12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Kesadaran Brahmana, Jalan Setapak ke Pintu Moksha

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Mursal Buyung

“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu hari.

Kalimat beliau“bersayap.”

Sudra, Wesya, Satria, Brahmana, adalah kesadaran manusia, bukan urusan darah daging manusia.

Manusia yang hanya tenggelam mengandalkan tubuh untuk berkarya kasar mencari penghidupan (Sudra) tentu tidak dapat mencapai Moksha. Manusia yang orientasinya masih selisih sisa hasil penjualan, apalagi berjiwa maklar yang pikirannya dipenuhi dengan persenan penjualan tanah, mana mungkin mengapai Moksha.

Pintu moksha tidak juga ‘hadir’ untuk insan yang masih sibuk saling sikut ingin terus bergelimpang kekuasaan dan perebutan tahta (kursi) jabatan (Satria). Hanya dalam jiwa seorang yang tulus berdoa kepada semua, tanpa memikirkan selisih penjualan, tanpa mencari kuasa dan ketenaran, ada harapan pintu Moksha terbayangkan. Malam gelap kerja kasar tanpa kesadaran hati, awan pekat keuntungan penjualan, kabut tebal libido kekuasaan, akan menutup dan menjauhkan pintu itu.

Di keluarga latar belakang sosiologis atau golongan apapun seseorang lahir, walaupun dikatakan ia terlahir dalam garis silsilah keturunan pendeta tertinggi di masa silam, ia harus melewati tahapan Sudra-Wesya-Satria-Brahmana yang laten dalam diri setiap manusia.

Bekerja kasar dan hidup kasar (Sudra) harus dilampaui ke tahap pekerjaan managerial; mengelola pikiran agar beruntung dan mampu menghasilkan keuntungan berlipat (Wesya). Siapapun, sekalipun secara secara genetik konon terlahir dari keluarga Brahmana, jika pikirannya dipenuhi selisih dan persentase keuntungan semata, memperkaya diri dan keluarga, ia sesungguhnya seorang Wesya.

Dari tahap Wesya, seseorang diharapkan terlahir kembali secara kesadaran dalam hidup ini dengan meninggalkan orientasi hidup mencari keuntungan dan laba, menuju ‘pengabdian kemasyarakatan’, mengerjakan dan memikirkan masyarakat, turut serta dalam menata kehidupan manusia, menjadi Satria.

Setelah tahapan Satria dijalani, jika mampu pikirannya terlahir dalam kesadaran Brahmana, ia baru mungkin menapaki jalan setapak menuju pintu Moksha.

Dalam satu kehidupan, seseorang bisa berjuang menjadikan dirinya terangkat dari kesadaran Sudra menuju kesadaran Brahmana. Sebaliknya, bisa juga seseorang terjatuh dari kesadaran Brahmana menuju kesadaran pedagang atau pemimpi kemasyuran dan kekuasaan belaka.

Dari pengabdian berbasis kekuasaan, kedudukan dan kehormatan, menuju pengabdian batiniah, dalam doa dan dalam pelayanan, menahan diri dan mengendalikan pikiran, mewujudkan dan menggali potensi terdalam diri, memahami ruh dan nyawa sendiri, sedalam-dalamnya, seutuh-utuhnya, sejujur-jujurnya, maka ia baru mencapai tahap terlahir dalam kesadaran Brahmana.

Mereka yang pikiran dan kesadarannya telah mencapai mencapai kesadaran Brahmana berpeluang menuju ke jenjang perjalanan berikutnya, perjalanan menuju pintu Moksha.

Beberapa tokoh yang melintas jalan dari silsilah dan garis kelahirannya. Mereka manusia sujati:

Walmiki diceritakan menjalani hidup sebagai perampok, lalu tercerahi karena mendapat ‘mantra’ dan menjalani tapa, sehingga ia dikerubungi semut dan tubuhnya terkubur rumah semut. Walmiki berarti rumah semut. Sebagai pertapa tercerahi ia menuliskan Kisah Ramayana.

Lubdaka dalam kisah Siwalatri Kalpa, terlahir menjadi pemburu dan tercerahi lewat ‘renungan malam Siwa Latri,’ mencapai ‘Siwa Loka’ atau ‘alam tertinggi’ setelah kematiannya.

