14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus, Coret Seragam? Ah, Kuno! Bagaimana kalau Bagi-bagi Nasi Bungkus…

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

Sejumlah pelajar SMAN 1 Negara bagi-bagi nasi bungkus untuk perayaaan kelulusan mereka. /Foto: FB/Witari Ari

KAMU lulus? Wow, selamat ya, selamat. Setelah melewati ujian nasional sebulan lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017, ini kamu dinyatakan lulus. Selamat, ya, selamat.

Saya beberapa tahun lalu, waktu lulus SMA juga gembira dan bahagia. Iya, iya-lah. Lulus dapat dikatakan sebagai hasil belajar yang keras dan kerja yang keras juga. Belajar siang malam, belum lagi ikut bimbingan belajar, belum berkorban untuk pacar, teman, sahabat dan lain-lain. Begitu dinyatakan lulus, langsung merasa lulus dari semua rintangan, bukan sekadar lulus dari ujian nasional, tapi lulus juga dari bimbingan belajar dan lulus dari guru kiler yang rajin masuk kelas.

Bentuk kebahagian memang harus diungkapkan. Tentu setiap pelajar punya caranya masing-masing untuk mengekspresikan kebahagiannya. Ada yang melompat-lompat kegirangan, ada yang menangis (menangis bahagia), ada yang menulis status di media sosial dengan kata-kata lebay, dan tak lupa mengucapkan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.

Di Indonesia umumnya, tak terkecuali di Bali, ada sejumlah ungkapan ekspresi yang sepertinya menjadi tradisi dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Selalu ada, tak pernah tak ada. Selalu hadir, tak pernah absen.

Corat-Coret Seragam Sekolah

Ini dia tradisi atau ritual yang selalu ada setiap pengumuman kelulusan ujian nasional pelajar sekolah menengah. Corat-coret seragam sekolah. Tradisi turun temurun. Entah sejak kapan dimulai dan siapa yang memulai. Semuanya misteri.

Biasanya seragam sekolah dicoret spidol dan pilox warna-warni. Ciee, mungkin biar hidupnya juga penuh warna, bukan grayscale melulu. Coretan yang dituangkan di seragam itu pun bermacam-macam. Biasanya para pelajar akan menulis nama dan tanda tangan mereka.

Ada juga pesan dan kesan, contohnya “Jangan lupakan aku”, “Aku rindu masa-masa kita dulu”, “Semoga kamu bahagia dengannya yang tak lebih mencintaimu daripada aku”. Hahaha, ketahuan deh kalau yang nulis itu pasti mantan, entah mantan pacar atau mantan calon pacar.

Yang hobi main gitar bisa saja menulis sepenggal lirik lagu lengkap dengan chord gitarnya. Pelajar yang menjadi budak-budak sajak akan menuliskan kata-kata puitis, kadang romantic. Ciee, jadi baper.

Yang jago matematika menulis  rumus matematika. Yang jago kimia menulis rumus kimia. Yang jago fisika menulis rumus fisika. Kalau yang jago biologi? Hhmmm mungkin akan menggambar alat reproduksi. Eits.

Ada pula yang sudah menggambar sehari sebelum kelulusan. Ya, ada lho. Yang digambar juga bermacam-macam. Ada gambar monster, karikatur, kartun, anime jepang, dan lain-lain. tapi sebenarnya yang paling banyak ada adalah coretan-coretan tidak jelas, tidak berbentuk, abstrak, tidak terdefinisi. Hanya pelajar yang mempunyai jiwa seni tingkat tinggi yang bisa membacanya.

Modifikasi Seragam Sekolah

Seragam sekolah yang dicorat-coret pun juga dimodifikasi, atau istilah lainnya dipreteli. Pelajar cowok merobek celana panjang di bagian lutut. Lengan baju juga ada yang dirobek. Pelajar cewek juga ikut-ikutan merobek roknya dari paha sampai ke ujung. Pokoknya di beberapa bagian ada robek-robeknya. Ya, positivef thinking sajalah.

Dengan begitu para pelajar jadi terlihat lebih gaul dan keren, bukan? Iya, kan? Iya dong. Hahaha, atau robek-robek memang lagi trend ya? Ah, terserah deh. Entah siapa yang mulai dan siapa yang mempopulerkan. Tak ada yang tahu, selain Tuhan.

