23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wasiat Pohon Apel dan Cacing Tanah – Sebuah Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

HIDUPLAH seorang lelaki bernama Manik di gubuk tua di sebuah desa terpencil. Di desa terpencil itu, tidak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Pohon-pohon sudah ditebang oleh para pencuri kayu. Tanah-tanah di desa itu kering-kerontang karena sudah lama tidak turun hujan. Penduduk mulai pergi jauh meninggalkan desa itu. Desa yang sudah menjadi tandus.

Kini, tinggallah Manik sendiri di gubuk tua. Manik sudah mulai tidak sanggup tinggal di desa terpencil itu. Suatu malam, Manik mengemasi barang-barangnya dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan esok pagi. Usai berkemas, Manik iseng merebahkan badan di atas tikar yang sudah compang-camping.

“Manik, cucuku sayang. Mengapa kamu harus meninggalkan desa ini juga?” kata seseorang.

Awalnya, Manik tak mengenal orang itu. Tapi setelah diamat-amati, orang itu mirip Dewa Wisnu yang sering ia lihat dalam lukisan-lukisan tua di desanya.

“Saya sudah tak kuat hidup di desa yang tandus ini, Dewa Wisnu,” kata Manik.

Dewa Wisnu kemudian bersabda dengan suara menggelegar. “Dulu desa ini sangat subur dan banyak pohon-pohon rindang. Musim hujan pun selalu datang setiap tahun. Ini kuberikan kamu biji dan tanamlah!”

Manik kaget, ia sontak terbangun dari tidurnya. “Oh, ternyata aku hanya bermimpi,” ucapnya kemudian,

Manik menggulung tikarnya bersiap pergi dari desa. Namun, Manik menemukan sebuah biji di lantai. Biji itu berkelip-kelip memancarkan cahaya. Manik mengambil biji itu. “Belum pernah aku melihat biji tanaman seperti ini. Apakah biji ini yang dimaksud oleh Dewa Wisnu dalam mimpiku?” kata Manik dalam hati.

Melihat biki bercahaya itu, Manik melupakan niatnya meninggalkan desa. Manik pergi ke lahan kebun di belakang gubuk. Ia menanam biji itu. Manik ingin membuktikan kata-kata Dewa Wisnu dalam mimpinya. Ketika biji itu sudah ditanam, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Manik heran dan bahagia. Namun, tiba-tiba, kilatan petir menyambar tanah tempat biji itu ditanam.

Manik tersentak kaget menyaksikan kilatan petir menyambar biji yang ditanamnya. “Hancur sudah harapanku. Mimpi itu tidak jadi kenyataan,” keluhnya dalam hati.

Namun begitu Manik kemudian tersenyum lega. “Ah, aku tetap bahagia karena telah turun hujan.”

Manik pun masuk ke gubuk reotnya dan mengeringkan badann yang basah kuyup. Manik termenung dan masih belum percaya dengan kejadian yang sudah dialaminya.

Keesok paginya, Manik kaget melihat pohon apel yang besar tumbuh di tempat biki yang kemarin ia tanam. Ia tak percaya biji itu tumbuh dengan ajaib. “Apakah biji itu adalah biji apel? Bukankah biji itu kemarin sudah tersambar petir?” ucap Manik heran.

Manik mendekati pohon itu untuk memastikan bahwa itu merupakan biji yang ditanamnya kemarin. Ternyata, memang benar biji itu yang ditanam oleh Manik. Sebab, Manik melihat tanah gosong bekas terbakar di sekitar pohon apel. “Horeeee, mulai sekarang aku bisa menikmati buah apel,” ucap Manik bahagia.

Manik merawat pohon apel itu. Manik merasa bahagia karena bisa menikmati hasil panen dari pohon apel itu dan bisa menghirup udara segarnya. Tanah-tanah di sekitar pohon apel itu menjadi subur. Rerumputan dan bunga-bunga pun tumbuh subur di sekitar pohon apel itu.

