2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 13, 2018
in Esai
Zona Nyaman, PIlihan, dan 3 Lingkaran

SESUNGGUHNYA ini merupakan keresahan lama saya prihal zona nyaman yang kerap beberapa orang utarakan kepada saya. Dikarenakan ini keresahan lama yang sempat saya kubur di dalam benak, lantas bagaimana bisa muncul kembali ke permukaan?

Tentunya hal itu bukanlah tanpa musabab. Singkat cerita, saya menelepon seorang teman. Ya, dia perempuan. Lantas? Sudahlah jangan kau tanyakan statusku dengannya apakah kami lebih dari teman atau kurang dari teman.

Malam itu tepat sekitar pukul 22.00 waktu setempat, kami bercengkrama via Whatsapp ditemani sedikit suara bising dari gawai kami masing-masing. Saya dengan suara AC di kamar yang katanya terdengar di telepon, dan dari gawainya yang terdengar suara kipas angin yang jujur saja membuat bulu kuduk merinding ketika mendengarnya via telepon.

Entah kemana arah percakapan membimbing kami pada malam itu, yang jelas ada satu topik yang memicu pemikiran lama saya itu keluar. Dia berkesah tentang mata kuliah konsentrasi yang ada di jurusan kami.

Bagi kami mahasiswa semester 7, mata kuliah konsentrasi adalah wajib untuk kita ambil. Ini semacam skill tambahan jikalau kami nanti sudah lepas dari jurusan ini. Ada 3 mata kuliah konsentrasi; Tourism, TEYL dan Creative Writing. Tourism tentang kepariwisataan, TEYL tentang mengajar anak-anak di jenjang TK dan SD sedangkan Creative Writing adalah tentang menulis kreatif.

Singkat kata, teman saya mengambil Tourism dan saya mengambil konsentrasi TEYL. Kurang lebih kesahnya seperti ini..

“Duh, aku bingung. Padahal aku mau ambil TEYL, tapi orang tua ku nyuruh aku ambil Tourism,” keluhnya

“Lho kok gitu?” tanyaku dengan nada yang penasaran

“Kata mereka kan aku udah kuliah di jurusan kependidikan nih, ya sekarang biar ada ilmu tambahan di luar itu. Ya udah, aku disuruh milih Tourism. Selain itu emang sih aku juga niatnya nyari pariwisata setelah tamat nanti. Tapi ya… aku sebenarnya suka ngajar anak-anak. Apalagi di TEYL itu ada buat buat media gitu kan? Duh pasti asik banget,” sahutnya dengan penuh semangat

Mendengar jawaban teman saya, sejenak terlintas di benak saya sebuah pernyataan.

“Kamu pernah gak dinasehatin orang kayak gini, ‘Kamu tuh harus keluar dari zona nyaman mu. Jangan disitu-situ aja’, ” tanyaku.

“Pernah, pernah. Terus?” tanyanya lebih dalam lagi

“Tapi di saat yang sama, ada juga orang yang bilang ‘tekunin apa yang kamu suka. Fokus di sana’, ” jawabku yang ingin sekali membuatnya kebingungan

Inilah asal muasal bagaimana keresahan saya prihal zona nyaman itu muncul. Dalam konteks nya mengenai lingkup pelajaran dan hal-hal yang kita gemari, hal ini kerap menjadi tembok pembatas bagi sebagian orang. Tembok yang seolah-olah membuat siapapun yang hendak melewatinya merasa bingung. Haruskah saya terobos atau berputar arah?

Pertama-tama mari kita sepakati terlebih dulu apa zona nyaman itu dilihat dari konteks hal-hal yang kita gemari. Menurut saya, zona nyaman ialah hal-hal yang kita lakukan atas dasar kegemaran dan secara tak sadar mampu melatih diri menjadi lebih unggul. Mengapa tidak lebih baik? Jelas, baik itu relatif. Terlebih ini mengenai hal yang digemari jadi sudah barang tentu merajut pada hal-hal yang membuat pribadi menjadi lebih unggul.

Nah, jikalau sudah demikian, lantas yang dikatakan keluar dari zona nyaman itu seperti apa?

Mari kita gunakan analogi permainan bola volley. Beberapa atlet volley tentunya memiliki kelebihan tersendiri dalam gaya permainan atau teknik bermainnya. Ada pemain yang unggul di passing bawah, ada yang unggul di smash, ada yang unggul di blocking dan mungkin ada yang unggul di 2 jenis teknik bermain atau lebih.

