2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjelang Monolog Rupa Dasamuka Nyoman Erawan: Pralaya Matra dan Ground Zero

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Ulasan

Foto Istimewa

 

12 Oktober 2002, atau tepat 15 tahun silam, aksi teror melanda Bali. Tiga lokasi di Bali dibom saat hiruk pikuk pada Sabtu malam itu. Dua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali. Yang terakhir, ledakan kecil terjadi di sekitar Renon Denpasar, dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat yang berada di Jl. Hayamwuruk 188, Denpasar.

Peristiwa tragis dan merupakan terorisme terparah di Indonesia ini, menelan korban 202 orang. Sebanyak 164 orang di antaranya warga asing dari 24 negara, 38 orang lainnya warga Indonesia 209 orang mengalami luka-luka. Dampak kerusakan hingga radius satu kilometer dari pusat ledakan.

Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom yang digunakan berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50–150 kg

Ketika bom meledak, saya sedang kerja di lantai dua rumah saya. Saat itu, saya masih bekerja sebagai jurnalis majalah bulanan terbitan Jakarta. Saya tak merasakan ada tanda-tanda ledakan bom di Kuta. Saya juga tak punya firasat kalau teman-teman jurnalis memberi info adanya bom via SMS. Waktu itu, HP jadul saya taruh di lantai 1, dan aplikasi tercanggih pada handphone saat itu hanya SMS dan telepon.

Tepat jam 5 pagi, saya telah selesai bekerja dan turun ke lantai satu untuk istirah. Saya sungguh terkejut setelah lihat puluhan SMS di HP saya dari teman-teman jurnalis. Rasa kantuk lantas sirna seketika. Saya lantas memacu sepeda motor menuju tempat ‘kemungkinan’ terdekat, kamar mayat RSUP Sanglah.

Sungguh suatu pemandangan yang seumur-umur belum pernah kulihat. Bau daging terbakar dan ratusan mayat yang tak utuh, menjadi pemandangan yang sangat mengerikan. Mayat-mayat itu, sebagian besar tergeletak di lantai karena begitu banyaknya korban yang ada di kamar mayat yang ukurannya tidak terlalu besar itu.

Saya ternyata bukan orang yang tahan berlama-lama melihat pemandangan mengerikan itu. Saya lantas melaju ke Kuta. Pemandangan di tempat kejadian dan sekitarnya, benar-benar seperti bekas lokasi peperangan. Bau daging terbakar, bangkai-bangkai kendaraan yang terbakar, pecahan kaca dan bahan bangunan yg berserakan di sekitar tempat kejadian peristiwa, menandakan betapa besar ledakan yang terjadi di tempat itu. Penjagaan ketat oleh aparat dan garis polisi, membatasi kami untuk mendekat. Kita hanya bisa meliput dari jarak sekitar 20 meter. Ketika petugas lengah, barulah kami bisa mendekat sampai sekitar 10 meter.

Singkat cerita, saya melihat-lihat pemandangan reruntuhan disekitar lokasi. Ada yang menarik perhatian saya, saat berada di dekat Paddy’s Pub. Saya melihat lelehan kaca akibat panas yg tinggi. Lelehan berukuran 1 meter x 60 cm x 5 cm itu bentuknya indah tak berarturan. Mirip stalaktit yang biasa ada di dalam gua dengan proses bentukannya yang amat lama.

Seketika itu juga saya teringat akan karya-karya instalasi Nyoman Erawan, yang memang saat itu karya-karyanya banyak ‘merefleksikan’ tentang maut. Pasalnya – bagi saya yang barusan melihat sosok mayat yang ‘berantakan’ di kamar mayat RSUP Sanglah – kaca yang meleleh tak beraturan itu mewakili ‘duka tak terkira’ para korban bom malam beberapa saat sebelumnya. Saya lantas ingin mengambil lelehan kaca tersebut untuk mendiskusikan dengan Erawan, apakah lelehan kaca tersebut bisa ia pergunakan sebagai material karya instalasinya? Sungguh, lelehan kaca itu semacam ‘ungkapan diam’ ngganga luka kita semua.