Konvoi Motor dan Mobil

Setelah puas corat-coret, modifikasi motor, kemudian mengambil foto dengan berbagai gaya, selfie sana-sini, groupfie, wefie, dan lain-lain. Tradisi selanjutnya adalah konvoi motor dan mobil. Mereka juga melengkapi diri dengan atribut lain seperti bendera yang membuat suasana (suasananya mereka) menjadi lebih ramai dan lebih meriah.

Biasanya mereka akan pergi menuju suatu tempat yang bisa dikatakan asyik, seperti pantai, danau, puncak, tempat yang memiliki npemandangan yang indah, cocok dipakai tempat foto bareng, dan lain-lain.

Alhasil jalanan dan tempat tersebut menjadi ramai, karena mereka konvoi beramai-ramai, satu sekolah, kemudian di jalan bertemu dengan rombongan dari sekolah lainnya, dan di tempat yang dituju bertemu lagi dengan rombongan dari sekolah lainnya juga. Tak jarang tradisi ini mengundang kemacetan dan kebisingan.

Pelajar yang konvoi biasanya akan membunyikan klakson motor dan mobil berkali-kali saat bertemu dengan rombongan pelajar dari sekolah lain. Tiin tiin tinnnn……….Duh pokoknya bising. Tapi, ya, sekali lagi positive thinking. Mungkin itu adalah cara mereka berkomunikasi satu sama lain, ya, dengan klakson. Satu lagi, tradisi ini juga mengundang masalah keamanan dan tertib berlalu lintas, karena ternyata banyak pelajar yang tidak memakai helm saat konvoi. Waduh, pakai dong helmnya.

Minum-Minum

Nah, tradisi yang berikut ini tidak terlalu sering ada, tapi ada saja, satu atau dua kelompok pelajar yang melakukan ini. Minum-minum dalam rangka merayakan kelulusan. Nah, apa yang diminum? Apakah air putih atau air putih campur marimas? Ternyata, yang diminum saat tradisi minum-minum ini adalah minuman keras, dalam artian minuman yang memiliki kadar alkohol yang tinggi, bukan minuman yang beku, meskipun minuman beku juga minuman keras karena membeku.

Wah, itu bahaya. Kalau mabuk, hal buruk bisa terjadi. Tawuran antar pelajar misalnya. Ada yang seperti ini? Ada, dulu, dan minum-minum biasanya ada juga, tapi sedikit. Jangan diteruskan deh tradisi ini.

Short Time

Ups, short time maksudnya apa ya? Begini lho, ada pelajar yang menafaatkan moment merayakan kelulusan ini untuk minta jatah. Iya, jatah. Pokoknya begitu deh. Hehehe paham kan maksudnya?

Memang, untuk hal yang satu ini, sifatnya tersembunyi. Berbeda dengan coret seragam dan konvoi motor yang memang harus  diperlihatkan. Yang satu ini tersembunyi. Namun, penjaga penginapan tetep saja akan cerita. Dan saya pernah dapet ceritanya.

Menciptakan Tradisi Baru

Jika pikiran lebih kreatif, kenapa sih para pelajar masa kini yang lulus itu tidak menciptakan tradisi baru untuk merayakan kelulusan. Coret baju, konvoi motor, dan minum-minum itu tradisi kuno. Sebagai pelajar yang sudah lulus dengan gagah berani, seharusnya punya pikiran juga untuk mempertimbangkan tradisi (seperti kata penyair Rendra, he he).

Masa sih kita niru-niru kakak-kakak kelas yang lulus duluan. Dulu,  tradisi itu diciptakan kakak kelas, entah kakak kelas tahun berapa. Dan pelajar masa kini hanya meneruskan.

Kenapa sih tak ada pikiran untuk menciptakan tradisi baru? Siapa tahu pada tahun-tahun berikutnya bisa diikuti adik-adik kelas yang lulus, lalu menjadi tradisi yang mengindonesia bahkan mendunia.

Misalnya menciptakan tradisi yang tidak mengganggu dan merugikan diri sendiri serta orang lain, tapi tetap kereeeen. Apa saja? Cekidot

Konvoi Sepeda Gayung

Nah, sepeda motor dan mobilnya diganti saja dengan sepeda gayung. Ini tentu saja berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Berbeda itu keren mas bro. Bersepeda itu menyehatkan jiwa dan raga, apalagi jika dilakukan ramai-ramai dengan teman sekolah, jadi tambah asik kan? Di samping itu, bersepeda juga tidak menggangu kenyamanan berlalu lintas, tidak menyebabkan polusi udara dan tidak membuat kebisingan. Konvoi bisa berjalan tanpa merugikan orang lain. Ini yang patut ditiru.

