24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Imajinasi Anak Itu Penting?

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

TAK mengherankan membaca situs berita Kompas dengan judul “Daya Imajinasi Siswa Lemah” yang juga pernah dimuat versi cetaknya edisi 15 Desember 2016. Dalam berita itu dijelaskan bahwa pendidikan Indonesia masih membuat daya imajinasi anak tumpul karena hapalan. Tentu permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum, tetapi tetap saja sebagian masyarakat tidak mau merubah paradigma ini.

Sebab, selama puluhan tahun, sebagian besar sekolah hanya bergelut pada pendidikan dua gunung dan di tengah-tengah ada matahari yang dihiasi hamparan persawahan. Padahal alam sudah semakin menakutkan berada di ujung tanduk kehancuran.

Kalau tidak percaya dengan kecemasan pendidikan ini, coba lihat anak-anak di sekolah dalam menggambar. Imajinasi anak-anak akan terkurung pada pola gambar matahari, gunung, bunga, sawah, pohon kelapa, dan jalan ada di tengah-tengahnya. Walaupun kelihatan gambarnya berbeda, tetapi tetap saja menampilkan pola yang sama.

Atau, batu bata diletakkan di atas meja. Kemudian, anak-anak diminta, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan batu bata ini?”.

Jika dilakukan survai di antara puluhan anak-anak, mungkin sebagian besar anak-anak akan menjawab, ”Aku akan membuat dinding tembok rumah dengan batu bata itu”.

Lalu, hanya satu anak yang menjawab, “Aku akan melempar maling di rumahku dengan batu bata itu.”

Bahkan, mungkin tidak akan ada anak menggambarkan batu bata itu di luar sudut pandang fungsi baku batu bata itu sendiri.

Di samping itu, ada sebuah kebiasaan bertanya, “Boleh gak aku …?” yang mungkin sebagian orang terlihat sepele atau tidak penting. Kalau tidak percaya, coba lakukan kegiatan kreativitas bersama anak-anak, pasti ada anak yang akan bertanya, “Pak, boleh tidak saya buat kayak gini? Pak, seperti ini ya buatnya?”

Kebiasaan bertanya yang memerlukan jawaban “boleh atau tidak” menjamur dan menjadi penyakit akut dari TK sampai SMA bahkan mungkin sampai ke perguruan tinggi. Akibatnya, imajinasinya sendiri dikekang dalam ketakutan penilaian orang lain.

Mengapa imajinasi anak-anak semakin tumpul? Di sini sudah dilupakan, imajinasi anak ketika masa kanak-kanak dibunuh. Kemudian, ketika memasuki sekolah formal, kematian imajinasi anak dilegalkan oleh sebagian besar sekolah dengan menerbitkan surat kematian imajinasi secara lisan.

Jadi teringat dengan cerita Ibu Nengah, seorang guru PAUD yang diprotes oleh guru SD kelas 1 karena sepuluh anak didiknya dulu. Ketika hari pertama masuk sekolah, anak-anak diberikan pilihan. “Anak-anak, siapa yang tidak ingin belajar boleh keluar dari kelas ini!” ucap guru SD itu memberi pilihan.

Guru SD melakukan hal itu tentu bermaksud untuk menakuti anak agar mau belajar serius. Akan tetapi, ketika mendengar perkataan guru SD-nya itu, sepuluh anak didik itu langsung keluar ruang kelas.

“Jelas anak-anak itu mengikuti ucapan ibu. Anak-anak ketika di PAUD sudah terbiasa bebas memilih permainan atau kegiatan yang mereka inginkan. Namun, mereka tetap tahu atau paham aturan bermain atau berkegiatan,” ucap Ibu Nengah.

Lalu, sikap keberanian kesepuluh anak itu dalam memilih atau menentukan pilihannya berdasarkan imajinasinya mulai terpotong semenjak saat itu. Sebab, kata-kata peringatan/larangan dengan tujuan anak-anak tetap anteng duduk mengikuti pelajaran berjam-jam selalu terpaku dalam kepala selama bertahun-tahun. Tak salah, anak-anak menjadi tidak berani dan takut mengambil sikap dalam menyatakan imajinasinya.

Berbeda halnya dengan anak yang tidak dibunuh daya imajinasinya. Anak akan penuh kebanggaan dan berani menuangkan setiap daya imajinasinya ke dalam dunia nyata. Apalagi, jika hasil karya imajinasi anak dipuji, mereka pun tapa batas mengembangkan daya imajinasinya tanpa rasa dikerdilkan.

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

Sama halnya seperti Atlisna tanpa rasa takut dan penuh kebanggaan mengungkapkan imajinasinya. “Kak, aku menggambar Ikan Robot. Nanti, aku masuk ke dalam ikan robot ini dan bisa melihat banyak ikan di laut,” ucap Aklisna bangga.

Ini terjadi, ketika seorang guru, Angga, membahas topik ikan di kelas PAUD/TK dan menggambar ikan yang mereka sukai. Angga sungguh kagum dengan imajinasi Aklisna.

“Aklisna, mudah-mudahan ketika masuk sekolah formal, imajinasimu tidak dibunuh.” Doa Angga dalam hatinya.

Anak seumuran PAUD mulai tumbuh bibit pemikiran imajinasi yang unik. Meskipun, orang dewasa melihat gambar Aklisna sebagai goresan anak-anak yang biasa.

Nah, masalahnya sebagian besar orangtua/guru tidak paham bahwa masa kanak-kanak merupakan masa anak hidup di dunia imajinasinya. Sebab, pengembang imajinasi adalah dasar awal melatih memori intelijen anak. Karena, selama ini yang dibanggakan adalah short-term memory dan long term memory. Orangtua bangga terhadap anaknya yang mampu menghafal dan mengingat hal-hal yang terdahulu.

Memang melatih short-term memory dan long term memory penting bagi anak. Tapi, jika hanya fokus pada kedua memori itu, anak hanya seperti ensiklopedia berjalan. Oleh sebab itu, memori intelejen memberikan peran penting bagi short-term memory dan long term memory. Sebab, memori intelenjen adalah kemampuan memori dalam menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan short-term memory maupun long term memory. Dan, dari memori intelenjen itulah, anak mampu dengan mudah memecahkah masalah, melahirkan pemikiran baru, dan menjadi kreatif.

Kembali ke gambar Ikan Robot, Aklisna berimajinasi berada dalam Ikan Robot agar bisa melihat ikan-ikan yang ada di laut. Kemudian, memori intelejen Aklisna bekerja dengan menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan ingatannya tentang ikan dan robot. Lalu, terlahirlah Ikan Robot.

Caba kalau imajinasi Aklisna itu dihentikan, “Mengapa kamu mengambar ikan seperti itu? Ikan tidak seperti itu. Gambar kamu jelek.” Maka, memori intelejen tidak akan telatih maupun berkembang. Kemudian, jangan mengeluh kalau sebagian besar anak-anak hanya bisa mengerjakan soal yang sifatnya hafalan. Soal yang jawaban tersimpan dalam short-term memory maupun long term memory.

Lalu, masihkah kita menganggap imajinasi itu tidak penting bagi perkembangan intelenjen anak? (T)

Tags: anak-anakPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar JKP Lagukan 5 Puisi, Teater Antariksa Berkisah 2 Mpu

Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co