Perupa Nyoman Erawan dalam salah satu pentas-rupa./ Foto: Istimewa

Saya tepekur, terduduk di dekat sebuah sanggah di tepi jalan, yang sama sekali tak bergeming oleh ledakan dahsyat itu. Entah, kekuatan apa yang melindunginya. Terik matahari, menambah panasnya suasana di sekitar kejadian maut itu. Lelehan kaca itu masih menggoda rasa duka. Tapi saya urung mengambilnya. Mengapa? Adalah ‘persoalan’ besar andai saya membawa benda (yang mengandung unsur kematian itu) ke desa tempat Erawan tinggal. Maka saya urungkan keinginan itu.  Saya kubur gagasan penuh luka dan duka itu, di antara puing-puing bom Kuta, hingga kini. Ya, saya kubur di ‘Ground Zero’.

Tak dapat disangkal, Nyoman Erawan, mungkin merupakan perupa Bali yang paling genial dalam menggelar seni pertunjukan dan seni instalasi atau senirupa 3 dimensi. Pada repertoar-repertoarnya, Erawan acap mengkritisi keadaan realita yang terjadi di-kekinian. Itulah kegelisahan Nyoman Erawan sebagai seorang perupa. Bisa jadi, bagi Erawan, karya-karya rupa dua dimensi memiliki ‘keterbatasan’ daya ungkap bagi gagasan-gagasan ‘liar’ nya.

Bulan Oktober ini, Erawan akan menggelar monolog rupa bertajuk ‘Dasamuka’.. Sesuatu hal baru dan menarik tentunya, suatu penggabungan antara seni pertunjukan dan seni rupa. Sebelumnya, Erawan pernah menggelar puisi rupa, dengan merespon karya puisi teman-teman penyair, di antaranya merespon puisi-puisi karya Sindhunata, SJ – beberapa waktu yang lalu. Dan saya belum pernah menyaksikan respon senirupa pada karya seni pertunjukan monolog.

Belum bisa saya bayangkan ‘diksi visual’ yang menjadi perbendaharaan Nyoman Erawan dalam mengartikulasikan makna yang tersimpan pada ‘narasi ekspositorik’ dan ‘narasi artistik’ monolognya 28 Oktober nanti. Saya hanya bisa meraba-raba, bahwa selama ini karya-karya Erawan acap ‘merambah’ wilayah maut. Maut, bagi Erawan bukan hal yang menakutan. Sebab, ia mampu melihat sisi estetika dari ujung peristiwa kehidupan itu, kematian. Ya, kematian yang indah. Seperti kematian Bisma Dewabrata, yang bisa menentukan hari kematiannya sendiri.

Terlalu banyak peristiwa duka di republik kita dan semesta raya ini. Mulai dari munculnya radikalisme dan intoleransi yang bertentangan dengan semangat sumpah pemuda. Perang berkepanjangan dan bom yang tiap hari meledak di negara-negara Timur Tengah. Insiden penembakan sadis oleh Stephen Paddock yang membunuh sedikitnya 59 orang dan melukai 515 lainnya di konser terbuka di Las Vegas. Semua itu merupakan tragedi kemanusiaan yang terasa amat perih mengiris nurani kita.

Hal-hal yang berbau maut itu, memang acap menjadi wilayah ‘refleksi kreatif’ Nyoman Erawan. Maka, mengingat tragedi kemanusiaan di Kuta 15 tahun yang lalu, saya ingin ‘menyimak’ kembali karya-karya Erawan periode ‘pralaya matra’ dan ‘penghormatan pada hati nurani’. Selain itu, saya juga ingin ‘membaca’ fenomena Gunung Agung yang mulai memperlihatkan aktifitasnya. Ia seperti memberi ‘tanda-tanda’ pada kita. Persoalannya, mampukah kita membaca ‘tanda-tanda alam’ ? Ada baiknya kita saksikan saja monolog rupa ‘Dasamuka’ Erawan nanti. Mungkin, Erawan akan menterjemahkan tanda-tanda alam itu lewat ‘sunyinya yang bening’.  (T)

Catatan:  Nyoman Erawan akan mementaskan Monolog Rupa berjudul Dasamuka karya Putu Wijaya di Bentara Budaya Bali, 28 Oktober 2017 malam. Pentas ini adalah serangkaian Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaNyoman Erawanseni pertunjukanSeni Rupa
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Segi Tiga Emas: Penida, Lembongan, Ceningan – Sebuah Harapan Anak Pulau…

Next Post

Taman Langit

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Taman Langit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co