Foto: Mursal Buyung

 

PAGI-PAGI betul ketika telinga mulai mendengar dan mata mulai melihat, jangan lupa bahwa nafas masih mengalir keluar dan masuk sekaligus membawa aroma. Lidah mulai menyecap, juga kulit mulai menyentuh. Itu tanda-tanda otak masih bekerja dan menyadarkan bahwa manusia masih hidup.

Setelahnya bangunkan tubuh, rawat ia dengan baik. Gosok giginya, cuci wajahnya, jika perutnya sakit, keluarkan saja semuanya. Jangan lupa mandi! Mandi itu kewajiban, sekaligus hak. Sebagai kewajiban, tentu mutlak dilakukan. Sebagai hak, mandi itu boleh-boleh saja. Pilih sesuai situasi dan kondisi.

Mandi atau tidak, itu urusan masing-masing. Aroma tubuh yang tidak mandi, jadi urusan sosial kemudian. Cukupkan dulu tentang mandi, yang ingin saya katakan kali ini adalah tentang keranjang. Keranjang bukan sembarang keranjang. Bukan keranjang pindang [ikan asin], bukan pula keranjang padang [rumput]. Ini tentang keranjang ular. Ya, ular.

Keranjang ular yang spesial, sebab semua manusia konon membawanya. Tidak peduli status soial, jenis kelamin, apalagi agama. Manusia membawa keranjang ular, tapi tidak tahu di mana keranjang itu berada. Hidup memang seperti lelucon kadang. Maka tertawakan saja. Hati-hati jika tertawa, nanti mulut terbuka lebar.

Ada lelucon lain tentang tokoh cerita yang mati hanya karena tertawa. Nanti akan saya ceritakan, semoga saja otak saya masih mau mengingat detailnya dan waras. Sekarang lanjutkan dulu tentang keranjang.

Keranjang ular, oleh manusia dibawanya kemana-mana. Bahkan saat tidur pun ia turut. Keranjang itu, berisi ular yang sedang tertidur. Jika tubuh manusia bangun, mestinya bangunkan pula ular yang tertidur pulas entah telah beberapa lama. Hati-hati saja, jangan sampai ular itu mengganas. Jika ia menggigit, saya tidah tahu, apa obat paling mujarab. Meskipun dahulu, ada orang yang berkata, racun adalah obatnya.

Lalu, dengan apa ular itu dibangunkan sekaligus dijinakkan? Saya teringat suatu adegan pada sebuah film. Seseorang membawa keranjang berisi raja kobra di tangan kiri. Di tangan kanan, ia membawa seruling yang cukup besar. Ia duduk tanpa ragu, kemudian meniup serulingnya. Ditariknya udara di luar ke dalam tubuh, lalu dihembuskan dengan tekhnik tertentu, sehingga udara yang keluar mampu membuat seruling berbunyi nyaring.

Suara seruling itu membuat ular bangun, meliuk-liuk, seolah ia menjadi penari. Saya tidak tahu apakah ular itu menikmatinya? atau karena dia memang telah dilatih demikian.

Ketercengangan adalah pengalaman tak terlupakan ketika melihat adegan itu. Kesimpulan sementara ini bahwa ular dalam keranjang bisa bangun jika ada musik. Jika seluruh orang yang ada di bumi manusia ini punya ular di dalam keranjangnya, bangunkan saja dengan musik. Musik apa? Pop, rock, jazz, metal, punk, klasik, keroncong, atau mungkin dangdut. Ada banyak pilihan musik, tapi saya ingin membangunkannya dengan musik yang tidak dapat didengar dengan telinga terbuka.

Jika ular di dalam keranjang telah bangun lalu menari, saya ingin pergi ke masa depan. Masa-masa yang tidak saya ketahui seperti apa. Tapi entah kenapa saya yakini, masa itu penuh kebebasan dan kesetaraan. Tidak lagi dibatasi waktu, apalagi ruang. Pada masa itu, manusia terlihat sama di hadapan siapa dan apa saja.

Maksud saya, sama-sama mengerti dan tidak saling menghakimi. Apalagi diikat oleh sesuatu yang halus dan tidak kelihatan. Semacam dunia ideal tanpa pemaksaan untuk menjinjing perahu ke puncak gunung. Sayangnya, sampai saat ini banyak yang tidak sampai hati menambatkan perahunya di pesisir laut. Mohon maaf jika kata-kata ini mengingatkan sesuatu atau seseorang. Saya tidak bermaksud begitu. (T)