14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Imajinasi Anak Itu Penting?

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

TAK mengherankan membaca situs berita Kompas dengan judul “Daya Imajinasi Siswa Lemah” yang juga pernah dimuat versi cetaknya edisi 15 Desember 2016. Dalam berita itu dijelaskan bahwa pendidikan Indonesia masih membuat daya imajinasi anak tumpul karena hapalan. Tentu permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum, tetapi tetap saja sebagian masyarakat tidak mau merubah paradigma ini.

Sebab, selama puluhan tahun, sebagian besar sekolah hanya bergelut pada pendidikan dua gunung dan di tengah-tengah ada matahari yang dihiasi hamparan persawahan. Padahal alam sudah semakin menakutkan berada di ujung tanduk kehancuran.

Kalau tidak percaya dengan kecemasan pendidikan ini, coba lihat anak-anak di sekolah dalam menggambar. Imajinasi anak-anak akan terkurung pada pola gambar matahari, gunung, bunga, sawah, pohon kelapa, dan jalan ada di tengah-tengahnya. Walaupun kelihatan gambarnya berbeda, tetapi tetap saja menampilkan pola yang sama.

Atau, batu bata diletakkan di atas meja. Kemudian, anak-anak diminta, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan batu bata ini?”.

Jika dilakukan survai di antara puluhan anak-anak, mungkin sebagian besar anak-anak akan menjawab, ”Aku akan membuat dinding tembok rumah dengan batu bata itu”.

Lalu, hanya satu anak yang menjawab, “Aku akan melempar maling di rumahku dengan batu bata itu.”

Bahkan, mungkin tidak akan ada anak menggambarkan batu bata itu di luar sudut pandang fungsi baku batu bata itu sendiri.

Di samping itu, ada sebuah kebiasaan bertanya, “Boleh gak aku …?” yang mungkin sebagian orang terlihat sepele atau tidak penting. Kalau tidak percaya, coba lakukan kegiatan kreativitas bersama anak-anak, pasti ada anak yang akan bertanya, “Pak, boleh tidak saya buat kayak gini? Pak, seperti ini ya buatnya?”

Kebiasaan bertanya yang memerlukan jawaban “boleh atau tidak” menjamur dan menjadi penyakit akut dari TK sampai SMA bahkan mungkin sampai ke perguruan tinggi. Akibatnya, imajinasinya sendiri dikekang dalam ketakutan penilaian orang lain.

Mengapa imajinasi anak-anak semakin tumpul? Di sini sudah dilupakan, imajinasi anak ketika masa kanak-kanak dibunuh. Kemudian, ketika memasuki sekolah formal, kematian imajinasi anak dilegalkan oleh sebagian besar sekolah dengan menerbitkan surat kematian imajinasi secara lisan.

Jadi teringat dengan cerita Ibu Nengah, seorang guru PAUD yang diprotes oleh guru SD kelas 1 karena sepuluh anak didiknya dulu. Ketika hari pertama masuk sekolah, anak-anak diberikan pilihan. “Anak-anak, siapa yang tidak ingin belajar boleh keluar dari kelas ini!” ucap guru SD itu memberi pilihan.

Guru SD melakukan hal itu tentu bermaksud untuk menakuti anak agar mau belajar serius. Akan tetapi, ketika mendengar perkataan guru SD-nya itu, sepuluh anak didik itu langsung keluar ruang kelas.

“Jelas anak-anak itu mengikuti ucapan ibu. Anak-anak ketika di PAUD sudah terbiasa bebas memilih permainan atau kegiatan yang mereka inginkan. Namun, mereka tetap tahu atau paham aturan bermain atau berkegiatan,” ucap Ibu Nengah.

Lalu, sikap keberanian kesepuluh anak itu dalam memilih atau menentukan pilihannya berdasarkan imajinasinya mulai terpotong semenjak saat itu. Sebab, kata-kata peringatan/larangan dengan tujuan anak-anak tetap anteng duduk mengikuti pelajaran berjam-jam selalu terpaku dalam kepala selama bertahun-tahun. Tak salah, anak-anak menjadi tidak berani dan takut mengambil sikap dalam menyatakan imajinasinya.

Berbeda halnya dengan anak yang tidak dibunuh daya imajinasinya. Anak akan penuh kebanggaan dan berani menuangkan setiap daya imajinasinya ke dalam dunia nyata. Apalagi, jika hasil karya imajinasi anak dipuji, mereka pun tapa batas mengembangkan daya imajinasinya tanpa rasa dikerdilkan.

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

Sama halnya seperti Atlisna tanpa rasa takut dan penuh kebanggaan mengungkapkan imajinasinya. “Kak, aku menggambar Ikan Robot. Nanti, aku masuk ke dalam ikan robot ini dan bisa melihat banyak ikan di laut,” ucap Aklisna bangga.

Ini terjadi, ketika seorang guru, Angga, membahas topik ikan di kelas PAUD/TK dan menggambar ikan yang mereka sukai. Angga sungguh kagum dengan imajinasi Aklisna.

“Aklisna, mudah-mudahan ketika masuk sekolah formal, imajinasimu tidak dibunuh.” Doa Angga dalam hatinya.

Anak seumuran PAUD mulai tumbuh bibit pemikiran imajinasi yang unik. Meskipun, orang dewasa melihat gambar Aklisna sebagai goresan anak-anak yang biasa.

Nah, masalahnya sebagian besar orangtua/guru tidak paham bahwa masa kanak-kanak merupakan masa anak hidup di dunia imajinasinya. Sebab, pengembang imajinasi adalah dasar awal melatih memori intelijen anak. Karena, selama ini yang dibanggakan adalah short-term memory dan long term memory. Orangtua bangga terhadap anaknya yang mampu menghafal dan mengingat hal-hal yang terdahulu.

Memang melatih short-term memory dan long term memory penting bagi anak. Tapi, jika hanya fokus pada kedua memori itu, anak hanya seperti ensiklopedia berjalan. Oleh sebab itu, memori intelejen memberikan peran penting bagi short-term memory dan long term memory. Sebab, memori intelenjen adalah kemampuan memori dalam menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan short-term memory maupun long term memory. Dan, dari memori intelenjen itulah, anak mampu dengan mudah memecahkah masalah, melahirkan pemikiran baru, dan menjadi kreatif.

Kembali ke gambar Ikan Robot, Aklisna berimajinasi berada dalam Ikan Robot agar bisa melihat ikan-ikan yang ada di laut. Kemudian, memori intelejen Aklisna bekerja dengan menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan ingatannya tentang ikan dan robot. Lalu, terlahirlah Ikan Robot.

Caba kalau imajinasi Aklisna itu dihentikan, “Mengapa kamu mengambar ikan seperti itu? Ikan tidak seperti itu. Gambar kamu jelek.” Maka, memori intelejen tidak akan telatih maupun berkembang. Kemudian, jangan mengeluh kalau sebagian besar anak-anak hanya bisa mengerjakan soal yang sifatnya hafalan. Soal yang jawaban tersimpan dalam short-term memory maupun long term memory.

Lalu, masihkah kita menganggap imajinasi itu tidak penting bagi perkembangan intelenjen anak? (T)

Tags: anak-anakPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar JKP Lagukan 5 Puisi, Teater Antariksa Berkisah 2 Mpu

Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co