PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan perairan Lovina sejak remaja. Pada usia 15 tahun, ketika pendidikannya terhenti sebelum tamat sekolah dasar, ia mulai melaut bersama ayahnya. Mula-mula ikut memancing, kemudian berangkat sendiri. Sejak 1998, ia juga mengantar wisatawan untuk melihat lumba-lumba dan menikmati terumbu karang.
Pengalaman puluhan tahun membuat Edi mengenali laut bukan hanya sebagai wilayah kerjanya, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menyediakan penghasilan bagi keluarganya dan banyak warga Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Ia tahu bagian perairan yang masih menyimpan terumbu karang bagus, mengenali perubahan yang terjadi di dasar laut, serta memahami risiko yang dihadapi ketika membawa wisatawan menyelam.
Namun, pengetahuan itu juga membuatnya menyaksikan kerusakan yang tak bisa diabaikan. Terumbu karang di perairan dangkal Lovina, yang dahulu ia ingat begitu indah, kini banyak yang patah, memutih, bahkan mati. Aktivitas manusia menjadi salah satu penyebabnya. Ketika air surut, kata Edi, orang-orang berjalan di atas karang untuk mencari kerang, ikan, atau gurita. Ada pula yang melemparkan batu untuk menggiring ikan ke arah jaring.
“Beda dengan saat saya masih kecil. Saya masih sempat melihat terumbu karang di pinggiran saat laut surut. Kondisinya masih bagus, masih sangat cantik,” kata Edi.


Tetapi ia bukan orang yang hanya bisa mengeluhkan perubahan itu. Dalam beberapa tahun terakhir, Edi ikut merawat terumbu karang bersama Yayasan Banyumilir Manik Segara, sebuah gerakan konservasi yang tumbuh dari masyarakat Kalibukbuk. Di bawah air, ia menghadapi tantangan yang berbeda dari pekerjaannya mengemudikan jukung untuk wisatawan. Arus dan gelombang dapat menyulitkan pekerjaan, sementara hasil perawatan karang tidak bisa dinikmati dalam waktu singkat.
Meski demikian, ada kepuasan yang ia rasakan ketika kembali menyelam dan melihat karang yang dahulu rusak mulai menunjukkan perubahan. “Tapi saya merasa bangga kalau terumbu karang yang dulunya rusak terus kita perbaiki, sekarang sudah ada kelihatan perbedaannya,” ujarnya.
Bagi Edi, perawatan terumbu karang bukan kegiatan yang terpisah dari pekerjaannya sebagai nelayan dan pemandu wisata. Laut yang sehat menjadi modal utama bagi keduanya. Ia bahkan mengingatkan, “Kalau semisal di Lovina tidak ada terumbu karang, terus lumba-lumba juga tidak ada, apa yang mau kita jual?”
Membaca Ulang Potensi Lovina
Ketut Suka, Perbekel Kalibukbuk, memahami bagaimana pariwisata mengubah kehidupan desanya. Lahir pada 1963 dan tumbuh di Kalibukbuk, ia telah bersentuhan dengan kegiatan wisata sejak masih duduk di bangku SMP. Pada 1978, ia mulai membantu mengurus sebuah pondok wisata kecil. Ia menyaksikan langsung ketika Lovina perlahan dikenal wisatawan, hingga akhirnya mengalami masa booming pada 1984.
Pada masa itu, lumba-lumba belum dipandang masyarakat setempat sebagai daya tarik wisata yang menjanjikan. Menurut Suka, justru wisatawan Barat yang lebih dahulu melihat peluang tersebut. Bagi warga yang hidup di dekat pantai, keberadaan lumba-lumba terasa biasa saja, seperti ikan-ikan yang hidup di laut pada umumnya. Setelah potensi itu diperkenalkan kepada wisatawan, pandangan terhadap laut mulai berubah.
“Sebenarnya, sih [lumba-lumba] sudah ada, cuma kita tidak tahu potensinya. Anggap di laut ya biasa ada ikan begitu. Mereka, turis Barat itu, kemudian menyampaikan kalau dolphin ini digarap, akan ada berkah buat Lovina,” tuturnya.

Ketika pariwisata mulai berkembang pesat, investor berdatangan dan kunjungan wisatawan meningkat. Suka pun ikut mempromosikan Lovina. Ia pernah membawa brosur dan membagikannya kepada calon wisatawan melalui jaringan Perama Tour & Travel di Kuta. Pondok wisata tempatnya bekerja menyediakan alat snorkeling untuk disewa, meskipun saat itu kegiatan snorkeling belum dikelola sebagai paket wisata tersendiri.
Dari pengalaman mengantar wisatawan dan mengenal perairan sekitar pantai, Suka menyadari bahwa Lovina memiliki daya tarik lain di luar lumba-lumba. Terumbu karang yang tumbuh di perairannya menyimpan potensi wisata bahari. Wisatawan yang semula datang untuk menyaksikan lumba-lumba dapat diajak melihat kehidupan bawah laut.
“Masih alami sekali, cuma belum tergarap,” katanya mengenang kondisi terumbu karang pada masa itu.
Namun, masa pertumbuhan pariwisata juga membawa tekanan terhadap lingkungan. Suka mengingat para pemburu ikan hias yang datang hampir setiap hari untuk mengambil ikan dari perairan Lovina. Ia menilai kerusakan terumbu karang mulai terjadi ketika pariwisata berkembang pesat pada dekade 1980-an.
Kini, menurutnya, ketergantungan pada lumba-lumba sebagai daya tarik utama perlu ditinjau kembali. Lumba-lumba tidak hanya menjadi atraksi wisata di Lovina, tetapi juga dikenal di kawasan lain, seperti Tejakula dan Pemuteran. Terumbu karang pun perlu mendapat perhatian lebih serius sebagai potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan.
“Kita memiliki satu potensi yang belum tergarap total. Potensi itu adalah terumbu karang. Dulu kita hanya fokus pada lumba-lumba, tapi lumba-lumba ini bisa saja mengalami pergeseran,” ujarnya.


Pandangan tersebut sejalan dengan kegelisahan Edi. Ia memperkirakan potensi penyelaman di perairan Lovina masih jauh dari maksimal. Jika ekosistem laut dijaga dan dikembangkan dengan baik, wisatawan bisa memperoleh pengalaman bawah laut yang menarik tanpa harus selalu pergi ke kawasan lain.
“Kalau kita mau menjaga mereka, saya yakin potensi yang ada bisa maksimal. Kalau itu terjadi, tamu tak perlu ke Menjangan. Di Lovina saja sudah sangat cukup,” kata Edi.
Kesadaran untuk mengembangkan potensi laut itu mulai menemukan bentuk yang lebih konkret melalui Yayasan Banyumilir Manik Segara. Salah satu penggeraknya adalah I Ketut Wiryadana, 37 tahun, yang berlatar belakang pendidikan Teknik Informatika Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Sebelum terjun dalam konservasi, Wiryadana menjalankan perusahaan di Batam, PT Asta Kosala Kosali, yang bergerak dalam bidang arsitektur, desain interior, konstruksi, renovasi, dan konsultasi. Ia juga menjadi wakil ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kalibukbuk. Pandangannya tentang masa depan desa mulai berubah ketika pandemi Covid-19 melanda.
Perusahaannya bangkrut dan ia harus lebih banyak berada di Kalibukbuk. Dari pantai, ia melihat teman-temannya yang bekerja sebagai pemandu wisata lumba-lumba dan snorkeling kehilangan penghasilan. Pekerjaan yang selama bertahun-tahun menopang kehidupan mereka mendadak tidak lagi dapat diandalkan.
Pengalaman itu mendorong Wiryadana bersama BPD Kalibukbuk melakukan kajian kecil tentang arah pengembangan desa. Mereka mengadakan survei, berdiskusi dengan perangkat desa, masyarakat, dan nelayan, serta mencoba memahami kembali potensi yang selama ini menopang kehidupan warga.
“Kita lihat dolphin jadi primadona, terumbu karang jadi primadona, tapi keduanya tidak menjadi sektor primer masyarakat. Keduanya hanya sebagai batu loncatan untuk sektor tersier mereka. Aneh menurut saya,” ujarnya.
