25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Esai

Sejumlah pemuda dari Desa Selanbawak melakukan aksi telanjang dada sambal menggelar poster mempertanyakan perbaikan jalan. /Foto diambil dari facebook

ADA lelucon yang bikin kuping saya sebagai “orang Tabanan” panas.

“Jika kamu berada di jalan desa, dan ingin tahu batas antara desa yang masuk Kabupaten Badung dan desa yang masuk wilayah Tabanan, lihat saja kondisi jalannya. Lewat di jalan desa yang masuk Badung, seeerrr, mulus, namun begitu masuk jalan desa di wilayah Tabanan langsung glejuk-glejuk, kratak-krotok, gedubraaak!”

Lelucon itu tentu tak sepenuhnya benar. Tapi, tak perlu malu untuk mengatakan: memang banyak benarnya juga. Mari kita cek sejumlah desa di Tabanan yang berbatasan dengan desa-desa di Kabupaten Badung.

Desa Selanbawak

Desa Selanbawak di Kecamatan Marga, Tabanan, adalah desa yang berbatasan dengan Desa Sembung dan Desa Kuwum di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Dari Jalan Raya Denpasar-Bedugul, jika hendak ke Desa Selanbawak atau ke Desa Marga, kita bisa masuk lewat sejumlah jalan perbatasan.

Antara lain, kita bisa masuk lewat jalan di sebelah selatan Pasar Sembung, lurus ke barat, sekitar 500 meter, bertemulah kita dengan jembatan di atas sungai kecil yang ditutupi rimbun pohon. Sungai itulah yang jadi batas antara wilayah Sembung-Badung dan Selanbawak-Tabanan.

Beberapa tahun lalu, kira-kira sebelum Pilkada Tabanan, ketika saya pulang kampung ke Desa Marga, jalan perbatasan itu memang sangat kentara beda karakternya. Dari Sembung ke barat mulus, lalu begitu sampai perbatasan, menanjak sedikit, jalan bolong-bolong pun menghadang. Artinya, maklumlah saya, bahwa saya sudah memasuki kabupaten tempat saya lahir, yang tentu sangat saya cintai.

Tapi tahun-tahun belakangan ini, jalan itu sudah mulus. Artinya jika lewat dari Sembung ke barat, kita bisa lempeng melewati perbatasan tanpa halangan. Meski kualitas aspal sebelah timur dan sebelah barat mungkin masih berbeda.

Nyelati-Selanbawak

Selain masuk lewat Sembung, kita juga bisa masuk ke Desa Selanbawak lewat jalan kecil dari Desa Kuwum. Dari Jalan Raya Denpasar-Bedugul, begitu tiba di pertigaan sekitar Kantor Desa, kendaraan bisa belok ke Banjar Nyelati. Kita akan melewati wilayah banjar yang masih asri dengan suasana kampung yang kental, tapi jalannya berkualitas kota, mulus.

Begitu lewat kuburan Nyelati yang amat teduh, kita siap-siap memasuki wilayah perbatasan. Jika jalan itu mulus hingga ke Desa Selanbawak, kita tak akan tahu batas antara wilayah Badung dan Tabanan di jalur yang masih hijau royo-royo itu. Tak ada tanda khusus yang bisa dijadikan penanda bahwa ruas jalan dari utara ke selatan itu dibagi oleh dua desa dari dua kabupaten yang berbeda.

Jadi, jangan salahkan jika sejumlah orang menggunakan jalan rusak itu sebagai pengingat bahwa mereka sudah tiba di wilayah Tabanan. Bayangkan, jalan mobil yang sudah cespleng dari utara, lalu tiba-tiba harus main rem dan gas sedikit-sedikit, karena masuk jalan yang kondisinya  susah ditebak.

Saya termasuk sering lewat di jalan itu, terutama ketika dari Singaraja hendak pulang kampung ke Marga. Seingat saya, jalan itu pernah diperbaiki, dan sempat dilewati dalam kondisi bagus. Tapi entah kenapa, belakangan jalan itu kembali rusak.

Nah, jalan yang sedang kita bicarakan itulah yang beberapa hari ini ramai dibicarakan di facebook.  Sejumlah pemuda dari Desa Selanbawak bagian utara, tepatnya di Banjar Dinas Selanbawak Kaja, berfoto dengan aksi telanjang dada  sambil membawa poster bertuliskan “Kapan Jalan Kami Diperbaiki?”

