2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iman Teologis dan Iman Sosiologis – Upaya Menjodohkan Karl Marx dengan al-Quran

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Judul buku: Wahyu Pembebasan; Relasi Buruh-Majikan
  • Penulis: Umnia Labibah
  • Penerbit: Pustaka Alief
  • ISBN: 979-97184-1-4
  • Pengantar: Prof. Dr. H.M. Amin Masykur., MA.

Kapitalisme, kapitalistik, dan segala bentuk akar katanya bagi sebagian orang menjadi sebuah ungkapan yang mewakili gambaran suasana perekonomian yang hanya menguntungkan beberapa belah pihak, atau bahkan segelintir saja. Dalam cita-citanya, seorang ekonomis yang sekaligus filosof, Karl Marx mencita-citakan sebuah tatanan masyarakat tanpa kelas, sehingga keadilan dan kesejahteraan menjadi hak milik bersama tanpa ada ketimpangan antara satu pihak dan pihak yang lain.

Walau dalam ambisinya yang dinilai utopis alias imajinasi di siang bolong itu, tetapi nyatanya hal itulah yang sejak dulu sampai sekarang banyak diharapkan dan memang diperlukan oleh dunia sekarang ini. Marx juga dikenal sebagai seorang atheis alias tidak beragama, bahkan dia sering menyuarakan bahwa agamalah yang menjadi penyebab utama ketidakadilan sosial yang menurutnya dikarenakan adanya sistem kelas dan strata sosial dalam agama.

Terlepas dari paradigmanya tentang agama, namun nyatanya ambisi Marx yang membayangkan sebuah kesetaraan bagi seluruh manusia menjadi salah satu tujuan al-Quran diturunkan. Dalam beberapa materi ushul fiqh juga dikenal dengan sebuah istilah maqaasid as-syariah (tujuan-tujuan pensyariatan) di mana hukum yang dalam hal ini adalah fiqih dan semacamnya memiliki setidaknya lima tujuan bagi kehidupan manusia. Salah satu di antaranya adalah hifdu an-nafs (menjaga diri) dan hifdu al-maal (menjaga harta).

Di sela hiruk-pikuk pembicaraan dan isu-isu kontroversial perihal HAM, Islam (tanpa membesar-besarkan dan membela salah satu pihak) telah lama dan lebih dahulu menerapkannya. Pada masa diturunkannya al-Quran, persoalan HAM sudah bukan menjadi hal yang baru disebabkan bangsa Arab yang pada waktu itu hidup dalam persaingan kesukuan dan ras mengalami persaingan perebutan sumber daya alam yang serba kekurangan di tengah gurun tandus, sehingga tidak boleh tidak manusia Arab seperti menerapkan sistem hukum rimba, di mana yang kuatlah yang akan menang. Maka dikenallah istilah majikan dan budak sebagai salah satu contoh dialektika pergulatan antara yang kuat dan yang lemah.

Meski pada abad dua puluh satu sekarang perbudakan sudah dilarang dan tidak dibenarkan (secara formal), namun beberapa praktek perbudakan tidak benar-benar musnah di dunia. Istilah budak mengalami pemusnahan dan kembali bereinkarnasi menjadi hal yang berkesan lebih halus namun esensinya tetap. Kata budak menyusut menjadi kata buruh.

Zaman ketika al-Quran diturunkan dikenal dengan zaman kegelapan dengan segenap sengkarut tatanan sosial kini muncul kembali. Globalisasi sebagai ungkapan yang mewakili perkembangan dunia yang semakin melenial, segala bisa diakses dalam hitungan detik, perjalanan jauh tidak perlu membutuhkan waktu lama, dan segala perihal ke–modern-an yang melahirkan “kegelapan” yang kedua kalinya dalam bentuk kolonialisme yang berkedok liberalisasi.

Perihal kondisi buruh yang mendapat banyak menuai perhatian, memunculkan kabar-kabar buruk dan semacam wacana “perlawanan” dan pemberontakan. Setiap isu pemberontakan selalu terikat dengan keatasnamaan buruh dan orang-orang tertindas. Dalam narasi bukunya, Umnia Labibah banyak memberikan perkembangan kondisi buruh utamanya di Indonesia dari masa pemerintahan awal ke masa pemerintahan berikutnya.

Secara prespektif ekonomi, buruh adalah orang-orang mempunyai penghasilan rendah yang hanya mengandalkan tenaga mereka sebagai potensi yang diandalkan untuk mencari nafkah. Secara sosial buruh pula digolongkan sebagai masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah. Di Indonesia, terminologi buruh tertera dalam UU No. 21 tahun 2001 yang menggambarkan buruh sebagai orang yang bekerja kepada orang lain untuk mendapatkan upah. Dalam fiqih terminologi buruh diwakili dengan ungkapan ajir sebagai seorang pekerja dalam akad ijarah (semacam akad kerja sama antara dua belah pihak).

Di sisi lain, secara sederhana majikan dikenal dengan orang yang memiliki modal dan menyediakan pekerjaan untuk orang lain. Hal ini juga tertera dalam UU No. 21 tahun 2000 bahwa segala bentuk industri baik perserikatan ataupun perorangan yang menyediakan lapangan pekerjaan digolongkan dalam kategori majikan. Dalam fiqih ungkapan majikan diwakili dengan kata musta’jir sebagai pemberi pekerjaan.

