Foto: Putik

 

HARI Raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat Hindu. Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah hari di mana turunnya ilmu pengetahuan yang suci.  Hari ini adalah hari penghormatan kepada Dewi Saraswati, dewi yang melambangkan ilmu pengetahuan. Biasanya orang-orang akan meletakkan banten pada tumpuk-tumpukan buku. Entah buku lama atau baru, buku yang sering dibaca berulang-ulang sampai buku yang tak pernah dibaca sekalipun patut diberikan sesajen. Memang begitu. Nak mule keto, kata orang Bali.

Ketika kita melihat hari Saraswati dan keterkaitannya dengan literasi, kita akan melihat adanya ketimpangan yang sangat jelas. Di hari itu buku amatlah sangat berharga, bermakna dan berjasa dalam menerangi jalan dan kisah hidup pembacanya. Tapi hanya di hari itu. Di hari lain? Buku tak seagung itu. Buku hanya kumpulan kertas bertumpuk, dengan cover, daftar isi dan testimoni dari beberapa penulis hebat untuk meningkatkan harga jual buku. Selain itu tak ada lagi.

Literasi Indonesia, Bali khususnya sangat perlu diperhatikan. Jika pemerintah membuat program sudah selayaknya dilaksanakan lebih serius. Serius bukan dalam artian hanya membuat kegiatan-kegiatan seremonial lampu strongking gelap terang. Terang saat baru-baru dibuat dan gelap saat masa jabatan akan segera berakhir. Membuat program tak sebercanda itu.

Literasi kita adalah masalah yang pelik. Sama pelik ketika tak ada terasi dalam lawar bungkak, tak ada terasi dalam sambal. Orang Indonesia mana yang bisa makan tanpa sambal? Kebanyakan mesti ada. Sambal adalah sebuah keharusan yang harus ada di dapur. Meskipun lauk pauk sedikit, tak masalah yang penting sudah ada sambalnya. Begitulah literasi. Penting, bahkan sangat penting.

Akan menjadi sebuah hal yang tidak adil jika kita hanya membicarakan posisi Indonesia dalam peringkat literasi dunia, tanpa pernah melakukan sesuatu untuk itu. Jika kita hanya bicara literasi Indonesia dengan peringkatnya lalu apa yang kita dapatkan? Hanyalah perasaan sedih dan kecewa mungkin ketawa sejenak, mungkin saja. Indonesia peringkat dua di bawah-lah, Indonesia nomer segini-lah, dari 1000 anak Indonesia hanya 1-lah yang membaca. Lalu apa?

Kita tidak bisa hanya mengutuk angka-angka itu. Di hari Saraswati ada sebuah mitos dimana tidak boleh membaca buku. Ya jangan sampai mitos di hari Saraswati dilakukan berulang-ulang sampai sama sekali tidak membaca buku terus menerus. Kalau saja peringkat dijadikan tolok-ukur kemampuan literasi di Indonesia, sudah selayaknya kita sadar akan hal ini.

Ketika gerakan literasi digelorakan, setiap orang harus mampu bekerja sama. Tak redup terang mirip strongking. Tak jarang ketika sebuah program dibuat, orang-orang akan rame membicarakannya, bahkan membantunya. Setelah itu? Tak ada. Sering bahkan sangat sering, ganti menteri, ganti kurikulum, ganti program dan seterusnya yang ribetnya minta ampun. Pemilahan program yang bagus dan ideal tak lagi diperhatikan. Pemimpin baru terkesan gengsi mempertahankan program-program lama, mekipun sifatnya baik, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tapi apa guna manfaat jika harga diri lebih penting. Begitu mungkin, ya, he he he…

Tak hanya konsistensi sebuah gerakan. Orang orang dan kelompok yang berada di jalan literasi ini juga harus didukung. Bukan berarti mereka haus akan penghormatan, bukan, mereka hanya perlu dukungan entah buku atau semangat untuk selalu bergerak. Mereka adalah manusia-manusia yang tak membuat orang lain manja, mereka mengubah pola pikir, mengubah cara pandang, membuat anggapan bahwa membaca itu penting, membaca itu asyik dan lain sebagainya hingga mulut mereka berbusa. Itu saja.

