22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Abrakadabra! Apakah Soekarno Langsung jadi Hebat? – Mendidik Anak Lewat Rupiah Baru

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Esai

Net

ORANG Indonesia, khususnya para penghuni dunia maya, memang cerewetnya minta ampun. Segala hal dikomentari dengan kemampuan analisis seadanya. Kalau disuruh menganalisis lebih dalam, bisa berujung emosi, mungkin karena “ususnya juga memang pendek”.

Ini berkebalikan dengan minat baca yang sangat menyedihkan. UNESCO tahun 2011 lalu sudah merilis, minat baca orang Indonesia hanya 0,001 alias dari 1000 orang hanya seorang saja yang memiliki minat baca. Ditambah hasil survei Central Connecticut State University, sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, mengganjar Indonesia di ranking 60 dalam minat baca, dari 61 negara yang disurvei.

Memang, cerewet itu perlu. Sejak Orde Baru, memang kita terlalu banyak dilarang ini dan itu, termasuk dilarang cerewet. Bahkan, cerewet sedikit bisa dibilang subversif, dan bisa-bisa dikarungi tentara, salah satu mesin Orde Baru. Akibatnya, di kala tirani tumbang, kebebasan terbuka lebar, semua bisa bebas berekspresi. Salah satunua menyampaikan pendapat. Sayang, dengan minat baca yang minim, pendapat itu akan tampak begitu dangkal.

Contoh saja kebijakan Bank Indonesia menerbitkan pecahan uang baru Republik Indonesia akhir 2016 lalu. Semua bebas bergunjing. Ramainya bukan main. Dari di media sosial, hingga warung-warung kopi ngomongi sebelas pecahan rupiah terbaru. Tapi, sayang sekali, keriuhan itu hanya berkutat pada hal-hal yang tidak substantif. Misalnya, ada yang menjadi kompor bertanya mengapa banyak pahlawan yang kafir. Halo, hari gini masih omong kofar-kafir?. Mbok ya sadar, negeri ini didirikan bukan oleh segolongan orang saja. Melainkan dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan.

Mengenai logo BI juga ribut bukan main. Konon, katanya, mirip gambar palu arit, lambang partai komunis. Partai yang diharamjadahkan, meski tak kecil pula jasanya dalam memerdekakan republik ini. Padahal itu metode cetak rectoverso yaitu gambar saling isi. Bila dilihat biasa saja, terlihat tidak beraturan, sedang bila diterawang maka akan terlihat utuh. Menurut BI, ini sebagai cara pengamanan uang agar tak mudah dipalsu.

Dan yang tak kalah rusuh adalah ada pula yang memprotes mengapa pahlawan yang ini diganti dengan yang itu. Mengenai hal ini di Bali juga ikut virus latah. Mempertanyakan mengapa I Gusti Ngurah Rai, pahlawan asal Puri Carangsari, Desa Petang, yang muncul di pecahan Rp 50 ribu terdahulu diganti Djuanda Kartawidjaja di uang pecahan terbaru. Sedangkan, Mr. I Gusti Ketut Pudja, pahlawan asal Bali lainnya, yang pendatang baru, hanya muncul di pecahan Rp 1000. Dalam bentuk uang logam lagi.

Perdebatan seperti itu tidak penting-penting amat. Pun tak bermanfaat. Malah hanya menunjukkan betapa dungunya kita.

Soekarno dan Tokoh Pendahulunya

Kita patut bertanya, apakah dengan potret Sukarno pada uang pecahan Rp 100 ribu, lantas kita menganggap Putra Sang Fajar itu lebih hebat dari yang lain? Apakah lebih hebat dari Tan Malaka, misalnya, yang membuat risalah Massa Actie (Aksi Massa), yang di kemudian hari turut mempengaruhi pemikiran Sukarno? Atau Alimin, dkk  yang turut melakukan pemberontakan bersenjata melawan penjajah Belanda di tahun 1926 yang turut mengilhami si Bung Besar mendirikan PNI? Mungkinkah lebih progresif dari Tirto Adhi Soeryo yang sekalipun hanya melawan menggunakan pena dan organisasi, yang ketika itu pena dan organisasi (secara historis) masih menjadi hal yang baru dan asing dalam membela sebangsanya?

Sukarno dan  juga Hatta tidak ada apa-apanya, dan mungkin tak akan jadi apa-apa, bila tak ada pejuang-pejuang yang mendahuluinya. Dia tak akan menjadi radikal dan berpikiran maju begitu bila tak ada faktor-faktor eksternal yang ikut memupuk kesadarannya. Ya, Sukarno tak akan sekonyong-konyong menjadi radikal sekiranya hanya sekadar indekos di rumah juragan yang setiap hari menumpuk laba, dan tak ada persinggungan dengan literatur dan pergerakan progresif di luaran.

Kenyataannya, Soekarno indekos di rumah HOS Cokroaminoto, di Jalan Peneleh Surabaya. Rumahnya kaum pergerakan, yang menjadi tempat berdialektika para pejuang macam Semaoen, Darsono, Alimin, Tan Malaka, Musso, dan lainnya. Atau, apakah Sukarno akan menjadi presiden dan Hatta sebagai wakilnya seandainya tak ada anak-anak muda tukang kompor, macam Sukarni, DN Aidit, Wikana, Chaerul Saleh dan yang lain?

