3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Denpasar Punya Badan Kreatif, Buleleng dan Tabanan Boleh Iri

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Pengurus Bekraf Denpasar. Sumber foto: facebook

KOTA Denpasar kini memiliki Badan Kreatif (Bekraf), sebuah lembaga resmi yang dikukuhkan Walikota IB Rai Dharma Wijaya Mantra, di Pendopo Inna Bali Hotel, Denpasar, Jumat, 30 Desember 2016. Dengan begitu, lembaga kreatif di tingkat kabupaten/kota, kini ada dua di Indonesia, setelah sebelumnya hanya Kota Bandung yang memilikinya.

Dari nama saja tahulah kita “species” apa lembaga itu. Tugasnya pasti tak jauh-jauh dari dunia kreatif, semisal industri fesyen, animasi, kerajinan, fotografi, video dan film, musik, seni pertunjukan, dan program komputer.

Saya pikir, dengan dibentuknya Bekraf di Denpasar, kabupaten lain termasuk Buleleng (tempat saya tinggal) dan Tabanan (kampung halaman saya) boleh iri dan “tersinggung”. Denpasar, sebagai ibukota Provinsi Bali dan pemerintahan kota satu-satunya di Bali, punya alasan penting kenapa badan itu dibentuk resmi dan formal. Kabupaten lain seharusnya juga punya alasan tersendiri untuk membentuknya, meski bukan sebagai pemerintahan kota.

 

Tujuan Bekraf Denpasar

Dasar pikiran pembentukan Bekraf tentu saja karena mendesaknya keinginan besar untuk menjadikan Denpasar sebagai Kota Kreatif dengan memberdayakan seluruh potensi kreatif warga di dalamnya. Apalagi, di ibukota Provinsi Bali itu belakangan banyak bermunculan potensi-potensi kreatif sekaligus ikut menggerakkan berbagai sektor ekonomi. Ya, seperti disebut tadi, mulai dari fesyen hingga program komputer.

Bocoran yang diperoleh menyebutkan secara rinci tujuan Bekraf Denpasar itu. Yakni,  membangun budaya kreatif, ide kreatif, dengan memberikan pertimbangan kepada Walikota Denpasar untuk dapat dijabarkan ke dalam program-program pemerintah. Juga memberikan masukan dan pertimbangan atas ijin Walikota kepada SKPD terkait dalam penyusunan program-program dan kegiatan yang berbasis kreatif dan budaya lokal.

Selain itu, melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat bersama SKPD terkait, untuk akselerasi proses kreatif. Lalu, melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait diluar Pemerintah Kota denpasar dalam rangka mendorong akselerasi proses kreatif di tengah masyarakat Kota Denpasar dan mengembangkan jejaring dan ikut mempromosikan produk-produk kreatif Kota Denpasar.

Sasaran Bekraf Denpasar adalah terwujudnya akselerasi proses kreatif berbasis budaya lokal yang sinergis antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat, guna menumbuhkan jiwa kewirausahaan (entrepreunership).

Untuk mencapai tujuan itu, usaha-usaha yang dilakukan Bekraf Denpasar terdiri dalam dua kelompok besar:

Kelompok Internal bekerja untuk mewujudkan dan mengembangkan kreativitas melalui pendidikan, pembelajaran, pembinaan, dan pelatihan. Selain itu juga membentuk dan membina masyarakat untuk kreatif dan inovatif berbasis budaya lokal guna memiliki daya saing, terutama generasi muda, serta mengusahakan dan menyelenggarakan kebutuhan fasilitas-fasilitas untuk teralisasinya hal-hal di atas.

Kelompok Eksternal bertugas menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Juga membangun jejaring untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang kreatifitas, teknologi, dan produk-produk kreatif. Lalu, mengadakan dan mengikuti event-event baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.

Peserta (participant) Bekraf Denpasar adalah insan kreatif, baik secara individu maupun komunitas, dari unsur pemuda, masyarakat, swasta, perguruan tinggi maupun pemerintah dan terlibat di dalam aktivitas Bekraf Denpasar.

