13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wasiat Pohon Apel dan Cacing Tanah – Sebuah Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

HIDUPLAH seorang lelaki bernama Manik di gubuk tua di sebuah desa terpencil. Di desa terpencil itu, tidak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Pohon-pohon sudah ditebang oleh para pencuri kayu. Tanah-tanah di desa itu kering-kerontang karena sudah lama tidak turun hujan. Penduduk mulai pergi jauh meninggalkan desa itu. Desa yang sudah menjadi tandus.

Kini, tinggallah Manik sendiri di gubuk tua. Manik sudah mulai tidak sanggup tinggal di desa terpencil itu. Suatu malam, Manik mengemasi barang-barangnya dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan esok pagi. Usai berkemas, Manik iseng merebahkan badan di atas tikar yang sudah compang-camping.

“Manik, cucuku sayang. Mengapa kamu harus meninggalkan desa ini juga?” kata seseorang.

Awalnya, Manik tak mengenal orang itu. Tapi setelah diamat-amati, orang itu mirip Dewa Wisnu yang sering ia lihat dalam lukisan-lukisan tua di desanya.

“Saya sudah tak kuat hidup di desa yang tandus ini, Dewa Wisnu,” kata Manik.

Dewa Wisnu kemudian bersabda dengan suara menggelegar. “Dulu desa ini sangat subur dan banyak pohon-pohon rindang. Musim hujan pun selalu datang setiap tahun. Ini kuberikan kamu biji dan tanamlah!”

Manik kaget, ia sontak terbangun dari tidurnya. “Oh, ternyata aku hanya bermimpi,” ucapnya kemudian,

Manik menggulung tikarnya bersiap pergi dari desa. Namun, Manik menemukan sebuah biji di lantai. Biji itu berkelip-kelip memancarkan cahaya. Manik mengambil biji itu. “Belum pernah aku melihat biji tanaman seperti ini. Apakah biji ini yang dimaksud oleh Dewa Wisnu dalam mimpiku?” kata Manik dalam hati.

Melihat biki bercahaya itu, Manik melupakan niatnya meninggalkan desa. Manik pergi ke lahan kebun di belakang gubuk. Ia menanam biji itu. Manik ingin membuktikan kata-kata Dewa Wisnu dalam mimpinya. Ketika biji itu sudah ditanam, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Manik heran dan bahagia. Namun, tiba-tiba, kilatan petir menyambar tanah tempat biji itu ditanam.

Manik tersentak kaget menyaksikan kilatan petir menyambar biji yang ditanamnya. “Hancur sudah harapanku. Mimpi itu tidak jadi kenyataan,” keluhnya dalam hati.

Namun begitu Manik kemudian tersenyum lega. “Ah, aku tetap bahagia karena telah turun hujan.”

Manik pun masuk ke gubuk reotnya dan mengeringkan badann yang basah kuyup. Manik termenung dan masih belum percaya dengan kejadian yang sudah dialaminya.

Keesok paginya, Manik kaget melihat pohon apel yang besar tumbuh di tempat biki yang kemarin ia tanam. Ia tak percaya biji itu tumbuh dengan ajaib. “Apakah biji itu adalah biji apel? Bukankah biji itu kemarin sudah tersambar petir?” ucap Manik heran.

Manik mendekati pohon itu untuk memastikan bahwa itu merupakan biji yang ditanamnya kemarin. Ternyata, memang benar biji itu yang ditanam oleh Manik. Sebab, Manik melihat tanah gosong bekas terbakar di sekitar pohon apel. “Horeeee, mulai sekarang aku bisa menikmati buah apel,” ucap Manik bahagia.

Manik merawat pohon apel itu. Manik merasa bahagia karena bisa menikmati hasil panen dari pohon apel itu dan bisa menghirup udara segarnya. Tanah-tanah di sekitar pohon apel itu menjadi subur. Rerumputan dan bunga-bunga pun tumbuh subur di sekitar pohon apel itu.

