SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam peta pembangunan, tetapi turut menentukan wajah sebuah kota: ingatan, kebudayaan, dan keberanian warganya untuk berpikir. Kota boleh berubah rupa, tetapi ia tidak seharusnya kehilangan ingatan tentang bagaimana dirinya dibentuk.
Jakarta adalah kota yang terus bergerak. Wajahnya berganti dari waktu ke waktu. Ruang-ruang lama berhadapan dengan bangunan baru, kampung-kampung bernegosiasi dengan pembangunan, sementara manusia di dalamnya terus menyesuaikan diri dengan perubahan. Namun, tidak semua gerak dapat disebut kemajuan. Ada kalanya sebuah kota tumbuh secara fisik, tetapi kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri.
Dalam konteks itulah, nama Ali Sadikin layak dibaca kembali.
Membicarakan Ali Sadikin bukan semata-mata menghadirkan romantisme masa lalu atau menempatkan seorang tokoh di atas segala kritik. Sejarah tidak membutuhkan pemujaan. Ia membutuhkan pembacaan yang jernih, termasuk keberanian untuk melihat capaian, keterbatasan, keputusan, dan warisan pemikiran yang masih menyisakan pertanyaan bagi generasi hari ini.
Ali Sadikin merupakan salah satu figur penting dalam perjalanan Jakarta. Namanya melekat dalam ingatan tentang perubahan kota, pembangunan, kesenian, dan kehidupan kebudayaan. Namun, warisan seorang pemimpin tidak semestinya berhenti pada deretan bangunan atau kebijakan yang pernah dibuat. Warisan yang lebih panjang justru terletak pada gagasan yang terus diperdebatkan dan nilai yang masih dapat diuji oleh zaman.
Sebab, kepemimpinan tidak hanya meninggalkan jejak pada ruang kota, tetapi juga pada cara masyarakat memahami kehidupan bersama.
Bagi saya, kebudayaan bukan pelengkap pembangunan. Ia bukan ornamen yang dipasang ketika urusan ekonomi dan infrastruktur telah selesai. Kebudayaan merupakan salah satu fondasi yang membuat sebuah kota memiliki watak, identitas, dan daya hidup. Tanpa kebudayaan, kota mungkin tetap berdiri, tetapi perlahan kehilangan alasan untuk dikenang.
Sastra memiliki cara tersendiri dalam membaca kota. Ia tidak selalu berbicara melalui angka, laporan, atau statistik. Kadang-kadang, ia hadir melalui pengalaman seseorang yang kehilangan ruang hidup, ingatan tentang sebuah kampung yang berubah, atau kegelisahan seorang warga yang merasa semakin asing di kotanya sendiri.
Di sana, sastra bekerja sebagai ingatan sekaligus pertanyaan.
Atas kesadaran itulah Komunitas Sastra Jakarta Barat (KOSAKATA) menghadirkan Pesona Persona Ali Sadikin: Antologi Esai Personal. Sebuah buku yang merekam beragam perspektif tentang sosok, gagasan, dan warisan Ali Sadikin bagi perkembangan kesenian dan kebudayaan Jakarta.

Buku ini merupakan ikhtiar merawat ingatan sejarah sekaligus membaca kembali relevansi pemikiran Ali Sadikin bagi perjalanan dan masa depan kebudayaan Jakarta. Ia tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan tentang seorang tokoh. Setiap penulis memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pintu masuk yang berbeda. Justru dalam perbedaan itulah percakapan menemukan maknanya.
Antologi ini tidak berangkat dari satu tafsir tunggal. Ia menghimpun pengalaman personal, ingatan, dan pemikiran yang saling berjumpa dalam satu ruang baca. Dari sana, sosok Ali Sadikin dapat dilihat melalui berbagai sudut pandang, bukan hanya sebagai mantan pemimpin Jakarta, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah kebudayaan kota.
Menghimpun Suara, Merawat Percakapan
Di balik lahirnya antologi ini, saya mendapat tanggung jawab pada salah satu pekerjaan yang sejak awal turut menentukan wajah buku: menghimpun para kontributor. Sebagai Ketua KOSAKATA Jakarta Barat, saya bertugas mencari dan mengajak penulis yang bersedia membaca Ali Sadikin melalui perspektif personal masing-masing.