Numun, beberapa tahun kemudian, ketika Manik sedang duduk di bawah pohon apel, tiba-tiba pohon apel berbisik kepada Manik. “Hai temanku. Jika aku sudah tua dan tak mampu berbuah lagi, mohon semua daun-daunku dikubur ditanah kebunmu. Jika beberapa bulan kemudian ada binatang-binatang kecil makan daun busukku, jangan kamu usir mereka. Sebab, kebunmu menjadi subur karena binatang kecil itu yang memakan daun-daun busukku. Jika kamu menemukan benda berkilau dalam batang tubuhku, simpanlah itu dengan baik. Dan, batang-batang tubuhku boleh kamu gunakan sesuai keinginanmu!”

Manik bersedih mendengar bisikan pohon apel itu. “Mengapa aku harus melakukan itu. Aku sudah senang menikmati buah-buahmu yang segar dan menghirup udaramu yang segar. Bahkan, kebunku kembali subur berkat kehadiranmu. Aku senang merawatmu,” kata Manik yang akan ditinggalkan oleh Pohon Apel.

Keesokan harinya, Manik terkejut melihat pohon apelnya tumbang. Akar pohon itu sudah tidak mampu berpegangan di dalam tanah. Anehnya, Manik menemukan batu kristal berkilau di balik akar pohon apelnya. Manik pun mengambil batu kriltal itu dan menyimpannya dengan baik. Dengan perasaan sedih, Manik mengubur semua daun-daun itu sesuai pesan pohon apel.

Selama berbulan-bulan Manik bersedih atas kepergian pohon apel yang paling disayanginya. Manik hanya duduk termenung di kursi yang pernah dirindangi oleh pohon apel itu. Setiap hari Manik hanya duduk bersedih di kursi itu. Bunga-bunga di kebun itu pun layu melihat kesedihan Manik.

Tiba-tiba ia mendengar suara.

“Hai temanku, Manik sayang, jangan bersedih lagi. Tanam saja lagi biji apelnya atau biji yang lain di kebunmu ini!”

Suara siapa itu? Manik kebingungan, ia mencari-cari sumber suara itu.

“Siapa kamu? Aku tidak melihat orang di sini?” tanya Manik yang masih bingung.

“Aku di sini, di kuburan daun-daun apel!”

Manik bangun dari kursinya mendekati daun-daun apel yang sudah dikuburnya di dalam tanah. Manik kaget melihat begitu banyak menemukan binatang kecil di kebunnya itu.

“Siapa kamu? Sedang apa kamu di sini?” tanya Manik bingung.

“Aku Cacing yang suka makan dau-daun busuk, tetapi aku tidak suka plastik. Aku Cacing yang bisa menggemburkan tanah. Aku bisa menyuburkan tanah kalau aku diberi makan tumbuh-tumbuhan busuk,” jawab binatang kecil yang ternyata adalah Cacing.

“Oh, kamu Cacing,” ucap Manik.

“Tenyata binatang kecil yang dimaksud pohon apel adalah Cacing dan aku tidak boleh mengusirnya,” kata Manik melamun.

“Cepat tanam sekarang biji tumbuhan yang kamu punya!” perintah Cacing memecah lamunan Manik.

“Aku tidak punya biji-biji tumbuhan lagi. Biji-biji dari pohon apel pun aku lupa menyimpannya. Aku hanya punya batu kristal ini,” kata Manik menunjukkan batu yang ia dapat dari pohon apel yang sudah tumbang.

“Coba kamu pecahkan batu kristal itu di tanah kebunmu. Siapa tahu di dalamnya ada biji tanaman ajaib,” kata Cacing.

“Batu kristal ini kan harus aku jaga dengan baik sesuai pesan pohon apel. Sama seperti kamu, aku tidak boleh mengusir kamu. Apakah mungkin aku harus memecahkan batu kristal ini?” kata Manik ragu.

“Jangan ragu lagi. Coba kamu pecahkan batu kristal itu,” pinta Cacing.

“Ah, aku tidak mau melakukan itu,” tolak Manik penuh keyakinan.  Manik pergi meninggalkan cacing-cacing itu.

Manik kembali duduk di kursinya itu sendiri. Tiba-tiba, Manik mendengar bisikan. “Hai kawanku Manik, benar yang dikatakan oleh Cacing. Kamu harus memecahkan batu kristal itu.” Bisikan itu mirip seperti suara pohon apel yang didengarnya sebelum pohon itu tumbang.

