24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Cinta dan Melodrama

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
January 23, 2019
in Esai
Perempuan, Cinta dan Melodrama

Ilustrasi foto: Google

Sarangeul haeda uriga manna
Jiuji moshal chueogi dwaeda
Bolmanhan mellodeurama
Gwaenchanheun gyeolmal
Geugeomyeon dwaeda neol saranghaeda

(Love Scenario by iKON)

Sepenggal lirik lagu di atas saya ambil dari album kedua iKON, Return. iKON sendiri adalah salah satu boyband Korea Selatan yang bernaung di bawah YG Entertainment. Meski debutnya telah dimulai sejak 1 Oktober 2015, tetapi, baru pada lagu Love Scenario yang rilis pada 25 Januari 2018 melejitkan namanya. Bukan tanpa alasan, secara statistik, di awal kemunculannya, lagu itu mampu bertengger pada urutan kedua di Melon Chart dan urutan teratas di iTunes Charts Worldwide. Selain itu, hampir di setiap kesempatan, saya melihat orang atau sekelompok orang, terutama remaja putri memperdengarkannya. Meski tak tahu artinya dan kadang berusaha melafalkan liriknya walau terkesan dipaksakan, tetapi lagunya cukup enak didengar, mengalir dan mengendap sehingga tanpa sadar mengikuti iramanya.

Budaya pop, khususnya Hallyu Korea Selatan yang sedang mewabah di seluruh penjuru dunia, akhir-akhir ini memang tengah menjangkiti remaja putri Indonesia. Selain boyband dan girlband, salah satunya boyband iKON yang saya tukil di atas dan telah membius jutaan pasang mata dengan efek koreografi dan visualisasi yang menawan, film dramanya juga tidak kalah peminat. Dibanding korean pop yang identik dengan boyband dan girl band, drama korea memiliki segmen pasar tersendiri, khususnya perempuan di atas umur 20-an tahun yang saya temui mengaku lebih menyukai drama korea dibanding korean popnya. Alasannya, mereka lebih menemukan keintiman dan aktualisasi kedirian (sense of self). Di samping itu, mereka merasa lebih mudah memahami situasi perempuan yang lebih mengedepankan perasaan. Meski demikian, mereka tak menampik menyukai korean pop, meski tidak sedalam drama. Hal tersebut disebabkan perkenalannya dengan budaya Hallyu terlebih dahulu diawali dengan boyband dan girl band.

Sebagai satu bentuk tontonan yang tengah digandrungi remaja putri, saya memasukkan drama korea ke dalam kategori melodrama. Jika dicari dalam KBBI, melodrama adalah pergelaran, seperti sandiwara atau film, dengan lakon yang sangat sentimental, mendebarkan, dan mengharukan, yang lebih mengutamakan ketegangan daripada kebenaran. Dengan melihat deskripsi itu maka kita bisa menyimpulkan bahwa kegemaran remaja perempuan menonton film bergenre melodrama dilatarbelajangi alasan film jenis ini seringkali dianggap dekat dengan dunia perempuan yang sentimentil dan emosional. Dengan kata lain, ada sebentuk usaha dari identifikasi film bergenre melodrama untuk “dikelaminkan” sebagai tontonan kaum perempuan. Persinggungannya dengan film laga, aksi, horor, dan atau petualangan sebagai representasi dunia lelaki menghasilkan semacam oposisi biner.

Salah satu makna melodrama sebagai film berkaitan dengan visualisasi, gaya, desain dan penyajian emosi yang estetis. Itu berarti, film jenis ini dibuat atas dasar pengetahuan dan kompetensi yang dibangun secara spesifik feminim dan konsumtif, sehingga memberi ruang bagi perempuan untuk menggali dan mengeksploitasi feminitas dengan gaya baru. Dengan memperhatikan kategori di atas, selain drama korea, yang termasuk film jenis melodrama adalah sinetron lokal seperti tayangan FTV dan tidak ketinggalan pula telenovela negara-negara Latin seperti Marimar dan Betty la Vea yang sempat hits di tahun 2000-an..

Sejak awal, film-film melodrama memang dialamatkan untuk segmen tertentu. Jika merunut pada proses panjang pembuatan film ini maka dengan gampang kita bisa menarik kesimpulan bahwa phak-pihak yang terlibat dalam pembuatannya menyangkut produser, penulis cerita, para pengiklan, memiliki bayangan tertentu tentang citra perempuan. Bagaimana mereka memandang perempuan dalam film melodrama tentunya akan berpengaruh pada proses cerita  dan citra.

Ada banyak hal yang membuat perempuan tertarik untuk menonton melodrama. Dalam film jenis ini, cerita-cerita disajikan dalam kerangka dasar yang sama yakni tentang cinta dan persoalan keluarga dengan plot yang berliku-liku, dan tentu saja mengharu biru. Para tokoh melodrama dianggap mewakili impian dan perasaan kaum perempuan. Segmentasi pasar yang hendak diraih biasanya menghasilkan alur cerita yang berbeda. Jika yang disasar adalah ibu-ibu rumah tangga, maka citra protagonis sejak awal dibangun dalam kondisi yang memperihatinkan dan mengenaskan. Untuk mendapat efek visualisasi yang emosional, sang sutradara perlu menghadirkan antagonis sebagai musuh bersama yang paling dibenci dan tentu saja harus dilenyapkan.

Melalui kegigihan dan keikhlasan yang dibumbui moralitas agama yang menggebu namun kadang agak sulit diterima akal sehat, semua rintangan yang dialami bisa dilalui dan berakhir bahagia. Sederhananya, film ini memberi hikmah dasar bahwa teks ideal yang ingin dicapai adalah kejahatan akan selalu kalah dengan kebaikan. Pada beberapa bagian, disajikan juga scene berlebihan untuk bisa lebih memancing emosi pernonton seperti adegan kekerasan mertua kepada menantunya atau sebaliknya. Adegan–adegan ini ditampilkan dengan asumsi bahwa perempuan yang dilekatkan dengan stereotip emosional, suka dengan adegan-adegan yang melankolis.

Itulah mengapa film jenis sinetron yang tayang prime time di program televisi laris manis ditongkrongi ibu-ibu rumah tangga yang telah bekerja seharian penuh mengurus suami, anak, rumah dan dirinya. Seorang suami, seberapapun jantannya, bahkan jika ada yang memiliki cita-cita mengubah dunia, tidak akan berani mengubah channel televisi jika pada saat yang bersamaan si istri tengah menikmati imajinasinya dalam tayangan sinetron yang ditonton. Jika demikian kondisinya, seharusnya laki-laki yang telah menjadi suami itu harus mengubur mimpinya mengubah dunia, karena jangankan mengubah dunia, mengubah channel televisi saja tidak mampu. LoL.

Di sisi lain, jika segmentasi pasarnya adalah anak kuliahan atau perempuan singel yang sedang meniti karir, citra perempuan yang ditampilkan biasanya dalam keadaan cantik, dengan busana yang indah-indah dan rumah yang mewah. Namun sering juga protagonis ditampilkan sebagai perempuan yang datang dari status sosial bawah. Hingga pada suatu ketika bertemu pria kaya, tampan, terkenal, terlibat cinta lokasi dan akhirnya menikah melalui jalan cerita yang sederhana, dengan atau tanpa intrik yang menghalangi hubungan keduanya.

Meski narasi yang ditawarkan adalah perempuan atau lelaki miskin, tetapi tetap saja tampilan fisik yang kinclong para pemerannya menjadi daya tarik bagi penonton.hal ini tidak bisa dikesampingkan karena akan terbetik hikmah bahwa kecantikan feminim bukanlah sesuatu yang melekat sejak lahir, melainkan bisa diraih. Pada akhirya perempuan sebagai entitas menemukan ruang untuk melihat feminitas sebagai sebetuk identitas yang terus berubah, bisa dilekatkan  dan dilepaskan kapan saja mereka menginginkannya. Di samping itu, perempuan juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan aktivitas dan kompetisi konsumtif yang eksklusif.

Film melodrama kerap dituding menjual mimpi indah bagi perempuan. Ia menjadi dekat dengan film melodrama karena merasakan bahwa sementara mereka menyaksikan adegan demi adegan, kisah di yang terjadi di dunia yang hanya fiksi itu kemudian diparalelkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada titik inilah film melodrama menjadi dunia “tetangga” yang dekat dengan, namun tidak sungguh-sungguh menjadi bagian dari kehidupan. Bentuk tontonan yag dialamatkan pada perempuan seperti melodrama berkembang menjadi sebentuk budaya populer yang memberikan ruang bagi representasi sebuah wilayah pengalaman dalam kehidupan personal sekaligus emosional.

Tags: filmmelodramamusikPerempuansinetron
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Pergub Anti Sampah Plastik adalah Pergub Instan

Next Post

Rahasia Waras Leluhur Bali: Berdoa & Tanam Pohon – Catatan Harian Sugi Lanus

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Rahasia Waras Leluhur Bali: Berdoa & Tanam Pohon – Catatan Harian Sugi Lanus

Rahasia Waras Leluhur Bali: Berdoa & Tanam Pohon - Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co