4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian Bahasa Daerah di Uni Eropa – Perbandingan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN

Kadek Heny Sayukti by Kadek Heny Sayukti
February 2, 2018
in Esai

Phillipe Grangé (kiri), pakar bahasa dari Universitas La Rochelle di Perancis, pada Forum Ilmiah XII tentang “Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 26 Oktober 2016. #Foto: koleksi penulis

TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mereka merasa itu tidak penting.

Salah satu contoh di Perancis, masyarakat beranggapan dengan menguasai bahasa nasionalnya saja mereka sudah dapat pekerjaan layak sehingga belajar bahasa asing hanyalah buang-buang energi dan biaya. Sikap fanatik dengan bahasa nasional ini juga didukung oleh banyaknya sistem terjemahan di negara tersebut. Bahkan film-film dan tayangan televisi asing banyak yang di-dubbing dengan bahasa Perancis sehingga memperkecil peluang bahasa asing untuk terekspos di negeri tersebut.

Berbeda dengan ASEAN yang memiliki bahasa pengantar berupa Bahasa Inggris, Uni Eropa mempekerjakan banyak sekali penerjemah untuk 23 bahasa dari seluruh 27 negara. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan unit kerja bahwa setiap negara berhak mendapatkan surat atau pemberitahuan dalam bahasa nasionalnya masing-masing sehingga hal itu menjadi sebuah panen raya bagi para penerjemah.

Bagi Phillipe Grangé, seorang pakar bahasa dari Universitas La Rochelle di Perancis, biaya pengadaan penerjemahan ini bisa saja terkesan pemborosan tapi jika ditelusuri dari segi pajak, masing-masing masyarakat Uni Eropa hanya menghabiskan 2,3 euro dari seluruh pajak yang mereka bayarkan.

Lalu, kenapa masyarakat Eropa masih malas mempelajari bahasa asing meski peluang bekerja sebagai penerjemah sangat besar di sana? Melalui Forum Ilmiah XII tentang “Peranan Bahasa pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 26 Oktober 2016, Philippe Grangé menjawab semua keanehan dan keunikan eksistensi bahasa daerah dan bahasa asing di Uni Eropa. Naasnya, bahasa daerah sudah hampir punah, khususnya di Perancis.

Dalam sambutan pembukaan, Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI, Didi Suherdi menegaskan agar masyarakat Indonesia bisa “mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing”.

Namun, hal ini sangat berbeda dengan sejarah revolusi Perancis yang meletus pada tahun 1789. Menurut Grangé, yang terjadi di sana adalah “utamakan Bahasa Perancis, musnahkan bahasa daerah dan abaikan bahasa asing.” Buruknya, revolusi besar-besaran tersebut melahirkan keegoisan rasa nasionalisme yang terlalu tinggi sehingga mendorong masyarakat untuk membenci negara lain.

Membenci negara lain berarti membenci bahasanya. Tidak hanya di Perancis, negara seperti Italia, Jerman, Inggris, Rusia dan lainnya juga cenderung fanatik dengan bahasa nasionalnya saja. Inilah yang mendorong kemalasan akan mempelajari bahasa negara tetangga di Uni Eropa.

Apakah sampai sekarang mereka masih benci-bencian? Tentu tidak, hanya saja masih malas untuk memahami bahasa satu sama lain.

Bahasa Daerah, Bahasa yang kotor

Jika di Indonesia seorang anak dengan fasihnya bisa menguasai bahasa daerah, bahasa nasional dan bahasa Inggris, di Perancis banyak masyarakatnya yang monolingual seumur hidup. Sebenarnya ada banyak sekali bahasa daerah yang tersebar di Perancis sebelum revolusi pecah, salah satunya adalah bahasa latin.

Meskipun sekitar 200 tahun yang lalu pendidikan sangat rendah, masyarakat masih banyak yang bilingual dan menggunakan bahasa latin. Justru menginjak zaman globalisasi, terjadi penurunan kemampuan berbahasa. Ini juga sebuah keanehan karena sistem pendidikan di Perancis sudah jauh berkembang dibanding dengan era sebelum revolusi.

“Bahasa nasional Perancis adalah bahasa daerah yang punya tentara,” ungkap Grangé yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini. Bisa juga dikatakan sebagai bahasa kerajaan yang digunakan oleh bangsawan elit Perancis. Dikatakannya punya tentara, untuk menekankan betapa kuatnya bahasa itu dikawal.

