Foto: Mursal Buyung

 

TUBUH duduk di atas perahu, dayung sudah di tangan, dan danau sudah dalam ketika penyeberangan akan dimulai. Kepada diri saya, ada pertanyaan yang ingin saya ajukan, dan hendak saya jawab dengan diam.

Penjelasan-penjelasan untuk segala jenis pikiran, perkataan maupun tindakan hanya akan bermuara pada pertanyaan. Tapi diam juga bukan jawaban yang tepat, lalu apa? Tidak ada penjelasan sampai saat ini yang dapat saya katakan. Tentu setiap orang dapat menilai dari sudut pandangnya sendiri. Untuk saat ini, saya hanya ingin menyeberang.

Dayung dikayuh, perahu melaju. Angin tetap dingin. Sementara Tunjung Tutur sedang mekar di antara daun-daunnya yang lebar. Tunjung Tutur juga dikenal dengan nama Teratai Sudamala [Nymphoides indica]. Bunganya putih, kecil, indah, dan tentu saja misterius. Misterius sebab di danau yang luas itu, ia tetap saja terlihat mungil.

Apakah ia tidak ingin menjadi besar? Entahlah. Apakah ada hubungannya antara Tunjung Tutur dengan Sudamala? Segala hal yang kecil senang sekali disebut-sebut sudamala. Suda artinya suci bersih, mala artinya kekotoran. Sudamala berarti penyucian segala jenis kekotoran [batin].

Di danau Tamblingan geguritan Loda ditembangkan. Shastra adalah ayah dan ibu katanya. Jika shastra adalah ayah dan ibu, artinya manusia yang bersastra selalu menjadi seorang anak. Seorang anak yang selalu ditakut-takuti suka-duka.

Tidak hanya duka yang menakutkan, tapi juga perasaan-perasaan suka. Ketakutan terhadap suka adalah ketakutan akan kehilangannya. Sulit menerangkan ketakutan macam apa yang akan datang, jika suka-duka terlanjur ada. Seperti anak kecil yang ketakutan, manusia datang kepada ayah dan ibunya. Yang dicarinya adalah perlindungan. Jadi, jangan takut!

Perahu membawa tubuh ke tengah danau, teratai merah juga bunga cempaka dilarung ke dalamnya. Pikiran dan hati tiba-tiba tidak sejalan. Hati meminta menuruti bunga-bunga, sedang pikiran terlalu takut menyelam. Tubuh juga tidak beriringan, ia lanjutkan kayuhan.

Mata melirik air yang bergelombang, ternyata danau sama sekali tidak tenang. Saya bayangkan ia seperti dewa yang dikutuk lalu menunggu ‘sesuatu’ untuk melepaskan kutukannya. Pada masa penantian itu, mungkin ribuan tahun jika tidak jutaan, yang dinantinya belum datang. Gelombang air adalah kegelisahan penantian.

Perahu tertambat, kaki menginjak tepian tujuan. Cemara berkata ‘selamat datang’. Tentu itu adalah khayal, tapi terasa nyata. Sulit membedakan mana yang maya, mana yang nyata. Saat itulah saya merasa tersesat. Tidak jelas lagi mana arah. Tapi arah tidak lagi penting jika di kepala bergema kata-kata ‘kau sudah sampai’. Tetapi, lagi-lagi saya diajarkan untuk mempertanyakan segala sesuatu yang telah dianggap selesai. Sampai adalah selesai. Maka saya pertanyakan lagi, benarkah saya sudah sampai? Atau perjalanan baru saja akan dimulai?

Saya tenggelamkan tubuh ke dalam danau yang dingin. Di atas sana langit masih biru, dan matahari masih terang. Tiba-tiba saya ingat pesan seseorang, jika melihat matahari, carilah bayanganmu. Bayangan saya cari tapi tidak ada! Mungkin ditelan dalamnya danau. Tapi saya juga diajarkan untuk tidak peduli.

Terlalu panjang jika perjalanan ini diuraikan. Singkatnya, segala sesuatu yang pernah pergi akan kembali. Sayalah kali ini yang akan kembali ke tempat awal penyeberangan. Sekali lagi, dayung dikayuh, perahu melaju. Kabut datang seperti hati yang berat ditinggalkan. Gerimis turun seperti air mata yang terlanjur luruh. Sekali lagi, saya diajarkan untuk tidak peduli kepada segala sesuatu yang memberatkan perjalanan. Berjalan saja, biarkan kesedihan dan air mata menjadi milik yang ditinggalkan.

Apa yang tertinggal di belakang jejak perahu? Mungkin hanya riak air, atau pertemuan yang terasa menyedihkan. Seseorang berkata, ‘Tamblingan itu artinya obat ingatan’. Kenapa? Karena ada kata tamba [obat] juga eling [ingat]. Jika Tamblingan adalah obat ingatan, lalu apa yang sudah saya lupakan? Mungkin saya telah melupakan Tunjung Tutur. Tutur artinya ingat. (T)

BACA JUGA: 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY