23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebih Cermat Berbahasa dalam Tulisan – Catatan Kecil bagi Penulis Muda

Ketut Syahruwardi Abbas by Ketut Syahruwardi Abbas
February 2, 2018
in Esai

SETIAP kali saya diminta mengisi pelatihan menulis, atau workshop sejenis itu, saya selalu menolak untuk membicarakan “teori”. Saya selalu bilang, “Saya akan datang jika saya diberi waktu cukup dan membiarkan saya mengajak peserta langsung menulis dan mendiskusikan hasil tulisan mereka.”

Saya memerlukan waktu “hanya” sehari untuk memberi keterampilan dasar.

Belajar menulis, bagi saya, tak ada bedanya dengan belajar bahasa. Belajar bahasa (asing) tidak akan efektif jika dilalui dengan “hanya” belajar teori dan grammar. Bagi saya, semua orang bisa menulis.

Sama seperti setiap orang bisa berbicara. “Jika engkau bisa bicara, seharusnya engkau bisa menulis. Engkau tinggal menuangkan ucapanmu menjadi tulisan. Selesai. Semudah itu.” Masalahnya, sering kali orang membiarkan ketakutannya, membiarkan keraguannya, membiarkan pikiran aneh-aneh (seperti mulai dari mana, kata apa yang dijadikan pembukaan, dst) menghambat.

Tulis saja. Just do it.

Nah, proses selanjutnya adalah editing. Pada titik inilah kita bisa berdiskusi. Pada proses inilah kita mengkritik tulisan kita sendiri. Pada proses inilah kita berdiskusi dengan tulisan kita. Pada proses inilah kita mempertimbangkan kata yang cocok atau kalimat yang yang harus diperbaiki.

Pada proses inilah kita merenungkan isi tulisan kita, apakah cukup logis, misalnya. Pada proses ini pula kita melongok penggunaan ungkapan-ungkapan yang sesuai, termasuk logika dan rasa berbahasa. Pada proses inilah kita lebih banyak memeriksa agar kita lebih cermat lagi menggunakan bahasa.

Pada titik inilah saya ingin menyorotkan tulisan ini.

Belakangan kita agak sering lupa dengan logika dan rasa berbahasa. Saya ingin mulai dengan ini: “Begitu bijaknya Kahlil Gibran bicara cinta di lembar-lembar catatan hidupnya. Salah satu petikan yang saya pinjam ini akan saya kembalikan dengan pembuktian dari apa yang kini terjadi.”

Begitulah penyair dan pemain teater sangat berbakat, Desi Nurani, membuka tulisannya “Pidato Cinta untuk Guru di Hari Guru” (tatkala.co 25 November 2016).

Perhatikanlah kalimat “Begitu bijaknya Kahlil Gibran …” Kata “bijak” dibubuhi “nya”, sebuah kata ganti kepunyaan untuk orang ketiga. Kita paham belaka, kata yang dibubuhi kata ganti kepunyaan harusnya berupa kata benda. Contoh: bukuku, rumahmu, tangannya, kebahagiaannya, kebijakannya. Kata “bijak” adalah kata sifat. Maka menjadi aneh jika ia dibubuhi “nya”.

Kita paham, fenomena ini dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan Bahasa Bali, seperti luwungne, bagusne, jegegne.  Bahasa Jawa juga: ayune, gantenge, enake … Dalam kedua bahasa daerah itu, imbuhan “ne” dan “e” juga digunakan untuk kata ganti kepunyaan. Contoh: umahne, limanne, kupingne. Jawa: omahe, tangane, kupinge. Tidak sama dengan Bahasa Indonesia.

Seharusnya kalimat di atas ditulis dengan “Begitu bijak Kahlil Gibran …”

Lalu ada tulisan dari Ida Bagus Weda Wigena berjudul “Jangankan ‘Online’, Laptop pun Tak Punya – Realitas Guru Pembelajar Daring” (tatkala.co 25 November 2016). Sebuah esai yang menarik dari seorang calon guru. Tapi ada yang ingin saya “kilik-kilik”.

“Generasi yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha.” Begitu tulis Ida Bagus Weda Wigena pada alinea pertama. Tidak ada yang salah. Namun mari kita cermati kalimat “Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha.”

Ungkapan sederhana sangat wajar jika memiliki banyak makna. Tapi apakah mungkin ungkapan sederhana memiliki banyak usaha? Saya pikir, ini hanya masalah logika berbahasa. Mungkin yang dimaksud, untuk merealisasikan ungkapan sederhana itu diperlukan banyak usaha (oleh kita).

Maka –mungkin—lebih enak dibaca jika kalimat itu ditulis dengan “Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan membutuhkan usaha besar untuk mewujudkannya.” Semacam itulah.

Logika bahasa. Sangatlah penting kita mengingatnya kembali setiap kali hendak menulis. Segala hal akan bermakna jika diungkapkan secara logis, termasuk dalam kegiatan tulis-menulis. Segala hal mesti diungkapkan sesuai logika berbahasa sehingga setiap pembaca mendapatkan pemahaman yang sama untuk setiap maksud yang ingin diungkapkan (kecuali puisi, mungkin).

Logika berbahasa berhubungan dengan pelogikaan seseorang terhadap bahasa yang diungkapkannya. Selain itu, berhubungan pula dengan pemahaman terhadap bahasa yang diterima dari orang lain sebagai hasil dari proses berpikir atau berlogika.

Secara sederhana dapat diungkapkan, logika tidak dapat dikesampingkan dalam menulis. Sebab, untuk menulis kita membutuhkan bahasa. Jika logika tidak turut campur, maka akan banyak penalaran yang keliru.

Saya jadi ingat pada sebuah iklan sabun antiseptik. Konon setelah menggunakan cairan sabun yang diiklankan itu, maka “Kita terasa segar.” Bandingkanlah jika kalimat itu diganti dengan “Kita akan merasa segar.” Yang ini berkaitan dengan rasa bahasa. Rasanya, kalimat pertama menunjukkan tubuh kita berada di luar diri kita, seperti apel yang baru dikeluarkan dari kulkas dan terasa segar setelah dikunyah.

Sekali lagi, rasanya.

Hal lain yang sering sangat menjengkelkan adalah penggunaan kata “kita”. Mari cermati sebuah iklan produk kosmetika di TV. Diceritakan, seorang gadis galau karena harus mempertimbangkan permintaan orangtuanya untuk segera menikah, sementara ia ingin menyelesaikan pendidikannya di tingkat S-2.

Walhasil, sang gadis pun menemukan jalan keluar. Ia datang kepada ayahnya dan menyatakan kesediaannya untuk menikah. Tapi, dia harus menyelesaikan S-2 terlebih dahulu. “Sesudah itu baru kita menikah …” kata sang gadis. Kepada ayahnya ia berkata “kita menikah.” Saya yakin yang dimaksudkan adalah “Sesudah itu baru kami menikah.”

Betapa sering kita menyaksikan pernyataan pejabat yang salah menggunakan kata “kita”. Betapa sering, misalnya, polisi berkata, “Kita melakukan pengejaran hingga ke luar kota …” Kita? Emang puluhan wartawan yang diajak bicara ikut melakukan pengejaran, Pak Polisi?

Banyak lagi yang lain. Ayo kita berbahasa dengan lebih cermat. (T)

Tags: Bahasamahasiswamenulis
Share64TweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Bangsa di Tangan Orang “Nomor Sekian” – Catatan Tercecer dari Hari Guru

Next Post

Pernik PPL Mahasiswa: Cinlok Bisa jadi Spesial, Cinta Lama jadi Sial

Ketut Syahruwardi Abbas

Ketut Syahruwardi Abbas

Wartawan senior, menulis puisi, esai dan cerpen. Pernah menjadi pemimpin redaksi di sejumlah media

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Pernik PPL Mahasiswa: Cinlok Bisa jadi Spesial, Cinta Lama jadi Sial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co