14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Singaraja: Pemuda Muslim, Hindu dan Buddha “Megibung”, Bicara Rohingya – Mereka Sepakat itu Krisis Kemanusiaan

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Feature

Foto-foto Julio Saputra

 

PADA pukul 13.00 WITA, Sabtu, Sabtu, 09 September 2017, suasana di Yayasan Nurul Huda yang terletak di Jalan Lingga  No. 7A Banyuasri nampak berbeda dari hari-hari biasanya. Bapak-bapak, Ibu-ibu, muda-mudi datang beramai-ramai. Beberapa petugas terlihat mengatur parkir dan tempat parkir, tentu saja tanpa meminta biaya parkir kepada siapapun yang memarkirkan kendaraannya. Ada yang sudah masuk bersama temannya. Ada yang masih malu-malu masuk sambil menunggu teman yang lain masuk.

Hingga akhirnya satu per satu masuk dan mengisi daftar hadir, kemudian duduk bersila atau bersimpuh di atas karpet hijau yang terbentang di halaman tempat tersebut. Beberapa orang terlihat mengatur alat pengeras suara. Sebagian lagi sibuk mengurus terpal yang beberapa kali talinya putus karena angin kencang.

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Om Swastiastu

Namo Buddhaya

Salam Sejatera untuk kita semua

Terlihat dua orang gadis berjilbab duduk bersimpuh anggun di pojok kiri sebelah barat halaman Yayasan Nurul Huda Singaraja sambil mengucapkan dengan lembut salam-salam tadi, menandakan bahwa acara Silaturahmi Antarumat Beragama dalam Menyikapi Konflik Rohingya telah dimulai.

Di samping dua gadis itu, ada seorang perempuan muda dan sepuluh orang laki-laki duduk bersila. Sebagian sudah berumur, sebagian lagi masih terlihat muda, bujang, perjaka, dan sepertinya belum menikah. Sebagian dari mereka menggunakan peci dan sarung. Sebagian lagi menggunakan identitas organisasi masing-masing. Ada pula yang pakai batik.

Masing-masing dari mereka adalah perwakilan dari organisasi keagamaan dan organisasi pemuda keagamaan di Buleleng, yaitu PC NU (Nahtadul Ulama), PC GP ANSOR (Gerakan Pemuda Ansor)/BANSER (Barisan Ansor Serbaguna), PC MUSLIMAT, PC FATAYAT, PC PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),  PC IPNU (Ikatan Pelajar Nahtadul Ulama), PC IPPNU (Ikatan Pelajar Puteri Nahtadul Ulama), WALUBI (Wali Umat Buddha Indonesia), DPC PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia), PC KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia), PC GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Kabupaten Buleleng yang kemudian tergabung dalam Aliansi Gerakan Peduli Rohingya (AGPR).

Di hadapan mereka, ada sekitar 78 orang yang tergabung dalam salah satu dari 11 organisasi tadi.  Sebagian dari mereka juga menggunakan peci dan sarung, sebagian lagi juga menggunakan identitas organisasi masing-masing. Sebagian perempuan memakai jilbab, sebagian lagi hanya memakai ikat rambut biasa. Mereka tampak akrab dan ramah, duduk bersama-sama tanpa membeda-bedakan organisasi atau golongan, kemudian berbagi pandangan terkait konflik Rohingya dan krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, yang juga saat ini sedang menjadi perhatian dunia.

Berbagi Pandangan

Bapak Imam Munangin,S.IP.,M.Si dari PC NU Kabupaten Buleleng menjadi orang pertama yang berbagi pandangan. Menurutnya, sebagai umat manusia, apa yang terjadi di desa Arakah, Wilayah Rakhine, Myanmar sangatlah di luar batas peri kemanusiaan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur sila ke-2 dalam Pancasila yang bersifat universal.

Bagaimana tidak? Ada 60 ribu lebih etnis Rohingya merasa nyawanya terancam pergi menyelamatkan diri dari daerah konflik, ribuan lebih sudah tewas, menjadi korban pembunuhan secara keji. Ribuan orang pula telah dihilangkan secara paksa. 64% dari etnis Rohingya melaporkan pernah mengalami penyiksaan secara fisik maupun mental, 52% perempuan Rohingya melaporkan mengalami pemerkosaan dan pelecehan seksual lainnya yang mengerikan. Ditambah lagi, dengan penangkapan dan penahanan terhadap ribuan warga Rohingya, perusakan maupun penjarahan.

Beliau juga menilai bahwa konflik tersebut terjadi bukan karena adanya pembersihan terhadap umat muslim di sana. Namun, penyebab utamanya adalah kepentingan ekonomi yang melibatkan lebih banyak pihak luar negara. Myanmar menjadi negara ketiga yang memiliki program eksploitasi besar-besaran sumber daya alam dalam negeri setelah India dan Cina. Kebijakan yang tentu saja mengundang banyak kepentingan investor luar negeri.

Hal ini membuat beberapa negara berkepentingan yang sudah berinvestasi di Myanmar seperti memilih sikap diam atas konflik mengerikan tersebut. Dari dalam, kepentingan ekonomi asing diperkuat dengan kekuatan rezim militer Myanmar. Military-economic interest, atau kepentingan ekonomi militer menjadi momok menakutkan dalam sejarah panjang konflik Myanmar.

