22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Sastrawan Gerson Poyk: “Kita Terasing di Bumi Subur Laut Kaya”

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Feature

Gerson Poyk/Youtube

SUATU hari di tahun 2012, Pak Gerson diantar putranya berkunjung ke kediaman saya di kompleks perumahan Jonggol, Cileungsi. Hujan deras ketika itu, saya menyongsongnya untuk membukakan pintu pagar dan membawakan payung.

“Sastrawan jaman sekarang pada mapan, ya. Punya rumah…” selorohnya mengomentari tempat tinggal saya. Saya jawab, ini rumah orang Opa, saya hanya mengontrak. Kami lalu banyak bercakap tentang banyak hal. Termasuk rencana kegiatan yang akan kami ikuti esok harinya. Kebetulan, saya dan Pak Gerson diundang untuk mengisi sebuah seminar budaya di kota Kupang.

Selain kami, panitia juga mengundang Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana. Kami membahas rencana keberangkatan itu dan kemudian ngobrol banyak hal soal perkembangan seni sastra di NTT. Ia menanyakan kepada saya beberapa nama orang muda yang ia dengar aktif menggerakkan seni sastra di wilayah itu. Saya menerangkan satu persatu.

Bahkan bukan hanya tentang generasi muda, tapi saya juga menjelaskan siapa-siapa dari kalangan tua di NTT yang masih konsisten mendukung aktivitas generasi muda itu. Saya sebutkan contohnya bapak DR.Felysianus Sanga yang menjadi guru besar di Undana, Kupang. Tentu saja ia gembira mendengar perkembangan itu.

Mungkin hampir tiga jam kami bercakap-cakap, hingga ia minta pamit. Sore keesokan harinya, kami bertemu pula di kota Kupang. Tanpa hujan deras tentu saja. Selagi Pak Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana beristirahat di penginapannya masing-masing, Pak Gerson kemudian mengajak saya berjalan kaki ke beberapa bagian kota Kupang.

Menurutnya, dari tampilan fisik, tidak banyak perubahan yang menonjol di kota itu, kecuali hotel dan cafe malamnya. Satu-satunya yang hilang, selorohnya, adalah tempat kencing yang aman di ruang terbuka. Tentu saja kami terkekeh-kekeh.

Tidak ada topik yang bisa luput dari perhatian Pak Gerson. Ia tipe sastrawan yang kompleks dan detail. Soal-soal strategi pembangunan yang salah banyak dikritiknya. Ia juga menaruh minat yang besar pada kearifan lokal sebagai modal pembangunan. Pembangunan yang tidak mengapresiasi kekayaan kearifan lokal, katanya, menciptakan keterasingan bagi masyarakatnya sendiri.

Ia mencontohkan pertanian berbentuk Lodok Lingko di Manggarai, Flores Barat. Yang pagar kebunnya cuma 20 meter tapi bisa melindungi kebun satu hektar. Tampilan artistiknya saja sudah estetika, berbentuk roda sepeda kalau itu kebun dan berbentuk sarang laba-laba kalau itu sawah. Dan ada juga kearifan budaya lokal berupa mamar pusaka yaitu kebun tanaman keras sehingga dapat disebut taman di Pulau Rote. Desa-desa di Indonesia, menurut Pak Gerson, seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai yang seperti itu.

Ia sungguh menyesalkan, betapa jutaan bangsa ini terus terasing dari buminya yang subur dan lautnya yang kaya. Kakinya di bumi subur dan laut kaya tetapi kepalanya di padang pasir dan gurun es kutub. “Lihat saja jutaan manusia berbondong di kota-kota urban. Sehingga kata pakar, urbanisasi adalah setan.

Mau tanam apa di hutan beton? Jika seorang memiliki lahan (yang subur), dengan mengorek-ngorek tanah, dalam tiga atau empat bulan sudah ada ubi, sayuran, padi dan sebagainya. Mengapa mesti merantau jauh-jauh keluar negeri sehingga terhina   sebagai budak (-upah)” lanjutnya lagi penuh semangat.