Tak tahulah siapa yang memasang foto itu untuk pertamakali. Yang jelas foto itu menyebar ke sejumlah akun dan grup facebook. Apalagi kemudian aksi itu dilanjutkan dengan pemberitaan di media online. Maka, tak usah heran, masalah jalan pun kembali jadi pembicaraan hangat di Tabanan,

I Wayan Agus Mahendra, pemuda dari Selanbawak, sebagaimana ditulis www.suaradewata.com menyebutkan kondisi jalan di Banjar Selanbawak Kaja masih rusak parah. Lucunya, kata dia, jalan yang rusak tersebut hanya sebagian di utara Banjar Selanbawak Kaja sepanjang 400 meter yang belum diperbaiki.

Sedangkan, sebagian di selatan yang masih di wilayah Banjar Selanbawak Kaja sepanjang 600 meter sudah diperbaiki.  “Setelah diaspas setahun lalu, kami duga kualitasnya rendah, karena setelah diaspal ada sekitar 3 bulannya pas ada air hujan aspalnya hanyut, sedangkan jalan di bagian selatan sudah dihotmix,” kata Mahendra.

Aduh, Malunya!

Kabupaten Badung, semua tahu, adalah kabupaten paling kaya di Bali. PAD-nya rata-rata di atas 3 triliun, sementara PAD Tabanan masih dalam hitungan ratusan miliar. Jadi, maklum saja Pemerintah Kabupaten Tabanan tak bisa memperbaiki jalan dengan gerak cepat, apalagi sampai masuk ke wilayah jauh di pedesaan.

Tapi harap maklum juga warga Tabanan yang desanya berbatasan dengan desa di Kabupaten Badung tak tahan untuk protes. Mereka mungkin malu sekaligus jengah melihat jalan di desa tetangga yang bagai paha artis Korea, sedangkan jalan di desa sendiri jalannya seperti paha klesih alias terenggiling. Iya, seperti pemuda di Selanbawak itu. Mungkin bukan soal jalan rusak semata yang mereka keluhkan, tapi soal ketidakadilan.

Jalur Lucu Sembung-Caubelayu-Sangeh

Saya ceritakan sekali lagi jalur lucu terkait batas antara desa di wilayah Tabanan dengan desa di wilayah Badung. Yakni, jalur jalan antara Desa Sembung, Desa Caubelayu, dan wilayah Sangeh. Sembung masuk wilayah Badung, Caubelayu masuk wilayah Tabanan, dan Sangeh kembali masuk wilayah Badung.

Jalur ini  jalur baru. Jalur itu tercipta setelah jembatan yang menghubungkan Sangeh dengan Caubelayu dibangun beberapa tahun lalu. Jembatan itu tepatnya berada di sebelah utara obyek wisata hutan Sangeh atau di sebelah selatan obyek wisata Tanah Wok.

Jalur ini lucu, karena dari wilayah Badung, kita harus melewati wilayah Tabanan, untuk menuju wilayah Badung kembali. Artinya Tabanan dijepit Badung. Sembung milik Badung, lalu terselip di tengahnya Caubelayu milik Tabanan, kemudian Sangeh kembali milik wilayah Badung.

Setelah jembatan dibangun, orang yang sedang berada di Jalan Raya Denpasar-Bedugul bisa menempuh jalur pendek menuju Sangeh, tidak harus memutar lewat Petang, atau lewat Mengwi. Kendaraan bisa dibelokkan ke timur dari wilayah Sembung, lalu memasuki wilayah Caubelayu, lewat jembatan, maka tibalah di Sangeh. Begitu juga sebaliknya.

Beberapa hari setelah jembatan kelar, jalur itu langsung ramai. Apalagi di sebelah timur jembatan berderet  dagang sate babi yang selalu diserbu pecinta kuliner dari berbagai daerah, salah satunya Warung Sate Bledor. Namun, setelah jembatan usai, meski langsung ramai, jalur itu tampaknya tidak otomatis jadi lancar.