Bagi Wiryadana, keadaan tersebut memperlihatkan dua persoalan sekaligus. Di satu sisi, masyarakat bergantung pada kegiatan wisata yang rentan terhadap krisis. Di sisi lain, sumber daya alam yang menjadi daya tarik wisata justru belum mendapatkan perlindungan dan pengelolaan yang sebanding dengan manfaat ekonominya.

Mereka kemudian mengunjungi Pemuteran untuk mempelajari upaya pemulihan terumbu karang melalui terumbu buatan dengan metode biorock. Wiryadana juga menelusuri berbagai informasi tentang rubble coral, yakni pecahan karang yang berpotensi tumbuh kembali secara alami. Ia mulai membayangkan bagaimana upaya serupa dapat dikembangkan di Lovina―kawasan yang dahulu memiliki terumbu karang alami.
Sebelum memulai kegiatan konservasi, mereka menyusun landasan aturan melalui Peraturan Desa Kalibukbuk Nomor 4 Tahun 2021. Regulasi tersebut menjadi dasar bagi desa untuk mengalokasikan anggaran bagi kegiatan konservasi.
Dari upaya itu lahir Yayasan Banyumilir Manik Segara. Nama Banyumilir memuat gagasan tentang keberlanjutan kehidupan: banyu berarti air, sedangkan milir dimaknai sebagai keberlanjutan atau kesinambungan. Bagi Wiryadana, air menjadi lambang kehidupan yang harus terus mengalir dan dirawat.
Ia memperkirakan kerusakan terumbu karang di Lovina telah melampaui 80 persen. Tekanan datang dari berbagai aktivitas, antara lain penangkapan ikan menggunakan alat yang merusak, orang yang menginjak karang saat air surut, serta sampah yang mencemari laut. Karena itu, pemulihan terumbu karang tidak cukup dilakukan dengan menanam atau menempelkan karang. Perubahan perilaku manusia juga menjadi bagian penting dari pekerjaan tersebut.
“Alam tidak memerlukan manusia. Alam bisa hidup bahagia tanpa manusia. Tapi, seolah-olah alam itu membutuhkan manusia,” kata Wiryadana.
Pernyataan itu terdengar berlawanan dengan gagasan konservasi yang lazim disampaikan. Namun, maksudnya justru mengingatkan manusia agar tidak menempatkan diri sebagai pemilik alam. Manusialah yang membutuhkan lingkungan untuk bertahan hidup, sehingga manusia pula yang perlu belajar menjaga dan membatasi perilakunya.
Konservasi Gotong-royong
Edi merasakan sendiri persoalan itu. Sebelum bergabung dalam kegiatan Banyumilir, ia pernah terlibat dalam pemasangan struktur hexadome untuk mendukung pertumbuhan karang melalui bantuan pemerintah. Pekerjaan itu terkendala karena kelompok yang terlibat tidak cukup kuat untuk bersama-sama merawatnya.
“Dulu tidak ada biaya, tenaga sudah terbuang, kerjaan juga keteteran,” katanya.
Keadaan berubah ketika kegiatan dilakukan secara bersama-sama. Dukungan antarangggota membuat pekerjaan konservasi lebih mungkin dijalankan, meskipun sebagian kebutuhan masih harus ditanggung dengan dana pribadi.
“Kalau sekarang di Banyumilir, saling dukung satu sama lain. Meskipun ada dana pribadi tapi kita tetap happy, karena saling dukung dan dikerjakan bersama-sama,” ujar Edi.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup berhenti pada ajakan menjaga lingkungan. Warga membutuhkan kelompok kerja, pembagian peran, pengetahuan, serta dukungan yang memungkinkan mereka mempertahankan kegiatan tersebut. Nelayan seperti Edi juga perlu melihat hubungan langsung antara laut yang dirawat dan pekerjaan yang mereka jalani.
Salah satu bentuk konkret pengembangan potensi lokal itu adalah Bank Coral, yang mulai dibangun pada 2023. Gagasan ini berangkat dari kebutuhan bibit karang untuk kegiatan konservasi. Wiryadana mempertanyakan praktik mengambil fragmen dari karang sehat setiap kali hendak memperluas area pemulihan. Jika kegiatan konservasi terus berkembang, pengambilan karang sehat justru berisiko menimbulkan persoalan baru.
