25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Kesadaran Brahmana, Jalan Setapak ke Pintu Moksha

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Mursal Buyung

“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu hari.

Kalimat beliau“bersayap.”

Sudra, Wesya, Satria, Brahmana, adalah kesadaran manusia, bukan urusan darah daging manusia.

Manusia yang hanya tenggelam mengandalkan tubuh untuk berkarya kasar mencari penghidupan (Sudra) tentu tidak dapat mencapai Moksha. Manusia yang orientasinya masih selisih sisa hasil penjualan, apalagi berjiwa maklar yang pikirannya dipenuhi dengan persenan penjualan tanah, mana mungkin mengapai Moksha.

Pintu moksha tidak juga ‘hadir’ untuk insan yang masih sibuk saling sikut ingin terus bergelimpang kekuasaan dan perebutan tahta (kursi) jabatan (Satria). Hanya dalam jiwa seorang yang tulus berdoa kepada semua, tanpa memikirkan selisih penjualan, tanpa mencari kuasa dan ketenaran, ada harapan pintu Moksha terbayangkan. Malam gelap kerja kasar tanpa kesadaran hati, awan pekat keuntungan penjualan, kabut tebal libido kekuasaan, akan menutup dan menjauhkan pintu itu.

Di keluarga latar belakang sosiologis atau golongan apapun seseorang lahir, walaupun dikatakan ia terlahir dalam garis silsilah keturunan pendeta tertinggi di masa silam, ia harus melewati tahapan Sudra-Wesya-Satria-Brahmana yang laten dalam diri setiap manusia.

Bekerja kasar dan hidup kasar (Sudra) harus dilampaui ke tahap pekerjaan managerial; mengelola pikiran agar beruntung dan mampu menghasilkan keuntungan berlipat (Wesya). Siapapun, sekalipun secara secara genetik konon terlahir dari keluarga Brahmana, jika pikirannya dipenuhi selisih dan persentase keuntungan semata, memperkaya diri dan keluarga, ia sesungguhnya seorang Wesya.

Dari tahap Wesya, seseorang diharapkan terlahir kembali secara kesadaran dalam hidup ini dengan meninggalkan orientasi hidup mencari keuntungan dan laba, menuju ‘pengabdian kemasyarakatan’, mengerjakan dan memikirkan masyarakat, turut serta dalam menata kehidupan manusia, menjadi Satria.

Setelah tahapan Satria dijalani, jika mampu pikirannya terlahir dalam kesadaran Brahmana, ia baru mungkin menapaki jalan setapak menuju pintu Moksha.

Dalam satu kehidupan, seseorang bisa berjuang menjadikan dirinya terangkat dari kesadaran Sudra menuju kesadaran Brahmana. Sebaliknya, bisa juga seseorang terjatuh dari kesadaran Brahmana menuju kesadaran pedagang atau pemimpi kemasyuran dan kekuasaan belaka.

Dari pengabdian berbasis kekuasaan, kedudukan dan kehormatan, menuju pengabdian batiniah, dalam doa dan dalam pelayanan, menahan diri dan mengendalikan pikiran, mewujudkan dan menggali potensi terdalam diri, memahami ruh dan nyawa sendiri, sedalam-dalamnya, seutuh-utuhnya, sejujur-jujurnya, maka ia baru mencapai tahap terlahir dalam kesadaran Brahmana.

Mereka yang pikiran dan kesadarannya telah mencapai mencapai kesadaran Brahmana berpeluang menuju ke jenjang perjalanan berikutnya, perjalanan menuju pintu Moksha.

Beberapa tokoh yang melintas jalan dari silsilah dan garis kelahirannya. Mereka manusia sujati:

Walmiki diceritakan menjalani hidup sebagai perampok, lalu tercerahi karena mendapat ‘mantra’ dan menjalani tapa, sehingga ia dikerubungi semut dan tubuhnya terkubur rumah semut. Walmiki berarti rumah semut. Sebagai pertapa tercerahi ia menuliskan Kisah Ramayana.

Lubdaka dalam kisah Siwalatri Kalpa, terlahir menjadi pemburu dan tercerahi lewat ‘renungan malam Siwa Latri,’ mencapai ‘Siwa Loka’ atau ‘alam tertinggi’ setelah kematiannya.