Numun, beberapa tahun kemudian, ketika Manik sedang duduk di bawah pohon apel, tiba-tiba pohon apel berbisik kepada Manik. “Hai temanku. Jika aku sudah tua dan tak mampu berbuah lagi, mohon semua daun-daunku dikubur ditanah kebunmu. Jika beberapa bulan kemudian ada binatang-binatang kecil makan daun busukku, jangan kamu usir mereka. Sebab, kebunmu menjadi subur karena binatang kecil itu yang memakan daun-daun busukku. Jika kamu menemukan benda berkilau dalam batang tubuhku, simpanlah itu dengan baik. Dan, batang-batang tubuhku boleh kamu gunakan sesuai keinginanmu!”

Manik bersedih mendengar bisikan pohon apel itu. “Mengapa aku harus melakukan itu. Aku sudah senang menikmati buah-buahmu yang segar dan menghirup udaramu yang segar. Bahkan, kebunku kembali subur berkat kehadiranmu. Aku senang merawatmu,” kata Manik yang akan ditinggalkan oleh Pohon Apel.

Keesokan harinya, Manik terkejut melihat pohon apelnya tumbang. Akar pohon itu sudah tidak mampu berpegangan di dalam tanah. Anehnya, Manik menemukan batu kristal berkilau di balik akar pohon apelnya. Manik pun mengambil batu kriltal itu dan menyimpannya dengan baik. Dengan perasaan sedih, Manik mengubur semua daun-daun itu sesuai pesan pohon apel.

Selama berbulan-bulan Manik bersedih atas kepergian pohon apel yang paling disayanginya. Manik hanya duduk termenung di kursi yang pernah dirindangi oleh pohon apel itu. Setiap hari Manik hanya duduk bersedih di kursi itu. Bunga-bunga di kebun itu pun layu melihat kesedihan Manik.

Tiba-tiba ia mendengar suara.

“Hai temanku, Manik sayang, jangan bersedih lagi. Tanam saja lagi biji apelnya atau biji yang lain di kebunmu ini!”

Suara siapa itu? Manik kebingungan, ia mencari-cari sumber suara itu.

“Siapa kamu? Aku tidak melihat orang di sini?” tanya Manik yang masih bingung.

“Aku di sini, di kuburan daun-daun apel!”

Manik bangun dari kursinya mendekati daun-daun apel yang sudah dikuburnya di dalam tanah. Manik kaget melihat begitu banyak menemukan binatang kecil di kebunnya itu.

“Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini?” tanya Manik bingung.

“Aku Cacing yang suka makan dau-daun busuk, tetapi aku tidak suka plastik. Aku Cacing yang bisa menggemburkan tanah. Aku bisa menyuburkan tanah kalau aku diberi makan tumbuh-tumbuhan busuk,” jawab binatang kecil yang ternyata adalah Cacing.

“Oh, kamu Cacing,” ucap Manik.

“Tenyata binatang kecil yang dimaksud pohon apel adalah Cacing dan aku tidak boleh mengusirnya,” kata Manik melamun.

“Cepat tanam sekarang biji tumbuhan yang kamu punya!” perintah Cacing memecah lamunan Manik.

“Aku tidak punya biji-biji tumbuhan lagi. Biji-biji dari pohon apel pun aku lupa menyimpannya. Aku hanya punya batu kristal ini,” kata Manik menunjukkan batu yang ia dapat dari pohon apel yang sudah tumbang.

“Coba kamu pecahkan batu kristal itu di tanah kebunmu. Siapa tahu di dalamnya ada biji tanaman ajaib,” kata Cacing.

“Batu kristal ini kan harus aku jaga dengan baik sesuai pesan pohon apel. Sama seperti kamu, aku tidak boleh mengusir kamu. Apakah mungkin aku harus memecahkan batu kristal ini?” kata Manik ragu.

“Jangan ragu lagi. Coba kamu pecahkan batu kristal itu,” pinta Cacing.

“Ah, aku tidak mau melakukan itu,” tolak Manik penuh keyakinan.  Manik pergi meninggalkan cacing-cacing itu.

Manik kembali duduk di kursinya itu sendiri. Tiba-tiba, Manik mendengar bisikan. “Hai kawanku Manik, benar yang dikatakan oleh Cacing. Kamu harus memecahkan batu kristal itu.” Bisikan itu mirip seperti suara pohon apel yang didengarnya sebelum pohon itu tumbang.

Karena yakin itu bisikan pohon apel Manik akhirnya memecahkan batu kristalnya. Manik mengambil dua batu. Manik meletakkan batu kristal di atas batu dan membenturkan batu yang ada di tangannya ke batu kristal. “Breeeaaak,” terdengar pecahan batu kristal itu.

Manik tidak melihat ada keajaiban. Biji-bijian pun tidak ada. Manik semakin sedih karena harus kehilangan batu kristal pemberian pohon apel. “Aku tidak punya apa-apa lagi,” keluh sedih Manik.

Namun, pecahan batu kristal itu perlahan bergerak menyatu. Dan tiba-tiba, berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Manik terjatuh kaget melihat keajaiban itu.

“Kamu siapa? Mengapa pecahan batu kristalku bisa berubah menjadi wanita cantik,” tanya Manik gemetar.

“Aku, Dewi Sri. Ketika Manik sedang menanam biji apel pemberian Dewa Wisnu, aku dikutuk oleh Kala Rau menjadi batu kristal. Dan, aku dilempar ke bumi, kemudian jatuh tepat di biji apelmu yang dulu kamu tanam. Petir yang menyambar itu adalah aku, Dewi Sri,” ucap Dewi Sri.

Manik duduk bersila menyembah Dewi Sri.

“Sebagai terimakasihku. Aku akan memberikan anugerah,” ucap Dewi Sri. Dewi Sri mengangkat tangan, keluarlah biji-bijian tanpa hentinya. Biji-bijian terbang menyebar ke seluruh desa itu. Dan ajaibnya, biji-bijian itu berubah tumbuh menjadi banyak jenis tanaman. Desa itu pun kembali menjadi hijau seperti sediakala.

“Dewi Sri, terimakasih anugerah-Mu, desa ini kembali hijau seperti sediakala,” ucap Manik atas keajaiban yang disaksikannya.

“Jaga dan rawatlah semua anugerahku ini, Manik! Simpanlah biji-biji mereka agar kelak bisa kamu tanam kembali. Jangan pernah mengusir cacing-cacing itu dan memberinya plastik. Jika itu terjadi, cacing-cacing itu pergi dari desa ini dan semua tumbuhan yang ada di sini aku kembali pada-Ku,” pesan Dewi Sri.

Dewi Sri pun menghilang di balik cahaya untuk pergi kekhayangan. “Ini seperti pesan pohon apel dulu. Aku harus menjaga cacing-cacing itu,”pikir Manik yang masih duduk menunduk menyembah Dewi Sri.

Manik merasa Dewi Sri sudah pergi ke kayangan. Manik pun bangun dri duduk bersilanya. Manik kembali takjub melihat pohon apel tumbuh di samping kursinya. “Pohon apel kesanganku sudah kembali,” ucap Manik bahagia.

Semenjak kejadian itu, Manik selalu melaksanakan pesan-pesan itu.

  1. Menjaga tanaman agar bisa berbiji (berbuah) dengan baik
  2. Menjaga biji-bijian dengan baik agar bisa ditanam kembali
  3. Jangan mengusir cacing-cacing dari tanah
  4. Jangan memberi cacing itu plastik karena cacing akan pergi tak suka pada plastik
  5. Jangan membuang plastik sembarangan, karena jika itu terjadi semua binatang dan tumbuhan akan kembali diambil Dewi Sri (Tuhan)

Manik selalu mengingat pesan itu. Orang-orang yang dulu pergi meninggalkan desa, kini datang lagi dan menemukan tanah desa kembali subur. Manik bersama mereka menjaga dan merawat semua tumbuhan itu. Desa terpencil itu pun tak pernah lagi kekeringan. Tanahnya tetap subur dan berbagai jenis tumbuhan bisa tumbuh. (T)

Tags: dongengfaunafloraPendidikanpendidikan usia diniTanah
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Inspiratif Masa Kini: Pemberi Nilai Kehidupan, Bukan Sekadar Nilai ABCD

Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co