Jalan Santai Ramai-Ramai

Ini juga bisa dilakukan untuk merayakan kelulusan. Jalan santai ramai-ramai. Merasakan setiap langkah yang sudah dilewati bersama saat berjuang selama tiga tahun. Tentu jalan santai ini harus dilakukan dengan tertib, sehingga tidak menganggu pengguna jalan lain.

Cara ini juga tidak menimbulkan polusi dan kebisingan. Bisa mencari rute yang berakhir di tempat yang asik pula, seperti danau atau pantai, atau mungkin titik nol dan monumin di daerah masing-masing. Kalau sudah begini, tentu aksi ini akan ditunggu-tunggu warga sekitar.

Warga akan menanti saat-saat untuk bisa melihat pelajar-pelajar sekolah dari dekat. Ibu-ibu, janda-janda, dan cewek-cewek jadi punya kesempatan untuk melihat pelajar-pelajar cowok yang ganteng, unyu, imut-imut dan sebagainya. Hahaha.

Menceburkan Diri ke Sungai, Danau, Laut

Ini juga bisa dikatakan sebagai cara yang berbeda dan tidak menimbulkan polusi atau kebisingan. Pelajar hanya perlu menghempaskan dirinya ke sungai, danau atau laut. Byurrrrrr. Nyebur bersama-sama. Kalau sudah sama-sama biasanya kan asik-asik saja.

Hahaha. Ini seru. Percaya deh. Kalian bisa juga menceburkan teman kalian, kemudian berbondong-bondong menceburkan diri lagi. Tapi, jika mau melakukan cara ini, harus siap-siap basah ya.

Bagi-bagi Nasi Bungkus

Tradisi bagi-bagi nasi bungkus untuk perayaan kelulusan bisa dilakukan dengan membagi-bagi nasi bungkus kepada orang-orang sekitar yang sedang giat bekerja atau orang sekitar yang kurang mampu. Beberapa lulusan SMA sudah mulai melakukannya. Misalnya tahun lalu di Yogyakarta.

Hari ini, di sebuah laman facebook, ternyata ada juga anak-anak lulusan SMA di Negara, Bali, melakukan perayaan kelulusan dengan bagi-bagi nasi bungkus. Disebutkan sejumlah pelajar dari SMAN 1 Negara mengumpulkan duit secara urun setelah dinyatakan lulus, lalu membeli nasi bungkus untuk dibagikan kepada orang sekitar. Misalnya untuk sopir truk yang sedang giat bekerja, untuk orang tua yang sedang pergi atau pulang dari kerja naik sepeda,

Tradisi bagi-bagi nasi bungkus bisa dijadikan tradisi baru untuk merayakan kelulusan, siapa tahu tradisi itu bisa mengindonesia.

Berdoa atau Syukuran Bersama

Para pelajar, sebagai umat beragama janganlah lupa kepada yang di atas. Berdoa pun bisa dijadikan cara untuk merayakan kelulusan. Kalian bisa berdoa bersama satu angkatan di halaman sekolah memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian bersujud bersama-sama.

Atau kalau belum cukup di halaman sekolah saja, kalian bisa pergi ke tempat suci terdekat, ke vihara terdekat, ke masjid terdekat, ke pura terdekat atau ke gereja terdekat. Kembali berdoa dan memanjatkan syukur dan terima kasih. Wajib dicoba ini. Haha

Apapun cara yang digunakan untuk merayakan kelulusan, jangan sampai lupa bersyukur, dan sebelum memutuskan untuk merayak kelulusan dengan cara tertentu, ada baiknya ditimbang-timbang lagi apakah cara yang dilakukan merugikan diri sendiri dan orang lain atau tidak. Jika tidak, lakukanlah. Jika kamu sudah suka dengannya, pergilah padanya. Aku ikhlas. Hahaha.

Akhirnya, selamat lulus dan sukses terus untuk pelajar Indonesia di manapun. (T)

Tags: PendidikansekolahTradisiujian nasional
Share1489TweetSendShareSend
Previous Post

Menghitung Riwayat Tabungan Suara di Kantong Rakyat – Catatan Iseng Pilgub Bali

Next Post

Stop Corat-coret Seragam, Coba Ajak Siswa Tirtayatra Maraton dari Pura ke Pura

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post

Stop Corat-coret Seragam, Coba Ajak Siswa Tirtayatra Maraton dari Pura ke Pura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co