15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus

Erwin Widyaswara by Erwin Widyaswara
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Erwin

RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up, dan juga motor pribadi.

Para seniman genjek itu datang menggunakan seragam adat madya yang tak biasa. Tak biasa? Ya, karena mereka tidak datang dengan saput poleng (hitam putih) yang biasa digunakan saat pentas-pentas genjek. Semua peserta genjek kolosal itu diberikan seragam gratis berwarna biru. Birunya ambigu, antara biru dongker dengan biru langit.

Sekitar pukul 14.00 wita lebih sedikit, tamu yang ditunggu-tunggu pun datang. Bukan main, undangan yang hadir adalah Presiden ke-6 RI, Sosilo Bambang Yudoyono atau yang akrab disapa SBY. Ia selaku pemegang kendali partai berlambang biru langit. SBY datang dijamu oleh Bupati Karangsem, IGA Mas Sumatri, yang kini bermukim di partai biru dongker.

“Niki wastane genjek Demokrat rasa Nasdem, Pak. Hahahahaha,” celetuk seorang pria yang mengenakan udeng dan saput berwarna biru itu saat penulis menanyakan genjek apa yang tampil saat itu.

Undangan yang datang ke acara genjek kolosal itu memang rata-rata tamu VIP. Terlihat pula pimpinan Partai Golkar Setya Novanto. Ia duduk di sebelah Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta yang sama-sama berada di partai berlambang beringin yakni Golkar. Terlihat juga pejabat penting lain.

Dengan pementasan genjek kolosal itu Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri ingin mempopulerkan Genjek Karangasem ke kancah nasional bahkan dunia. Dihitung dari sudut pandang niat, memang positif. Dalam sambutannya, Mas Sumatri bahkan mengatakan, dengan pergelaran genjek kolosal itu diharapkan harkat dan martabat masyarakat Karangasem semakin terangkat.

Namun, dalam pentas itu, kesan yang tampak justru malah merendahkan taksu dan harkat martabat budaya dan tradisi masyarakat sendiri. Sebab, genjek itu “dipaksakan” tampil dengan kostum serba biru yang justru membuat kesenian rakyat itu tampak kehilangan taksu.

Pentas genjek kolosal itu tak ubahnya seperti kampanye partai politik atau  kampanye pilkada di lapangan umum. Para penggenjek seolah-olah berasal dari golongan biru. Mereka membawa bendera sambil kepanasan dan berteriak merdeka. Melihat riuh itu, tampak seperti masyarakat golongan biru sedang merayakan atau menyambut Hari Kemerdekaan RI. Yang menarik, bahkan patung di areal pentas itu pun menggunakan saput biru.

Informasi di sejumlah media cetak menyebutkan Pemerintah Kabupaten Karangasem tidak merogoh kotak APBD untuk membiayai pementasan genjek yang melibatkan 15 ribu lebih rakyat Karangasem itu. Dikutip dari salah satu media cetak di Bali, dana pergelaran genjek itu dipasok dari uluran duit sejumlah pihak dan tentu saja dari sejumlah politikus.

Politik Warna

Sumbangan dari politikus tentu saja tidak gratis. Ada kompensasi yang tak wajib namun disepakati sebagai suatu “keharusan” oleh pihak penyumbang dana maupun pihak penerima dana.

Buktinya genjek kolosal di Taman Ujung itu membiru. Biru adalah sebuah kompensasi. Warna itu tentu erat kaitannya dengan kedatangan SBY dan si penguasa wilayah Mas Sumatri yang kini duduk di partai berlambang biru juga.

Partai politik harusnya tak mendikte sebuah tradisi dan kebudayaan. Harusnya menjaga kebudayaan tanpa embel-embel timbal balik berupa keuntungan golongan. Entah disengaja atau tidak, itu urusan mata. Mata tetap keseleo melihat genjek tiba-tiba berwarna serba biru.