Di samping itu, satu hal lagi yang membuat beliau berpandangan bahwa masalah ini terjadi karena kepentingan ekonomi adalah terjadinya eksodus besar-besaran dari Rakhine yang bukan hanya dialami oleh minoritas muslim Rohingya. Migrasi juga dilakukan oleh minoritas Hindu (yang jumlahnya sekitar 9700 orang atau 0,5 % penduduk Rakhine), minoritas animist atau agama lokal (yang jumlahnya sekitar 3400 orang atau 0,136%). Barangkali, yang akan menjadi sasaran selanjutnya adalah minoritas Kristen yang jumlahnya lebih besar dari minoritas muslim Rohingya.

Hal senada juga disampaikan oleh Nyoman Santika dari WALUBI Kab. Buleleng dan Lisna dari KMHDI Kab. Buleleng. Mereka sama-sama mengatakan bahwa konflik yang terjadi benar-benar tidak sesuai dengan ajaran agama. Nyoman Santika mengatakan agama Buddha mengajarkan tentang cinta kasih kepada sesama manusia, bahkan juga kepada semua mahluk hidup. Beliau sangat menyayangkan dan prihatin terhadap konflik yang terjadi.

Ia berharap besar korban musibah kemansiaan di sana segara mendapat pertolongan dan perlindungan secara menyeluruh dan mengajak seluruh umat untuk bersama-sama melakukan aksi solidaritas atau aksi simpatik nantinya untuk membantu korban Rohingya. Beliau juga berharap konflik Rohingya tidak menjadi pemicu masalah baru di Indonesia yang berpotensi membebani keharmonisan dalam masyarakat.

Lisna (entah Lisna siapa, catatan tentang nama lengkapnya hilang begitu saja) juga mengatakan hal yang sama seperti apa yang sudah disampaikan oleh Nyoman Santika. Tragedi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar sangatlah bertentangan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha (Tiga Perbuatan Suci), Tri Hita Karana (Tiga Sebab Kebahagiaan) dan Tat Twam Asi. Ketiga ajaran tersebut sangat berpengaruh dalam menjalani hidup dan kehidupan sebagai umat manusia dan konflik Rohingya sama sekali tidak mengandung nilai-nilai kebaikan dari ajaran agama manapun.

Pernyataan Sikap

Setelah sama-sama berbagi pandangan satu sama lain, mereka sepakat bahwa kejadian di Rakhine, Myanmar merupakan sebuah musibah kemanusiaan, bukan tragedi berlatarkan SARA yang selama ini digembargemborkan untuk menimbulkan konflik baru.

Oleh karena itu, Aliansi Gerakan Peduli Rohingya (AGPR) yang terdiri dari keluarga besar  NU (Nahtadul Ulama), GP ANSOR (Gerakan Pemuda Ansor)/BANSER (Barisan Ansor Serbaguna), MUSLIMAT,  FATAYAT, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia),   IPNU (Ikatan Pelajar Nahtadul Ulama), IPPNU (Ikatan Pelajar Puteri Nahtadul Ulama), WALUBI (Wali Umat Buddha Indonesia), DPC PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia), KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Kabupaten Buleleng menyatakan sikap yang ditandatangani bersama sebagai berikut:

  1. Meminta kepada masyarakat Indonesia untuk lebih jernih melihat krisis kemanusiaan yang ada di Myanmar
  2. Tidak terjebak dengan isu sesat yang kemudin berpotensi melakukan aksi balasan kepada mereka yang tak bersalah
  3. Indonesia adalah negara yang aman dan damai, sehingga semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan kesatuan demi utuhnya NKRI
  4. Berharap pemerintah mau mewakili keresahan masyarakat Indonesia dan berani menawarkan diri menjadi mediator sebagai ruang pencarian solusi atas masalah yang tak kunjung henti
  5. Atas nama kemanusiaan, meminta pemerintah Myanmar untuk segera menghentikan apa yang terjadi di Rohingya

Doa dan Megibung Bersama

Acara tersebut dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin menurut agama Islam, namun tetap tidak mengurangi makna doa bagi agama lain. Mereka sama-sama mendoakan agar para korban segera mendapat perindungan dan pembelaan, konflik Rohingya segera menemui titik akhir, agar arwah para korban yang meninggal diterima Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tentu saja agar tidak lagi ada targedi kemanusiaan di belahan dunia manapun.

Belum lama berlalu setelah doa selesai dipimpin, tiba-tiba ada yang berkata lagi lewat pengeras suara “Tolong ambil perlengkapan dan makanannya ya”. Ternyata acara akan ditutup dengan Megibung bersama. Hadirin pun mengubah posisi duduknya seperti barisan ke samping dan berhadap-hadapan satu sama lain.

Seseorang dengan sabar menuangkan nasi dan lauk pauk berupa telor dadar dan tempe lengkap dengan sambal dan sayur bening. Sederhana memang, namun penuh makna karena dinikmati bersama. Ada yang makan sambil tertawa, bercanda dan semuanya terlihat bergembira. Megibung memang merupakan lambang kebersamaan, dan menjadi salah satu cara untuk menjaga kerukukan umat manusia, terlepas dari apapun agama, suku, dan rasnya. (T)

Share781TweetSendShareSend
Previous Post

Obituari Nyoman Gunarsa: Menembus Perancis dan Warisan Budaya

Next Post

Jika Sarjana Pertanian jadi Pegawai Bank, Apakah Kampus Masih Penting?

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
0
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

by tatkala
May 4, 2026
0
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails
Next Post

Jika Sarjana Pertanian jadi Pegawai Bank, Apakah Kampus Masih Penting?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co