Dua pihak antara majikan dan buruh inilah yang digolongkan Marxs menjadi pihak Marjinal (bawahan) dan pihak borjuis (golongan atas). Dua kubu yang terposisikan dalam tingkat masing-masing inilah gambaran dari sebuah model “perbudakan” di era global dan tentunya pastilah ada satu pihak yang diuntungkan dan mirisnya pihak lain menduduki posisi yang dirugikan sebagai sebuah konsekuensi.

Perihal perkembangan industri yang melibatkan buruh dan majikan, Umnia menggambarkannya dalam masing-masing masa pemerintahan presiden yang diawali pada orde lama di bawah kuasa Suekarno. Suasana dialektis perburuhan diawali oleh kebijakan pemerintah yang menerapkan sistem ekonomi leberalisme di mana pemerintah membuka selebar-lebarnya lapangan bagi para raksasa industri dunia untuk memasuki Indonesia yang diiming-imingi banyaknya lahan serta sumberdaya alam berikut sumber daya manusia yang menjanjikan. Pembukaan pintu selebar-lebarnya ini menjadi alasan pemerintah sebagai awal bagi perkembangan dan pertumbuhan perekonomian Indonesia dengan mengadakan relasi dengan industri-industri dari berbagai negara.

Niat dan maksud awal dibukanya perindustrian global ini dimaksudkan agar distribusi ekonomi bisa mengalir ke bawah. Akan tetapi lambat laun hal tersebut hanya menjadikan orang-orang indonesia bermentalkan pekerja, bangsa bagi para buruh. Kondisi buruh yang berada pada posisi yang kurang menguntungkan itu kemudian banyak memunculkan pergolakan-pergolakan, bahkan hingga menimbulkan pergerakan yang bertujuan untuk membela hak-hak buruh.

Beberapa kejadian yang meliputi perlawanan buruh seperti kasus kematian Marsinah (buruh PT Catur Putra Surya Porong Jatim), Titi Sugiarti (PT Kahatek Sumedang), Rusdi (Medan), Juju Juriah (Jakarta), dan sejumlah kejadian lain menjadi gambaran buruh yang begitu tertekan. Kasus-kasus itu pula yang manjadikan pergerakan-pergerakan buruh sedikit tertekan dan mengalami hambatan akibat trauma.

Beberapa kebijakan seperti pembatasan hari mogok, PHK, dan upah yang tergolong sedikit juga menjadi faktor pendukung keresahan para buruh. Sebab yang disebutkan Umnia dalam bukunya, bahwa standar upah yang ditetapkan untuk buruh adalah standar bagi lelaki lajang yang kemudian diterapkan dalam peraturan UMR. Belum lagi jatah pembayaran buruh yang disatukan dengan biaya produksi, kerja yang amat keras dibawah tuntutan-tuntutan semakin memperparah kondisi buruh.

Adanya intervensi negara terkait kasus perburuhan dan sistem industrial kenegaraan membawa dua sisi sekaligus. Kadang menguntungkan kadang pula merugikan. Tidak mau kalah, para pihak industri selalu menemukan dalih-dalih untuk membenarkan tindakan seperti pengurangan upah dan semacamnya. Mulai dari turunnya pesanan publik, hingga krisis ekonomi yang membuat para empu industri berhak memperlakukan buruh dalam keputusan-keputusan mereka.

Majikan sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh tuhan mustinya memberi perhatian lebih kepada mereka-mereka yang berkekurangan. Sebagai wakil tuhan di muka bumi, mereka juga perlu untuk merawat dan membawa misi teologis tuhan sebagai pemelihara di bumi. Bukan lantas kemudian tegak berdiri menjadi tuhan-tuhan kecil didunia yang berhak berlaku semenanya.

Dalam ungkapan lain, Marx pernah berkata “all workers, unite!!!” (para buruh, bersatulah!!! Hal. 27) menegaskan cita-cita Marx dalam upaya pemberantasan ketimpangan sosial. Di sisi lain al-Quran juga menyuarakan keadilan bagi segenap manusia yang tertera dalam Q.S. Al-Maidah ayat 8 i’diluu huwa aqrabu littaqwa (berbuatlah adil wahai kamu sekalian karena adil adalah sikap yang dekat dengan ketaqwaan). Dalam kondisi seperti ini yang sudah jelas timbul bermacam-macam ketimpangan, bersikap netral adalah sebuah ketidakadilan, sebab dengan membiarkannya kita sama saja membiarkan yang lemah semakin melemah dan yang kuasa semakin berkuasa.

Dengan begitu, maka amanat Islam sebagai agama secara teologis dapat tercapai dan cita-cita Islam sebagai pembawa keadilan dapat pula tercapai sebagai sebuah amanat sosilogis. Kemudian semoga dengan risalah singkat ini pesan-pesan yang ingin disampaikan Umnia Labibah dalam bukunya bisa dimengerti dengan bahasa yang lebih singkat dan sederhana. Salam all worker,s unite!!! (T)

Tags: BukuIslamKarl Marxresensi
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Masa Lalu Pembunuh Ibu

Next Post

Cantiknya Mbak Saras Dewi, Petani Keren, dan Teluk Terkasih

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Cantiknya Mbak Saras Dewi, Petani Keren, dan Teluk Terkasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co