Pekerjaan itu tidak sesederhana menyusun daftar nama. Saya harus mempertimbangkan siapa yang memiliki pengalaman, pengetahuan, kedekatan pemikiran, atau sudut pandang yang dapat memberi warna tersendiri bagi pembacaan tentang Bang Ali. Saya tidak sekadar mencari orang yang mampu menulis, tetapi berusaha mempertemukan orang-orang yang memiliki sesuatu untuk disampaikan tentang sosok dan gagasannya.

Mencari kandidat yang tepat bukan perkara mudah. Ada nama yang segera terlintas, ada yang harus ditelusuri lebih jauh, ada pula yang perlu diyakinkan untuk mengambil bagian. Saya menghubungi satu demi satu, menjelaskan gagasan buku, menyampaikan harapan, dan membangun kesepahaman tentang arah tulisan. Saya ingin setiap orang hadir dengan pengalaman dan tafsirnya sendiri, bukan sekadar mengisi halaman atau mengulang pandangan yang sudah banyak beredar.
Namun, menghimpun para penulis tidak selesai ketika seseorang menyatakan kesediaannya. Ada pekerjaan panjang setelahnya. Komunikasi harus terus dijaga, perkembangan tulisan dipantau, dan beberapa hari menjelang tenggat, pengingat kembali disampaikan agar naskah dapat diselesaikan tepat waktu.
Ada kalanya saya harus menghubungi kembali kontributor untuk memastikan kesanggupan mereka. Ketika seseorang tidak dapat mengirimkan tulisan karena satu dan lain hal, pekerjaan tidak berhenti pada menerima kabar tersebut. Saya harus kembali mencari kandidat baru, mempertimbangkan nama yang tepat, menghubungi, dan mengajak mereka bergabung untuk mengisi ruang yang ditinggalkan.
Waktu terus berjalan, sementara keseluruhan kerja penerbitan harus tetap bergerak. Kesabaran, ketegasan, dan kecermatan dibutuhkan untuk menjaga agar antologi ini tidak kehilangan arah maupun keberagaman perspektif yang sejak awal ingin dihadirkan. Saya belajar bahwa menghimpun sebuah buku bukan hanya pekerjaan mengumpulkan naskah. Ada relasi manusia yang harus dirawat, komitmen yang perlu dijaga, dan keputusan yang kadang harus diambil di tengah keterbatasan waktu.
Saya tidak ingin buku ini hadir hanya karena kami berhasil menghimpun 23 tulisan. Lebih dari itu, saya ingin setiap tulisan memiliki alasan untuk berada di dalamnya, membawa suara, sudut pandang, dan keterhubungan dengan gagasan besar yang sedang kami bangun.
Proses ini tentu tidak saya kerjakan sendiri. Ada orang-orang yang mengambil bagian dengan tanggung jawab berbeda. Anto RistarGie memberi landasan pemikiran melalui prolog, Sofyan RH. Zaid mengawal penyuntingan dan pertimbangan kuratorial, sementara Muhammad Fadhlurrahman Azzami atau Azzam mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Pelaksana. Setiap orang memiliki wilayah kerja, tetapi semuanya bertemu dalam satu tujuan: mengantarkan gagasan menjadi sebuah buku.
Saya tidak menghendaki 23 tulisan yang menghasilkan satu suara seragam tentang Ali Sadikin. Saya justru ingin menghadirkan 23 pintu pengalaman agar gagasannya dapat dibaca melalui lebih dari satu jendela.
Pada akhirnya, para kontributor dipertemukan oleh satu benang merah: dialog dengan gagasan Ali Sadikin. Dialog itu tidak harus berupa persetujuan, juga tidak mesti berangkat dari pengalaman yang sama. Ada yang membaca melalui ingatan, ada yang mendekati melalui sejarah, kesenian, kebijakan, pengalaman personal, maupun refleksi tentang Jakarta. Perbedaan itulah yang membuat antologi ini memiliki ruang tafsir lebih luas.
Antologi ini menghimpun tulisan 23 kontributor dari beragam latar belakang dan pengalaman, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Ali Satri Efendi, Aquino Hayunta, Ariyani Isnamurti, Bamby Cahyadi, Dwi Klik Santosa, Embie C. Noer, Fanny Jonathans Poyk, Guntoro Sulung, Hasan Aspahani, Heryus Saputro Samhudi, Iksaka Banu, Imam Ma’arif, Jose Rizal Manua, Kurnia Effendi, Linda Djalil, Logo Situmorang, Nanang R. Supriyatin, R. Branjangan, Sihar Ramses Simatupang, Tina Savitri, Yahya Andi Saputra, dan Yanusa Nugroho.
Anto RistarGie menulis prolog, sementara Esha Tegar Putra menghadirkan epilog. Penyuntingan dan kerja kuratorial buku ini dipercayakan kepada Sofyan RH. Zaid. Kehadiran mereka turut membangun jembatan pemikiran yang menghubungkan beragam tulisan dalam antologi ini.
Sofyan RH. Zaid dan Tangan Dingin di Pintu Terakhir Buku
Dalam perjalanan panjang penyusunan Pesona Persona Ali Sadikin: Antologi Esai Personal, Sofyan RH. Zaid memiliki peran penting pada tahap akhir proses kreatif buku ini. Jika para kontributor menghadirkan pengalaman dan pemikiran masing-masing, Anto RistarGie menyusun prolog, dan Esha Tegar Putra menghadirkan epilog, maka Sofyan menghubungkan seluruh kerja tersebut dengan bentuk akhir sebuah buku. Melalui penyuntingan dan pertimbangan kuratorial, ia ikut memastikan beragam suara dalam antologi ini hadir sebagai satu kesatuan tanpa kehilangan kekhasan masing-masing.
Saya menyebutnya sebagai tangan dingin di balik proses akhir buku ini. Sebab, menyunting antologi personal dengan 23 penulis bukan pekerjaan yang hanya berurusan dengan ejaan, tanda baca, atau kerapian kalimat. Ada pekerjaan membaca secara menyeluruh, mengenali karakter setiap tulisan, menjaga arah pembahasan, menimbang kesinambungan gagasan, serta memastikan perbedaan perspektif tidak membuat buku kehilangan benang merah. Di sinilah ketelitian dan kepekaan seorang editor diuji. Ia perlu menjaga suara setiap penulis agar tetap utuh, sekaligus memastikan keseluruhan naskah memiliki keterhubungan.

Dalam catatan kuratorialnya, Sofyan memberi penekanan pada kekhasan antologi ini. Esai-esai di dalamnya tidak hanya bertolak dari pengetahuan umum tentang Bang Ali, tetapi juga dari perjumpaan personal para penulis dengannya. Ada yang mengingat momen wawancara, pertemuan singkat, keterlibatan bersama, atau pengalaman lain yang meninggalkan kesan mendalam. Dari perjumpaan itulah muncul sisi persona Bang Ali yang mungkin tidak ditemukan dalam sumber sejarah atau catatan biografis lainnya.
Sofyan mengingatkan bahwa ketegasan, kedisiplinan, keterbukaan pikiran, bahkan kebiasaan Bang Ali memaki, mungkin sudah banyak diketahui orang. Namun, ada detail yang jauh lebih personal dan tidak terduga. Salah satunya adalah kesukaannya memperhatikan gigi perempuan ketika berbicara dengannya.
Mengapa gigi? Apakah karena gigi dapat mengunyah dan menggigit? Adakah sesuatu yang bisa dibaca dari detail kecil itu tentang cara Bang Ali memandang manusia, atau bahkan tentang gaya dan caranya membangun Jakarta?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan rasa ingin tahu. Di situlah daya tarik sebuah kesaksian personal bekerja. Sesuatu yang tampak remeh dapat membuka pintu penafsiran yang lebih luas. Detail yang mungkin luput dari catatan sejarah justru menjadi bagian dari ingatan yang menghadirkan seseorang sebagai manusia, bukan sekadar nama dan jabatan.
Catatan kuratorial Sofyan juga mengajak pembaca melihat hubungan antara kota dan kesenian. Kota menyediakan ruang bagi manusia untuk bertemu, sementara kesenian memberi makna pada perjumpaan tersebut. Keduanya membutuhkan keterbukaan, inovasi, dan kesediaan untuk terus berkembang. Tidak ada bentuk yang benar-benar selesai. Selalu ada kemungkinan baru yang perlu ditemukan dan diperjuangkan.
Ada satu pandangan Sofyan tentang kerja editor yang terasa relevan dengan proses penyusunan antologi ini. Dalam sebuah wawancara dengan PojokTIM, ia menekankan pentingnya peran editor dalam menentukan kelayakan naskah, memberikan masukan, dan membangun dialog dengan penulis. Penyuntingan, dalam pandangannya, bukan sekadar memperbaiki tulisan, melainkan juga menjadi ruang edukasi dan dialektika antara penulis dengan editor. Melalui proses itulah sebuah naskah berpeluang menemukan bentuk yang lebih matang.
Pandangan tersebut menemukan relevansinya dalam penyuntingan Pesona Persona Ali Sadikin. Antologi personal membutuhkan kepekaan tersendiri. Editor harus mampu mengenali karakter bahasa yang perlu dipertahankan dan bagian yang perlu diperjelas. Ia juga perlu membaca hubungan antartulisan tanpa memaksakan keseragaman. Sebab, kekuatan buku ini justru terletak pada keberagaman pengalaman dan cara pandang para penulisnya.
Bagi saya, kehadiran Sofyan dalam proses ini bukan sekadar melengkapi susunan tim penerbitan. Ia menjadi bagian penting dari perjalanan yang dimulai sejak pencarian kontributor, komunikasi, penulisan, penantian naskah, hingga penyuntingan akhir. Ada kerja yang berlangsung di balik halaman, jauh dari perhatian pembaca, tetapi turut menentukan bagaimana sebuah buku sampai ke tangan mereka.
Pada akhirnya, sebuah antologi tidak lahir hanya dari banyaknya orang yang menulis. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga prosesnya sampai selesai. Dalam buku ini, Sofyan RH. Zaid mengambil bagian penting pada tahap tersebut. Ia membantu mengantar 23 suara personal menuju satu ruang baca, tanpa harus mengubah semuanya menjadi satu suara yang sama.
Muhammad Fadhlurrahman Azzami dan Kerja di Balik Antologi
Muhammad Fadhlurrahman Azzami, yang akrab disapa Azzam, lahir di Jakarta pada 13 Desember 2000. Ia menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Khusus, Universitas Negeri Jakarta. Semasa kuliah, ia aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa FIDE (Forum Idekita), Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ. Keterlibatannya dimulai sebagai Staf Humas pada 2019–2020, kemudian dipercaya menjadi Wakil Kepala Divisi Humas pada 2020–2021, dan Kepala Divisi Humas pada 2021–2022. Pengalaman tersebut membentuk keterampilannya dalam komunikasi, koordinasi, dan pengelolaan kegiatan.
Di luar kampus, Azzam aktif sebagai pembina Pramuka di SMP Negeri 98 Jakarta dan SD Hang Tuah 3. Ia juga terlibat dalam organisasi Alumni Keluarga Besar Rohis SMA Negeri 38 Jakarta (KaBAR 38). Berbagai pengalaman itu menjadi bekal dalam membangun kerja kolektif, mendampingi generasi muda, dan terlibat dalam kegiatan komunitas.
Minatnya terhadap sastra kemudian membawanya bergabung dengan Komunitas Sastra Jakarta Barat (KOSAKATA). Pada 2024, ia dipercaya menjabat sebagai sekretaris komunitas. Keterlibatannya di KOSAKATA menjadi ruang pertemuan antara pengalaman berorganisasi dan kerja kebudayaan.

Dalam program Penyusunan Antologi Sastra Bang Ali Sadikin 2026: Esai Personal, Azzam dipercaya menjadi Ketua Pelaksana. Tanggung jawab tersebut menuntut kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi kerja nyata. Sebuah program kebudayaan tidak cukup berhenti pada konsep yang tertulis di atas kertas. Ia membutuhkan koordinasi, komunikasi, pengaturan waktu, serta kesediaan mengawal berbagai unsur agar bergerak menuju tujuan yang sama.
Dalam proposal program yang disusun pada 31 Agustus 2026, Azzam bertanggung jawab menyiapkan berbagai kebutuhan administratif sebagai bagian dari tim pelaksana. Sementara itu, Anto RistarGie, Emi Suy, dan Sofyan RH. Zaid merancang arah kegiatan serta kerja kuratorial untuk menghimpun pemikiran dan refleksi para penulis, sastrawan, serta budayawan mengenai rekam jejak dan warisan Ali Sadikin. Program ini tidak hanya mencakup penerbitan buku, tetapi juga undangan penulisan terarah, penerimaan naskah, kurasi, penyuntingan, proses penerbitan, hingga peluncuran antologi yang disertai diskusi dan penampilan sastra.
Tema Menuju 5 Abad Jakarta, Sastra Indonesia Melintas Ruang dan Waktu menjadi landasan program. Antologi ini ditempatkan sebagai upaya mendokumentasikan pemikiran, menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan sastra Indonesia, sekaligus menyambut lima abad perjalanan Jakarta.
Peran ketua pelaksana menuntut lebih dari sekadar memastikan susunan kegiatan berjalan sesuai rencana. Ada tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan kerja, mempertemukan berbagai kebutuhan, dan memastikan setiap bagian saling mendukung. Dalam proyek ini, pengalaman organisasi Azzam menjadi bekal untuk menggerakkan kerja bersama, dari tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Bagi saya, kehadiran Azzam dalam proyek ini memperlihatkan bahwa kerja kebudayaan membutuhkan keterlibatan lintas generasi. Antologi ini tidak hanya berbicara tentang seorang tokoh dan sejarah Jakarta, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam merawat ingatan kota. Di balik sebuah buku, ada kerja kolektif yang tidak seluruhnya tampak di halaman-halamannya. Ada orang-orang yang memastikan gagasan tidak berhenti sebagai rencana, tetapi menemukan bentuk dan sampai kepada pembaca.
Anto RistarGie dan Ingatan tentang Gelanggang
Anto RistarGie memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan kesenian Jakarta, terutama melalui ruang Gelanggang Remaja dan komunitas teater. Sejak 1989 hingga 1998, ia aktif berkegiatan di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Pengalaman hampir satu dekade itu memberinya kedekatan dengan kehidupan komunitas, aktivitas seni, serta ruang kreatif bagi generasi muda.
Pada tahun 2000, ia aktif sebagai pengurus Asosiasi Teater Jakarta Barat (INDRAJA), organisasi yang berkegiatan di Gelanggang Remaja Jakarta Barat, Grogol. Dalam perjalanan organisasi tersebut, Anto dipercaya menjadi ketua. Pengalaman itu memperpanjang keterlibatannya dalam membangun jejaring komunitas teater dan menghidupkan ruang kesenian di tengah masyarakat.
Kedekatan tersebut menjadi latar penting untuk memahami cara Anto membaca warisan Ali Sadikin. Dalam esainya, Bang Ali dan Gelanggang: Membangun Ruang untuk Anak Muda, ia menempatkan Gelanggang Remaja bukan hanya sebagai fasilitas olahraga, melainkan sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda. Gagasan itu berangkat dari pemahaman bahwa anak muda membutuhkan tempat untuk menemukan bakat, menyalurkan energi, berkarya, berorganisasi, dan membangun pergaulan yang sehat.

Anto mengingatkan bahwa persoalan anak muda tidak cukup dijawab dengan larangan dan nasihat. Mereka membutuhkan kesempatan, dan kesempatan itu membutuhkan ruang. Dalam pembacaannya, Gelanggang merupakan salah satu warisan gagasan Ali Sadikin yang penting untuk terus dihidupkan. Pemerintah menyediakan ruang, masyarakat menggerakkannya, komunitas mengisinya, dan generasi muda menemukan kemungkinan masa depannya di sana.
Gagasan tersebut terasa dekat dengan pengalaman Anto sendiri. Ia bukan hanya menulis tentang Gelanggang dari kejauhan, tetapi pernah menjadi bagian dari kehidupan ruang itu. Karena itu, tulisannya menghadirkan hubungan antara ingatan, pengalaman, dan refleksi. Ia membaca Ali Sadikin melalui sebuah warisan yang pernah disentuh dan dijalani dalam perjalanan keseniannya.
