26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Sejumlah pemuda dari Desa Selanbawak melakukan aksi telanjang dada sambal menggelar poster mempertanyakan perbaikan jalan. /Foto diambil dari facebook

ADA lelucon yang bikin kuping saya sebagai “orang Tabanan” panas.

“Jika kamu berada di jalan desa, dan ingin tahu batas antara desa yang masuk Kabupaten Badung dan desa yang masuk wilayah Tabanan, lihat saja kondisi jalannya. Lewat di jalan desa yang masuk Badung, seeerrr, mulus, namun begitu masuk jalan desa di wilayah Tabanan langsung glejuk-glejuk, kratak-krotok, gedubraaak!”

Lelucon itu tentu tak sepenuhnya benar. Tapi, tak perlu malu untuk mengatakan: memang banyak benarnya juga. Mari kita cek sejumlah desa di Tabanan yang berbatasan dengan desa-desa di Kabupaten Badung.

Desa Selanbawak

Desa Selanbawak di Kecamatan Marga, Tabanan, adalah desa yang berbatasan dengan Desa Sembung dan Desa Kuwum di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dari Jalan Raya Denpasar-Bedugul, jika hendak ke Desa Selanbawak atau ke Desa Marga, kita bisa masuk lewat sejumlah jalan perbatasan.

Antara lain, kita bisa masuk lewat jalan di sebelah selatan Pasar Sembung, lurus ke barat, sekitar 500 meter, bertemulah kita dengan jembatan di atas sungai kecil yang ditutupi rimbun pohon. Sungai itulah yang jadi batas antara wilayah Sembung-Badung dan Selanbawak-Tabanan.

Beberapa tahun lalu, kira-kira sebelum Pilkada Tabanan, ketika saya pulang kampung ke Desa Marga, jalan perbatasan itu memang sangat kentara beda karakternya. Dari Sembung ke barat mulus, lalu begitu sampai perbatasan, menanjak sedikit, jalan bolong-bolong pun menghadang. Artinya, maklumlah saya, bahwa saya sudah memasuki kabupaten tempat saya lahir, yang tentu sangat saya cintai.

Tapi tahun-tahun belakangan ini, jalan itu sudah mulus. Artinya jika lewat dari Sembung ke barat, kita bisa lempeng melewati perbatasan tanpa halangan. Meski kualitas aspal sebelah timur dan sebelah barat mungkin masih berbeda.

Nyelati-Selanbawak

Selain masuk lewat Sembung, kita juga bisa masuk ke Desa Selanbawak lewat jalan kecil dari Desa Kuwum. Dari Jalan Raya Denpasar-Bedugul, begitu tiba di pertigaan sekitar Kantor Desa, kendaraan bisa belok ke Banjar Nyelati. Kita akan melewati wilayah banjar yang masih asri dengan suasana kampung yang kental, tapi jalannya berkualitas kota, mulus.

Begitu lewat kuburan Nyelati yang amat teduh, kita siap-siap memasuki wilayah perbatasan. Jika jalan itu mulus hingga ke Desa Selanbawak, kita tak akan tahu batas antara wilayah Badung dan Tabanan di jalur yang masih hijau royo-royo itu. Tak ada tanda khusus yang bisa dijadikan penanda bahwa ruas jalan dari utara ke selatan itu dibagi oleh dua desa dari dua kabupaten yang berbeda.

Jadi, jangan salahkan jika sejumlah orang menggunakan jalan rusak itu sebagai pengingat bahwa mereka sudah tiba di wilayah Tabanan. Bayangkan, jalan mobil yang sudah cespleng dari utara, lalu tiba-tiba harus main rem dan gas sedikit-sedikit, karena masuk jalan yang kondisinya  susah ditebak.

Saya termasuk sering lewat di jalan itu, terutama ketika dari Singaraja hendak pulang kampung ke Marga. Seingat saya, jalan itu pernah diperbaiki, dan sempat dilewati dalam kondisi bagus. Tapi entah kenapa, belakangan jalan itu kembali rusak.

Nah, jalan yang sedang kita bicarakan itulah yang beberapa hari ini ramai dibicarakan di facebook.  Sejumlah pemuda dari Desa Selanbawak bagian utara, tepatnya di Banjar Dinas Selanbawak Kaja, berfoto dengan aksi telanjang dada  sambil membawa poster bertuliskan “Kapan Jalan Kami Diperbaiki?”