Karena itu, Banyumilir mulai mengembangkan tempat pembibitan karang yang dapat menjadi sumber bagi kegiatan pemulihan berikutnya. Pada tahap awal, mereka membangun satu meja berukuran 3 x 3 meter bersama masyarakat. Hasilnya tidak langsung dipublikasikan secara luas karena mereka ingin memastikan perkembangan karang dapat diamati terlebih dahulu.
Kini, Bank Coral diharapkan menjadi salah satu penopang kegiatan konservasi di Lovina. Lebih dari sekadar fasilitas pembibitan, kegiatan ini memberi warga kesempatan untuk terlibat dalam proses yang bisa diamati dan dipelajari. Dokumentasi perkembangannya juga membantu menjelaskan kepada masyarakat bahwa pemulihan ekosistem membutuhkan ketekunan dan waktu.
Bagi Wiryadana, dokumentasi penting untuk menunjukkan bahwa konservasi bukan gagasan yang hanya bagus di atas kertas. Masyarakat perlu melihat apa yang dikerjakan, bagaimana prosesnya berlangsung, dan perubahan apa yang muncul setelah bertahun-tahun dirawat. Ia juga ingin warga memahami hubungan timbal balik antara pemanfaatan laut dan tanggung jawab untuk menjaganya.

“Lewat itu juga saya ingin mengatakan bahwa kamu mendapatkan uang dari laut, lalu apa yang kamu berikan balik kepada laut,” katanya.
Pandangan tersebut berangkat dari persoalan yang lebih luas. Menurut perkiraan Wiryadana, kerusakan terumbu karang di Lovina telah melampaui 80 persen. Selain kebiasaan mengambil hasil laut secara berlebihan dan menginjak karang saat air surut, sampah juga menjadi persoalan. Baginya, masalah yang terlihat di laut tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia di daratan.
Dalam program Banyumilir pada 2026, gagasan itu dirangkum melalui istilah Ngaliraken Huluning Segara. Pesan yang ingin disampaikan ialah bahwa persoalan di hilir berawal dari apa yang terjadi di hulu. Laut menerima dampak dari tindakan manusia, sehingga upaya pelestarian juga harus menyentuh cara manusia memahami dan memperlakukan lingkungannya.
Pendekatan tersebut turut diterapkan melalui pendidikan. Banyumilir mengembangkan Virsea, aplikasi berbasis realitas virtual (virtual reality/VR), untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada anak-anak sekolah di Kalibukbuk. Materinya berasal dari foto dan dokumentasi penyelaman, sehingga anak-anak dapat mempelajari berbagai jenis terumbu karang melalui pengalaman visual yang lebih dekat dengan objeknya.
Dengan cara itu, pengetahuan tentang laut tidak hanya berada di tangan nelayan, penyelam, atau pengelola wisata. Generasi muda juga mendapat kesempatan mengenali kekayaan perairan di sekitar tempat tinggal mereka. Pengetahuan lokal yang selama ini diperoleh melalui pengalaman langsung dapat dilengkapi dengan dokumentasi dan teknologi pendidikan.
Teknologi dan Peluang Ekonomi
Selain untuk edukasi, teknologi digital dimanfaatkan Banyumilir untuk memperbaiki pengelolaan kelompok dan memperluas jangkauan informasi. Latar belakang Wiryadana di bidang teknik informatika memberinya bekal untuk merancang sistem yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
Salah satu yang dikembangkan ialah platform pelaporan digital pokmaswas.org. Melalui sistem ini, anggota dapat mencatat kegiatan, mengunggah foto dengan penanda lokasi (geotagging), melakukan absensi, dan meminta bantuan anggota lain. Data yang terkumpul juga memudahkan kelompok memantau kegiatan dan menyusun laporan.
Menurut Wiryadana, hingga 10 Oktober 2026, sistem tersebut telah menerima sekitar 564 laporan sejak April 2026. Laporan berasal dari masyarakat yang menggunakan telepon seluler mereka. Angka ini menunjukkan bahwa warga dapat dilibatkan dalam pencatatan kegiatan pesisir, bukan hanya menjadi penerima informasi atau pelaksana program.
Banyumilir juga mengembangkan aplikasi untuk pengelolaan kegiatan menyelam, termasuk kebutuhan promosi dan administrasi usaha. Sementara itu, fitur First Aid Response (FAR) disediakan untuk membantu anggota mengakses panduan pertolongan pertama ketika terjadi insiden. Teknologi, dalam konteks ini, digunakan untuk mendukung pekerjaan yang sudah dijalankan masyarakat, bukan menggantikan pengalaman mereka di lapangan.

Bagi sebagian anggota, beradaptasi dengan sistem digital tentu membutuhkan waktu. Mereka terbiasa bekerja dengan mengandalkan pengalaman dan pengetahuan tentang laut, bukan mengoperasikan aplikasi. Wiryadana menyadari hal itu sehingga sistem dirancang agar mudah dipahami oleh anggota yang tidak terbiasa menggunakan teknologi digital.
Edi mengakui bahwa ia sempat merasa canggung ketika mulai menggunakan aplikasi. Namun, setelah beradaptasi, ia merasakan manfaatnya dalam pekerjaan sehari-hari.
Ia mencontohkan pengalaman menangani wisatawan yang tersengat ubur-ubur. Jika sebelumnya ia hanya mengandalkan ingatan tentang pertolongan pertama, kini ia dapat membuka bagian FAR dalam aplikasi untuk melihat panduan penanganan. Fitur panggilan darurat juga memudahkannya menghubungi pihak yang diperlukan.
“Awal-awal memang kagok. Awal-awal saja, karena saya bukan orang IT kan, pasti belajar dulu. Setelah adaptasi lalu kita mulai bisa menggunakan itu, ya jadi lebih mudah,” katanya.
Pengalaman Edi memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak harus berhenti pada promosi wisata atau penggunaan media sosial untuk mencari pelanggan. Teknologi juga dapat membantu nelayan meningkatkan keselamatan wisatawan, mengakses informasi, dan mengelola kegiatan kelompok.
Perubahan serupa terjadi dalam pemasaran. Sebelum internet dan media sosial digunakan secara luas, para pemandu wisata lumba-lumba kerap mencari tamu di pinggir jalan. Kini, mereka dapat mempromosikan jasa melalui kanal digital dan menerima pesanan tanpa harus terus-menerus menawarkan layanan secara langsung.
“Ya, boleh dikatakan, internet dan media sosial ini membawa perubahan ekonomi pada saya dan teman-teman pemandu wisata dolphin lainnya,” ujar Edi.
Kemudahan promosi tersebut membuka peluang bagi pelaku wisata lokal untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas. Namun, peningkatan kunjungan juga membawa konsekuensi. Semakin banyak orang datang untuk menikmati laut, semakin besar pula kebutuhan untuk mengatur kegiatan wisata agar tidak merusak ekosistem.
Edi, misalnya, membiasakan diri memberikan pengarahan sebelum wisatawan melakukan snorkeling atau menyelam. Ia melarang mereka berdiri di atas terumbu karang atau menyentuh biota laut sembarangan. Baginya, pemandu memiliki tanggung jawab untuk memastikan wisatawan memahami aturan sebelum masuk ke air. Edukasi menjadi bagian dari pelayanan, bukan tambahan yang boleh diabaikan.
Upaya menjaga ekosistem itu sekaligus berkaitan dengan peluang mengembangkan jenis wisata lain di Lovina. Selama ini, lumba-lumba menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang pada pagi hari. Padahal, menurut Edi, potensi bawah laut Lovina belum sepenuhnya terlihat. Ia memperkirakan potensi yang ada baru terungkap sekitar 50 persen atau bahkan kurang.
“Kalau kita mau menjaga mereka, saya yakin potensi yang ada bisa maksimal. Kalau itu terjadi, tamu tak perlu ke Menjangan. Di Lovina saja sudah sangat cukup,” ujarnya.

Ia melihat peluang pengembangan wisata menyelam sebagai cara memperpanjang masa tinggal pengunjung. Wisata lumba-lumba umumnya berlangsung dalam kunjungan singkat, sedangkan wisata menyelam membutuhkan persiapan dan waktu yang lebih panjang. Wisatawan yang tinggal lebih lama berpeluang menggunakan lebih banyak layanan lokal, mulai dari akomodasi hingga kebutuhan perjalanan dan konsumsi.
