3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Kematian Tiba-Tiba, Dialog I Kawiswara & I Rasutama

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Lukisan Gusti Nyoman Lempad

 

“Dening raga kacatri dadi manusa, pamragatnya pacang mati, eda ampah-ampah, reh tuara ada tawang, yan pidang gantine mati, dadakan-dadakan, uripe tan keneng apti.”

Terjemahannya:

Karena kita ditunjuk/ditakdirkan jadi manusia, ujung-ujungnya akan mati, jangan gegabah, karena tidak akan paham, kapan ajal tiba, mendadak-mendadak, panjang usia tiada bisa ditebak”.

Demikian Pupuh Durma dari Gaguritan Kawiswara-Rasutama. Dalam tembang gaguritan ini bersaudara Kawiswara dan Rasutama membahas perihal kehidupan dan hakikatnya, tentang nafas masuk dan keluar, tentang pejalanan batiniah dan ketubuhan kita.

Karena kematian bisa tiba-tiba dan usia tidak tertebak kapan berhenti, tiada paham dimana titik terakhir perhentian nafas kita, maka lanjutnya:

“Uli jani jumunin buwin malajah. eda suwud mangenehin, sipat apang tawang, dewa gamane di awak, sastrane eda ngengsapin apang pedas singsal, ento ingetang sai-sai”

Terjemahnya:

“Dari sekarang ulangin lagi belajar, jangan berhenti merenungi, batas (atara baik dan buruk, kedurjanaan dan kebajikan) agar dipahami, (karena) hakikat kesucian-kemuliaan ada dalam diri, pedoman sastra-suluh diri jangan dilupakan, agar jelas ujung pangkalnya, itu yang diingat terus menerus”

Kemauan belajar kembali menjadi penting. Mengevaluasi apa yang menjadi pengetahuan kita tentang diri kita masing-masing, tentang kebajikan dan pikiran kita menjadi penting. Bukan kecerdasan perihal hal di luar, bukan menghitung hal-hal lain, tapi bagaimana pemahaman tentang hakikat diri menjadi mendasar dalam memahami jalan menuju kematian dan bagaimana bisa maksimal dalam menjalani hidup.

Hal ini dijelaskan secara lebih rinci dalam pupuh lanjutannya bahwa kematian itu adalah perjalanan ke dalam diri. Melalui mati kita menuju diri kita sendiri, sebab ‘hakikat diri’ memang ‘tidak bertubuh’ maka kematian adalah jalan menuju ‘hakikat diri’.

“Apan tawang awake mula tanpa paawak, witing Ongkara jati, hana rwa bhinneda, ulihing rwa bhinneda, wit uning Tiga Sakti, to ne mangolah, mangadakang pati urip.”

Terjemahannya:

“Agar dipahami bahwa [hakikat] diri kita memang tiada bertubuh, berasal dari aksara suci Om yang sejati, ada muncul rwa bhinneda (binari), asalnya Sang Tiga Sakti (upeti-stiti-pralina/energi pendorong kelahiran-pertumbuhan-kematian), itu yang bermanisfestasi, memunculkan kematian dan kehidupan.”

Dari zat tunggal itu, menjadi energi terdalam yang memunculkan binari alam semesta (kutub positif negatif, hitam-putih, sekala-niskala), lalu menjelma kekuatan Sang Tiga Sakti (upeti-stiti-pralina/energi pendorong kelahiran-pertumbuhan-kematian), di sana muncul pengerak munculnya kehidupan di alam raya, menjadi ‘kehidupan’ dan berujung ‘kematian’, lalu siklus ini berputar tiada henti. Hidup-tumbuh-sirna, lalu hidup kembali dan tumbuh serta sirna berputar seperti spiral yang viralitasnya berlipat dan bergulung dalam tatanan kesemestaan jagat raya.

Maka, jika mati tiba, ‘kita’ kembali berjalan ke ‘alam hakikat’. Kita kembali berjalan dari ruang dan waktu ke dimensi yang ‘non-ruang’ dan non-waktu’, yang tak terbayangkan dengan perangkat otak tubuh dan imajinasi kita, lalu (katanya) sejenak jeda, dan selanjutnya berputar dalam putaran yang tiada terperikan, kadang menjelma kembali, kadang memasuki alam-alam yang berlapis-lapis, sesuai hukum ‘rta’ dan ‘karma’ yang mengerakkan alam semesta dan meregulasi perjalan tubuh ke roh lalu ke ‘hakikat’.

Apa yang tertuliskan dalam paragraf atas terakhir (yang saya tulis itu) mungkin tidak sepenuhnya benar-benar benar adanya. Sebab, kematian bukan rumusan dan pengalaman pikiran juga bukan pengalaman tubuh. Tubuh dan pikiran lebih menjadi departure area, ruang tunggu yang nantinya kosong ketika ‘take off’, dan jika kita bahas pengalaman ‘terbang’ dari ‘departure are’ itu bukanlah pembahasan atau pembabaran yang benar-benar sahih adanya.

“Sami nakeh kadongdong kaden iya, kenken baan mangingetin, tuwi gelah twara tawang, awak ngamalingin awak, sane puyung kaden jelih, bakat kendelang, kasungkemin aba mati.”

Terjemahannya:

“Semua tebak-tebakan yang tidak-tidak kita kira iya (benar), bagaimana caranya mengingat/memahami, apa yang tidak kita punya (tidak kita alami) tidak kita pahami, diri kita mencuri dari diri kita (diri kita [cenderung] menipu diri kita), yang kosong kita kira berisi, menjadikan kita terlena gembira/berbangga, kita bawa (kepalsuan-kegagalpahaman) itu sampai mati”.

Belajar menjadi jujur sejujurnya dengan diri yang tak paham, atau kurang paham, atau pura-pura paham, atau terlanjur diri merasa percaya diri merasa paham, terlanjur ngaku-ngaku paham, atau dikira paham oleh orang lain padahal tidak, adalah pergulatan pikiran manusia dari awal penciptaan otak manusia atau dari awal peradaban homo sapien.

‘Awak ngamalingin awak’, diri menipu diri kita sendiri, adalah halusinasi melekat (dan membuat kecanduan) dalam perjalanan hidup manusia di dunia. Ketika kematian tiba, ketika ‘diri’ berpulang ke ‘hakikat diri’, maka sang diri yang dalam tubuh yang biasa memanipulasi dirinya sendiri, tak lagi bisa ‘terbelah’ menjadi kontradiksi diri lagi. Kontradiksi diri lenyap ketika kematian tiba.

Barangkali kita (tubuh dan pikiran kita yang berkuasa atas ketubuhan dan kehidupan di dunia), ketika kematian tiba, baru bisa sepenuhnya secara alamiah berhenti memanipulasi diri dengan sepenuh-penuhnya. Jika demikian, kematian adalah titik padamnya manipulasi diri oleh pikiran dan kehidupan yang melekatinya. Ketika kematian tiba, kita tiada kuasa lebur ke titik ‘keberadaan-ketiadaan’ yang tiada bertubuh, pulang kembali menjadi ‘tunggal’ yang jujur, mendekati ‘hakikat awal penciptaan’. (T)

Catatan Harian 4 November 2017

Tags: balifilsafathindu
Share110TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan Hari Raya Galungan: Cahaya Pantai Pandawa, Dari Kutuh untuk Dunia

Next Post

Kabar dari Bumi Sunda: Sapanji Sasiliwangi, Merangkai Kebhinekaan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Kabar dari Bumi Sunda: Sapanji Sasiliwangi, Merangkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co