Ketika seorang pemain unggul pada permainan passing bawah dimana dari passing bawahnya tersebut, ia sudah berhasil mencetak puluhan angka di setiap pertandingan dan ketika kelak ia mencoba untuk bermain menggunakan passing atas yang notabene bukan keahliannya maka atlet tersebut layak dikatakan telah keluar dari zona nyaman.

Keluar dari zona nyaman tak melulu tentang keluar mencari sesuatu yang benar-benar baru yang secara sadar ataupun tidak, itu dipaksakan agar nyaman kedalam diri kita masing-masing.

Seperti misalnya ketika seseorang berbakat dalam volley, lalu kemudian “dipaksakan” belajar bermain basket. Seseorang yang berbakat dalam basket lalu kemudian “dipaksakan” bermain musik. Apakah hal-hal tersebut salah? Tentu tidak. Itu tergantung dari area nya. Masalah nya adalah, banyak orang yang belum tau batasan-batasan sebuah zona. Menurut hasil pengamatan saya, kata “Keluar dari Zona Nyaman” memiliki 3 area.

Ibaratkan sebuah lingkaran, “keluar dari zona nyaman” memiliki 3 lingkaran luar.

Pertama lingkaran inti yaitu zona nyaman itu sendiri. Kedua, lingkaran I yaitu zona di luar zona nyaman tetapi masih dalam satu jenis yang sama. Contohnya, orang yang mahir bermain menggunakan passing bawah sekarang harus belajar menggunakan passing atas dalam permainan volley.

Orang yang mahir bernyanyi menggunakan nada tinggi sekarang harus belajar menggunakan nada rendah. Orang yang mahir bercerita panjang selama 20 menit kini harus mampu bercerita panjang selama 10 menit.

Hal-hal tersebut sudah bisa dikatakan sebagai keluar dari zona nyaman, hanya saja ruang lingkupnya yang masih kecil. Ketiga, lingkaran II yaitu zona diluar zona nyaman tetapi masih dalam satu bidang yang sama.

Misalnya, orang yang mahir bermain gitar kini harus mencoba bermain drum dalam sebuah band. Orang yang gemar menulis opini bebas kini harus mencoba menulis karya ilmiah. Orang yang biasanya menjadi penyerang kini belajar menjadi penjaga gawang dalam permainan sepak bola. Itu juga merupakan keluar dari zona nyaman hanya saja ruang lingkupnya masih seputaran bidang yang digeluti.

Nah, yang terakhir adalah lingkaran III. Mungkin area ini yang paling ekstrem sekaligus yang paling sering banyak orang tangkap mengenail definisi “keluar dari zona nyaman” itu sendiri. Misalnya, anak yang berbakat di pelajaran bahasa inggris kini harus belajar tentang fisika lagi. Orang yang passion nya menjadi seorang guru kini disuruh melamar pekerjaan marketing.

Kesimpulannya ialah kita sebagai individu atau sebagai orang tua kelak harus sadar betul akan area-area pada zona diluar zona nyaman tersebut. Jadi, memahami betul area-area tersebut sangatlah penting agar kita tidak terjatuh pada sebuah keadaan dimana keinginan kita sebenarnya adalah untuk mengembangkan diri namun malah “menjatuhkan” diri sendiri.

Keluar dari zona nyaman tak hanya tentang lingkaran III, namun bisa juga mengambil langkah kecil untuk keluar ke lingkaran I maupun II. Saya teringat dengan perkataan paman saya yang merupakan seorang dosen di salah satu kampus pelayaran di Semarang. Beliau berkata:

“Kadang mereka yang tetap berada di sekitaran zona nyaman (lingkaran I dan II) adalah mereka yang lebih hebat daripada mereka yang keluar jauh dari zona nyaman (lingkaran III) nya. Karena kita tahu, di dunia ini tak ada yang abadi selain perubahan. Tak terkecuali perubahan yang terjadi di dalam zona nyaman. Hanya orang-orang yang bertahan di dalam perubahan-perubahan dan tidak meninggalkan zona-nya lah yang bisa dikatakan manusia yang kuat” (T)

Tags: kehidupanPendidikanPengetahuan
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Kimchi: Foto, Keabadian dan Ketiadaan – Catatan dari Minikino Film Week 2018

Next Post

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Yang Tidak Boleh Dilontarkan Kepada Penyair

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co