24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Denpasar Punya Badan Kreatif, Buleleng dan Tabanan Boleh Iri

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Pengurus Bekraf Denpasar. Sumber foto: facebook

KOTA Denpasar kini memiliki Badan Kreatif (Bekraf), sebuah lembaga resmi yang dikukuhkan Walikota IB Rai Dharma Wijaya Mantra, di Pendopo Inna Bali Hotel, Denpasar, Jumat, 30 Desember 2016. Dengan begitu, lembaga kreatif di tingkat kabupaten/kota, kini ada dua di Indonesia, setelah sebelumnya hanya Kota Bandung yang memilikinya.

Dari nama saja tahulah kita “species” apa lembaga itu. Tugasnya pasti tak jauh-jauh dari dunia kreatif, semisal industri fesyen, animasi, kerajinan, fotografi, video dan film, musik, seni pertunjukan, dan program komputer.

Saya pikir, dengan dibentuknya Bekraf di Denpasar, kabupaten lain termasuk Buleleng (tempat saya tinggal) dan Tabanan (kampung halaman saya) boleh iri dan “tersinggung”. Denpasar, sebagai ibukota Provinsi Bali dan pemerintahan kota satu-satunya di Bali, punya alasan penting kenapa badan itu dibentuk resmi dan formal. Kabupaten lain seharusnya juga punya alasan tersendiri untuk membentuknya, meski bukan sebagai pemerintahan kota.

 

Tujuan Bekraf Denpasar

Dasar pikiran pembentukan Bekraf tentu saja karena mendesaknya keinginan besar untuk menjadikan Denpasar sebagai Kota Kreatif dengan memberdayakan seluruh potensi kreatif warga di dalamnya. Apalagi, di ibukota Provinsi Bali itu belakangan banyak bermunculan potensi-potensi kreatif sekaligus ikut menggerakkan berbagai sektor ekonomi. Ya, seperti disebut tadi, mulai dari fesyen hingga program komputer.

Bocoran yang diperoleh menyebutkan secara rinci tujuan Bekraf Denpasar itu. Yakni,  membangun budaya kreatif, ide kreatif, dengan memberikan pertimbangan kepada Walikota Denpasar untuk dapat dijabarkan ke dalam program-program pemerintah. Juga memberikan masukan dan pertimbangan atas ijin Walikota kepada SKPD terkait dalam penyusunan program-program dan kegiatan yang berbasis kreatif dan budaya lokal.

Selain itu, melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat bersama SKPD terkait, untuk akselerasi proses kreatif. Lalu, melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait diluar Pemerintah Kota denpasar dalam rangka mendorong akselerasi proses kreatif di tengah masyarakat Kota Denpasar dan mengembangkan jejaring dan ikut mempromosikan produk-produk kreatif Kota Denpasar.

Sasaran Bekraf Denpasar adalah terwujudnya akselerasi proses kreatif berbasis budaya lokal yang sinergis antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat, guna menumbuhkan jiwa kewirausahaan (entrepreunership).

Untuk mencapai tujuan itu, usaha-usaha yang dilakukan Bekraf Denpasar terdiri dalam dua kelompok besar:

Kelompok Internal bekerja untuk mewujudkan dan mengembangkan kreativitas melalui pendidikan, pembelajaran, pembinaan, dan pelatihan. Selain itu juga membentuk dan membina masyarakat untuk kreatif dan inovatif berbasis budaya lokal guna memiliki daya saing, terutama generasi muda, serta mengusahakan dan menyelenggarakan kebutuhan fasilitas-fasilitas untuk teralisasinya hal-hal di atas.

Kelompok Eksternal bertugas menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Juga membangun jejaring untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang kreatifitas, teknologi, dan produk-produk kreatif. Lalu, mengadakan dan mengikuti event-event baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional.

Peserta (participant) Bekraf Denpasar adalah insan kreatif, baik secara individu maupun komunitas, dari unsur pemuda, masyarakat, swasta, perguruan tinggi maupun pemerintah dan terlibat di dalam aktivitas Bekraf Denpasar.

 

Kesangsian dan Keyakinan

Begitu ada berita Kota Denpasar membentuk Badan Kreatif (Bekraf), tentu banyak juga yang menyangsikan, apakah lembaga semacam itu bisa membuat iklim kreativitas menjadi cerah. Kita tahu kreativitas sulit dilembagakan, orang-orang kreatif sulit “diatur” dan lebih kerap berjalan secara personal.

Tapi, jika dilihat dari tujuan dan sasaran yang sudah didedahkan di atas, tampaknya Bekraf bukan lembaga pengatur semata. Ia justru bertugas membuat jalan untuk mewujudkan terjadinya akselerasi proses kreatif melalui sinergi dengan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat.

Apalagi jika dilihat pengurusnya yang memang dikenal sebagai orang-orang professional dan tentu saja kreatif. Saya kenal beberapa orang, misalnya Maria Ekaristi (sekretaris), Arief Budiman (Kepala Bidang Riset Edukasi & Pengembangan) dan A. A. Gede Rai Putra Bawantara (Kepala Bidang Data, Infrastruktur, dan Humas).

Maria Ekaristi dan Bawantara dikenal sebagai penggagas Denpasar Film Festival (DFF) dan Arief Budiman pendiri Matamera Communication yang dikenal sebagai penggagas banyak acara kreatif di Denpasar. Orang-orang ini juga kerap menyebarkan pengaruh kreatif ke daerah lain di Bali maupun di Indonesia.

Secara subyektif saya punya keyakinan jika Bekraf ini akan berjalan sesuai dengan tujuan dan sasarannya, setidaknya lembaga ini bisa menciptakan kegairahan orang kreatif untuk tetap berada di jalur kreativitas. Orang-orang yang saya kenal itu saya yakin akan berjuang sekuat daya kreatifnya untuk menjadi Bekraf bukan sekadar lembaga administratif yang mati gaya, tapi membuat lembaga itu punya roh dan jiwa untuk menghidupkan dunia yang sudah mereka kenal sejak lama.

 

Berandai Bekraf ini Sukses

Jadi, berandailah Bekraf ini sukses. Jika tak sukses atau gagal mencapai tujuan dan sasarannya, lembaga ini paling-paling bubar. Tapi dunia kreatif tak akan pernah mati. Tapi pertanyaan yang saya pikirkan adalah bagaimana kalau Bekraf ini sukses?

Sebagai orang yang tinggal di pinggiran Bali, artinya bukan di Denpasar, saya agak “cemas” juga jika Bekraf ini sukses. Bolehlah “kecemasan” saya dianggap sebagai “kecemasan” orang pinggiran yang rendah diri dan introvert.  (Kata cemas dan kecemasan sengaja diisi tanda kutip agar kata itu tak melulu diartikan sebagai kata negatif)

Saya “cemas”, jika Bekraf Denpasar sukses, anak-anak muda kreatif yang tinggal di kabupaten-kabupaten lain di Bali akan pindah ke Denpasar demi bisa mengembangkan daya dan upaya kreatifnya. Pemusik, desainer, pembuat film, dan sejenisnya, yang berasal dari daerah di luar Denpasar akan bermimpi untuk tinggal di Denpasar.

Jika ini terjadi, Denpasar bisa menjadi overkreatif (mudah-mudahan istilah ini bisa dipahami), sebaliknya kabupaten-kabupaten akan kesepian. Seperti yang terjadi ketika era 70-an, di mana Jakarta  diserbu pemusik, pembuat film, aktor dan penyanyi. Seakan-akan, dulu, orang tak bisa main musik, tak bisa nyanyi, tak bisa main film, jika tak hidup di Jakarta.

“Kecemasan” saya mungkin berlebihan dan terkesan ngae-ngae. Maklumlah orang pinggiran. Tapi, sesungguhnya saya punya harapan besar agar orang-orang kreatif (terutama anak-anak muda) bisa tinggal menyebar di seluruh Bali, agar lampu-lampu ide bisa menyala dari tempat yang paling pencil.

 

Kabupaten Lain Boleh Iri

Dengan “kecemasan” seperti itu, saya berharap kabupaten-kabupaten lain punya rasa iri dan ikut membentuk lembaga serupa.  Jika perlu, bentuk secepatnya, jangan menunggu Bekraf Denpasar sukses dulu, baru kemudian diikuti dan ditiru. Sebab sejumlah kabupaten lain juga punya potensi-potensi kreatif yang besar bahkan sangat khas.