Dalam rentang waktu yang cukup lama, jalur itu cacat. Pengendara selalu tersendat ketika memasuki wilayah Caubelayu Tabanan. Mobil bisa digas kenceng mulai dari wilayah Sembung ke timur karena jalannya mulus. Namun begitu masuk cekungan di atas sungai kecil, yang menjadi batas antara Badung dan Tabanan, mobil langsung menyerobot jalan berlubang-lubang. Jika mengajak teman dalam satu mobil, kerap saya dengar teman itu nyeletuk, “Kita memasuki wilayah Tabanan, Bro!” Tentu saja maksudnya menyindir saya.

Jalan rusak itu memang pendek, mungkin sekitar 100 meter, namun cukup berbahaya. Setelah lewat jalan rusak itu, mobil kemudian memasuki jembatan menuju Sangeh yang jalannya kembali mulus.

Awal tahun 2017, jalan rusak itu sudah diperbaiki. Meski tak semulus jalan-jalan di sebelah barat dan timurnya, namun jalur itu kini sudah bisa dilalui dengan hati yang lapang tanpa disertai perasaan was-was. Yang mau beli sate di wilayah Sangeh, langsung bisa pesan sate dengan cepat.

Pemerintah tak Esa

Meski jalan di wilayah Caubelayu itu kini sudah diperbaiki, namun tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu pertanyaannya, apakah pemerintah yang berada di dua wilayah yang berbatasan, seperti Badung dan Tabanan, tak boleh bekerjasama dalam mengurus jalur penting di perbatasan?

Artinya, jika jembatan Sangeh-Caubelayu itu dibangun, seharusnya kedua pemerintah daerah sudah otomatis bekerjasama dalam merancang jalur antarkabupaten. Toh, orang yang lewat di jalur itu bukan hanya orang Badung, bukan hanya orang Tabanan.

Apakah Pemkab Tabanan tak siap dengan pembukaan jalur itu sehingga lambat mengalokasikan anggaran perbaikan jalan di jalur itu? Jawabannya, mungkin soal anggaran, mungkin juga soal koordinasi. Atau hal lain yang rakyat tak usah paham.

Jika Tabanan kesulitan anggaran, apakah Pemkab Badung yang kaya tak boleh membantu Tabanan untuk ikut memperbaiki jalan yang pendeknya hanya 100 meter itu, agar hubungan antardesa (masuk wilayah kabupaten apa pun desa itu) bisa berlangsung mulus?

Jawabannya saya tahu: tidak boleh. Jika Pemkab Badung ikut memperbaiki jalan di wilayah Tabanan, meski nilai kegunaannya sangat tinggi, itu tetap menyalahi aturan. Pejabat Dinas PU bisa dicokok KPK. Memangnya pemerintah daerah yang satu dengan pemerintah daerah yang lain itu saudara kandung, bisa saling memberi dan saling meminjami dengan mudah.

Tidak. Pemerintah itu tidak esa. Mereka berbeda-beda (APBD dan PAD) padahal sama-sama disebut pemerintah.

Jadi, harap ngerti, warga yang desanya berada di wilayah perbatasan, harus rela menahan malu karena desa tetangga yang warganya sering diajak ngobrol dan minum-minum di penggak tepi jalan, ternyata lebih kaya, jalannya lebih mulus, bansosnya lebih gede, tunjangan kesehatannya lebih besar.

Harus dimaklumi, Pemerintah Daerah itu bukan hanya beda besaran APBD, tapi juga beda karakter, berbeda tingkat kecepatannya sebagaimana berbeda juga tingkat kemalasannya (baca: ketidakpeduliannya terhadap rakyat). Dalam posisi itulah, sebagai warga, yang kebetulan tinggal di kabupaten lebih miskin, akan merasa mendapat ketidakadilan.

Apakah pemerintah mau memperhatikan hal-hal bersifat “kejiwaan” semacam itu?  Dari jauh seseorang yang sedang belajar berpolitik mungkin akan menjawab dengan suara lantang: “Makanya, pilih Bupati yang bener!” (T)

Tags: BadungdesaPembangunantabanan
Share120TweetSendShareSend
Previous Post

Wasiat Pohon Apel dan Cacing Tanah – Sebuah Dongeng Pendidikan

Next Post

Selintas Sejarah Berdirinya Patung Singa Ambara Raja, Maskot Kota Singaraja

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Selintas Sejarah Berdirinya Patung Singa Ambara Raja, Maskot Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co