Singkatnya, Sukarno, termasuk Hatta dan pahlawan lainnya adalah konstruksi rumit dari hasil persinggungan banyak faktor. Dia tidak tiba-tiba muncul, seperti kun fayakun (jadi maka jadilah) atau abrakadabra laksana main sulap. Dia adalah produk gesekan dengan para pejuang yang mendahului maupun yang sezamannya, termasuk bahan bacaan  (buku, koran, majalah) yang turut mempengaruhi pemikirannya. Dengan modal pemikiran, secara dialektik teraplikasikan dalam membaca dan menganalisa kondisi ekonomi, sosial, politik dan kultural yang dihadapi bangsanya di bawah penjajahan. Jadi, faktor-faktor itu tak terpisahkan. Saling menggenapi.

Walau demikian, kita juga patut jujur mengakui, Sukarno, dan para pahlawan yang mendahului atau mengikuti, adalah segelintir elemen termaju dalam perjuangan pembebasan nasional. Bahkan, tanpa para prajurit, buruh, tani, mahasiswa, pekerja kebudayaan, dan rakyat kebanyakan yang turut serta berjuang sesuai kemampuan dan kompetensi serta perannya, para pejuang yang diganjar dengan gelar pahlawan itu hanya akan menjadi “pengembara yang berteriak-teriak di tengah padang pasir”. Ini meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer dalam roman Jejak Langkah (bagian tetralogi buru Bumi Manusia). Sebuah penggambaran betapa sulitnya dr. Wahidin Soedirohoesodo mengorganisir sebangsanya untuk diorganisasikan melawan keterbelakangan di tengah kemajuan bangsa-bangsa lain.

Sarana Pendidikan yang Menarik

Selalu ada hikmah dari polemik. Termasuk sinisme atas pecahan rupiah terbaru ini? Bagiku sendiri, uang rupiah terbaru maupun yang lama, yang memunculkan gambar para pahlawan adalah sebuah media edukasi. Bagi siapa saja, baik orang dewasa, dan lebih-lebih lagi untuk anak-anak. Uang pecahan dari yang terkecil Rp 100, hingga Rp 100 ribu, itu adalah sarana pendidikan yang menarik, yang paling dekat dengan dunia kita.

Ini teringat ketika Hari Pahlawan tahun lalu. Muncul pertanyaan dari anak-anak, apa itu pahlawan? Tidak mudah menjawab bila si penanya adalah anak TK. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Bisa saja pahlawan seperti yang dikatakan Lu Sun. “Biarlah aku jadi sapinya rakyat, yang makan rumput, tapi menghasilkan susu baginya; aku tundukkan kepala untuk menerima segala perintahnya, tapi pada musuh aku tak kenal menyerah!” (Pramoedya Ananta Toer, Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, halaman 111: 2003). Memang, pengertian ini masih bisa diperdebatkan.

Kepada anak, jawaban atas pengertian pahlawan kadang tidak akan mencukupi. Butuh contoh untuk melengkapi. Bagi orang tua yang tak suka membaca, atau minimal mendengar, cerita-cerita pahlawan dan kepahlawannya, tentu ini menjadi masalah tersendiri. Apalagi, kepada anak, kepiawaian orang tua mendongeng amatlah penting, agar cerita tak kering. Syukurlah, hari ini ada internet yang memudahkan dalam beberapa hal, salah satunya pencarian dengan kata kunci nama-nama pahlawan.

Uang pecahan bergambar para pahlawan itu akan menjadi media edukasi sekiranya kita bisa menjelaskan siapa dia, dan nilai-nilai kepahlawanan seperti apa yang membuatnya menjadi pahlawan. Mulai dari uang Rp 100 ribu bergambar Sukarno dan Hatta, Djuanda Kartawidjaja di pecahan Rp 50 ribu, Sam Ratulangi di pecahan Rp 20 ribu, Rp 10 ribu bergambar Frans Kaisiepo, KH. Idham Chalid di uang Rp 5000, MH Thamrin di Rp 2000, Mr. I Gusti Ketut Pudja di pecahan logam Rp 1000, dan kertas Tjut Meutiah, TB Simatupang di pecahan Rp 500, dokter rakyat Tjipto Mangunkusumo di pecahan Rp 200, hingga Herman Johanes di pecahan terkecil Rp 100.

Bahkan, gambar orang utan di uang pecahan Rp 500 terdahulu pun masih bisa dijadikan media pendidikan, betapa pentingnya perlindungan dan pelestarian terhadap satwa endemik Indonesia, yang terancam punah ini.

Harapannya, dengan cerita kepahlawanan ini, anak-anak terinspirasi, memiliki mimpi, menjadi pahlawan-pahlawan bagi negara dan bangsa Indonesia di masa mendatang. Dan sudah barang tentu kita akhiri polemik remeh-temeh bin mubazir atas munculnya uang rupiah pecahan terbaru. (T)

Tags: pahlawanPendidikanSoekarnouang
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Orasi Putu Wijaya: Kekalahan Sekali pun adalah Peluang Terbaik untuk Menang

Next Post

Identifikasi Lontar di Payangan dan Ubud: Membuka Ilmu yang Dianggap “Tenget”

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Identifikasi Lontar di Payangan dan Ubud: Membuka Ilmu yang Dianggap “Tenget”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co