Anehnya lagi, ketakutan akan perpecahan menimbulkan anggapan bahwa bahasa daerah adalah sebuah ancaman besar sehingga dikeluarkannya peraturan resmi dari pemerintah untuk melarang penggunaan bahasa daerah. Salah satu dampaknya adalah banyak tulisan-tulisan berbahasa latin yang diubah menjadi bahasa Perancis.

Yang paling aneh adalah pemerintah juga membentuk sebuah bahasa rekayasa yang merupakan gabungan dari beberapa bahasa daerah. Konyolnya, masyarakat menganggap itu bukanlah sebuah bahasa karena terkesan sangat manipulatif dan dipaksakan. Sementara di sekolah-sekolah, berbahasa daerah dianggap kotor layaknya meludah.

Perumpaaan ini adalah sebuah doktrin bagi anak-anak agar mereka paham betapa buruknya berbahasa daerah. Jika ada anak yang diketahui berbahasa daerah, maka ia berhak diberi hukuman fisik. Jadi, hanya ada satu bahasa yang bertahan hidup yakni Bahasa Perancis.

Apakah bahasa daerah bisa dimekarkan lagi di Perancis? Tampaknya ini sangat sulit karena jumlah penutur bahasa daerah yang sudah berkurang. Selain itu, masyarakat tidak pernah merasa itu sebuah kekhawatiran yang besar karena mereka merasa tenang-tenang saja selama ini tanpa mengenal bahasa daerahnya.

Salah satu fenomena unik adalah saat Grangé menanyakan mahasiswanya tentang seberapa dalam mereka memahami bahasa daerah di kampungnya masing-masing. Sayangnya, kurang dari 2% yang tahu bahasa daerah dan itu pun tidak bisa dibilang fasih karena mereka hanya bisa mengucapkan 3 sampai 4 patah kata saja.

Lemahnya pertahanan bahasa daerah di Perancis membuat Grangé merasa iri terhadap nasib bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Beruntungkah Bahasa Indonesia?

Ada negara yang terbentuk karena kesamaan bahasa tuturnya. Ada juga yang terbentuk karena kesamaan suku dan agama. Di Perancis, bahasa sangat dipertimbangkan sebagai pembentuk negara. Namun, Indonesia adalah negara yang terbentuk karena kebhinekaannya dan tidak banyak negara yang mampu berdiri dalam sebuah kebhinekaan.

Meski penutur bahasa daerah di Indonesia juga mengalami penurunan, untungnya kita tidak pernah merasa keberadaan bahasa daerah adalah sebuah ancaman. Justru keberagaman budaya adalah fakta yang patut dirayakan.

Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), bahasa Indonesia berpeluang tinggi untuk menjadi bahasa pengantar di ASEAN. Dilihat dari jumlah penuturnya, 1/3 penduduk ASEAN adalah penutur Bahasa Indonesia dan jika digabungkan dengan ragam bahasa Melayu lainnya yakni bahasa Malaysia dan Brunei Darusalam, maka berkisar 45% penduduk ASEAN adalah penutur Bahasa Melayu.

Lalu, kenapa masih saja menggunakan Bahasa Inggris? Padahal sudah tahu bahwa Bahasa Inggris hanyalah bahasa yang digunakan oleh kalangan pejabat dan birokrat saja, dan tidak bisa mengakrabkan komunikasi masyarakat ASEAN. Mungkin penduduk di Indonesia sendiri belum tentu semua sadar akan dirinya adalah warga ASEAN.

Maka, bercermin dari bahasa unit kerja Uni Eropa, mungkin ASEAN tidak perlu menerapkan aturan ekstrim yang menyulut fanatisme akan bahasa nasional masing-masing. Akan tetapi, alangkah indahnya jika bahasa dan budaya negara ASEAN masing-masing dapat saling dipelajari di negara lainnya sehingga timbul kolaborasi yang kokoh dalam melestarikan bahasa dan budaya, termasuk bahasa-bahasa daerah di masing-masing negara. (T)

Tags: aseanBahasabahasa daerahperancisuni eropa
Share89TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa

Next Post

“Dear Para Jomblo, Kita Beruntung!” – Sebuah Perspektif dari Orang Jomblo

Kadek Heny Sayukti

Kadek Heny Sayukti

Lahir di Gianyar, Bali. Suka menulis dan melukis. Begitu lulus dari Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja, sempat mengajar di Denpasar. Kini tinggal di Bandung, menempuh pendidikan English Language Teaching di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post

“Dear Para Jomblo, Kita Beruntung!” – Sebuah Perspektif dari Orang Jomblo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co