DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah satu kenangan yang paling melekat adalah ketika saya berkesempatan berkunjung ke rumah penyadap nira di sana. Saya menyaksikan langsung bagaimana para petani meniti tangga bambu dengan lihai untuk ngiris—istilah lokal Pedawa untuk menyadap nira—dari manggar pohon aren, lalu melanjutkan proses nglebengin (memasak nira hingga mengental menjadi gula) untuk menghasilkan gula aren murni yang legit hingga dikenal sebagai gula aren (gula bali) nomor satu di Bali.
Dalam masyarakat Bali secara umum, aktivitas menyadap nira atau tuak ini dikenal luas dengan istilah matuakan. Menariknya, kata matuakan dalam bahasa Bali bersifat fleksibel dan kontekstual: selain merujuk pada pekerjaan menyadap tuak di atas pohon, kata ini juga sering digunakan untuk menggambarkan tradisi berkumpul sambil minum tuak bersama.
Ketika belakangan ini media massa diramaikan oleh berita isu sadap-menyadap yang sarat intrik politik dan peretasan data, pikiran saya melayang kembali ke Pedawa. Sungguh kontras: bagaimana mungkin aktivitas agraris seperti ngiris, nglebengin, atau matuakan yang jujur dan bersahaja bisa bertaut etimologis dengan kejahatan siber? Bagaimana satu kata yang sama bisa hadir begitu bertolak belakang di dua dunia yang berbeda? Dari kenangan di pucuk pohon aren Pedawa itulah artikel kebahasaan ini bermula.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna dasar menyadap berakar dari tradisi agraris: melukai atau memangkas bagian tanaman secara hati-hati untuk mengambil cairannya tanpa merusak pohon itu sendiri.
Di perkebunan karet, petani menyadap kulit batang untuk memanen lateks. Sementara di pohon aren, seperti tradisi ngiris yang saya saksikan di Pedawa, petani memotong manggar bunga lalu mengiris-irisnya untuk mengambil nira penumpuk rezeki sebelum memasuki tahap nglebengin. Aktivitas ini melahirkan leksikon khas: penderes (petani penyadap), pisau sadap, hingga bumbung bambu. Secara sosiokultural, menyadap (ngiris/matuakan) di dunia agraris adalah lambang ketekunan, ketelitian, dan keharmonisan manusia dengan alam.
Seiring majunya teknologi, kata sadap mengalami perluasan makna (broadening) melalui proses metafora konseptual. KBBI pun merekam makna kedua menyadap: memantau atau merekam percakapan dan transmisi data secara diam-diam melalui saluran telekomunikasi.
Logika bahasanya sangat intuitif. Dalam tradisi agraris, menyadap adalah mengambil cairan berharga yang mengalir di dalam tubuh tanaman. Dalam dunia modern, informasi dan data digital dianalogikan sebagai “cairan berharga” yang mengalir di dalam jaringan komunikasi. Alat penyadap (wiretap) berfungsi layaknya pisau sadap (pisau iris) dan bumbung bambu yang menampung aliran data tersebut secara tersembunyi.
Metafora agraris ini bahkan merembes ke percakapan sehari-hari. Istilah perkebunan Kering Alur Sadap (KAS)—kondisi ketika pohon karet berhenti mengeluarkan getah—sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang kehabisan daya pikir atau sumber daya (“otaknya sudah kering tersadap”).
Etimologi kata sadap memperlihatkan ironi sosial yang sangat tajam bagi masyarakat kita hari ini: (1) sadap produktif: aktivitas para petani di Pedawa (ngiris/matuakan hingga nglebengin) dan penderes karet yang menyadap alam demi memberi kehidupan, merawat tradisi, dan membangun ekonomi kerakyatan; (2) sadap destruktif: praktik intersepsi dan peretasan digital yang mencuri data pribadi serta mencederai privasi sesama warga negara.
Kedua makna ini hidup berdampingan di bawah payung satu kata yang sama. Ketika ruang berita dipenuhi kecemasan akan skandal penyadapan data, para petani di Pedawa tetap meniti tangga bambu demi setetes nira manis peneman secangkir kopi Bali hangat.
Bahasa adalah cermin peradaban dan penjaga memori kolektif kita. Melalui kata sadap, kita diingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi siber hari ini, kosakata kita tetap berakar kuat dari tanah kebudayaan agraris. Fenomena ini memberi kita sebuah perenungan: apakah kita ingin menggunakan sadap untuk memanen kehidupan seperti tradisi ngiris dan nglebengin warga Pedawa, atau sekadar alat untuk merusak rasa aman di ruang privat? [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole






























