2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wasiat Pohon Apel dan Cacing Tanah – Sebuah Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

HIDUPLAH seorang lelaki bernama Manik di gubuk tua di sebuah desa terpencil. Di desa terpencil itu, tidak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Pohon-pohon sudah ditebang oleh para pencuri kayu. Tanah-tanah di desa itu kering-kerontang karena sudah lama tidak turun hujan. Penduduk mulai pergi jauh meninggalkan desa itu. Desa yang sudah menjadi tandus.

Kini, tinggallah Manik sendiri di gubuk tua. Manik sudah mulai tidak sanggup tinggal di desa terpencil itu. Suatu malam, Manik mengemasi barang-barangnya dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan esok pagi. Usai berkemas, Manik iseng merebahkan badan di atas tikar yang sudah compang-camping.

“Manik, cucuku sayang. Mengapa kamu harus meninggalkan desa ini juga?” kata seseorang.

Awalnya, Manik tak mengenal orang itu. Tapi setelah diamat-amati, orang itu mirip Dewa Wisnu yang sering ia lihat dalam lukisan-lukisan tua di desanya.

“Saya sudah tak kuat hidup di desa yang tandus ini, Dewa Wisnu,” kata Manik.

Dewa Wisnu kemudian bersabda dengan suara menggelegar. “Dulu desa ini sangat subur dan banyak pohon-pohon rindang. Musim hujan pun selalu datang setiap tahun. Ini kuberikan kamu biji dan tanamlah!”

Manik kaget, ia sontak terbangun dari tidurnya. “Oh, ternyata aku hanya bermimpi,” ucapnya kemudian,

Manik menggulung tikarnya bersiap pergi dari desa. Namun, Manik menemukan sebuah biji di lantai. Biji itu berkelip-kelip memancarkan cahaya. Manik mengambil biji itu. “Belum pernah aku melihat biji tanaman seperti ini. Apakah biji ini yang dimaksud oleh Dewa Wisnu dalam mimpiku?” kata Manik dalam hati.

Melihat biki bercahaya itu, Manik melupakan niatnya meninggalkan desa. Manik pergi ke lahan kebun di belakang gubuk. Ia menanam biji itu. Manik ingin membuktikan kata-kata Dewa Wisnu dalam mimpinya. Ketika biji itu sudah ditanam, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Manik heran dan bahagia. Namun, tiba-tiba, kilatan petir menyambar tanah tempat biji itu ditanam.

Manik tersentak kaget menyaksikan kilatan petir menyambar biji yang ditanamnya. “Hancur sudah harapanku. Mimpi itu tidak jadi kenyataan,” keluhnya dalam hati.

Namun begitu Manik kemudian tersenyum lega. “Ah, aku tetap bahagia karena telah turun hujan.”

Manik pun masuk ke gubuk reotnya dan mengeringkan badann yang basah kuyup. Manik termenung dan masih belum percaya dengan kejadian yang sudah dialaminya.

Keesok paginya, Manik kaget melihat pohon apel yang besar tumbuh di tempat biki yang kemarin ia tanam. Ia tak percaya biji itu tumbuh dengan ajaib. “Apakah biji itu adalah biji apel? Bukankah biji itu kemarin sudah tersambar petir?” ucap Manik heran.

Manik mendekati pohon itu untuk memastikan bahwa itu merupakan biji yang ditanamnya kemarin. Ternyata, memang benar biji itu yang ditanam oleh Manik. Sebab, Manik melihat tanah gosong bekas terbakar di sekitar pohon apel. “Horeeee, mulai sekarang aku bisa menikmati buah apel,” ucap Manik bahagia.

Manik merawat pohon apel itu. Manik merasa bahagia karena bisa menikmati hasil panen dari pohon apel itu dan bisa menghirup udara segarnya. Tanah-tanah di sekitar pohon apel itu menjadi subur. Rerumputan dan bunga-bunga pun tumbuh subur di sekitar pohon apel itu.

Numun, beberapa tahun kemudian, ketika Manik sedang duduk di bawah pohon apel, tiba-tiba pohon apel berbisik kepada Manik. “Hai temanku. Jika aku sudah tua dan tak mampu berbuah lagi, mohon semua daun-daunku dikubur ditanah kebunmu. Jika beberapa bulan kemudian ada binatang-binatang kecil makan daun busukku, jangan kamu usir mereka. Sebab, kebunmu menjadi subur karena binatang kecil itu yang memakan daun-daun busukku. Jika kamu menemukan benda berkilau dalam batang tubuhku, simpanlah itu dengan baik. Dan, batang-batang tubuhku boleh kamu gunakan sesuai keinginanmu!”

Manik bersedih mendengar bisikan pohon apel itu. “Mengapa aku harus melakukan itu. Aku sudah senang menikmati buah-buahmu yang segar dan menghirup udaramu yang segar. Bahkan, kebunku kembali subur berkat kehadiranmu. Aku senang merawatmu,” kata Manik yang akan ditinggalkan oleh Pohon Apel.

Keesokan harinya, Manik terkejut melihat pohon apelnya tumbang. Akar pohon itu sudah tidak mampu berpegangan di dalam tanah. Anehnya, Manik menemukan batu kristal berkilau di balik akar pohon apelnya. Manik pun mengambil batu kriltal itu dan menyimpannya dengan baik. Dengan perasaan sedih, Manik mengubur semua daun-daun itu sesuai pesan pohon apel.

Selama berbulan-bulan Manik bersedih atas kepergian pohon apel yang paling disayanginya. Manik hanya duduk termenung di kursi yang pernah dirindangi oleh pohon apel itu. Setiap hari Manik hanya duduk bersedih di kursi itu. Bunga-bunga di kebun itu pun layu melihat kesedihan Manik.

Tiba-tiba ia mendengar suara.

“Hai temanku, Manik sayang, jangan bersedih lagi. Tanam saja lagi biji apelnya atau biji yang lain di kebunmu ini!”

Suara siapa itu? Manik kebingungan, ia mencari-cari sumber suara itu.

“Siapa kamu? Aku tidak melihat orang di sini?” tanya Manik yang masih bingung.

“Aku di sini, di kuburan daun-daun apel!”

Manik bangun dari kursinya mendekati daun-daun apel yang sudah dikuburnya di dalam tanah. Manik kaget melihat begitu banyak menemukan binatang kecil di kebunnya itu.

“Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini?” tanya Manik bingung.

“Aku Cacing yang suka makan dau-daun busuk, tetapi aku tidak suka plastik. Aku Cacing yang bisa menggemburkan tanah. Aku bisa menyuburkan tanah kalau aku diberi makan tumbuh-tumbuhan busuk,” jawab binatang kecil yang ternyata adalah Cacing.

“Oh, kamu Cacing,” ucap Manik.

“Tenyata binatang kecil yang dimaksud pohon apel adalah Cacing dan aku tidak boleh mengusirnya,” kata Manik melamun.

“Cepat tanam sekarang biji tumbuhan yang kamu punya!” perintah Cacing memecah lamunan Manik.

“Aku tidak punya biji-biji tumbuhan lagi. Biji-biji dari pohon apel pun aku lupa menyimpannya. Aku hanya punya batu kristal ini,” kata Manik menunjukkan batu yang ia dapat dari pohon apel yang sudah tumbang.

“Coba kamu pecahkan batu kristal itu di tanah kebunmu. Siapa tahu di dalamnya ada biji tanaman ajaib,” kata Cacing.

“Batu kristal ini kan harus aku jaga dengan baik sesuai pesan pohon apel. Sama seperti kamu, aku tidak boleh mengusir kamu. Apakah mungkin aku harus memecahkan batu kristal ini?” kata Manik ragu.

“Jangan ragu lagi. Coba kamu pecahkan batu kristal itu,” pinta Cacing.

“Ah, aku tidak mau melakukan itu,” tolak Manik penuh keyakinan.  Manik pergi meninggalkan cacing-cacing itu.

Manik kembali duduk di kursinya itu sendiri. Tiba-tiba, Manik mendengar bisikan. “Hai kawanku Manik, benar yang dikatakan oleh Cacing. Kamu harus memecahkan batu kristal itu.” Bisikan itu mirip seperti suara pohon apel yang didengarnya sebelum pohon itu tumbang.

