24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian Bahasa Daerah di Uni Eropa – Perbandingan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Kadek Heny Sayukti by Kadek Heny Sayukti
February 2, 2018
in Esai

Phillipe Grangé (kiri), pakar bahasa dari Universitas La Rochelle di Perancis, pada Forum Ilmiah XII tentang “Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 26 Oktober 2016. #Foto: koleksi penulis

TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mereka merasa itu tidak penting.

Salah satu contoh di Perancis, masyarakat beranggapan dengan menguasai bahasa nasionalnya saja mereka sudah dapat pekerjaan layak sehingga belajar bahasa asing hanyalah buang-buang energi dan biaya. Sikap fanatik dengan bahasa nasional ini juga didukung oleh banyaknya sistem terjemahan di negara tersebut. Bahkan film-film dan tayangan televisi asing banyak yang di-dubbing dengan bahasa Perancis sehingga memperkecil peluang bahasa asing untuk terekspos di negeri tersebut.

Berbeda dengan ASEAN yang memiliki bahasa pengantar berupa Bahasa Inggris, Uni Eropa mempekerjakan banyak sekali penerjemah untuk 23 bahasa dari seluruh 27 negara. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan unit kerja bahwa setiap negara berhak mendapatkan surat atau pemberitahuan dalam bahasa nasionalnya masing-masing sehingga hal itu menjadi sebuah panen raya bagi para penerjemah.

Bagi Phillipe Grangé, seorang pakar bahasa dari Universitas La Rochelle di Perancis, biaya pengadaan penerjemahan ini bisa saja terkesan pemborosan tapi jika ditelusuri dari segi pajak, masing-masing masyarakat Uni Eropa hanya menghabiskan 2,3 euro dari seluruh pajak yang mereka bayarkan.

Lalu, kenapa masyarakat Eropa masih malas mempelajari bahasa asing meski peluang bekerja sebagai penerjemah sangat besar di sana? Melalui Forum Ilmiah XII tentang “Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 26 Oktober 2016, Philippe Grangé menjawab semua keanehan dan keunikan eksistensi bahasa daerah dan bahasa asing di Uni Eropa. Naasnya, bahasa daerah sudah hampir punah, khususnya di Perancis.

Dalam sambutan pembukaan, Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI, Didi Suherdi menegaskan agar masyarakat Indonesia bisa “mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing”.

Namun, hal ini sangat berbeda dengan sejarah revolusi Perancis yang meletus pada tahun 1789. Menurut Grangé, yang terjadi di sana adalah “utamakan Bahasa Perancis, musnahkan bahasa daerah dan abaikan bahasa asing.” Buruknya, revolusi besar-besaran tersebut melahirkan keegoisan rasa nasionalisme yang terlalu tinggi sehingga mendorong masyarakat untuk membenci negara lain.

Membenci negara lain berarti membenci bahasanya. Tidak hanya di Perancis, negara seperti Italia, Jerman, Inggris, Rusia dan lainnya juga cenderung fanatik dengan bahasa nasionalnya saja. Inilah yang mendorong kemalasan akan mempelajari bahasa negara tetangga di Uni Eropa.

Apakah sampai sekarang mereka masih benci-bencian? Tentu tidak, hanya saja masih malas untuk memahami bahasa satu sama lain.

Bahasa Daerah, Bahasa yang kotor

Jika di Indonesia seorang anak dengan fasihnya bisa menguasai bahasa daerah, bahasa nasional dan bahasa Inggris, di Perancis banyak masyarakatnya yang monolingual seumur hidup. Sebenarnya ada banyak sekali bahasa daerah yang tersebar di Perancis sebelum revolusi pecah, salah satunya adalah bahasa latin.

Meskipun sekitar 200 tahun yang lalu pendidikan sangat rendah, masyarakat masih banyak yang bilingual dan menggunakan bahasa latin. Justru menginjak zaman globalisasi, terjadi penurunan kemampuan berbahasa. Ini juga sebuah keanehan karena sistem pendidikan di Perancis sudah jauh berkembang dibanding dengan era sebelum revolusi.

“Bahasa nasional Perancis adalah bahasa daerah yang punya tentara,” ungkap Grangé yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini. Bisa juga dikatakan sebagai bahasa kerajaan yang digunakan oleh bangsawan elit Perancis. Dikatakannya punya tentara, untuk menekankan betapa kuatnya bahasa itu dikawal.

Anehnya lagi, ketakutan akan perpecahan menimbulkan anggapan bahwa bahasa daerah adalah sebuah ancaman besar sehingga dikeluarkannya peraturan resmi dari pemerintah untuk melarang penggunaan bahasa daerah. Salah satu dampaknya adalah banyak tulisan-tulisan berbahasa latin yang diubah menjadi bahasa Perancis.

Yang paling aneh adalah pemerintah juga membentuk sebuah bahasa rekayasa yang merupakan gabungan dari beberapa bahasa daerah. Konyolnya, masyarakat menganggap itu bukanlah sebuah bahasa karena terkesan sangat manipulatif dan dipaksakan. Sementara di sekolah-sekolah, berbahasa daerah dianggap kotor layaknya meludah.

Perumpaaan ini adalah sebuah doktrin bagi anak-anak agar mereka paham betapa buruknya berbahasa daerah. Jika ada anak yang diketahui berbahasa daerah, maka ia berhak diberi hukuman fisik. Jadi, hanya ada satu bahasa yang bertahan hidup yakni Bahasa Perancis.

Apakah bahasa daerah bisa dimekarkan lagi di Perancis? Tampaknya ini sangat sulit karena jumlah penutur bahasa daerah yang sudah berkurang. Selain itu, masyarakat tidak pernah merasa itu sebuah kekhawatiran yang besar karena mereka merasa tenang-tenang saja selama ini tanpa mengenal bahasa daerahnya.

Salah satu fenomena unik adalah saat Grangé menanyakan mahasiswanya tentang seberapa dalam mereka memahami bahasa daerah di kampungnya masing-masing. Sayangnya, kurang dari 2% yang tahu bahasa daerah dan itu pun tidak bisa dibilang fasih karena mereka hanya bisa mengucapkan 3 sampai 4 patah kata saja.

Lemahnya pertahanan bahasa daerah di Perancis membuat Grangé merasa iri terhadap nasib bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Beruntungkah Bahasa Indonesia?

Ada negara yang terbentuk karena kesamaan bahasa tuturnya. Ada juga yang terbentuk karena kesamaan suku dan agama. Di Perancis, bahasa sangat dipertimbangkan sebagai pembentuk negara. Namun, Indonesia adalah negara yang terbentuk karena kebhinekaannya dan tidak banyak negara yang mampu berdiri dalam sebuah kebhinekaan.

Meski penutur bahasa daerah di Indonesia juga mengalami penurunan, untungnya kita tidak pernah merasa keberadaan bahasa daerah adalah sebuah ancaman. Justru keberagaman budaya adalah fakta yang patut dirayakan.

Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), bahasa Indonesia berpeluang tinggi untuk menjadi bahasa pengantar di ASEAN. Dilihat dari jumlah penuturnya, 1/3 penduduk ASEAN adalah penutur Bahasa Indonesia dan jika digabungkan dengan ragam bahasa Melayu lainnya yakni bahasa Malaysia dan Brunei Darusalam, maka berkisar 45% penduduk ASEAN adalah penutur Bahasa Melayu.

Lalu, kenapa masih saja menggunakan Bahasa Inggris? Padahal sudah tahu bahwa Bahasa Inggris hanyalah bahasa yang digunakan oleh kalangan pejabat dan birokrat saja, dan tidak bisa mengakrabkan komunikasi masyarakat ASEAN. Mungkin penduduk di Indonesia sendiri belum tentu semua sadar akan dirinya adalah warga ASEAN.

Maka, bercermin dari bahasa unit kerja Uni Eropa, mungkin ASEAN tidak perlu menerapkan aturan ekstrim yang menyulut fanatisme akan bahasa nasional masing-masing. Akan tetapi, alangkah indahnya jika bahasa dan budaya negara ASEAN masing-masing dapat saling dipelajari di negara lainnya sehingga timbul kolaborasi yang kokoh dalam melestarikan bahasa dan budaya, termasuk bahasa-bahasa daerah di masing-masing negara. (T)

Tags: aseanBahasabahasa daerahperancisuni eropa
Share89TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa

Next Post

“Dear Para Jomblo, Kita Beruntung!” – Sebuah Perspektif dari Orang Jomblo

Kadek Heny Sayukti

Kadek Heny Sayukti

Lahir di Gianyar, Bali. Suka menulis dan melukis. Begitu lulus dari Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja, sempat mengajar di Denpasar. Kini tinggal di Bandung, menempuh pendidikan English Language Teaching di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

“Dear Para Jomblo, Kita Beruntung!” – Sebuah Perspektif dari Orang Jomblo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co