21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Sastrawan Gerson Poyk: “Kita Terasing di Bumi Subur Laut Kaya”

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Feature

Gerson Poyk/Youtube

SUATU hari di tahun 2012, Pak Gerson diantar putranya berkunjung ke kediaman saya di kompleks perumahan Jonggol, Cileungsi. Hujan deras ketika itu, saya menyongsongnya untuk membukakan pintu pagar dan membawakan payung.

“Sastrawan jaman sekarang pada mapan, ya. Punya rumah…” selorohnya mengomentari tempat tinggal saya. Saya jawab, ini rumah orang Opa, saya hanya mengontrak. Kami lalu banyak bercakap tentang banyak hal. Termasuk rencana kegiatan yang akan kami ikuti esok harinya. Kebetulan, saya dan Pak Gerson diundang untuk mengisi sebuah seminar budaya di kota Kupang.

Selain kami, panitia juga mengundang Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana. Kami membahas rencana keberangkatan itu dan kemudian ngobrol banyak hal soal perkembangan seni sastra di NTT. Ia menanyakan kepada saya beberapa nama orang muda yang ia dengar aktif menggerakkan seni sastra di wilayah itu. Saya menerangkan satu persatu.

Bahkan bukan hanya tentang generasi muda, tapi saya juga menjelaskan siapa-siapa dari kalangan tua di NTT yang masih konsisten mendukung aktivitas generasi muda itu. Saya sebutkan contohnya bapak DR.Felysianus Sanga yang menjadi guru besar di Undana, Kupang. Tentu saja ia gembira mendengar perkembangan itu.

Mungkin hampir tiga jam kami bercakap-cakap, hingga ia minta pamit. Sore keesokan harinya, kami bertemu pula di kota Kupang. Tanpa hujan deras tentu saja. Selagi Pak Putu Wijaya dan Radhar Panca Dahana beristirahat di penginapannya masing-masing, Pak Gerson kemudian mengajak saya berjalan kaki ke beberapa bagian kota Kupang.

Menurutnya, dari tampilan fisik, tidak banyak perubahan yang menonjol di kota itu, kecuali hotel dan cafe malamnya. Satu-satunya yang hilang, selorohnya, adalah tempat kencing yang aman di ruang terbuka. Tentu saja kami terkekeh-kekeh.

Tidak ada topik yang bisa luput dari perhatian Pak Gerson. Ia tipe sastrawan yang kompleks dan detail. Soal-soal strategi pembangunan yang salah banyak dikritiknya. Ia juga menaruh minat yang besar pada kearifan lokal sebagai modal pembangunan. Pembangunan yang tidak mengapresiasi kekayaan kearifan lokal, katanya, menciptakan keterasingan bagi masyarakatnya sendiri.

Ia mencontohkan pertanian berbentuk Lodok Lingko di Manggarai, Flores Barat. Yang pagar kebunnya cuma 20 meter tapi bisa melindungi kebun satu hektar. Tampilan artistiknya saja sudah estetika, berbentuk roda sepeda kalau itu kebun dan berbentuk sarang laba-laba kalau itu sawah. Dan ada juga kearifan budaya lokal berupa mamar pusaka yaitu kebun tanaman keras sehingga dapat disebut taman di Pulau Rote. Desa-desa di Indonesia, menurut Pak Gerson, seharusnya dibangun berdasarkan nilai-nilai yang seperti itu.

Ia sungguh menyesalkan, betapa jutaan bangsa ini terus terasing dari buminya yang subur dan lautnya yang kaya. Kakinya di bumi subur dan laut kaya tetapi kepalanya di padang pasir dan gurun es kutub. “Lihat saja jutaan manusia berbondong di kota-kota urban. Sehingga kata pakar, urbanisasi adalah setan.

Mau tanam apa di hutan beton? Jika seorang memiliki lahan (yang subur), dengan mengorek-ngorek tanah, dalam tiga atau empat bulan sudah ada ubi, sayuran, padi dan sebagainya. Mengapa mesti merantau jauh-jauh keluar negeri sehingga terhina   sebagai budak (-upah)” lanjutnya lagi penuh semangat.