Dalam situasi keterasingan, orang kehilangan mimpi. Padahal tanpa mimpi kebangsaan yang kuat, orang tak bisa membangun kebangsaan yang kuat. Di situlah, menurut Pak Gerson sastra perlu berperan. Setiap sastrawan,katanya lagi, perlu keberanian membangun utopia dengan kejernihan hati nurani dan kegilaan estetika yang dimilikinya

“Sastra saya merupakan mimpi. I have a dream. Manusia Indonesia perlu sekali kembali kembali ke bumi subur laut kaya. Di sana tempat lahir beta, kata sebuah lagu. Di sana ada piring raksasa yang bernama kebun, sawah, bahkan hutan buah-buahan dan sebagainya. Transmigrasi raksasa dan modern perlu dilakukan   oleh pemerintah kita. Desa-desa baru yang modern yang menjadi bagian dari kota-kota beranda yang menerima tamu-tamu ekonomi perlu diciptakan segera. Itulah mimpi saya, perjalanan menuju utopia on earth”

Dan ia konsisten dengan idealismenya yang semacam itu. Karya-karyanya merupakan jembatan ke wilayah yang ia sebut via regia, jalan utama yang membawa manusia ke alam ketidaksadaran (unconscious ). Novel atau cerpen yang realistis sekalipun, baginya merupakan perjalanan menuju mimpi utopis yang merupakan dinamika tersembunyi dalam dunia unconscious.

“Sastra, science, teknologi, ekonomi, politik, pembaruan sosial, semuanya digerakkan oleh intuisi kreatif yang datang dari bumi unconscious itu. Puisi lebih menunjukkan hal itu. Puisi lahir dari fibrasi intuisi kreatif yang dikandung dunia taksadar, bergetar melalui tangga-tangga taksadar, bawahsadar, bergerak ke negeri kesadaran rasional yang telah bergabung dengan imajinasi, perasaan, naluri dan kemerduan bunyi kata-kata sehingga lezat seperti rendang Padang atau gudeg Jogja.” papar Pak Gerson pada saya.

Tentu masih banyak lagi topik-topik yang kami perbincangkan selama kurang lebih tiga hari bersama di kota Kupang itu. Dan sungguh mengesankan, ia selalu bersemangat mendiskusikannya. Mungkin hal itu paralel dengan semangat menulisnya. Selama lima puluh tahun berkarya (1955 – 2012), Gerson Pyork telah menulis tidak kurang dari seratus judul buku.

Ia punya tumpukan kliping karyanya sendiri di rumah dan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Sampai hari tuaanya dan hingga ajal memanggilnya, ia masih aktif berkomunikasi dan berdiskusi dengan banyak orang, baik dari kalangan sastra, petugas partai, dan orang dari berbagai latar belakang ilmu. Semua hal ia ladeni.

Tak heran, kalau di perpustakaan pribadinya di rumahnya yang sederhana di kawasan Depok, buku-buku dari berbagai macam bidang ilmu berderet. Mulai dari   buku-buku matematika milik anaknya yang jadi dosen di Universitas Indonesia, buku-buku filsafat, teologi, sosiologi, psikologi, sampai ke buku bacaan anak-anak.

Ia juga punya kamar kerja yang unik. Sebidang ruang yang terdiri dari sebuah meja tua dan bangku panjang yang ia buat sendiri. Konon, dulu ia sempat bercita-cita jadi tukang.Waktu masih sekolah dasar, ia suka ikut ayahnya membangun rumah tiang kayu dan dinding bambu, atap alang-alang. Ketika di Amerika, ia sempat berkunjung ke kampung halaman Thoreau di Walden Pond.

Ia ingin menjadi tukang seperti Thoreau. Ia bercerita bahwa tembok rumah induknya bergelombang karena semennya ditempelkan dengan tangan, dilempar ke susunan batako lalu digosok-gosok supaya rata tetapi tetap tak rata. Namun semennya banyak sehingga kuat sekali. “Namun tak sempurna. Ternyata perlu lama sekali waktu latihan, baru bisa seperti tukang sejati..” katanya pula.

Dan ke situ lah ia, kini, ke kesejatian itu. Ia sudah mendahului kita. Rumah yang semennya bergelombang itu, kini tentu akan berganti dengan rumah yang lebih tenang, lebih teduh dan abadi. Semoga, semoga. Selamat jalan sastrawan. Semoga apa yang engkau tinggalkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan sastra Indonesia yang lebih baik di masa-masa depan. (T/RDP)

Jakarta 2017

 

Biodata dan Karya

Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Tags: BukuGerson Poykin memoriamsastra
Share341TweetSendShareSend
Previous Post

Bedah Buku Rare Kumara: Kehilangan dan Realitas Sosial

Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails
Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co