Satyakama Jabala, seorang anak pembantu yang tidak jelas siapa ayahnya, muncul dalam Chandogya Upanishad, bab IV, pergi mencari seorang guru yang akan membimbingnya mencapai tujuan tertinggi kehidupan. Kepada Rishi Gautama Haridrumata, ketika ditanya asal muasal keluarga dan garis silsilah keluarganya, Satyakama Jabala mengakui bahwa ia bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Ibunya menjadi pembantu dari rumah ke rumah dan berbuah melahirkan dia. Menurut Rishi Gautama Haridrumata, karena Satyakama Jabala berbicara kebenaran maka dia seorang Brahmana. Chandogya Upanishad IV 4,1-5, menyebutkan: ‘Kebenaran adalah kebajikan tertinggi, kebajikan moral yang memungkinkan seseorang untuk mencapai Yang Absolute’.

Sidhartha Gautama terlahir sebagai Satria, ia meninggalkan tahta dan kemewahan. Memasuki kehidupan tapa dan kesucian. Ia bergerak dari Satria menuju kesadaran Brahmana. Lewat jalan asketime dan perenungan dan mendalam ia mencapai Nirbana yang sempurna. Ia bukan saja mencapai yang entitas yang tertinggi, bahkan menjadi pembuka jalan dan mahaguru diantara para brahmana.

Apa yang disampaikan guru saya dalam pembuka tulisan ini, sangat menarik untuk dibandingkan dengan apa makna Brahmana dalam kitab suci Dhammapada, bagian Brahmanavagga XXVI:

(411) Seseorang yang tidak mempunyai nafsu keinginan lagi,
yang telah bebas dari keragu-raguan
karena memiliki Pengetahuan Sempurna,
yang telah menyelami keadaan tanpa kematian (nibbana),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(412) Seseorang yang telah mengatasi kebaikan,
kejahatan dan kemelekatan,
yang tidak lagi bersedih hati, tanpa noda, dan suci murni,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(413) Seseorang yang tanpa noda,
bersih, tenang,
dan jernih batinnya seperti bulan purnama,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(414) Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan (samsara) yang kotor,
berbahaya dan bersifat maya;
yang telah menyeberang dan mencapai ‘Pantai Seberang’ (nibbana);
yang selalu bersemadi, tenang, dan bebas dari keragu-raguan;
yang tidak terikat pada sesuatu apa pun
dan telah mencapai nibbana,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(415) Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan
kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga
dan menempuh kehidupan tanpa rumah,
yang telah menghancurkan nafsu indria akan ujud yang baru,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(416) Seseorang yang dengan membuang nafsu keinginan
kemudian meninggalkan kehidupan rumah-tangga,
dan menempuh kehidupan tanpa rumah,
yang telah menghancurkan kemelekatan dan kerinduan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(417) Seseorang yang telah menyingkirkan ikatan-ikatan duniawi
dan juga telah mengatasi ikatan-ikatan surgawi,
yang benar-benar telah bebas dari semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(418) Seseorang yang telah mengatasi rasa senang
dan tidak senang dengan tidak menghiraukannya lagi,
yang telah menghancurkan dasar-dasar bagi perwujudan,
dan juga telah mengatasi semua dunia (kelompok kehidupan),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(419) Seseorang yang telah memiliki pengetahuan sempurna
tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk,
yang telah bebas dari ikatan,
telah pergi dengan baik (Sugata)
dan telah mencapai ‘Penerangan Sempurna’,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(420) Orang yang jejaknya tak dapat dilacak,
baik oleh para dewa, gandarwa, maupun manusia,
yang telah menghancurkan semua kekotoran batin
dan telah mencapai kesucian (arahat),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(421) Orang yang tidak lagi terikat pada apa yang telah lampau,
apa yang sekarang maupun yang akan datang,
yang tidak memegang ataupun melekat pada apapun juga,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(422) Ia yang mulia, agung, pahlawan,
pertapa agung (mahesi), penakluk, orang tanpa nafsu, murni,
telah mencapai penerangan,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
(423) Seseorang yang mengetahui semua kehidupannya yang lampau,
yang dapat melihat keadaan surga dan neraka,
yang telah mencapai akhir kelahiran,
telah mencapai kesempurnaan pandangan terang,
suci, murni, dan sempurna kebijaksanannya,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.

Sudra, Wesya, Satria, Brahmana, adalah kesadaran manusia, bukan urusan darah daging manusia, bukan urusan historis atau sosiologis tubuh. Ini adalah urusan spiritual. Hanya dalam cahaya dan kesadaran Brahmana terbuka jalan setapak menuju pintu Moksha. (T)

Tags: balibrahmanaLudakamokshaSidharta GautamaWalmiki
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Liburan di Kiralela: Stalagnit Tonggak Bakau di Pantai Welolo

Next Post

Berpolitik di Pemerintahan Mahasiswa: Menentang Kepalsuan atau Belajar Korupsi?

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Berpolitik di Pemerintahan Mahasiswa: Menentang Kepalsuan atau Belajar Korupsi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co