 

Kesangsian dan Keyakinan

Begitu ada berita Kota Denpasar membentuk Badan Kreatif (Bekraf), tentu banyak juga yang menyangsikan, apakah lembaga semacam itu bisa membuat iklim kreativitas menjadi cerah. Kita tahu kreativitas sulit dilembagakan, orang-orang kreatif sulit “diatur” dan lebih kerap berjalan secara personal.

Tapi, jika dilihat dari tujuan dan sasaran yang sudah didedahkan di atas, tampaknya Bekraf bukan lembaga pengatur semata. Ia justru bertugas membuat jalan untuk mewujudkan terjadinya akselerasi proses kreatif melalui sinergi dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat.

Apalagi jika dilihat pengurusnya yang memang dikenal sebagai orang-orang professional dan tentu saja kreatif. Saya kenal beberapa orang, misalnya Maria Ekaristi (sekretaris), Arief Budiman (Kepala Bidang Riset Edukasi & Pengembangan) dan A. A. Gede Rai Putra Bawantara (Kepala Bidang Data, Infrastruktur, dan Humas).

Maria Ekaristi dan Bawantara dikenal sebagai penggagas Denpasar Film Festival (DFF) dan Arief Budiman pendiri Matamera Communication yang dikenal sebagai penggagas banyak acara kreatif di Denpasar. Orang-orang ini juga kerap menyebarkan pengaruh kreatif ke daerah lain di Bali maupun di Indonesia.

Secara subyektif saya punya keyakinan jika Bekraf ini akan berjalan sesuai dengan tujuan dan sasarannya, setidaknya lembaga ini bisa menciptakan kegairahan orang kreatif untuk tetap berada di jalur kreativitas. Orang-orang yang saya kenal itu saya yakin akan berjuang sekuat daya kreatifnya untuk menjadi Bekraf bukan sekadar lembaga administratif yang mati gaya, tapi membuat lembaga itu punya roh dan jiwa untuk menghidupkan dunia yang sudah mereka kenal sejak lama.

 

Berandai Bekraf ini Sukses

Jadi, berandailah Bekraf ini sukses. Jika tak sukses atau gagal mencapai tujuan dan sasarannya, lembaga ini paling-paling bubar. Tapi dunia kreatif tak akan pernah mati. Tapi pertanyaan yang saya pikirkan adalah bagaimana kalau Bekraf ini sukses?

Sebagai orang yang tinggal di pinggiran Bali, artinya bukan di Denpasar, saya agak “cemas” juga jika Bekraf ini sukses. Bolehlah “kecemasan” saya dianggap sebagai “kecemasan” orang pinggiran yang rendah diri dan introvert.  (Kata cemas dan kecemasan sengaja diisi tanda kutip agar kata itu tak melulu diartikan sebagai kata negatif)

Saya “cemas”, jika Bekraf Denpasar sukses, anak-anak muda kreatif yang tinggal di kabupaten-kabupaten lain di Bali akan pindah ke Denpasar demi bisa mengembangkan daya dan upaya kreatifnya. Pemusik, desainer, pembuat film, dan sejenisnya, yang berasal dari daerah di luar Denpasar akan bermimpi untuk tinggal di Denpasar.

Jika ini terjadi, Denpasar bisa menjadi overkreatif (mudah-mudahan istilah ini bisa dipahami), sebaliknya kabupaten-kabupaten akan kesepian. Seperti yang terjadi ketika era 70-an, di mana Jakarta  diserbu pemusik, pembuat film, aktor dan penyanyi. Seakan-akan, dulu, orang tak bisa main musik, tak bisa nyanyi, tak bisa main film, jika tak hidup di Jakarta.

“Kecemasan” saya mungkin berlebihan dan terkesan ngae-ngae. Maklumlah orang pinggiran. Tapi, sesungguhnya saya punya harapan besar agar orang-orang kreatif (terutama anak-anak muda) bisa tinggal menyebar di seluruh Bali, agar lampu-lampu ide bisa menyala dari tempat yang paling pencil.

 

Kabupaten Lain Boleh Iri

Dengan “kecemasan” seperti itu, saya berharap kabupaten-kabupaten lain punya rasa iri dan ikut membentuk lembaga serupa.  Jika perlu, bentuk secepatnya, jangan menunggu Bekraf Denpasar sukses dulu, baru kemudian diikuti dan ditiru. Sebab sejumlah kabupaten lain juga punya potensi-potensi kreatif yang besar bahkan sangat khas.