Di KOSAKATA, Anto juga turut berperan sebagai pembina. Kehadirannya bersama para pembina lain menjadi bagian dari upaya menjaga ruang perjumpaan sastra dan kesenian. Prolog yang ditulisnya untuk antologi ini sekaligus memperlihatkan kesinambungan perhatian terhadap kebudayaan: dari Gelanggang Remaja, komunitas teater, hingga ruang literasi.
Keberagaman nama dan perspektif para kontributor menjadi kekayaan tersendiri. Masing-masing penulis membawa pengalaman, ingatan, pengetahuan, serta cara pandang yang tidak selalu sama dalam membaca Ali Sadikin. Sejarah tidak harus dibaca dari satu jendela. Ia dapat didekati melalui banyak ingatan, diuji melalui banyak pemikiran, dan dipertemukan dengan persoalan-persoalan masa kini.
Dari Naskah Mernjadi Ruang Pertemuan
Peluncuran buku ini diselenggarakan pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Pusat Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 14.30 hingga 17.50 WIB ini merupakan bagian dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Jakarta (FPKJ) 2026 dengan dukungan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi dan penerimaan tamu, penulis, serta undangan. Setelah pembukaan oleh pembawa acara, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya, saya selaku Ketua KOSAKATA Jakarta Barat menyampaikan sambutan, dilanjutkan dengan prolog dari Anto RistarGie selaku pembina komunitas.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., dari Pusat Badan Bahasa, yang sekaligus membuka acara. Bersama perwakilan KOSAKATA, Pusat Badan Bahasa, editor, dan perwakilan penulis, dilakukan prosesi pembukaan dengan menampilkan buku Pesona Persona Ali Sadikin, kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.
Pengantar rilis buku disampaikan oleh Sofyan RH. Zaid selaku bagian dari tim editor. Setelah itu, Acha Ahim membacakan esai, menghadirkan salah satu suara personal yang menjadi kekuatan antologi ini.
Salah satu agenda utama adalah diskusi bertajuk Ali Sadikin, Jakarta, dan Kebudayaan. Diskusi ini menghadirkan Jose Rizal Manua, Embie C. Noer, dan Tina Savitri sebagai narasumber, dengan Kurnia Effendi sebagai moderator.
Percakapan tersebut menjadi ruang untuk menimbang kembali hubungan antara kepemimpinan, perkembangan kota, dan keberlangsungan kebudayaan. Bagaimana gagasan seorang pemimpin dapat memengaruhi kehidupan kesenian? Apa yang masih relevan dari kebijakan dan pemikiran masa lalu? Dan bagaimana Jakarta hari ini memberi tempat bagi kebudayaan untuk tumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting karena sejarah bukan ruang yang selesai ditinggalkan. Ia terus berhubungan dengan kehidupan hari ini. Apa yang pernah dikerjakan generasi sebelumnya dapat menjadi pelajaran, tetapi tidak harus diterima tanpa pembacaan kritis.
Setelah diskusi, Bara Pattyradja membacakan puisi. Prosesi rilis buku kemudian dilanjutkan melalui penyerahan buku secara simbolis, peluncuran, dan foto bersama. Perwakilan kontributor turut menyampaikan testimoni dan apresiasi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan musik dari Brandjangan dan Jambul, kemudian foto bersama penulis, narasumber, panitia, serta undangan.

Bagi saya, perjumpaan semacam ini memiliki arti lebih dari sekadar keberhasilan menyelenggarakan sebuah acara. Para penulis yang sebelumnya mungkin hanya bertemu melalui komunikasi dan naskah, kini berada dalam satu ruang yang sama. Gagasan yang semula dituliskan secara personal memperoleh kesempatan untuk dipertemukan, didengarkan, dan ditanggapi. Sebuah buku akhirnya tidak berhenti sebagai benda yang berpindah dari tangan penerbit kepada pembaca, tetapi menjadi ruang percakapan.
KOSAKATA dan Ikhtiar Merawat Ingatan
Bagi KOSAKATA, penerbitan buku ini juga merupakan bagian dari perjalanan komunitas dalam menghidupkan ruang literasi. Berawal dari kegiatan Menulis Puisi dan Baca Puisi yang diselenggarakan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat pada 28 September 2023, komunitas ini tumbuh sebagai ruang perjumpaan bagi penulis, penyair, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sastra.
Bersama para pembina, Jose Rizal Manua, Anto RistarGie, dan Octavianus Masheka, KOSAKATA berupaya menghadirkan ruang kreatif yang terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui diskusi, pelatihan, pembacaan karya, panggung sastra, dan penerbitan antologi, kami berusaha menjaga agar sastra tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai Ketua KOSAKATA, saya memandang kerja komunitas bukan hanya tentang menyelenggarakan kegiatan atau menerbitkan buku. Ada tanggung jawab untuk mempertemukan orang-orang, membuka ruang bagi gagasan, dan menjaga agar percakapan kebudayaan tidak berhenti pada seremoni. Buku ini menjadi salah satu bentuk kerja tersebut. Ia lahir dari banyak tangan, banyak pikiran, dan kesediaan untuk berjalan bersama dalam sebuah ikhtiar.
Kami percaya bahwa sastra bukan sebatas merangkai kata-kata. Sastra adalah cara membaca kehidupan, menyimpan ingatan, mempertanyakan keadaan, dan menyuarakan kegelisahan. Ia memberi tempat bagi hal-hal yang kerap tidak memperoleh ruang dalam percakapan resmi.
Jakarta akan menyongsong lima abad perjalanan sejarahnya pada 2027. Momentum ini semestinya tidak hanya menjadi perayaan usia sebuah kota. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya: kota macam apa yang sedang kita wariskan? Apakah pembangunan telah memberikan ruang yang cukup bagi kebudayaan? Apakah seniman, sastrawan, komunitas, dan masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berekspresi?
Pertanyaan tersebut tidak sederhana. Sebab, membangun kota bukan hanya perkara memperluas jalan atau meninggikan gedung. Ada tanggung jawab untuk menjaga ruang hidup, merawat keberagaman, dan memastikan bahwa manusia tidak menjadi sekadar angka di dalam perencanaan pembangunan.
Kota yang besar seharusnya juga memiliki keluasan pikiran.
Mungkin itulah salah satu hal yang dapat kita renungkan ketika membaca kembali Ali Sadikin. Bukan untuk mengukur masa kini dengan ukuran masa lalu secara gegabah, melainkan untuk menemukan kembali keberanian berpikir, perhatian terhadap kehidupan kebudayaan, dan kesadaran bahwa sebuah kota membutuhkan lebih dari sekadar kemegahan fisik.
Pada akhirnya, sebuah kota tidak hanya dikenang karena apa yang pernah dibangunnya, tetapi juga karena apa yang diberikannya kepada manusia untuk tumbuh, berpikir, berkarya, dan menjadi dirinya sendiri.
Pesona Persona Ali Sadikin mungkin hanya sebuah pintu kecil di antara begitu banyak pintu sejarah. Namun, dari pintu itu kita berharap lahir percakapan yang lebih panjang. Sebab, ingatan yang dibaca kembali tidak akan berhenti menjadi masa lalu. Ia dapat menjelma bekal untuk menimbang masa kini dan merancang masa depan.

Bagi saya, menghimpun 23 penulis dengan 23 pengalaman personal bukanlah akhir dari sebuah kerja literasi. Justru di sanalah percakapan dimulai. Ada kerja yang mungkin tidak tercatat di halaman buku, tetapi ikut memungkinkan buku itu hadir: pencarian nama, komunikasi, penantian, pengingat, keputusan, dan kepercayaan yang harus dijaga. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan merawat ingatan.
Sebab, pada akhirnya, yang sedang kita himpun bukan hanya tulisan tentang seorang tokoh. Kita sedang mempertemukan manusia dengan ingatan, pengalaman dengan sejarah, dan gagasan masa lalu dengan kebutuhan hari ini.
Dan selama masih ada orang yang bersedia menulis, membaca, mempertanyakan, serta merawat kebudayaan, Jakarta belum kehilangan seluruh ingatannya. [T]
Jakarta, 1 November 2026






























