23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Impresi Payakumbuh

Hasta Indriyana by Hasta Indriyana
November 22, 2018
in Khas
Impresi Payakumbuh

Sastrawan peserta Payokumbuah Literary Festival', 14-16 November 2018,

MALAM jam 21.00 saya tiba di Payakumbuh setelah sebelumnya naik travel dari Padang selama hampir lima jam. Turun dari mobil saya mencari kedai kopi. Nyeruput segelas kopi saset, saya mendengar orang-orang bercengkerama: Membaca kota yang baru pertama saya singgahi. Udara lumayan dingin. Saya berjalan di sepanjang pinggiran pasar. Orang-orang lalu-lalang. Para penjual ramai pembeli.

Tak berapa lama, pantat saya taruh di sebuah trotoar. Seorang ojek onlen menghampiri. Menawari ojek. Saya bingung mau menjawabnya. Intinya, saya mau ke tempat sebuah acara sastra, tapi tidak tau nama tempat dan jalannya. Saya kirim pesan dan telepon ke panitia tapi belum ada respon. Kepada sopir ojek yang saya hadapi, saya tidak yakin dia mengerti acara yang saya maksud. Tapi tiba-tiba dia bertanya, “Abang mau ke tempat siapa?” Maka saya pun menyebut salah satu nama panitia yang asli orang Payakumbuh.

“Iyut.”

“Iyut Fitra? Da Kuyut?”

“Betul. Uda kenal?”

Dia tersenyum. Sebelum menyilakan saya naik ke motor, telepon saya berdering. Koko, salah seorang panitia menanyakan posisi saya, OTW menjemput. Dengan rasa tidak enak, saya membatalkan ajakan ojek. “Santai saja, Bang,” katanya.

Sesampai di lokasi acara, sebuah panggung sastra sedang berlangsung. Ini malam kedua. Saya sengaja datang di hari kedua karena sesuatu hal. Di sekitar panggung, saya bertemu dengan para sastrawan. Heru Joni Putra, Esha Tegar Putra, Frisca Aswarini, Warih Wisatsana, Zen Hae, Marhalim Zaini, Wayan Sunarta, Riki Dhamparan Putra, Mario F. Lawi, M. Aan Mansyur, Hanna Fransisca, Hasan Aspahani. Usai acara, kami ke penginapan, mess Dinas Peternakan.

Sehari berlalu. Malamnya, saya jalan-jalan ke kota. Hasrat makan sate pariaman dan minum segelas telur lunas sudah. Kota Payakumbuh malam hari melek sampai pagi. Para pedagang dan ingar jalanan membuat saya mengerti bahwa Payakumbuh adalah kota persinggahan. Tiga peminta-minta mendekat.

Selesai makan, saat saya menggeretkan sebatang rokok, pengamen datang meniup saluang. Saya sodorkan selembar uang 20 ribu, tapi saya meminta sebuah lagu. Setelahnya, barulah saya bertanya namanya, tempat tinggal, dan tentang tentu tentang Payakumbuh. Ada yang membuat senang ketika ternyata di tengah dia bercerita, dia menyebut nama Kuyut alias Iyut Fitra. Orang yang dia sebut ini adalah ketua paguyuban saluang di Payakumbuh. Orang yang di acara Festival Literasi Payakumbuh, 2018 sebagai direktur.

Saya membaca sekilas Payakumbuh hanya di malam hari, karena acara festival berlangsung dari pagi sampai sore, dilanjutkan sampai dini hari. Mengenal Payakumbuh tentu tidak lama. Kedai kopi kawa penuh pengunjung. Kedai-kedai kuliner di banyak tempat juga dipenuhi pembeli. Mobil-mobil bersliweran.

Di malam selanjutnya, jadwal menjajal kopi kawa bersama teman-teman peserta dan panitia. Sebelum masuk ke kedai, saya sempatkan cari makan. Nemu penjual mie ayam. Tak apalah, yang penting bisa ganjel perut. Penjual mie ayam orang Kebumen, maka kami ngobrol dengan bahasa Jawa ngapak. “Kerja apa di sini, mas?” dia bertanya. Saya jawab bahwa saya sedang menghadiri acara festival literasi.