Dengan demikian, konservasi dapat mendukung pengembangan ekonomi desa melalui beragam kegiatan yang bertumpu pada laut. Namun, peluang itu bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga kualitas lingkungan yang menjadi daya tariknya. Promosi yang menjangkau pasar lebih luas perlu berjalan bersama pengelolaan wisata yang bertanggung jawab.
Wiryadana memahami bahwa pengembangan wisata dapat meningkatkan tekanan terhadap wilayah yang justru hendak dilindungi. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat manusia, memperbanyak pengumpulan data, serta membangun perlindungan melalui teknologi dan regulasi.
Bagi Kalibukbuk, pengembangan potensi laut membutuhkan kerja yang melibatkan banyak unsur. Pemerintah desa menyediakan landasan kebijakan, kelompok masyarakat menjalankan kegiatan di lapangan, sementara teknologi membantu pencatatan, promosi, dan penyebaran pengetahuan. Yayasan Banyumilir menjadi salah satu penggerak yang menghubungkan kebutuhan konservasi dengan pengalaman warga pesisir.
Namun, jalan yang ditempuh masih panjang. Kerusakan terumbu karang tidak dapat dipulihkan dalam hitungan bulan. Perubahan perilaku juga membutuhkan pendampingan berkelanjutan, terutama ketika masyarakat harus menyeimbangkan kebutuhan penghasilan harian dengan kepentingan menjaga ekosistem.
Wiryadana sendiri mengaku pernah berpikir untuk berhenti. Mengurus yayasan dan mencari dukungan bagi kegiatan konservasi bukan pekerjaan ringan. Namun, ia merasa kesulitan menjauh dari laut. Ketika mencoba mengesampingkannya, ia justru merasa tertekan. Ia memilih terus bekerja dengan mengembangkan gagasan dan platform yang dapat membantu konservasi dijalankan secara lebih efektif.
Sementara itu, Edi memilih berangkat dari pekerjaan yang sudah dikenalnya: membawa wisatawan ke laut, memberikan pengarahan, dan ikut merawat karang. Ia tidak berbicara dengan istilah teknis yang rumit. Baginya, alasan untuk menjaga laut cukup jelas karena penghidupan masyarakat Kalibukbuk bergantung padanya.
“Ayo jaga laut kita. Ayo kita buat laut ini indah, kita rawat terumbu karang agar semakin cantik,” katanya.
Seruan itu datang dari seorang nelayan yang menyaksikan perubahan laut sejak kecil, bukan dari orang yang hanya mengenalnya melalui foto atau cerita. Ia tahu bagian yang telah rusak, merasakan sulitnya pekerjaan konservasi, dan mulai melihat hasil dari upaya yang dilakukan bersama warga lain.
Di Kalibukbuk, pengembangan potensi desa kini tidak hanya berbicara tentang mendatangkan lebih banyak wisatawan. Ada pekerjaan lain yang tak kalah penting, yakni menyiapkan masyarakat agar mampu mengelola sumber daya yang mereka miliki, memperluas keterampilan, dan menjaga agar kegiatan ekonomi tidak menghabiskan modal alamnya sendiri.
Wiryadana memulai langkahnya dari kajian desa ketika pandemi membuat masyarakat kehilangan penghasilan. Edi menjalankannya melalui pengalaman sebagai nelayan dan pemandu wisata. Keduanya menempuh jalan berbeda, tetapi bertemu pada kepentingan yang sama, yaitu laut Lovina harus tetap memberi kehidupan kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Tantangan Desa Kalibukbuk ialah memastikan kerja tersebut terus berjalan, melampaui keberadaan satu yayasan atau satu generasi penggerak. Potensi laut tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan warga mengelolanya, menjaga ekosistemnya, dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini ditulis dan disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Kominfosanti) Kabupaten Buleleng.








![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula3-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula2-360x180.jpeg)
![Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/01/jaswanto.-tejakula1-360x180.jpeg)



