Tak tahulah siapa yang memasang foto itu untuk pertamakali. Yang jelas foto itu menyebar ke sejumlah akun dan grup facebook. Apalagi kemudian aksi itu dilanjutkan dengan pemberitaan di media online. Maka, tak usah heran, masalah jalan pun kembali jadi pembicaraan hangat di Tabanan,

I Wayan Agus Mahendra, pemuda dari Selanbawak, sebagaimana ditulis www.suaradewata.com menyebutkan kondisi jalan di Banjar Selanbawak Kaja masih rusak parah. Lucunya, kata dia, jalan yang rusak tersebut hanya sebagian di utara Banjar Selanbawak Kaja sepanjang 400 meter yang belum diperbaiki.

Sedangkan, sebagian di selatan yang masih di wilayah Banjar Selanbawak Kaja sepanjang 600 meter sudah diperbaiki.  “Setelah diaspas setahun lalu, kami duga kualitasnya rendah, karena setelah diaspal ada sekitar 3 bulannya pas ada air hujan aspalnya hanyut, sedangkan jalan di bagian selatan sudah dihotmix,” kata Mahendra.

Aduh, Malunya!

Kabupaten Badung, semua tahu, adalah kabupaten paling kaya di Bali. PAD-nya rata-rata di atas 3 triliun, sementara PAD Tabanan masih dalam hitungan ratusan miliar. Jadi, maklum saja Pemerintah Kabupaten Tabanan tak bisa memperbaiki jalan dengan gerak cepat, apalagi sampai masuk ke wilayah jauh di pedesaan.

Tapi harap maklum juga warga Tabanan yang desanya berbatasan dengan desa di Kabupaten Badung tak tahan untuk protes. Mereka mungkin malu sekaligus jengah melihat jalan di desa tetangga yang bagai paha artis Korea, sedangkan jalan di desa sendiri jalannya seperti paha klesih alias terenggiling. Iya, seperti pemuda di Selanbawak itu. Mungkin bukan soal jalan rusak semata yang mereka keluhkan, tapi soal ketidakadilan.

Jalur Lucu Sembung-Caubelayu-Sangeh

Saya ceritakan sekali lagi jalur lucu terkait batas antara desa di wilayah Tabanan dengan desa di wilayah Badung. Yakni, jalur jalan antara Desa Sembung, Desa Caubelayu, dan wilayah Sangeh. Sembung masuk wilayah Badung, Caubelayu masuk wilayah Tabanan, dan Sangeh kembali masuk wilayah Badung.

Jalur ini  jalur baru. Jalur itu tercipta setelah jembatan yang menghubungkan Sangeh dengan Caubelayu dibangun beberapa tahun lalu. Jembatan itu tepatnya berada di sebelah utara obyek wisata hutan Sangeh atau di sebelah selatan obyek wisata Tanah Wok.

Jalur ini lucu, karena dari wilayah Badung, kita harus melewati wilayah Tabanan, untuk menuju wilayah Badung kembali. Artinya Tabanan dijepit Badung. Sembung milik Badung, lalu terselip di tengahnya Caubelayu milik Tabanan, kemudian Sangeh kembali milik wilayah Badung.

Setelah jembatan dibangun, orang yang sedang berada di Jalan Raya Denpasar-Bedugul bisa menempuh jalur pendek menuju Sangeh, tidak harus memutar lewat Petang, atau lewat Mengwi. Kendaraan bisa dibelokkan ke timur dari wilayah Sembung, lalu memasuki wilayah Caubelayu, lewat jembatan, maka tibalah di Sangeh. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa hari setelah jembatan kelar, jalur itu langsung ramai. Apalagi di sebelah timur jembatan berderet  dagang sate babi yang selalu diserbu pecinta kuliner dari berbagai daerah, salah satunya Warung Sate Bledor. Namun, setelah jembatan usai, meski langsung ramai, jalur itu tampaknya tidak otomatis jadi lancar.

Dalam rentang waktu yang cukup lama, jalur itu cacat. Pengendara selalu tersendat ketika memasuki wilayah Caubelayu Tabanan. Mobil bisa digas kenceng mulai dari wilayah Sembung ke timur karena jalannya mulus. Namun begitu masuk cekungan di atas sungai kecil, yang menjadi batas antara Badung dan Tabanan, mobil langsung menyerobot jalan berlubang-lubang. Jika mengajak teman dalam satu mobil, kerap saya dengar teman itu nyeletuk, “Kita memasuki wilayah Tabanan, Bro!” Tentu saja maksudnya menyindir saya.

Jalan rusak itu memang pendek, mungkin sekitar 100 meter, namun cukup berbahaya. Setelah lewat jalan rusak itu, mobil kemudian memasuki jembatan menuju Sangeh yang jalannya kembali mulus.

Awal tahun 2017, jalan rusak itu sudah diperbaiki. Meski tak semulus jalan-jalan di sebelah barat dan timurnya, namun jalur itu kini sudah bisa dilalui dengan hati yang lapang tanpa disertai perasaan was-was. Yang mau beli sate di wilayah Sangeh, langsung bisa pesan sate dengan cepat.

Pemerintah tak Esa

Meski jalan di wilayah Caubelayu itu kini sudah diperbaiki, namun tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu pertanyaannya, apakah pemerintah yang berada di dua wilayah yang berbatasan, seperti Badung dan Tabanan, tak boleh bekerjasama dalam mengurus jalur penting di perbatasan?

Artinya, jika jembatan Sangeh-Caubelayu itu dibangun, seharusnya kedua pemerintah daerah sudah otomatis bekerjasama dalam merancang jalur antarkabupaten. Toh, orang yang lewat di jalur itu bukan hanya orang Badung, bukan hanya orang Tabanan.

Apakah Pemkab Tabanan tak siap dengan pembukaan jalur itu sehingga lambat mengalokasikan anggaran perbaikan jalan di jalur itu? Jawabannya, mungkin soal anggaran, mungkin juga soal koordinasi. Atau hal lain yang rakyat tak usah paham.

Jika Tabanan kesulitan anggaran, apakah Pemkab Badung yang kaya tak boleh membantu Tabanan untuk ikut memperbaiki jalan yang pendeknya hanya 100 meter itu, agar hubungan antardesa (masuk wilayah kabupaten apa pun desa itu) bisa berlangsung mulus?

Jawabannya saya tahu: tidak boleh. Jika Pemkab Badung ikut memperbaiki jalan di wilayah Tabanan, meski nilai kegunaannya sangat tinggi, itu tetap menyalahi aturan. Pejabat Dinas PU bisa dicokok KPK. Memangnya pemerintah daerah yang satu dengan pemerintah daerah yang lain itu saudara kandung, bisa saling memberi dan saling meminjami dengan mudah.

Tidak. Pemerintah itu tidak esa. Mereka berbeda-beda (APBD dan PAD) padahal sama-sama disebut pemerintah.

Jadi, harap ngerti, warga yang desanya berada di wilayah perbatasan, harus rela menahan malu karena desa tetangga yang warganya sering diajak ngobrol dan minum-minum di penggak tepi jalan, ternyata lebih kaya, jalannya lebih mulus, bansosnya lebih gede, tunjangan kesehatannya lebih besar.

Harus dimaklumi, Pemerintah Daerah itu bukan hanya beda besaran APBD, tapi juga beda karakter, berbeda tingkat kecepatannya sebagaimana berbeda juga tingkat kemalasannya (baca: ketidakpeduliannya terhadap rakyat). Dalam posisi itulah, sebagai warga, yang kebetulan tinggal di kabupaten lebih miskin, akan merasa mendapat ketidakadilan.

Apakah pemerintah mau memperhatikan hal-hal bersifat “kejiwaan” semacam itu?  Dari jauh seseorang yang sedang belajar berpolitik mungkin akan menjawab dengan suara lantang: “Makanya, pilih Bupati yang bener!” (T)

Tags: BadungdesaPembangunantabanan
Share120TweetSendShareSend
Previous Post

Wasiat Pohon Apel dan Cacing Tanah – Sebuah Dongeng Pendidikan

Next Post

Selintas Sejarah Berdirinya Patung Singa Ambara Raja, Maskot Kota Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails
Next Post

Selintas Sejarah Berdirinya Patung Singa Ambara Raja, Maskot Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co