12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Iman Teologis dan Iman Sosiologis – Upaya Menjodohkan Karl Marx dengan al-Quran

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
February 2, 2018
in Ulasan

 

  • Judul buku: Wahyu Pembebasan; Relasi Buruh-Majikan
  • Penulis: Umnia Labibah
  • Penerbit: Pustaka Alief
  • ISBN: 979-97184-1-4
  • Pengantar: Prof. Dr. H.M. Amin Masykur., MA.

Kapitalisme, kapitalistik, dan segala bentuk akar katanya bagi sebagian orang menjadi sebuah ungkapan yang mewakili gambaran suasana perekonomian yang hanya menguntungkan beberapa belah pihak, atau bahkan segelintir saja. Dalam cita-citanya, seorang ekonomis yang sekaligus filosof, Karl Marx mencita-citakan sebuah tatanan masyarakat tanpa kelas, sehingga keadilan dan kesejahteraan menjadi hak milik bersama tanpa ada ketimpangan antara satu pihak dan pihak yang lain.

Walau dalam ambisinya yang dinilai utopis alias imajinasi di siang bolong itu, tetapi nyatanya hal itulah yang sejak dulu sampai sekarang banyak diharapkan dan memang diperlukan oleh dunia sekarang ini. Marx juga dikenal sebagai seorang atheis alias tidak beragama, bahkan dia sering menyuarakan bahwa agamalah yang menjadi penyebab utama ketidakadilan sosial yang menurutnya dikarenakan adanya sistem kelas dan strata sosial dalam agama.

Terlepas dari paradigmanya tentang agama, namun nyatanya ambisi Marx yang membayangkan sebuah kesetaraan bagi seluruh manusia menjadi salah satu tujuan al-Quran diturunkan. Dalam beberapa materi ushul fiqh juga dikenal dengan sebuah istilah maqaasid as-syariah (tujuan-tujuan pensyariatan) di mana hukum yang dalam hal ini adalah fiqih dan semacamnya memiliki setidaknya lima tujuan bagi kehidupan manusia. Salah satu di antaranya adalah hifdu an-nafs (menjaga diri) dan hifdu al-maal (menjaga harta).

Di sela hiruk-pikuk pembicaraan dan isu-isu kontroversial perihal HAM, Islam (tanpa membesar-besarkan dan membela salah satu pihak) telah lama dan lebih dahulu menerapkannya. Pada masa diturunkannya al-Quran, persoalan HAM sudah bukan menjadi hal yang baru disebabkan bangsa Arab yang pada waktu itu hidup dalam persaingan kesukuan dan ras mengalami persaingan perebutan sumber daya alam yang serba kekurangan di tengah gurun tandus, sehingga tidak boleh tidak manusia Arab seperti menerapkan sistem hukum rimba, di mana yang kuatlah yang akan menang. Maka dikenallah istilah majikan dan budak sebagai salah satu contoh dialektika pergulatan antara yang kuat dan yang lemah.

Meski pada abad dua puluh satu sekarang perbudakan sudah dilarang dan tidak dibenarkan (secara formal), namun beberapa praktek perbudakan tidak benar-benar musnah di dunia. Istilah budak mengalami pemusnahan dan kembali bereinkarnasi menjadi hal yang berkesan lebih halus namun esensinya tetap. Kata budak menyusut menjadi kata buruh.

Zaman ketika al-Quran diturunkan dikenal dengan zaman kegelapan dengan segenap sengkarut tatanan sosial kini muncul kembali. Globalisasi sebagai ungkapan yang mewakili perkembangan dunia yang semakin melenial, segala bisa diakses dalam hitungan detik, perjalanan jauh tidak perlu membutuhkan waktu lama, dan segala perihal ke–modern-an yang melahirkan “kegelapan” yang kedua kalinya dalam bentuk kolonialisme yang berkedok liberalisasi.

Perihal kondisi buruh yang mendapat banyak menuai perhatian, memunculkan kabar-kabar buruk dan semacam wacana “perlawanan” dan pemberontakan. Setiap isu pemberontakan selalu terikat dengan keatasnamaan buruh dan orang-orang tertindas. Dalam narasi bukunya, Umnia Labibah banyak memberikan perkembangan kondisi buruh utamanya di Indonesia dari masa pemerintahan awal ke masa pemerintahan berikutnya.

Secara prespektif ekonomi, buruh adalah orang-orang mempunyai penghasilan rendah yang hanya mengandalkan tenaga mereka sebagai potensi yang diandalkan untuk mencari nafkah. Secara sosial buruh pula digolongkan sebagai masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah. Di Indonesia, terminologi buruh tertera dalam UU No. 21 tahun 2001 yang menggambarkan buruh sebagai orang yang bekerja kepada orang lain untuk mendapatkan upah. Dalam fiqih terminologi buruh diwakili dengan ungkapan ajir sebagai seorang pekerja dalam akad ijarah (semacam akad kerja sama antara dua belah pihak).

Di sisi lain, secara sederhana majikan dikenal dengan orang yang memiliki modal dan menyediakan pekerjaan untuk orang lain. Hal ini juga tertera dalam UU No. 21 tahun 2000 bahwa segala bentuk industri baik perserikatan ataupun perorangan yang menyediakan lapangan pekerjaan digolongkan dalam kategori majikan. Dalam fiqih ungkapan majikan diwakili dengan kata musta’jir sebagai pemberi pekerjaan.

Dua pihak antara majikan dan buruh inilah yang digolongkan Marxs menjadi pihak Marjinal (bawahan) dan pihak borjuis (golongan atas). Dua kubu yang terposisikan dalam tingkat masing-masing inilah gambaran dari sebuah model “perbudakan” di era global dan tentunya pastilah ada satu pihak yang diuntungkan dan mirisnya pihak lain menduduki posisi yang dirugikan sebagai sebuah konsekuensi.

Perihal perkembangan industri yang melibatkan buruh dan majikan, Umnia menggambarkannya dalam masing-masing masa pemerintahan presiden yang diawali pada orde lama di bawah kuasa Suekarno. Suasana dialektis perburuhan diawali oleh kebijakan pemerintah yang menerapkan sistem ekonomi leberalisme di mana pemerintah membuka selebar-lebarnya lapangan bagi para raksasa industri dunia untuk memasuki Indonesia yang diiming-imingi banyaknya lahan serta sumberdaya alam berikut sumber daya manusia yang menjanjikan. Pembukaan pintu selebar-lebarnya ini menjadi alasan pemerintah sebagai awal bagi perkembangan dan pertumbuhan perekonomian Indonesia dengan mengadakan relasi dengan industri-industri dari berbagai negara.

Niat dan maksud awal dibukanya perindustrian global ini dimaksudkan agar distribusi ekonomi bisa mengalir ke bawah. Akan tetapi lambat laun hal tersebut hanya menjadikan orang-orang indonesia bermentalkan pekerja, bangsa bagi para buruh. Kondisi buruh yang berada pada posisi yang kurang menguntungkan itu kemudian banyak memunculkan pergolakan-pergolakan, bahkan hingga menimbulkan pergerakan yang bertujuan untuk membela hak-hak buruh.

Beberapa kejadian yang meliputi perlawanan buruh seperti kasus kematian Marsinah (buruh PT Catur Putra Surya Porong Jatim), Titi Sugiarti (PT Kahatek Sumedang), Rusdi (Medan), Juju Juriah (Jakarta), dan sejumlah kejadian lain menjadi gambaran buruh yang begitu tertekan. Kasus-kasus itu pula yang manjadikan pergerakan-pergerakan buruh sedikit tertekan dan mengalami hambatan akibat trauma.

Beberapa kebijakan seperti pembatasan hari mogok, PHK, dan upah yang tergolong sedikit juga menjadi faktor pendukung keresahan para buruh. Sebab yang disebutkan Umnia dalam bukunya, bahwa standar upah yang ditetapkan untuk buruh adalah standar bagi lelaki lajang yang kemudian diterapkan dalam peraturan UMR. Belum lagi jatah pembayaran buruh yang disatukan dengan biaya produksi, kerja yang amat keras dibawah tuntutan-tuntutan semakin memperparah kondisi buruh.

Adanya intervensi negara terkait kasus perburuhan dan sistem industrial kenegaraan membawa dua sisi sekaligus. Kadang menguntungkan kadang pula merugikan. Tidak mau kalah, para pihak industri selalu menemukan dalih-dalih untuk membenarkan tindakan seperti pengurangan upah dan semacamnya. Mulai dari turunnya pesanan publik, hingga krisis ekonomi yang membuat para empu industri berhak memperlakukan buruh dalam keputusan-keputusan mereka.

Majikan sebagai manusia yang diberi kelebihan oleh tuhan mustinya memberi perhatian lebih kepada mereka-mereka yang berkekurangan. Sebagai wakil tuhan di muka bumi, mereka juga perlu untuk merawat dan membawa misi teologis tuhan sebagai pemelihara di bumi. Bukan lantas kemudian tegak berdiri menjadi tuhan-tuhan kecil didunia yang berhak berlaku semenanya.

Dalam ungkapan lain, Marx pernah berkata “all workers, unite!!!” (para buruh, bersatulah!!! Hal. 27) menegaskan cita-cita Marx dalam upaya pemberantasan ketimpangan sosial. Di sisi lain al-Quran juga menyuarakan keadilan bagi segenap manusia yang tertera dalam Q.S. Al-Maidah ayat 8 i’diluu huwa aqrabu littaqwa (berbuatlah adil wahai kamu sekalian karena adil adalah sikap yang dekat dengan ketaqwaan). Dalam kondisi seperti ini yang sudah jelas timbul bermacam-macam ketimpangan, bersikap netral adalah sebuah ketidakadilan, sebab dengan membiarkannya kita sama saja membiarkan yang lemah semakin melemah dan yang kuasa semakin berkuasa.

Dengan begitu, maka amanat Islam sebagai agama secara teologis dapat tercapai dan cita-cita Islam sebagai pembawa keadilan dapat pula tercapai sebagai sebuah amanat sosilogis. Kemudian semoga dengan risalah singkat ini pesan-pesan yang ingin disampaikan Umnia Labibah dalam bukunya bisa dimengerti dengan bahasa yang lebih singkat dan sederhana. Salam all worker,s unite!!! (T)

Tags: BukuIslamKarl Marxresensi
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Masa Lalu Pembunuh Ibu

Next Post

Cantiknya Mbak Saras Dewi, Petani Keren, dan Teluk Terkasih

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Cantiknya Mbak Saras Dewi, Petani Keren, dan Teluk Terkasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co