Pernah sesekali saya membaca status facebook teman. Katanya dia mendukung dan mengharapkan temannya yang mencalonkan diri menjadi Calon Kepala Desa (Cakades) menang. Tidak hanya karena pertemanan yang mereka jalin, alasanya adalah karena calon tersebut merupakan seorang sastrawan dan seorang yang bergerak untuk literasi. Besar harapan kalau dia nanti menang, virus literasi menjalar hingga ke desa-desa, dusun dusun bahkan gang demi gang. Terkesan subyektif ya? Tapi, Bukankah memilih berdasar subyektifitas bisa juga dipandang sebagai pilihan sesuai hati nurani?

Begini..

Akhir-akhir ini kita terlalu larut dalam istilah Desa Wisata. Upaya upaya yang dilakukan setiap desa untuk mencari potensi-potensi desanya agar bisa dijadikan wisata dan menarik minat pengunjung yang terkesan memaksakan. Ketika tidak ada, desa akan cenderung menciptakannya, agar bagaimanapun juga desa wisata bisa tercipta.

Coba bayangkan jika seorang pemimpin berniat membuat Desa Pustaka. Wuih!, ketika memasuki sebuah desa tak ada lagi patung patung besar dan tinggi dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI DESA WISATA RING ANU”, patung dengan tulisan angkuh begitu akan luluh oleh tulisan lembut bin berbalut perjuangan yang wah “SELAMAT DATANG DI DESA PUSTAKA”. Desa Pustaka! Desa di mana semua daya tariknya tak jauh dari buku dan literasi.

Bayar kipem? Bisa dibayar dengan menggunakan ringkasan 1 buku. Arisan? Bisa dibayar dengan membuat 5 puisi. Iuran sampah? Bisa dibayar dengan membuat karangan, cerpen dan artikel tentang desanya, atau tentang apa saja yang menarik bagi mereka. Di desa itu tak akan ada lagi kolam-kolam sebrono yang dibuat-buat membentuk jantung hati, membentuk segita, lima segi enam, kotak, jajar genjang atau apalah itu hanya untuk sebuah foto di instagram. Nggak ada.

 

Yang ada adalah Bale Banjar dengan perpustakaan. Desain bangunan keren yang memadukan konsep ramah lingkungan, kenyamanan dan multifungsi bangunan tersebut yang bisa digunakan sebagai tempat mebat, kegiatan sekeha truna-truni, dan bahkan foto wisuda. Kenapa foto wisuda? Karena sudah tidak jaman lagi foto wisuda dengan background foto buku yang hanya foto spanduk. Kurang autentik! Kata anak muda abad 21. Di mana foto wisuda? Di Bale Banjar Desa Pustaka dong! begitu kira-kira akan jawabannya bila terjadi sebuah percakapan. Ya begitu kira-kira jika dibayangkan.

Jangan beranggapan kalau tulisan ini menasehati, apalagi berharap adanya pesan moral yang bisa dipetik dari kalimat-kalimat panjang ini. Saya hanya sastrawan KW sekian yang terlalu percaya apa yang disampaikan Wiji Thukul dalam puisinya, “Apa guna baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu!” Ya saya tidak ingin begitu. Saya membaca buku, dan oleh karena itu saya tak ingin begitu. Sesederhana itu.

Saya percaya literasi dan ilmu pengetahuan itu hampir sama. Sama dalam artian kebermanfaatannya. Ilmu tak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk bersama. Karena buku dan segala kekayaannya tak hanya dihargai setahun dua kali, tapi sudah sepatutnya dirayakan setiap hari, agar virus literasi semakin menjalar ke desa-desa bahkan ke gang-gang sempit.  (T)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY