2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Abrakadabra! Apakah Soekarno Langsung jadi Hebat? – Mendidik Anak Lewat Rupiah Baru

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Esai

Net

ORANG Indonesia, khususnya para penghuni dunia maya, memang cerewetnya minta ampun. Segala hal dikomentari dengan kemampuan analisis seadanya. Kalau disuruh menganalisis lebih dalam, bisa berujung emosi, mungkin karena “ususnya juga memang pendek”.

Ini berkebalikan dengan minat baca yang sangat menyedihkan. UNESCO tahun 2011 lalu sudah merilis, minat baca orang Indonesia hanya 0,001 alias dari 1000 orang hanya seorang saja yang memiliki minat baca. Ditambah hasil survei Central Connecticut State University, sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, mengganjar Indonesia di ranking 60 dalam minat baca, dari 61 negara yang disurvei.

Memang, cerewet itu perlu. Sejak Orde Baru, memang kita terlalu banyak dilarang ini dan itu, termasuk dilarang cerewet. Bahkan, cerewet sedikit bisa dibilang subversif, dan bisa-bisa dikarungi tentara, salah satu mesin Orde Baru. Akibatnya, di kala tirani tumbang, kebebasan terbuka lebar, semua bisa bebas berekspresi. Salah satunua menyampaikan pendapat. Sayang, dengan minat baca yang minim, pendapat itu akan tampak begitu dangkal.

Contoh saja kebijakan Bank Indonesia menerbitkan pecahan uang baru Republik Indonesia akhir 2016 lalu. Semua bebas bergunjing. Ramainya bukan main. Dari di media sosial, hingga warung-warung kopi ngomongi sebelas pecahan rupiah terbaru. Tapi, sayang sekali, keriuhan itu hanya berkutat pada hal-hal yang tidak substantif. Misalnya, ada yang menjadi kompor bertanya mengapa banyak pahlawan yang kafir. Halo, hari gini masih omong kofar-kafir?. Mbok ya sadar, negeri ini didirikan bukan oleh segolongan orang saja. Melainkan dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan.

Mengenai logo BI juga ribut bukan main. Konon, katanya, mirip gambar palu arit, lambang partai komunis. Partai yang diharamjadahkan, meski tak kecil pula jasanya dalam memerdekakan republik ini. Padahal itu metode cetak rectoverso yaitu gambar saling isi. Bila dilihat biasa saja, terlihat tidak beraturan, sedang bila diterawang maka akan terlihat utuh. Menurut BI, ini sebagai cara pengamanan uang agar tak mudah dipalsu.

Dan yang tak kalah rusuh adalah ada pula yang memprotes mengapa pahlawan yang ini diganti dengan yang itu. Mengenai hal ini di Bali juga ikut virus latah. Mempertanyakan mengapa I Gusti Ngurah Rai, pahlawan asal Puri Carangsari, Desa Petang, yang muncul di pecahan Rp 50 ribu terdahulu diganti Djuanda Kartawidjaja di uang pecahan terbaru. Sedangkan, Mr. I Gusti Ketut Pudja, pahlawan asal Bali lainnya, yang pendatang baru, hanya muncul di pecahan Rp 1000. Dalam bentuk uang logam lagi.

Perdebatan seperti itu tidak penting-penting amat. Pun tak bermanfaat. Malah hanya menunjukkan betapa dungunya kita.

Soekarno dan Tokoh Pendahulunya

Kita patut bertanya, apakah dengan potret Sukarno pada uang pecahan Rp 100 ribu, lantas kita menganggap Putra Sang Fajar itu lebih hebat dari yang lain? Apakah lebih hebat dari Tan Malaka, misalnya, yang membuat risalah Massa Actie (Aksi Massa), yang di kemudian hari turut mempengaruhi pemikiran Sukarno? Atau Alimin, dkk  yang turut melakukan pemberontakan bersenjata melawan penjajah Belanda di tahun 1926 yang turut mengilhami si Bung Besar mendirikan PNI? Mungkinkah lebih progresif dari Tirto Adhi Soeryo yang sekalipun hanya melawan menggunakan pena dan organisasi, yang ketika itu pena dan organisasi (secara historis) masih menjadi hal yang baru dan asing dalam membela sebangsanya?

Sukarno dan  juga Hatta tidak ada apa-apanya, dan mungkin tak akan jadi apa-apa, bila tak ada pejuang-pejuang yang mendahuluinya. Dia tak akan menjadi radikal dan berpikiran maju begitu bila tak ada faktor-faktor eksternal yang ikut memupuk kesadarannya. Ya, Sukarno tak akan sekonyong-konyong menjadi radikal sekiranya hanya sekadar indekos di rumah juragan yang setiap hari menumpuk laba, dan tak ada persinggungan dengan literatur dan pergerakan progresif di luaran.

Kenyataannya, Soekarno indekos di rumah HOS Cokroaminoto, di Jalan Peneleh Surabaya. Rumahnya kaum pergerakan, yang menjadi tempat berdialektika para pejuang macam Semaoen, Darsono, Alimin, Tan Malaka, Musso, dan lainnya. Atau, apakah Sukarno akan menjadi presiden dan Hatta sebagai wakilnya seandainya tak ada anak-anak muda tukang kompor, macam Sukarni, DN Aidit, Wikana, Chaerul Saleh dan yang lain?

Singkatnya, Sukarno, termasuk Hatta dan pahlawan lainnya adalah konstruksi rumit dari hasil persinggungan banyak faktor. Dia tidak tiba-tiba muncul, seperti kun fayakun (jadi maka jadilah) atau abrakadabra laksana main sulap. Dia adalah produk gesekan dengan para pejuang yang mendahului maupun yang sezamannya, termasuk bahan bacaan  (buku, koran, majalah) yang turut mempengaruhi pemikirannya. Dengan modal pemikiran, secara dialektik teraplikasikan dalam membaca dan menganalisa kondisi ekonomi, sosial, politik dan kultural yang dihadapi bangsanya di bawah penjajahan. Jadi, faktor-faktor itu tak terpisahkan. Saling menggenapi.

Walau demikian, kita juga patut jujur mengakui, Sukarno, dan para pahlawan yang mendahului atau mengikuti, adalah segelintir elemen termaju dalam perjuangan pembebasan nasional. Bahkan, tanpa para prajurit, buruh, tani, mahasiswa, pekerja kebudayaan, dan rakyat kebanyakan yang turut serta berjuang sesuai kemampuan dan kompetensi serta perannya, para pejuang yang diganjar dengan gelar pahlawan itu hanya akan menjadi “pengembara yang berteriak-teriak di tengah padang pasir”. Ini meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer dalam roman Jejak Langkah (bagian tetralogi buru Bumi Manusia). Sebuah penggambaran betapa sulitnya dr. Wahidin Soedirohoesodo mengorganisir sebangsanya untuk diorganisasikan melawan keterbelakangan di tengah kemajuan bangsa-bangsa lain.

Sarana Pendidikan yang Menarik

Selalu ada hikmah dari polemik. Termasuk sinisme atas pecahan rupiah terbaru ini? Bagiku sendiri, uang rupiah terbaru maupun yang lama, yang memunculkan gambar para pahlawan adalah sebuah media edukasi. Bagi siapa saja, baik orang dewasa, dan lebih-lebih lagi untuk anak-anak. Uang pecahan dari yang terkecil Rp 100, hingga Rp 100 ribu, itu adalah sarana pendidikan yang menarik, yang paling dekat dengan dunia kita.

Ini teringat ketika Hari Pahlawan tahun lalu. Muncul pertanyaan dari anak-anak, apa itu pahlawan? Tidak mudah menjawab bila si penanya adalah anak TK. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Bisa saja pahlawan seperti yang dikatakan Lu Sun. “Biarlah aku jadi sapinya rakyat, yang makan rumput, tapi menghasilkan susu baginya; aku tundukkan kepala untuk menerima segala perintahnya, tapi pada musuh aku tak kenal menyerah!” (Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, halaman 111: 2003). Memang, pengertian ini masih bisa diperdebatkan.

Kepada anak, jawaban atas pengertian pahlawan kadang tidak akan mencukupi. Butuh contoh untuk melengkapi. Bagi orang tua yang tak suka membaca, atau minimal mendengar, cerita-cerita pahlawan dan kepahlawannya, tentu ini menjadi masalah tersendiri. Apalagi, kepada anak, kepiawaian orang tua mendongeng amatlah penting, agar cerita tak kering. Syukurlah, hari ini ada internet yang memudahkan dalam beberapa hal, salah satunya pencarian dengan kata kunci nama-nama pahlawan.

Uang pecahan bergambar para pahlawan itu akan menjadi media edukasi sekiranya kita bisa menjelaskan siapa dia, dan nilai-nilai kepahlawanan seperti apa yang membuatnya menjadi pahlawan. Mulai dari uang Rp 100 ribu bergambar Sukarno dan Hatta, Djuanda Kartawidjaja di pecahan Rp 50 ribu, Sam Ratulangi di pecahan Rp 20 ribu, Rp 10 ribu bergambar Frans Kaisiepo, KH. Idham Chalid di uang Rp 5000, MH Thamrin di Rp 2000, Mr. I Gusti Ketut Pudja di pecahan logam Rp 1000, dan kertas Tjut Meutiah, TB Simatupang di pecahan Rp 500, dokter rakyat Tjipto Mangunkusumo di pecahan Rp 200, hingga Herman Johanes di pecahan terkecil Rp 100.

Bahkan, gambar orang utan di uang pecahan Rp 500 terdahulu pun masih bisa dijadikan media pendidikan, betapa pentingnya perlindungan dan pelestarian terhadap satwa endemik Indonesia, yang terancam punah ini.

Harapannya, dengan cerita kepahlawanan ini, anak-anak terinspirasi, memiliki mimpi, menjadi pahlawan-pahlawan bagi negara dan bangsa Indonesia di masa mendatang. Dan sudah barang tentu kita akhiri polemik remeh-temeh bin mubazir atas munculnya uang rupiah pecahan terbaru. (T)

Tags: pahlawanPendidikanSoekarnouang
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Orasi Putu Wijaya: Kekalahan Sekali pun adalah Peluang Terbaik untuk Menang

Next Post

Identifikasi Lontar di Payangan dan Ubud: Membuka Ilmu yang Dianggap “Tenget”

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Identifikasi Lontar di Payangan dan Ubud: Membuka Ilmu yang Dianggap “Tenget”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co