SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama menjadi pulau dengan industri pariwisata massal. Namun, di balik geliat pariwisata tersebut, tersimpan sejarah panjang yang juga berisi pertumpahan darah, peperangan, dan perdagangan manusia yang jarang dibicarakan.
Antara 1650 dan 1830, diperkirakan 150.000 orang Bali dijadikan budak dan diperjualbelikan. Sebagian besar diperdagangkan ke berbagai belahan dunia melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pada abad ke-17, lebih dari setengah populasi budak di Batavia merupakan orang Bali.
Kekerasan berlanjut ketika Belanda berusaha menaklukkan Bali. Antara 1846 dan 1908, setidaknya enam aksi militer dilancarkan. Belanda menyebut serangan-serangan tersebut sebagai “ekspedisi”, sedangkan bagi masyarakat Bali, peristiwa itu merupakan perang atau agresi. Sejumlah peristiwa yang menandai masa tersebut antara lain Perang Buleleng, Perang Jagaraga, Perang Kusamba, Perang Banjar, dan Puputan Badung pada 1906.

Sejarah kekerasan itu tidak berhenti pada masa kolonial. Pada 1946–1949, dalam rangkaian peristiwa yang dikenal sebagai Agresi Militer I dan Agresi Militer II, Belanda kembali menggempur Republik Indonesia. Aksi pertumpahan darah tersebut mereka sebut sebagai “Aksi Polisionil”, istilah yang menggambarkan operasi penertiban terhadap wilayah jajahan yang dianggap memberontak.
Sejarah panjang kekerasan dan perlawanan itulah yang diangkat Anne-Lot Hoek dalam buku Merebut Bali: Kolonialisme, Kekerasan, dan Perlawanan 1846–1950. Untuk memperluas pembicaraan mengenai sejarah tersebut, Anne-Lot bersama Penerbit Marjin Kiri menggelar Tur dan Diskusi Buku Merebut Bali di Komunitas Belajar Mahima, Sabtu, 17 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan penulisnya langsung, Anne-Lot Hoek, lalu Kadek Sonia Piscayanti sebagai pembicara dan saya, Wahyu Mahaputra, sebagai moderator.
Buku setebal 804 halaman tersebut disusun berdasarkan penelitian arsip yang ekstensif serta penelusuran sejarah lisan di Bali dan Belanda. Penelitian Anne-Lot dimulai pada 2011, berangkat dari pengalamannya menyaksikan upacara kremasi istri Raja Ubud, A. A. Niang Rai.

“Saat itu saya berada di upacara kremasi istri raja Ubud, A. A. Niang Rai. Beberapa tahun kemudian, Ni Ketut Sudiani mengirimi saya beberapa foto kremasi itu. Ternyata foto itu dipajang di galeri seni di Ubud, dalam pameran ‘Tourist Gaze’. Sang fotografer, Syafiudin Vifick, mempertanyakan apakah semua turis Barat terpukau oleh ritual yang eksotis bagi mereka itu?” buka Anne-Lot dalam diskusi malam itu.
Pengalaman tersebut mendorong Anne-Lot menyadari adanya hubungan sejarah yang panjang antara Belanda dan Indonesia, sebuah sejarah yang menurutnya tidak ia pelajari di sekolah maupun di universitas. Penelusuran itu kemudian berkembang menjadi penelitian mengenai kolonialisme, kekerasan, dan perlawanan di Bali.
Buku yang masuk dalam daftar lima besar nominasi Libris History Prize ini mendapat apresiasi dari Kadek Sonia Piscayanti atas inisiatif Anne-Lot dalam mengangkat sejarah panjang tersebut. “Meskipun Anne orang Belanda, ia mau menyuarakan apa yang seharusnya orang Bali lakukan,” ujarnya.

Sonia juga mengingatkan pentingnya membicarakan kembali sejarah agar masyarakat tidak kehilangan ingatan terhadap peristiwa-peristiwa yang membentuk kehidupan bersama. Menurutnya, kelupaan terhadap sejarah tidak hanya terjadi pada peristiwa jauh di masa lampau, tetapi juga pada kejadian yang relatif lebih dekat.
“Pembicaraan buku sejarah itu penting, kita sering lupa tentang sejarah, jangankan yang terjadi di tahun 1846, bahkan kita sering lupa akan sejarah di tahun 1965, atau tahun 1998, atau bahkan peristiwa bom Bali yang terjadi di tahun 2002,” ucapnya.
Dalam diskusi tersebut, Sonia menyampaikan dua alasan mengapa buku Merebut Bali penting dibaca. Salah satunya ialah kesempatan untuk kembali mempelajari sejarah sekaligus mengingat bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang diperoleh begitu saja, melainkan hasil perjuangan.


“Untuk belajar kembali sejarah, dan mengingat bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit, dia diperjuangkan dengan jiwa raga yang merana,” tandas Sonia.
Di akhir acara, saya menutup diskusi dengan membacakan petikan surat I Gusti Ngurah Rai yang menegaskan penolakannya terhadap perundingan diplomatik selama Belanda masih berada di Bali.
“Bali bukan tempatnya perundingan diplomatik. Dan saya bukan kompromis. Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari pulau Bali atau kami sanggup dan berjanji bertempur terus sampai cita-cita kami tercapai. Selama tuan tinggal di Bali, pulau Bali tetap menjadi belanga pertumpahan darah, antara kami dan pihak tuan.”[T]
Reporter/Penulis: Wahyu Mahaputra
Editor: Jaswanto































