Foto ilustrasi: Mursal Buyung

 

INILAH catatan perjalanan saya meniru-niru pengembara. Konon pengembara yang baik adalah pengembara yang mencatatkan segala hal yang ditemuinya selama mengembara.

Seluruh catatan ini saya namai Sekar Sumawur. Sekar artinya bunga, sumawur artinya tersebar. Bunga-bunga itu tersebar ke seluruh penjuru, dan saya memutuskan menjadi pejalan dan pemulung. Akan ada banyak pertanyaan juga pernyataan tentang pemilihan judul itu.

Lebih lagi oleh beberapa kalangan yang menenggelamkan dirinya pada samudera shastra. Judul itu sesungguhnya telah lama digunakan oleh peneliti asing, dan sebagaimana yang saya katakan tadi, saya hanya seorang pemulung. Maafkan. Sekarang saya mulai catatan ini, begini.

Alam tanpa apa-apa adalah alam yang hampa. Di dalam bahasa Jawa Kuna disebut sunya. Kehampaan itu menurut shastra-shastra tentang dunia, disebut sebagai salah satu tempat, maka diistilahkan dengan ‘pada’. Tempat yang hampa itu, adalah sunya pada. Dimanakah tempat itu?

Mari kita telusuri pelan-pelan, sebab tentu jalan yang akan kita tempuh bukan jalan baru yang mulus. Bukan pula jalan tol yang bisa dibayar dengan uang. Jalan itu adalah jalan terjal, berkelok, menanjak sampai di ujung gunung alit [gunung kecil]. Demikian diceritakan oleh para pengembara yang telah kembali dari kembaranya. Seseorang yang ingin mencapainya, mesti berani memasuki hutan dan bertemu macan.

Tubuh ini mirip hutan, segalanya ada, mulai dari unsur padat sampai unsur gelombang ada di dalamnya. Tanah, air, api, udara juga suara adalah penghuni hutan tubuh. Lalu apakah macannya? Macan adalah pikiran yang ganas itu. Manusia sulit menaklukkan macan pikiran, sebab ia sangat sakti. Setidaknya ia punya delapan kesaktian. Begitu dahulu dongeng-dongeng nenek moyang yang dapat dipercaya.

Untuk masuk ke dalam hutan tubuh, seseorang mesti membekali dirinya dengan peta. Tentu petanya adalah peta yang benar, dapat dipercaya, dan yang terpenting bisa dimengerti dan dipahami. Jangan sampai, sudah membawa peta tapi masih tersesat. Syukur-syukur tersesat di jalan yang benar. Seringkali orang [baca; saya] tidak tahu, mana yang salah dan mana yang sangat salah. Yang diketahui adalah jalan pembenaran!

Peta jika dibaca, menunjukkan arah yang umumnya ditandai dengan arah utara dan arah selatan. Tetapi jangan bertanya tentang arah di Bali pada orang-orang dengan sembarangan. Petanya akan sedikit berbeda. Arah yang bagi sebagian orang adalah Utara, bisa saja bagi sebagian orang lainnya adalah Selatan. Jangankan arah Utara-Selatan, atas bawah pun terkadang tidak jelas.

Misalkan, bagi kebanyakan orang kepala terletak di atas tubuh. Kepala disebut hulu. Tapi bagi sedikit orang, hulu itu ada di kaki. Hulu yang ada di kaki, disebut hulu puun.

Memahami peta adalah syarat yang mesti dipenuhi untuk mengembara mencari tempat hampa. Tempat hampa itu, sebaiknya jangan dicari beramai-ramai. Cukup sendiri. Jika beramai-ramai, suasana jadi bising oleh keluhan-keluhan. Keluh karena lelah, haus, lapar dan seterusnya dan sebagainya. Keluhan itu mengakibatkan perjalanan tidak lagi nikmat.

 

Perjalanan memasuki hutan, jangan berisik, nanti macan pikiran mengintai tanpa kita ketahui. Jika macan pikiran telah menerkam, maka telinga bising oleh omongan-omongan tentang apa yang telah dilihat, didengar, disentuh, dihirup, juga dirasakan. Dada jadi kembung menampung kebanggaan, juga perasaan-perasaan takjub tentang segala hal yang baru ditemui.

Sampai disini, catatan ini saya hentikan dahulu, sebab saya belum paham betul mana arah yang mesti ditempuh. Maaf. Jika ada yang bingung, percayalah saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya lelah dan ingin istirahat sebentar.

Dari tempat saya duduk kini, langit tampak biru terang tanpa awan. Langit itu sepertinya kosong melompong tanpa anjing gonggong. Lalu macan pikiran datang dan bertanya kepada saya yang kelelahan. “Hei kamu manusia, apa bedanya langit itu dengan telapak kakimu?” (T)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY