya:

“Semua tebak-tebakan yang tidak-tidak kita kira iya (benar), bagaimana caranya mengingat/memahami, apa yang tidak kita punya (tidak kita alami) tidak kita pahami, diri kita mencuri dari diri kita (diri kita [cenderung] menipu diri kita), yang kosong kita kira berisi, menjadikan kita terlena gembira/berbangga, kita bawa (kepalsuan-kegagalpahaman) itu sampai mati”.

Belajar menjadi jujur sejujurnya dengan diri yang tak paham, atau kurang paham, atau pura-pura paham, atau terlanjur diri merasa percaya diri merasa paham, terlanjur ngaku-ngaku paham, atau dikira paham oleh orang lain padahal tidak, adalah pergulatan pikiran manusia dari awal penciptaan otak manusia atau dari awal peradaban homo sapien.

‘Awak ngamalingin awak’, diri menipu diri kita sendiri, adalah halusinasi melekat (dan membuat kecanduan) dalam perjalanan hidup manusia di dunia. Ketika kematian tiba, ketika ‘diri’ berpulang ke ‘hakikat diri’, maka sang diri yang dalam tubuh yang biasa memanipulasi dirinya sendiri, tak lagi bisa ‘terbelah’ menjadi kontradiksi diri lagi. Kontradiksi diri lenyap ketika kematian tiba.

Barangkali kita (tubuh dan pikiran kita yang berkuasa atas ketubuhan dan kehidupan di dunia), ketika kematian tiba, baru bisa sepenuhnya secara alamiah berhenti memanipulasi diri dengan sepenuh-penuhnya. Jika demikian, kematian adalah titik padamnya manipulasi diri oleh pikiran dan kehidupan yang melekatinya. Ketika kematian tiba, kita tiada kuasa lebur ke titik ‘keberadaan-ketiadaan’ yang tiada bertubuh, pulang kembali menjadi ‘tunggal’ yang jujur, mendekati ‘hakikat awal penciptaan’. (T)

Catatan Harian 4 November 2017

Tags: balifilsafathindu
Share110TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Hari Raya Galungan: Cahaya Pantai Pandawa, Dari Kutuh untuk Dunia

Next Post

Kabar dari Bumi Sunda: Sapanji Sasiliwangi, Merangkai Kebhinekaan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post

Kabar dari Bumi Sunda: Sapanji Sasiliwangi, Merangkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co