Karena yakin itu bisikan pohon apel Manik akhirnya memecahkan batu kristalnya. Manik mengambil dua batu. Manik meletakkan batu kristal di atas batu dan membenturkan batu yang ada di tangannya ke batu kristal. “Breeeaaak,” terdengar pecahan batu kristal itu.

Manik tidak melihat ada keajaiban. Biji-bijian pun tidak ada. Manik semakin sedih karena harus kehilangan batu kristal pemberian pohon apel. “Aku tidak punya apa-apa lagi,” keluh sedih Manik.

Namun, pecahan batu kristal itu perlahan bergerak menyatu. Dan tiba-tiba, berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Manik terjatuh kaget melihat keajaiban itu.

“Kamu siapa? Mengapa pecahan batu kristalku bisa berubah menjadi wanita cantik,” tanya Manik gemetar.

“Aku, Dewi Sri. Ketika Manik sedang menanam biji apel pemberian Dewa Wisnu, aku dikutuk oleh Kala Rau menjadi batu kristal. Dan, aku dilempar ke bumi, kemudian jatuh tepat di biji apelmu yang dulu kamu tanam. Petir yang menyambar itu adalah aku, Dewi Sri,” ucap Dewi Sri.

Manik duduk bersila menyembah Dewi Sri.

“Sebagai terimakasihku. Aku akan memberikan anugerah,” ucap Dewi Sri. Dewi Sri mengangkat tangan, keluarlah biji-bijian tanpa hentinya. Biji-bijian terbang menyebar ke seluruh desa itu. Dan ajaibnya, biji-bijian itu berubah tumbuh menjadi banyak jenis tanaman. Desa itu pun kembali menjadi hijau seperti sediakala.

“Dewi Sri, terimakasih anugerah-Mu, desa ini kembali hijau seperti sediakala,” ucap Manik atas keajaiban yang disaksikannya.

“Jaga dan rawatlah semua anugerahku ini, Manik! Simpanlah biji-biji mereka agar kelak bisa kamu tanam kembali. Jangan pernah mengusir cacing-cacing itu dan memberinya plastik. Jika itu terjadi, cacing-cacing itu pergi dari desa ini dan semua tumbuhan yang ada di sini aku kembali pada-Ku,” pesan Dewi Sri.

Dewi Sri pun menghilang di balik cahaya untuk pergi kekhayangan. “Ini seperti pesan pohon apel dulu. Aku harus menjaga cacing-cacing itu,”pikir Manik yang masih duduk menunduk menyembah Dewi Sri.

Manik merasa Dewi Sri sudah pergi ke kayangan. Manik pun bangun dri duduk bersilanya. Manik kembali takjub melihat pohon apel tumbuh di samping kursinya. “Pohon apel kesanganku sudah kembali,” ucap Manik bahagia.

Semenjak kejadian itu, Manik selalu melaksanakan pesan-pesan itu.

  1. Menjaga tanaman agar bisa berbiji (berbuah) dengan baik
  2. Menjaga biji-bijian dengan baik agar bisa ditanam kembali
  3. Jangan mengusir cacing-cacing dari tanah
  4. Jangan memberi cacing itu plastik karena cacing akan pergi tak suka pada plastik
  5. Jangan membuang plastik sembarangan, karena jika itu terjadi semua binatang dan tumbuhan akan kembali diambil Dewi Sri (Tuhan)

Manik selalu mengingat pesan itu. Orang-orang yang dulu pergi meninggalkan desa, kini datang lagi dan menemukan tanah desa kembali subur. Manik bersama mereka menjaga dan merawat semua tumbuhan itu. Desa terpencil itu pun tak pernah lagi kekeringan. Tanahnya tetap subur dan berbagai jenis tumbuhan bisa tumbuh. (T)

Tags: dongengfaunafloraPendidikanpendidikan usia diniTanah
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Guru Inspiratif Masa Kini: Pemberi Nilai Kehidupan, Bukan Sekadar Nilai ABCD

Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post

Aduh Malu, Di Sini Rusak, Di Situ Mulus! – Soal Jalan Desa di Batas Tabanan dan Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co