Buleleng misalnya. Saya amati beberapa tahun belakangan mulai diisi oleh pelaku kreatif pulang kampung, artinya mereka sempat tinggal di kota-kota besar lalu pulang membangun dunia kreatif di daerah kelahiran. Semisal pemusik Gede Kurniawan yang sempat bolak-balik Denpasar-Jakart dan kini membangun kantong kreatif di daerah Pantai Penimbangan.

Atau sebut juga Putu Kusuma Wijaya, pembuat film yang pernah mukim di Jakarta dan menghasilkan banyak film-film populer. Kini ia pulang kampung dan membangun tempat pemutaran film “Sang Karsa” di kawasan Lovina. Bahkan jauh-jauh tahun sebelumnya, Putu Satria Kusuma, pulang dari Denpasar ke Buleleng, kemudian membangun komunitas pertunjukan teater.

Buleleng juga termasuk satu daerah yang memiliki riwayat kreativitas lumayan panjang. Produksi film pertama di Bali dipercaya terjadi di Buleleng dengan kreator Anak Agung Panji Tisna dan Anak Agung Ngurah Sentanu. Panji Tisna juga penulis novel modern pertama di Bali yang sezaman sastrawan angkatan Pujangga Baru lain semacam Sutan Takdir Alisyahbana.

Bagaimana dengan Tabanan? Kabupaten lumbung beras ini (jika sebutan ini masih layak) juga sebaiknya “iri” dan layak membentuk badan kreatif. Banyak teman-teman kreatif saya yang dulu “berjualan” di Denpasar sudah mulai membuka “warung kreatif” di daerah kelahirannya.  Sejumlah komunitas kreatif juga ada. Sebut misalnya Talov (Tabanan Lover) yang pernah beberapa kali melakukan kegiatan kreatif di Taman Kota.

Meski sebagai daerah agraris yang terkesan “cinta damai” dalam berkarya, namun banyak orang Tabanan memiliki lompatan kreatif yang bisa dibilang ekstrem. Sebut saja Putu Wijaya (sastrawan), Nyoman Nuarta (pematung) dan Made Wianta (pelukis). Sayangnya, ketiga kreator itu tinggal di luar Tabanan.

Kabupaten lain, seperti Gianyar dan Jembarana, juga punya potensi besar untuk mengembangkan dunia kreatif. Itu bisa dilihat begitu banyak kreator kreatif muncul di daerah itu.

Sejauh ini, potensi-potensi itu bergerak sendiri dan digerakkan secara personal. Dinas-dinas milik pemerintah sebelumnya seakan tak memiliki semacam job description untuk menggerakkan orang-orang kreatif di daerahnya.

Dinas perindustrian seakan hanya mengurus pedagang semata, seakan tak memiliki tugas untuk merangsang suburnya iklim penciptaan desain dan bentuk-bentuk baru. Akibatnya, barang kerajinan diproduksi besar-besaran tapi sulit dipasarkan karena bentuknya begitu-begitu saja.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata seakan memandang kesenian dan kebudayaan dalam bentuk seni tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu kala. Ketika muncul produk-produk kesenian baru, seperti film dan teater modern, dinas itu kebingungan memasukkan dalam program kerja karena tak paham masuk katagori apakah produk film dan teater modern itu.

Mungkin itu penyebabnya penghargaan Darma Kusuma atau Wija Kusuma jarang (mungkin tak pernah sama sekali) menghampiri orang-orang film, desainer, sastrawan modern, apalagi programmer computer.

Jadi, untuk pikiran saya yang sederhana itu, bolehlah kabupten lain iri dengan adanya Badan Kreatif di Denpasar. Iri dulu sebelum menyesal kemudian. Iri dulu, sebelum daerah lain terlalu maju melangkah dan kita sulit mengejarnya. (T)

Tags: bulelengdenpasarfilmKreativitasseni pertunjukantabanan
Share67TweetSendShareSend
Previous Post

“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik

Next Post

Thukul dan Paradoks Kata-kata

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails
Next Post

Thukul dan Paradoks Kata-kata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co