Buleleng misalnya. Saya amati beberapa tahun belakangan mulai diisi oleh pelaku kreatif pulang kampung, artinya mereka sempat tinggal di kota-kota besar lalu pulang membangun dunia kreatif di daerah kelahiran. Semisal pemusik Gede Kurniawan yang sempat bolak-balik Denpasar-Jakart dan kini membangun kantong kreatif di daerah Pantai Penimbangan.

Atau sebut juga Putu Kusuma Wijaya, pembuat film yang pernah mukim di Jakarta dan menghasilkan banyak film-film populer. Kini ia pulang kampung dan membangun tempat pemutaran film “Sang Karsa” di kawasan Lovina. Bahkan jauh-jauh tahun sebelumnya, Putu Satria Kusuma, pulang dari Denpasar ke Buleleng, kemudian membangun komunitas pertunjukan teater.

Buleleng juga termasuk satu daerah yang memiliki riwayat kreativitas lumayan panjang. Produksi film pertama di Bali dipercaya terjadi di Buleleng dengan kreator Anak Agung Panji Tisna dan Anak Agung Ngurah Sentanu. Panji Tisna juga penulis novel modern pertama di Bali yang sezaman sastrawan angkatan Pujangga Baru lain semacam Sutan Takdir Alisyahbana.

Bagaimana dengan Tabanan? Kabupaten lumbung beras ini (jika sebutan ini masih layak) juga sebaiknya “iri” dan layak membentuk badan kreatif. Banyak teman-teman kreatif saya yang dulu “berjualan” di Denpasar sudah mulai membuka “warung kreatif” di daerah kelahirannya.  Sejumlah komunitas kreatif juga ada. Sebut misalnya Talov (Tabanan Lover) yang pernah beberapa kali melakukan kegiatan kreatif di Taman Kota.

Meski sebagai daerah agraris yang terkesan “cinta damai” dalam berkarya, namun banyak orang Tabanan memiliki lompatan kreatif yang bisa dibilang ekstrem. Sebut saja Putu Wijaya (sastrawan), Nyoman Nuarta (pematung) dan Made Wianta (pelukis). Sayangnya, ketiga kreator itu tinggal di luar Tabanan.

Kabupaten lain, seperti Gianyar dan Jembarana, juga punya potensi besar untuk mengembangkan dunia kreatif. Itu bisa dilihat begitu banyak kreator kreatif muncul di daerah itu.

Sejauh ini, potensi-potensi itu bergerak sendiri dan digerakkan secara personal. Dinas-dinas milik pemerintah sebelumnya seakan tak memiliki semacam job description untuk menggerakkan orang-orang kreatif di daerahnya.

Dinas perindustrian seakan hanya mengurus pedagang semata, seakan tak memiliki tugas untuk merangsang suburnya iklim penciptaan desain dan bentuk-bentuk baru. Akibatnya, barang kerajinan diproduksi besar-besaran tapi sulit dipasarkan karena bentuknya begitu-begitu saja.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata seakan memandang kesenian dan kebudayaan dalam bentuk seni tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu kala. Ketika muncul produk-produk kesenian baru, seperti film dan teater modern, dinas itu kebingungan memasukkan dalam program kerja karena tak paham masuk katagori apakah produk film dan teater modern itu.

Mungkin itu penyebabnya penghargaan Darma Kusuma atau Wija Kusuma jarang (mungkin tak pernah sama sekali) menghampiri orang-orang film, desainer, sastrawan modern, apalagi programmer computer.

Jadi, untuk pikiran saya yang sederhana itu, bolehlah kabupten lain iri dengan adanya Badan Kreatif di Denpasar. Iri dulu sebelum menyesal kemudian. Iri dulu, sebelum daerah lain terlalu maju melangkah dan kita sulit mengejarnya. (T)

Tags: bulelengdenpasarfilmKreativitasseni pertunjukantabanan
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik

Next Post

Thukul dan Paradoks Kata-kata

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails
Next Post

Thukul dan Paradoks Kata-kata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co