Karena yakin itu bisikan pohon apel Manik akhirnya memecahkan batu kristalnya. Manik mengambil dua batu. Manik meletakkan batu kristal di atas batu dan membenturkan batu yang ada di tangannya ke batu kristal. “Breeeaaak,” terdengar pecahan batu kristal itu.

Manik tidak melihat ada keajaiban. Biji-bijian pun tidak ada. Manik semakin sedih karena harus kehilangan batu kristal pemberian pohon apel. “Aku tidak punya apa-apa lagi,” keluh sedih Manik.

Namun, pecahan batu kristal itu perlahan bergerak menyatu. Dan tiba-tiba, berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Manik terjatuh kaget melihat keajaiban itu.

“Kamu siapa? Mengapa pecahan batu kristalku bisa berubah menjadi wanita cantik,” tanya Manik gemetar.

“Aku, Dewi Sri. Ketika Manik sedang menanam biji apel pemberian Dewa Wisnu, aku dikutuk oleh Kala Rau menjadi batu kristal. Dan, aku dilempar ke bumi, kemudian jatuh tepat di biji apelmu yang dulu kamu tanam. Petir yang menyambar itu adalah aku, Dewi Sri,” ucap Dewi Sri.

Manik duduk bersila menyembah Dewi Sri.

“Sebagai terimakasihku. Aku akan memberikan anugerah,” ucap Dewi Sri. Dewi Sri mengangkat tangan, keluarlah biji-bijian tanpa hentinya. Biji-bijian terbang menyebar ke seluruh desa itu. Dan ajaibnya, biji-bijian itu berubah tumbuh menjadi banyak jenis tanaman. Desa itu pun kembali menjadi hijau seperti sediakala.

“Dewi Sri, terimakasih anugerah-Mu, desa ini kembali hijau seperti sediakala,” ucap Manik atas keajaiban yang disaksikannya.

“Jaga dan rawatlah semua anugerahku ini, Manik! Simpanlah biji-biji mereka agar kelak bisa kamu tanam kembali. Jangan pernah mengusir cacing-cacing itu dan memberinya plastik. Jika itu terjadi, cacing-cacing itu pergi dari desa ini dan semua tumbuhan yang ada di sini aku kembali pada-Ku,” pesan Dewi Sri.

Dewi Sri pun menghilang di balik cahaya untuk pergi kekhayangan. “Ini seperti pesan pohon apel dulu. Aku harus menjaga cacing-cacing itu,”pikir Manik yang masih duduk menunduk menyembah Dewi Sri.

Manik merasa Dewi Sri sudah pergi ke kayangan. Manik pun bangun dri duduk bersilanya. Manik kembali takjub melihat pohon apel tumbuh di samping kursinya. “Pohon apel kesanganku sudah kembali,” ucap Manik bahagia.

Semenjak kejadian itu, Manik selalu melaksanakan pesan-pesan itu.

  1. Menjaga tanaman agar bisa berbiji (berbuah) dengan baik
  2. Menjaga biji-bijian dengan baik agar bisa ditanam kembali
  3. Jangan mengusir cacing-cacing dari tanah
  4. Jangan memberi cacing itu plastik karena cacing akan pergi tak suka pada plastik
  5. Jangan membuang plastik sembarangan, karena jika itu terjadi semua binatang dan tumbuhan akan kembali diambil Dewi Sri (Tuhan)

Manik selalu mengingat pesan itu. Orang-orang yang dulu pergi meninggalkan desa, kini datang lagi dan menemukan tanah desa kembali subur. Manik bersama mereka menjaga dan merawat semua tumbuhan itu. Desa terpencil itu pun tak pernah lagi kekeringan. Tanahnya tetap subur dan berbagai jenis tumbuhan bisa tumbuh. (T)

Tags: dongengfaunafloraPendidikanpendidikan usia diniTanah
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Inspiratif Masa Kini: Pemberi Nilai Kehidupan, Bukan Sekadar Nilai ABCD

Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co