2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Benarkah Imajinasi Anak Itu Penting?

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

TAK mengherankan membaca situs berita Kompas dengan judul “Daya Imajinasi Siswa Lemah” yang juga pernah dimuat versi cetaknya edisi 15 Desember 2016. Dalam berita itu dijelaskan bahwa pendidikan Indonesia masih membuat daya imajinasi anak tumpul karena hapalan. Tentu permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum, tetapi tetap saja sebagian masyarakat tidak mau merubah paradigma ini.

Sebab, selama puluhan tahun, sebagian besar sekolah hanya bergelut pada pendidikan dua gunung dan di tengah-tengah ada matahari yang dihiasi hamparan persawahan. Padahal alam sudah semakin menakutkan berada di ujung tanduk kehancuran.

Kalau tidak percaya dengan kecemasan pendidikan ini, coba lihat anak-anak di sekolah dalam menggambar. Imajinasi anak-anak akan terkurung pada pola gambar matahari, gunung, bunga, sawah, pohon kelapa, dan jalan ada di tengah-tengahnya. Walaupun kelihatan gambarnya berbeda, tetapi tetap saja menampilkan pola yang sama.

Atau, batu bata diletakkan di atas meja. Kemudian, anak-anak diminta, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan batu bata ini?”.

Jika dilakukan survai di antara puluhan anak-anak, mungkin sebagian besar anak-anak akan menjawab, ”Aku akan membuat dinding tembok rumah dengan batu bata itu”.

Lalu, hanya satu anak yang menjawab, “Aku akan melempar maling di rumahku dengan batu bata itu.”

Bahkan, mungkin tidak akan ada anak menggambarkan batu bata itu di luar sudut pandang fungsi baku batu bata itu sendiri.

Di samping itu, ada sebuah kebiasaan bertanya, “Boleh gak aku …?” yang mungkin sebagian orang terlihat sepele atau tidak penting. Kalau tidak percaya, coba lakukan kegiatan kreativitas bersama anak-anak, pasti ada anak yang akan bertanya, “Pak, boleh tidak saya buat kayak gini? Pak, seperti ini ya buatnya?”

Kebiasaan bertanya yang memerlukan jawaban “boleh atau tidak” menjamur dan menjadi penyakit akut dari TK sampai SMA bahkan mungkin sampai ke perguruan tinggi. Akibatnya, imajinasinya sendiri dikekang dalam ketakutan penilaian orang lain.

Mengapa imajinasi anak-anak semakin tumpul? Di sini sudah dilupakan, imajinasi anak ketika masa kanak-kanak dibunuh. Kemudian, ketika memasuki sekolah formal, kematian imajinasi anak dilegalkan oleh sebagian besar sekolah dengan menerbitkan surat kematian imajinasi secara lisan.

Jadi teringat dengan cerita Ibu Nengah, seorang guru PAUD yang diprotes oleh guru SD kelas 1 karena sepuluh anak didiknya dulu. Ketika hari pertama masuk sekolah, anak-anak diberikan pilihan. “Anak-anak, siapa yang tidak ingin belajar boleh keluar dari kelas ini!” ucap guru SD itu memberi pilihan.

Guru SD melakukan hal itu tentu bermaksud untuk menakuti anak agar mau belajar serius. Akan tetapi, ketika mendengar perkataan guru SD-nya itu, sepuluh anak didik itu langsung keluar ruang kelas.

“Jelas anak-anak itu mengikuti ucapan ibu. Anak-anak ketika di PAUD sudah terbiasa bebas memilih permainan atau kegiatan yang mereka inginkan. Namun, mereka tetap tahu atau paham aturan bermain atau berkegiatan,” ucap Ibu Nengah.

Lalu, sikap keberanian kesepuluh anak itu dalam memilih atau menentukan pilihannya berdasarkan imajinasinya mulai terpotong semenjak saat itu. Sebab, kata-kata peringatan/larangan dengan tujuan anak-anak tetap anteng duduk mengikuti pelajaran berjam-jam selalu terpaku dalam kepala selama bertahun-tahun. Tak salah, anak-anak menjadi tidak berani dan takut mengambil sikap dalam menyatakan imajinasinya.

Berbeda halnya dengan anak yang tidak dibunuh daya imajinasinya. Anak akan penuh kebanggaan dan berani menuangkan setiap daya imajinasinya ke dalam dunia nyata. Apalagi, jika hasil karya imajinasi anak dipuji, mereka pun tapa batas mengembangkan daya imajinasinya tanpa rasa dikerdilkan.

Lukisan Ikan Robot karya Atlisna

Sama halnya seperti Atlisna tanpa rasa takut dan penuh kebanggaan mengungkapkan imajinasinya. “Kak, aku menggambar Ikan Robot. Nanti, aku masuk ke dalam ikan robot ini dan bisa melihat banyak ikan di laut,” ucap Aklisna bangga.

Ini terjadi, ketika seorang guru, Angga, membahas topik ikan di kelas PAUD/TK dan menggambar ikan yang mereka sukai. Angga sungguh kagum dengan imajinasi Aklisna.

“Aklisna, mudah-mudahan ketika masuk sekolah formal, imajinasimu tidak dibunuh.” Doa Angga dalam hatinya.

Anak seumuran PAUD mulai tumbuh bibit pemikiran imajinasi yang unik. Meskipun, orang dewasa melihat gambar Aklisna sebagai goresan anak-anak yang biasa.

Nah, masalahnya sebagian besar orangtua/guru tidak paham bahwa masa kanak-kanak merupakan masa anak hidup di dunia imajinasinya. Sebab, pengembang imajinasi adalah dasar awal melatih memori intelijen anak. Karena, selama ini yang dibanggakan adalah short-term memory dan long term memory. Orangtua bangga terhadap anaknya yang mampu menghafal dan mengingat hal-hal yang terdahulu.

Memang melatih short-term memory dan long term memory penting bagi anak. Tapi, jika hanya fokus pada kedua memori itu, anak hanya seperti ensiklopedia berjalan. Oleh sebab itu, memori intelejen memberikan peran penting bagi short-term memory dan long term memory. Sebab, memori intelenjen adalah kemampuan memori dalam menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan short-term memory maupun long term memory. Dan, dari memori intelenjen itulah, anak mampu dengan mudah memecahkah masalah, melahirkan pemikiran baru, dan menjadi kreatif.

Kembali ke gambar Ikan Robot, Aklisna berimajinasi berada dalam Ikan Robot agar bisa melihat ikan-ikan yang ada di laut. Kemudian, memori intelejen Aklisna bekerja dengan menyatukan, memahami, menganalisis, dan menyimpulkan hubungan potongan-potongan ingatannya tentang ikan dan robot. Lalu, terlahirlah Ikan Robot.

Caba kalau imajinasi Aklisna itu dihentikan, “Mengapa kamu mengambar ikan seperti itu? Ikan tidak seperti itu. Gambar kamu jelek.” Maka, memori intelejen tidak akan telatih maupun berkembang. Kemudian, jangan mengeluh kalau sebagian besar anak-anak hanya bisa mengerjakan soal yang sifatnya hafalan. Soal yang jawaban tersimpan dalam short-term memory maupun long term memory.

Lalu, masihkah kita menganggap imajinasi itu tidak penting bagi perkembangan intelenjen anak? (T)

Tags: anak-anakPendidikanpendidikan usia dini
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar JKP Lagukan 5 Puisi, Teater Antariksa Berkisah 2 Mpu

Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Musikalisasi Puisi “Pohon Kita”: Lebih Berwarna dan Aransemennya Apik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co