Satyakama Jabala, seorang anak pembantu yang tidak jelas siapa ayahnya, muncul dalam Chandogya Upanishad, bab IV, pergi mencari seorang guru yang akan membimbingnya mencapai tujuan tertinggi kehidupan. Kepada Rishi Gautama Haridrumata, ketika ditanya asal muasal keluarga dan garis silsilah keluarganya, Satyakama Jabala mengakui bahwa ia bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Ibunya menjadi pembantu dari rumah ke rumah dan berbuah melahirkan dia. Menurut Rishi Gautama Haridrumata, karena Satyakama Jabala berbicara kebenaran maka dia seorang Brahmana. Chandogya Upanishad IV 4,1-5, menyebutkan: ‘Kebenaran adalah kebajikan tertinggi, kebajikan moral yang memungkinkan seseorang untuk mencapai Yang Absolute’.

Sidhartha Gautama terlahir sebagai Satria, ia meninggalkan tahta dan kemewahan. Memasuki kehidupan tapa dan kesucian. Ia bergerak dari Satria menuju kesadaran Brahmana. Lewat jalan asketime dan perenungan dan mendalam ia mencapai Nirbana yang sempurna. Ia bukan saja mencapai yang entitas yang tertinggi, bahkan menjadi pembuka jalan dan mahaguru diantara para brahmana.

Apa yang disampaikan guru saya dalam pembuka tulisan ini, sangat menarik untuk dibandingkan dengan apa makna Brahmana dalam kitab suci Dhammapada, bagian Brahmanavagga XXVI:

(411) Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan lagi,
yang telah bebas dari keragu-raguan
karena memiliki Pengetahuan Sempurna,
yang telah menyelami keadaan tanpa kematian (nibbana),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(412) Seseorang yang telah mengatasi kebaikan,
kejahatan dan kemelekatan,
yang tidak lagi bersedih hati, tanpa noda, dan suci murni,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(413) Seseorang yang tanpa noda,
bersih, tenang,
dan jernih batinnya seperti bulan purnama,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(414) Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan (samsara) yang kotor,
berbahaya dan bersifat maya;
yang telah menyeberang dan mencapai ‘Pantai Seberang’ (nibbana);
yang selalu bersemadi, tenang, dan bebas dari keragu-raguan;
yang tidak terikat pada sesuatu apa pun
dan telah mencapai nibbana,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(415) Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan
kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga
dan menempuh kehidupan tanpa rumah,
yang telah menghancurkan nafsu indria akan ujud yang baru,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(416) Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan
kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga,
dan menempuh kehidupan tanpa rumah,
yang telah menghancurkan kemelekatan dan kerinduan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(417) Seseorang yang telah menyingkirkan ikatan-ikatan duniawi
dan juga telah mengatasi ikatan-ikatan surgawi,
yang benar-benar telah bebas dari semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(418) Seseorang yang telah mengatasi rasa senang
dan tidak senang dengan tidak menghiraukannya lagi,
yang telah menghancurkan dasar-dasar bagi perwujudan,
dan juga telah mengatasi semua dunia (kelompok kehidupan),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(419) Seseorang yang telah memiliki pengetahuan sempurna
tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk,
yang telah bebas dari ikatan,
telah pergi dengan baik (Sugata)
dan telah mencapai ‘Penerangan Sempurna’,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(420) Orang yang jejaknya tak dapat dilacak,
baik oleh para dewa, gandarwa, maupun manusia,
yang telah menghancurkan semua kekotoran batin
dan telah mencapai kesucian (arahat),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(421) Orang yang tidak lagi terikat pada apa yang telah lampau,
apa yang sekarang maupun yang akan datang,
yang tidak memegang ataupun melekat pada apapun juga,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(422) Ia yang mulia, agung, pahlawan,
pertapa agung (mahesi), penakluk, orang tanpa nafsu, murni,
telah mencapai penerangan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(423) Seseorang yang mengetahui semua kehidupannya yang lampau,
yang dapat melihat keadaan surga dan neraka,
yang telah mencapai akhir kelahiran,
telah mencapai kesempurnaan pandangan terang,
suci, murni, dan sempurna kebijaksanannya,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

Sudra, Wesya, Satria, Brahmana, adalah kesadaran manusia, bukan urusan darah daging manusia, bukan urusan historis atau sosiologis tubuh. Ini adalah urusan spiritual. Hanya dalam cahaya dan kesadaran Brahmana terbuka jalan setapak menuju pintu Moksha. (T)

Tags: balibrahmanaLudakamokshaSidharta GautamaWalmiki
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan di Kiralela: Stalagnit Tonggak Bakau di Pantai Welolo

Next Post

Berpolitik di Pemerintahan Mahasiswa: Menentang Kepalsuan atau Belajar Korupsi?

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Berpolitik di Pemerintahan Mahasiswa: Menentang Kepalsuan atau Belajar Korupsi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co