“Oh, acaranya Iyut?”

“Yap. Sampeyan kenal?”

“Dia yang menguasai sepanjang jalan ini. Parkir dan keamanan. Dia kenal dengan orang dewan dan orang pemerintahan. Dia yang ngurusi program desa. Semua anak muda mengenalnya. Kuyut itu ketua klub bola dan futsal di Payakumbuh.”

Menunggu kawa di Kedai Kawa Daun

Kurang-lebih seperti itu cerita penjual mie ayam. Usai membayar, kami salaman kenceng. Saya menuju kedai kopi kawa. Di meja kayu, saya sempatkan ngobrol dengan Iyut Fitra. Penguasa Payakumbuh ini bercerita panjang tentang Komunitas Intro dan Payakumbuh secara umum setelah saya pancing dengan satu pertanyaan, “Siapa anak-anak muda ini (panitia)?” jawaban pertama adalah anak muda Payakumbuh yang ingin terlibat dalam festival ini. Di satu kesimpulan disebutkan bahwa Komunitas Intro adalah rumah bagi semua anak muda Payakumbuh.

Tiga hari bersinggungan dengan panitia, saya merasakan kerja-kerja anak muda yang cepat dan teratur. Profesional. Dan yang paling penting bagi saya adalah, mereka memanusiakan para peserta, hangat dan menyenangkan. Kumpulan orang-orang dalam kegiatan nonprofit yang kerja-kerjanya rapi dan cepat hanya bisa dilakukan ketika mereka sudah terbiasa bekerja bersama; saling mamahami satu sama lain; dan yang paling penting adalah peran pemimpinnya.

Saya pikir semua itu adalah modal sosial. Modal seperti ini tidak bisa diuangkan, karena saking berharganya, sehingga disela ngobrol dengan Iyut, saya berseloroh, “Aku yakin jika Da Iyut nyaleg, pasti lolos, bahkan tanpa duit.” Iyut pun tertawa. Betapa dahsyatnya Iyut bisa menggerakkan Payakumbuh dengan banyak komunitas yang disusupinya.

Siang sebelumnya, saya ngobrol dengan Aan Mansyur, bertanya tentang festival sastra Makassar yang sudah berlangsung di tahun kedelapan. Festival sastra itu dipenuhi panitia yang professional dalam bekerja. Tim yang sangat solid. Mau bekerja militan. Mendatangkan para sastrawan flamboyan, bisa bekerja sama dengan hotel, penerbit raksasa, katering, desainer dan pekerja panggung, yang semua didapatkan dengan kerja gotong royong.

Ratusan relawan mendaftar di enam bulan sebelum acara, mereka di masing-masing bidang diberikan workshop yang berkaitan dengan kerja-kerja yang akan dikerjakannya. Dahsyatnya, di saat acara berlangsung para audiens yang memenuhi benteng Rotterdam khidmat menyimak para sastrawan  membacakan karya sastranya. Bagaimana festival besar itu bisa dilaksanakan dengan lancar dan rapi? Satu hal utama adalah sumber daya manusianya.

Ada hal yang sempat saya dengar, bagaimana Festival Literasi Payakumbuh dan Makassar International Literary Festival berjalan dengan baik, yaitu: Nekat. Saya pun menerjemahkan kata nekat bukan sebagai kerja ngawur, tetapi ketetapan hati yang kuat untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Dan Festival Literasi Payakumbuh, meskipun baru pertama kali, patut diapresiasi. Serangkaian acara bergizi cukup menyegarkan, apalagi sastrawan generasi terkini mendapatkan porsi besar di dalamnya. (T)

Tags: festivalPayakumbuhsastraSumatera BaratSumatra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Ade Putri Paramadita, Kuliner dan Imaji Rasa yang Tak Terbatas

Next Post

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Hasta Indriyana

Hasta Indriyana

penyair dan esais

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co