13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Studi Pentas “Pinangan” Komunitas Teratai dan Teater Tiga – Catatan dari Diskusi Kecil-kecilan

Iin Valentine by Iin Valentine
February 2, 2018
in Ulasan

Foto koleksi penulis

MINGGU 2 Juli 2017, terlaksanalah Diskusi Kecil-kecilan sebagai jawaban dari kegelisahan kami akan diskusi teater – yang mungkin saja tidak mati –  tetapi tidak tumbuh subur di Denpasar. Sebagai orang yang ingin menekuni lebih jauh dan mempelajari lebih dalam dunia perteateran, saya pribadi beserta kawan-kawan muda lainnya merasa butuh suatu wadah untuk bertukar pikiran, pengalaman, maupun pembelajaran, sebab diskusi-diskusi seperti yang terjadi 2 Juli itu sangat jarang ditemui sejak awal belajar teater.

Di beberapa pengalaman diskusi, ada keresahan saat melihat sebagian besar orang yang ada di lingkaran tidak terlibat secara aktif, terutama anak-anak muda seperti saya. Entah karena tidak paham, atau memang tidak ingin angkat bicara. Tetapi menurut salah seorang teman, mungkin hal itu terjadi karena tidak ada kesamaan referensi satu dengan yang lainnya.

Maka dari itu, lahirlah Diskusi Kecil-kecilan dari kami yang penuh keresahan ini. Sesuai dengan namanya, Diskusi Kecil-kecilan adalah diskusi yang dikemas dengan santai dan sederhana, bukanlah diskusi penuh ketegangan dan debat kusir. Melalui diskusi ini, kami berharap dapat memfasilitasi kawan-kawan yang ingin berbagi dan meluruskan kebingungan-kebingungan seputar teater yang sering menghantui agar meyempitkan lagi kesenjangan referensi antara satu dengan yang lainnya. Karena bagaimanapun, regenerasi itu pasti akan terjadi. Sehingga, alangkah indahnya jika nama besar dengan segala pengalamannya bersedia membagikan ilmu kepada kami yang kecil ini agar kami punya bekal untuk belajar yang lebih nantinya.

Jong (nama di KTP: Putu Santiasa Putra), sebagai perwakilan dari Teater Kalangan, terlihat lebih cerah dari biasanya. Sebelum diskusi dibuka, dia sibuk menyiapkan ini-itu yang diperlukan. LCD, proyektor, kopi, teh, dan lainnya. Kawan-kawan dari Teater Orok, Angin, dan Rakmung yang hadir membaur dalam obrolan yang tentu saja dilengkapi oleh kelakar khas dari Jong, yang sekaligus menjadi pemandu diskusi dan juga Iwan CRX, yang merupakan sesepuh Teater 108.

Ruang sekretariat Teater Orok Noceng pun menjadi ruang keluarga yang hangat. Yang muda, yang sepuh punya hak bicara yang sama. Yang tidak mau bicara, dipaksa untuk bersuara. Bukan apa-apa, itu hanya untuk melatih keberanian berpendapat di depan umum.

Bahan diskusi perdana itu adalah pementasan drama satu babak berjudul Pinangan karya Anton Chekov yang dibawakan oleh Komunitas Teratai pada tanggal 30 Juni 2017 di Bentara Budaya Bali, serta oleh Teater Tiga SMA Negeri 3 Denpasar dengan naskah yang sama di acara Makramat (Malam Kreativitas Anak Muda Tiga) tahun 2014 yang lalu.

Ada rasa yang berbeda dari dua pementasan yang disajikan. Cenderung bertolak belakang. Namun sebelum menuju ulasan kedua pementasan tersebut, kami sangat mengapresiasi kawan-kawan dari Komunitas Teratai yang meskipun dengan keterbatasannya, mereka tetap semangat berkarya dan mewujudkan sesuatu yang selama ini dipandang tidak mungkin bagi kebanyakan orang. Hal ini patut memacu semangat kawan-kawan yang lain, bahwa sebenarnya bukan keterbatasan fisik yang membuat kita tidak produktif, tetapi ada tidaknya tekad dan keinginan untuk memulai.

Kembali lagi pada catatan tentang pementasan Pinangan.

Konteks dan Logika Peristiwa

Membawakan naskah adaptasi, bukan berarti seenaknya mengobrak-abrik naskah tersebut dan dengan instan menghadirkan tempelan-tempelan agar pertunjukan seolah menjadi lebih dekat dengan kita – penonton. Meskipun sutradara sah-sah saja mengolah naskah menjadi bentuk yang bagaimana, seperti kata Abu Bakar dalam sesi diskusi tentang adaptasi naskah pada 30 Juni 2017 di Bentara Budaya Bali yang lalu. Tetapi menurut Jong, perlu disadari bahwa  riset yang dalam perlu dilakukan untuk dapat menyesuaikan antara teks dengan kejadian-kejadian yang sepadan dengannya.

Pada pertunjukan Pinangan yang dipentaskan Sabtu lalu, terdapat konteks yang tidak jelas tentang Lapangan Renon yang membentang dari Sanur dan diperebutkan oleh Agus Tubagus dengan Ratna Kholil. Lapangan Renon dihadirkan untuk mengganti Lapangan Sari Gading yang disebutkan naskah, bahwa lapangan itu membentang dari Anyer sampai Jakarta. Disebutkan pula bahwa lapangan tersebut digunakan untuk aktivitas pertanian. Itu sudah sangat jelas di naskah.

Lalu, yang masih menjadi pertanyaan adalah, mengapa Lapangan Renon itu dihadirkan di sana? Sementara, dari segi logika saja, kita yang mengetahui keberadaan Lapangan Renon itu, pasti merasakan kejanggalan, karena sudah barang tentu lapangan itu secara nyata bukan merupakan tempat untuk bertani. Jadi, tidak pas jika Lapangan Renon hadir di sana dengan konteks sebagai lahan pertanian.

“Terlepas dari konteks dan logika peristiwa yang tidak pas, pementasan Komunitas Teratai itu lebih kelihatan unsur kedaerahannya. Dari segi kostum dan kehadiran Lapangan Renon di dalamnya,” begitu tambah Nadya Kirana, Teater Orok.

Ya, kostum. Hal kecil tapi sedikit menggelitik. Terutama kostum yang dikenakan oleh tokoh Ratna Kholil. Mungkin teman-teman yang menonton pementasan itu, tidak semua sependapat. Apa yang salah dengan kostum yang sangat rapi dengan balutan kebaya, kamen, lengkap dengan riasan khas Bali-nya? Bahkan dengan kostum tersebut, tokohnya terlihat makin cantik.

Kembali lagi pada teks, di sana sudah sangat jelas bahwa tokoh Ratna, tidak tahu bahwa ia akan dilamar oleh Tubagus. Bahkan dia juga menyampaikan permintaan maaf karena memakai baju jelek saat itu. Mengacu pada teks tersebut, seharusnya kostum yang dikenakan bisa lebih disederhanakan lagi agar terlihat lebih rumahan. Dengan begitu, akan ada kesesuaian antara teks dengan visualnya. Hal ini tentu berbeda dengan Agus Tubagus yang berpakaian layaknya seorang yang ingin melamar, sudah sewajarnya demikian rapinya. “Penyesuaian yang kurang pas dengan logika, akan membuat pesan tidak sampai ke penonton,” tambah Nadya.

Sementara, dari pementasan Teater Tiga yang saat itu disutradarai oleh Nadya, naskah secara utuh dimainkan. Hal ini dilakukan atas dasar pertimbangan bahwa mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengadakan sebuah riset. “Selain karena tidak ada cukup waktu untuk riset, keputusan untuk memainkan naskah secara utuh juga dilakukan karena Teater Tiga masih berada pada tataran SMA. Mereka harus belajar dari dasar sebelum akhirnya nanti menggarap dengan bentuk-bentuk yang lain,” begitu tambahan dari Iwan CRX, selaku produser garapan tersebut.

Meskipun memainkan naskah dengan utuh, penonton tidak diberi kesempatan untuk merasa bosan, karena adegan demi adegan terbangun dengan cantik.

Secara konteks pun pementasan ini lebih masuk akal. Tokoh Ratna Kholil digambarkan sebagai gadis yang tomboy. Rupanya, penggambaran itu dipilih karena mengacu pada teks tentang nasib Ratna yang seret jodoh. Kostum semua aktor pun lebih sederhana dan rumahan, kecuali Tubagus, karena dia punya agenda melamar Ratna.

Bisnis dan Tawaran Akting

Setiap gerakan maupun bisnis-bisnis di atas panggung, harus ada dasarnya, entah itu dilakukan untuk memperjelas karakter tokohnya, menunjukkan perasaannya, atau respon terhadap sesuatu yang terjadi padanya.

Jika kita menyadari, naskah Pinangan menyediakan berbagai tawaran akting dan bisnis di dalamnya. Kejadian maupun konflik yang hadir pada naskah, menjadi sebuah komedi yang natural. Tapi sayangnya, peluang-peluang itu belum digarap secara maksimal pada pementasan Komunitas Teratai yang disutradarai oleh Hendra Utay tersebut. Adegan demi adegan digambarkan dengan lurus-lurus saja seperti teks, minim “permainan”.

Sementara pementasan Teater Tiga lebih kaya dengan bisnis dan tawaran akting. Properti di panggung pun tidak hanya menjadi tempelan, tetapi ikut dimainkan. Misalnya ketika sedang gugup, Tubagus meremas tangan kursi dan dasi berkali-kali. Pada adegan percakapan antara ketiga tokoh, cemilan dalam toples di atas meja tidak hanya menjadi pajangan, tetapi juga benar-benar dimakan. Bagian ini terasa pas karena percakapannya masih santai.

Emosi dan Motivasi Gerak

Emosi yang terbangun dalam pementasan Komunitas Teratai masih patah-patah. Hal ini sangat menonjol ketika adegan pertengkaran antara Agus Tubagus dengan Ratna Kholil. Intonasi yang sudah tinggi tidak dibarengi dengan tempo dialog yang sepadan, sehingga terkesan saling tunggu. Jiwa antara aktor dengan karakter yang dimainkan belum menyatu, terutama pada tokoh Agus Tubagus, sehingga di bagian-bagian saat dia diam,  kentara sekali dia kehilangan nyawa, seolah dia menjadi aktor hanya saat dia mendapat bagian dialog.

“Yang cukup menjadi penyelamat adalah aktor yang memerankan tokoh Rukmana Kholil. Pembawaannya yang tenang memberikan atmosfer yang berbeda di tengah konflik Tubagus dengan Ratna,” begitu komentar Ayik, Teater 108.

Mengenai motivasi gerak, hal ini menjadi sangat penting untuk membangun suatu kejadian. Tubuh dengan dialog yang diucapkan mestinya saling mendukung. “Gerak itu akan membantu mengisi kekosongan ketika aktor tidak mampu membangun sebuah peristiwa dengan dialog,” kata CRX.

Misalnya, saat pertama kali adegan sakit jantung itu muncul. Kurang ada motivasi yang kuat untuk menyatakan bahwa Agus Tubagus terkena penyakit jantung, karena sebelumnya dia tidak menunjukkan gejala-gejala kesakitan yang membuat itu menjadi masuk akal.

Berbeda dengan Teater Tiga, peristiwa-peristiwa yang diwujudkan di atas panggung, lebih jelas motivasinya. Sebelum adegan sakit jantung memuncak, terlihat gejala-gejala yang menunjukkan bahwa Agus Tubagus sedang kesakitan. Meskipun sama-sama memegang dada bagian kiri saat adegan itu, aktor dari Teater Tiga lebih mampu untuk mengekspresikan rasa sakitnya, didukung dengan dialognya yang menjadi lebih terbata-bata.

Pada bagian romantisme, kedua pementasan mampu menghadirkan suasana jatuh cinta dengan didukung pula oleh musik pengiring, serta gestur yang menunjukkan suatu keintiman.

Terlepas dari beberapa hal yang menjadi kekurangan, pendapat yang berbeda disampaikan oleh Ayik dan Tress, Teater Orok. secara keseluruhan mereka lebih menyukai pementasan yang dibawakan oleh Komunitas Teratai. Sebab, dinilai lebih to the point dan tidak bertele-tele.

Sedangkan Gayuh Asmara, Teater Rakmung, mengakui bahwa ia kagum terhadap kawan-kawan Komunitas Teratai. Sebab, saat menonton rekaman pementasan mereka, ia belum menyadari bahwa beberapa aktornya adalah kawan kita yang memiliki keterbatasan penglihatan dan tidak menyangka bahwa mereka memiliki semangat yang luar biasa untuk terus berkarya. Di situ Gayuh juga menyampaikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghambat jika kita ingin menjadi aktor.

Tetapi memang, di sisi lain perlu kesabaran dan kerja yang ekstra dari sutradaranya. Sutradara harus memiliki metode melatih, terlebih bagi kawan-kawan yang memiliki keterbatasan fisik, entah penglihatan, pendengaran, atau yang lainnya. “Oh iya, satu kritik lagi, warna tembok bawah di setting panggung Teater Tiga itu malah membuat warna lain yang tertumpuk dengannya menjadi mati. Warnanya biru gelap, menenggelamkan hijaunya daun dan baju yang dipakai oleh tokoh Agus Tubagus,” tutupnya.

Malam terlewati dengan cepat, tengah malam berlalu tanpa terasa. Diskusi ditutup dengan agenda latihan reguler dan jadwal diskusi selanjutnya. Diskusi selesai, tapi ruang keluarga masih ramai… (T)

Tags: resensiSeniseni pertunjukanTeater
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

“Wahai Sekolah, Kini Aku Takut Padamu!”

Next Post

Ke Twin Lake Buyan-Tamblingan, Selfie adalah Sebuah Cita-cita

Iin Valentine

Iin Valentine

Sedang belajar teater. Suka buku, musik, dan foto. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Ke Twin Lake Buyan-Tamblingan, Selfie adalah Sebuah Cita-cita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co