Dalam situasi keterasingan, orang kehilangan mimpi. Padahal tanpa mimpi kebangsaan yang kuat, orang tak bisa membangun kebangsaan yang kuat. Di situlah, menurut Pak Gerson sastra perlu berperan. Setiap sastrawan,katanya lagi, perlu keberanian membangun utopia dengan kejernihan hati nurani dan kegilaan estetika yang dimilikinya

“Sastra saya merupakan mimpi. I have a dream. Manusia Indonesia perlu sekali kembali kembali ke bumi subur laut kaya. Di sana tempat lahir beta, kata sebuah lagu. Di sana ada piring raksasa yang bernama kebun, sawah, bahkan hutan buah-buahan dan sebagainya. Transmigrasi raksasa dan modern perlu dilakukan   oleh pemerintah kita. Desa-desa baru yang modern yang menjadi bagian dari kota-kota beranda yang menerima tamu-tamu ekonomi perlu diciptakan segera. Itulah mimpi saya, perjalanan menuju utopia on earth”

Dan ia konsisten dengan idealismenya yang semacam itu. Karya-karyanya merupakan jembatan ke wilayah yang ia sebut via regia, jalan utama yang membawa manusia ke alam ketidaksadaran (unconscious ). Novel atau cerpen yang realistis sekalipun, baginya merupakan perjalanan menuju mimpi utopis yang merupakan dinamika tersembunyi dalam dunia unconscious.

“Sastra, science, teknologi, ekonomi, politik, pembaruan sosial, semuanya digerakkan oleh intuisi kreatif yang datang dari bumi unconscious itu. Puisi lebih menunjukkan hal itu. Puisi lahir dari fibrasi intuisi kreatif yang dikandung dunia taksadar, bergetar melalui tangga-tangga taksadar, bawahsadar, bergerak ke negeri kesadaran rasional yang telah bergabung dengan imajinasi, perasaan, naluri dan kemerduan bunyi kata-kata sehingga lezat seperti rendang Padang atau gudeg Jogja.” papar Pak Gerson pada saya.

Tentu masih banyak lagi topik-topik yang kami perbincangkan selama kurang lebih tiga hari bersama di kota Kupang itu. Dan sungguh mengesankan, ia selalu bersemangat mendiskusikannya. Mungkin hal itu paralel dengan semangat menulisnya. Selama lima puluh tahun berkarya (1955 – 2012), Gerson Pyork telah menulis tidak kurang dari seratus judul buku.

Ia punya tumpukan kliping karyanya sendiri di rumah dan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Sampai hari tuaanya dan hingga ajal memanggilnya, ia masih aktif berkomunikasi dan berdiskusi dengan banyak orang, baik dari kalangan sastra, petugas partai, dan orang dari berbagai latar belakang ilmu. Semua hal ia ladeni.

Tak heran, kalau di perpustakaan pribadinya di rumahnya yang sederhana di kawasan Depok, buku-buku dari berbagai macam bidang ilmu berderet. Mulai dari   buku-buku matematika milik anaknya yang jadi dosen di Universitas Indonesia, buku-buku filsafat, teologi, sosiologi, psikologi, sampai ke buku bacaan anak-anak.

Ia juga punya kamar kerja yang unik. Sebidang ruang yang terdiri dari sebuah meja tua dan bangku panjang yang ia buat sendiri. Konon, dulu ia sempat bercita-cita jadi tukang.Waktu masih sekolah dasar, ia suka ikut ayahnya membangun rumah tiang kayu dan dinding bambu, atap alang-alang. Ketika di Amerika, ia sempat berkunjung ke kampung halaman Thoreau di Walden Pond.

Ia ingin menjadi tukang seperti Thoreau. Ia bercerita bahwa tembok rumah induknya bergelombang karena semennya ditempelkan dengan tangan, dilempar ke susunan batako lalu digosok-gosok supaya rata tetapi tetap tak rata. Namun semennya banyak sehingga kuat sekali. “Namun tak sempurna. Ternyata perlu lama sekali waktu latihan, baru bisa seperti tukang sejati..” katanya pula.

Dan ke situ lah ia, kini, ke kesejatian itu. Ia sudah mendahului kita. Rumah yang semennya bergelombang itu, kini tentu akan berganti dengan rumah yang lebih tenang, lebih teduh dan abadi. Semoga, semoga. Selamat jalan sastrawan. Semoga apa yang engkau tinggalkan, dapat memberi inspirasi bagi kehidupan sastra Indonesia yang lebih baik di masa-masa depan. (T/RDP)

Jakarta 2017

 

Biodata dan Karya

Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Tags: BukuGerson Poykin memoriamsastra
Share341TweetSendShareSend
Previous Post

Bedah Buku Rare Kumara: Kehilangan dan Realitas Sosial

Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
0
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

by tatkala
May 14, 2026
0
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

Read moreDetails
Next Post

Seperti di Tampaksiring, Pura Mengening Ada juga di Payangan – Apakah itu Berhubungan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co