Memang spirit genjek tidaklah soal pakaian yang dikenakan, tapi soal paduan suara dari masing-masing peserta dengan diiringi tabuh. Namun,  mata penonton tak bisa dibohongi. Harusnya pentas genjek kolosal untuk meraih penghargaan Muri itu dibiarkan apa adanya. Jika konsep genjek kolosal macam yang digelar 10 Agustus itu, sebetulnya tak perlu sumbangan saput dan udeng biru.

Masing-masing keluarga Bali pastinya punya saput poleng. Tinggal disuruh semua peserta membawa saput poleng dari rumah. Oke kalau udeng bolehlah berwarna biru. Tapi genjek itu hampir semua kostum dibuat biru. Alamak.

Persoalan mencari keuntungan politik dengan memberi untuk mendapatkan keuntungan golongan memang sudah lumrah. Tapi yang harus diperketat adalah soal dikte mendikte kebudayaan. Jangan sampai tradisi budaya Bali menjadi momen untuk meraih kekuasaan. Jangan budaya dan tradisi Bali hanya jadi ajang memplintir informasi ke publik.

Masyarakat Bali harus ketat terhadap kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Biarkan kebudayaan itu mengalir tanpa diobrak abrik, tanpa didikte, dan lain sebagainya. Masyarakat Bali harus lebih berani melawan ancaman pengkerdilan taksu dan budaya Bali.

Tentunya persoalan serupa tak hanya dilakukan oleh golongan partai biru saja. Politik warna  sepertinya menular ke semua partai politik. Jika PDIP berkuasa, warna merah seperti mendominasi dalam semua kegiatan, tak peduli apakah itu kegiatan formal, spiritual, maupun sekular. Dulu, di zaman Orde Baru saat Golkar berkuasa, warna kuning merajalela di mana-mana bahkan hingga ke Pura saat odalan. Begitu juga saat yang biru berkuasa.

Cemooh, sindiran dan ketidaksetujuan selalu ada. Namun “penyakit warna” dalam politik tak pernah hilang. Bahkan kadang dilakukan oleh pihak yang dulu kerap melontarkan cemooh. Saat partai kuning berkuasa, orang-orang dari partai merah mempertanyakan kenapa kaos PNS, ider-ider di Pura, atau cat trotoar melulu berwarna kuning. Tapi saat partai merah berkuasa, mereka tanpa malu-malu meniru mentah-mentah pihak yang dulu dicemooh.

Yang selalu jadi korban politik warna, selain kelompok-kelompok kesenian, biasanya juga dunia PNS. Di sebuah pemerintah daerah di Bali, setiap Jumat pegawainya mengenakan seragam merah untuk kegiatan bersih-bersih, jalan santai atau kegiatan lain. Tentu karena kepala daerah pegawai itu berasal dari partai dengan simbol warna merah. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Memang banyak orang sadar bahwa politik warna sudah tak banyak manfaat, terutama pada zaman modern ini, ketika nalar dan logika manusia sudah mulai berkembang. Kini banyak simbol, termasuk simbol-simbol warna, sudah kehilangan tuah dan makna.

Apakah bisa dijamin ketika ribuan sekaa genjek menggunakan kostum serba biru, atau sekaa balaganjur menggunakan kostum serba merah, akan bisa membius orang untuk langsung memilih biru atau merah dalam politik? Tentu saja tidak. Namun kebiasaan buruk para politikus untuk memaksakan warna tertentu ke dalam ruang-ruang seni-budaya, atau bahkan ruang-ruang sakral tampaknya tak pernah hilang. Justru kebiasaan itu sepertinya makin dilombakan.

Salam Merdeka! (T)

Tags: Partai PolitikPolitikSeni
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Benarkah Perempuan Mungil “Tak Laku Jual”? – Tentang Aku dan Tubuh

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: I dan Ni pada Nama Orang Bali

Erwin Widyaswara

Erwin Widyaswara

Saat menjadi mahasiswa di Undiksha kerap menulis puisi dan cerpen sekaligus menggarap musikalisasi puisi. Pernah bergaul di Komunitas Cemara Angin dan Komunitas Mahima Singaraja. Kini, lelaki kelahiran Gianyar ini tinggal di Denpasar dan bekerja sebagai jurnalis.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: I dan Ni pada Nama Orang Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co